Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
NGIDAM


__ADS_3

"Mom! Gretha hamil!" Teriak Gretha girang setelah putri sulung di keluarga Orlando itu keluar dari kamar.


"Gretha, jangan lari-lari!" Sakya secepat kilat menahan Gretha yang begitu girang hingga wanita itu berlari dan hendak meloncat-loncat juga sepertinya.


Ya ampun!


Sakya borgol juga istrinya ini lama agar tak pecicilan.


"Mom!" Panggil Gretha lagi pada sang Mom. Sakya saat ini terpaksa mendekap Gretha demi mencegah istrinya itu agar tak berlari, melompat, apalagi naik ke atas sofa untuk melompat-lompat.


Hadeeuuuh!


"Gretha kau apakan, Sakya!" Gertak Dad Matthew saat pria parih baya itu melihat sang putri yang kini didekap oleh Sakya.


"Dad! Gretha hamil, Dad!"


"Gretha hamil!" Seru Gretha girang seraya mengacung-ngacungkan testpack di tangannya ke arah Dad Matthew.


"Pak Dokter, Gretha mau peluk Dad!" Ucap Gretha pada Sakya yang masih mendekapnya.


"Boleh, tapi jangan-" Sakya belum menyelesaikan kalimatnya saat Dad Matthew tiba-tiba sudah menghampiri dirinya dan Gretha, lalu menyentak kasar tangan Sakya yang masih mendekap Gretha.


"Lepaskan Gretha!"


"Kau mau membuat putriku sesak nafas, hah?" Gertak Dad Matthew lagi yang langsung membuat Sakya melepaskan dekapannya pada Gretha.


"Dad! Gretha hamil!" Sorak Gretha lebay, begitu Sakya melepaskan dekapannya pada istrinya tersebut. Dan di luar dugaan, Gretha tiba-tiba sudah melompat ke arah Dad Matthew yang tak siap.


"Gretha!"


"Aaaauuuwww!" Jerit Dad Matthew keras yang bahkan sukses membuat Sakya ikut meringis.


"Matt, kamu kenapa?" Tanya Mom Melody yang langsung tergopoh-gopoh keluar dari kamar dan menghampiri Dad Matthew yang kini ditindih oleh Gretha dengan posisi telentang di lantai. Dan Gretha yang santai sekali duduk di atas perut sang Dad.


"Dad lebay, ih!" Kikik Gretha yang mengira kalau jeritan Dad Matthew tadi hanya akting belaka.


"Pak Dokter juga biasa Gretha naikin begini, tapi Pak Dokter nggak pernah menjerit seperti Dad!" Ungkap Gretha blak-blakan.


"Tapi ini punggung Dad sakit sekali, Gre!" Cicit Dad Matthew seraya meringis.


"Sakya!" Panggil Dad Matthew yang sekarang malah geregetan pada Sakya karena menantunya itu hanya diam saja dan seperti tak ada inisiatif untuk memindahkan Gretha dari atas Dad Matthew.


"Iya, Dad!" Jawab Sakya seraya menahan tawa. Terang saja hal itu langsung membuat Dad Matthew mendelik tajam.


"Gretha, ayo turun!" Ajak Sakya seraya merengkuh tubuh Gretha, lalu mengangkatnya dengan satu gerakan mudah dari atas tubuh Dad Matthew.


"Yeay! Digendong!" Sorak Gretha riang.


Sementara Mom Melody yang sejak tadi hanya bengong melihat tingkah polah suami dan putrinya, bergegas memeriksa Dad Matthew yang masih meringis-meringis tak jelas.


"Aaaaarrrghh! Sakit, Mel!" Jerit Dad Matthew saat Mom Melody membimbingnya untuk bangun.


"Biar Sakya saja!" Ujar Dad Matthew lagi.


"Baiklah!" Decak Mom Melody yang malah terlihat kesal.


Sementara Sakya yang tadi menggendong Gretha, sudah mendudukkan istrinya itu ke atas sofa.


"Mau kemana, Pak Dokter?" Rengek Gretha saat Sakya hendak ganti memeriksa Dad Matthew.


"Mau memeriksa Dad."


"Mmmmmm, tapi Gretha mau digendong lagi ke kamar," rengek Gretha sekali lagi dengan nada manja. Istri Sakya itu bahkan sudah mengalungkan kedua lengannya di leher Sakya.


"Sakya!" Panggil Dad Matthew yang masih terbaring tak berdaya di lantai.


"Iya, Dad!"


"Pak Dokter! Gendong Gretha lagi ke kamar!" Rengek Gretha sekali lagi yang benar-benar membuat Sakya bingung.


"Sakya!!" Geram Dad Matthew sekali lagi.


"Sakya masih momong putrimu yang manja, Dad!" Ujar Mom Melody seolah sedang memberitahu Dad Matthew.


"Pak Dokter gendong Gretha dulu ke kamar! Dad biar diurusin sama Mom!" Celetuk Gretha yang langsung membuat Dad Matthew yang turut mendengarnya menjadi berdecak.

__ADS_1


"Tulang Dad keseleo lagi gara-gara kamu, Gre!"


"Mom mana paham cara menanganinya?" Sahut Dad Matthew sedikit emosi.


"Tapi Gretha mau digendong sama Pak Dokter, Dad! Gretha lagi ngidam!" Sergah Gretha yang ternyata sudah tahu istilah ngidam juga.


"Eh, benar namanya ngidam kan, Mom?" Lanjut Gretha lagi bertanya pada Mom Melody.


"Benar sekali, Gre!" Jawab Mom Melody seraya tersenyum. Mom Melody sudah menghampiri Gretha yang masih duduk di sofa seraya menggelayuti Sakya yang hendak menolong Dad Matthew tapi tak jadi-jadi.


Hhhh! Keluarga yang ribet!


"Iya, Dad! Gretha lagi ngidam digendong Pak Dokter!" Celetuk Gretha lagi berseru pada Dad Matthew.


"Ngidam kok aneh-aneh!" Cibir Dad Matthew kesal.


"Iya biarin!" Balas Gretha seraya memeletkan lidahnya.


"Pak Dokter pokoknya gendong Gretha ke kamar dulu," rengek Gretha manja.


"Tapi kasihan Dad, Gre!" Sakya berusaha memberikan pengertian pada sang istri yang kini merengut.


"Gretha ke kamar sama Mom, ya?" Gantian Mom Melody yang membujuk Gretha sekarang.


"Enggak! Gretha maunya sama Pak Dokter!" Jawab Gretha tetap merengut dan bersedekap.


"Sakya! Apa kau mau membunuh Dad?" Teriak Dad Matthew yang sepertinya mulai hilang kesabaran. Sakya tang sudah lepas dari gelayutan Gretha, bergegas menghampiri Dad Matthew dan menolong mertuanya tersebut.


"Sakit sekali! Sepertinya ada yang patah-"


"Aaaarrrggghhhh!" Jerit Dad Matthew saat Sakya menekan punggungnya untuk memeriksa tulang punggung Dad Matthew.


"Dad berisik!" Komentar Gretha seraya bangkit dari sofa, lalu berjalan ke arah kamar, sembari menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


"Tulangnya patah, Sakya?" Tanya Mom Melody yang sudah mendekat ke arah Sakya dan Dad Matthew.


"Keseleo lagi, Mom!" Jawab Sakya.


"Apanya yang keseleo? Ini sakit sekali dan lebih sakit dari kemarin-"


"Aaaarrrgggghhh!!!" Dad Matthew menjerit untuk kedua kalinya, saat Sakya membenarkan bagian sendi yang keseleo tanpa aba-aba.


"Sudah, Dad! Coba bangun!" Sakya membimbing Dad Matthew untuk bangun dengan hati-hati. Mom Melody turut membantu, lalu dua orang itu menapah Dad Matthew untuk duduk di sofa.


"Sakya ambil es batu dulu. Mom tolong bantu buka baju Dad," titah Sakya yang langsung membuat Mom Melody mengangguk.


Sakya berlari ke arah dapur dan tak berselang lama, dokter muda itu sudah kembali membawa sekantung es batu di tangannya.


"Biar Mom saja, Sakya!" Mom Melody dengan cekatan mengambil alih es batu dari tangan Sakya.


"Kamu ke kamar dan bujuk Gretha-"


"No!" Dad Matthew memotong kalimat sang istri.


"Ck! Putrimu sedang ngambek sekarang Matt!" Mom Melody mulai geregetan pada sang suami.


"Tapi aku masih belum selesai menginterogasi Sakya-"


"Menginterogasi apalagi?" Potong Mom Melody galak yang langsung membuat Dad Matthew sedikit mengkeret. Sakya benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak sekaranh.


"Gretha masih kecil dan sekarang dia hamil, Mel! Memangnya kau tidak khawatir? Seharusnya Sakya kan bisa menahan diri dan menjaga." Cicit Dad Matthew yang hanya membuat Mom Melody menghela nafas.


"Sakya benar-benar minta maaf soal itu, Dad!" Ucap Sakya menengahi perdebatan jedua mertuanya tersebut.


"Padahal kau itu seorang dokter!" Sergah Dad Matthew emosi.


"Semua sudah terlanjur, Matt! Kau mau mengomel tujuh hari tujuh malam juga Gretha sudah hamil sekarang!"


"Jadi kenapa kita tidak bersyukur saja dan menjaga Gretha bersama-sama mulai sekarang!" Nasehat Mom Melody panjang lebar seolah sedang menyindir Dad Matthew yang kini hanya diam.


"Dan seharusnya kita bahagia karena kita akan punya cucu tak lama lagi." Mom Melody baru menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba Gretha sudah keluar lagi dari kamar seraya menyeret koper.


Hah?


"Gre, mau kemana?" Tanya Sakya yang buru-buru menghampiri sang istri.

__ADS_1


"Pak Dokter nakal! Dad juga nakal!"


"Gretha mau pergi ke rumah Papi dan Mami saja!" Ucap Gretha seraya merengut dan lanjut menyeret kopernya.


"Gretha!" Panggil Mom Melody lembut


"Gretha mau tinggal di rumah Papi dan Mami mulai sekarang, Mom!" Geetha menghampiri Mom Melody, lalu mencium punggung tangan Mom kandungnya tersebut.


"Ngidam?" Tanya Mom Melody memastikan.


"Heem," Gretha mengangguk sambil masih merengut.


"Ke rumah Mami bersama Sakya kalau begitu, ya!" Nasehat Mom Melody seraya mengusap kepala sang putri.


"Biar aku bawakan kopernya," Sakya sudah bergerak cepat dan mengambil alih koper Gretha.


Sementara Gretha langsung memeluk Mom Melody.


"Dad tidak dipeluk juga, Gre?" Tanya Dad Matthew yang duduk di samping Mom Melody.


"Enggak!"


"Gretha masih marah sama Dad!" Jawab Gretha ketus.


"Ck! Kenapa begitu? Salah Dad apa?" Cecar Dad Matthew tak paham.


"Dad tadi mengumpat pada Pak Dokter, Mom!" Bisik Greta melaporkan kejahatan Dad Matthew pada Mom Melody.


"Iya, Mom juga dengar." Mom Melody balik berbisik-bisik pada sang putri.


"Nanti Mom kasih hukuman ke Dad, ya!" Pesan Gretha yang langsung membuat Mom Melody mengangguk. Wanita paruh baya itu lalu memeluk Gretha sekali lagi.


"Kalian bisik-bisik apa?" Tanya Dad Matthew penasaran.


"Dad nanti bakal dapat hukuman dari Mom!" Ucap Gretha menakut-nakuti Dad Matthew.


"Hukuman apa, Mel?" Tanya Dad Matthew bingung.


"Hukuman karena Dad tadi mengumpat dan belum mengucapkan terima kasih pada Sakya yang sudah menolong Dad!" Jelas Mom Melody panjang lebar yang langsung membuat Dad Matthew berdecak.


"Punggung Dad masih sakit! Kenapa harus berterima kasih?"


"Masih sakit tapi kan sudah bisa bergerak! Coba kalau Sakya tidak membantumu tadi, mungkin kau masih berbaring di lantai," sindir Mom Melody pedas.


"Iya, iya!"


"Terima kasih, Sakya!" Ucap Dad Matthew setengah hati


"Kok nggak ikhlas gitu ngucapin makasihnya, Dad?" Komentar Gretha yang kembali membuat Dad Matthew berdecak.


"Terima kasih, Sakya! Terima kasih karena sudah menolong Dad dari keseleo!" Ucap Dad Matthew sekali lagi dengan nada semanis mungkin.


"Sama-sama, Dad! Semoga segera pulih punggungnya," jawab Sakya seraya menghampiri Dad Matthew, lalu meraih tangan mertuanya tersebut dan menciumnya dengan takzim.


"Dad belum memberikan izin untuk kalian berdua pulang ke rumah keluarga Abraham-"


"Matt!" Tegur Mom Melody seraya mendelik.


"Iya, iya!" Cicit Dad Matthew mengkeret.


Gretha akhirnya ikut pamitan pada Dad Matthew setelah Sakya sedikit membujuk istrinya tersebut.


"Dad jangan marah-marah melulu! Nanti sakit punggung dan cepat keriput!" Nasehat Gretha pada Dad Matthew yang hanya melengos.


"Padahal kalau kamu disini, Dad akan memanjakanmu dan menuruti semua ngidammu, Gre!" Ujar Dad Matthew yang sepertinya sedang merayu Gretha.


"Mmmm, nanti saja pas akhir pekan Gretha kesini lagi, Dad!" Ujar Gretha setelah menimbang-nimbang. Dad Matthew kembali melengos karena gagal membujuk sang putri.


Gretha dan Sakya berpamitan sekali lagi sebelum akhirnya pasangan suami istri itu meninggalkan kediaman Orlando dan meluncur ke kediaman Abraham.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2