Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
PENJELASAN SAKYA


__ADS_3

"Sakya! Kau datang?" Sapa Jill saat melihat Sakya yang datang bersama Gretha.


Jill bahkan tanpa malu-malu langsung meraih tangan Sakya untuk ia lingkarkan di pinggangnya, namun tentu saja Sakya dengan cepat menolaknya dan pria itu sudah langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Gretha.


"Kenapa mengajak istrimu yang masih bocah itu?" Tanya Jill yang sudah ganti menggamit lengan Sakya dengan memaksa, meskipun langsung disentak lagi oleh Sakya.


Dasar kegatelan!


"Siapa yang masih bocah, Mbak Jill? Gretha udah gede, kok!" Sergah Gretha yang rupanya ikut mendengar sindiran Jill padanya tadi.


"Mbak! Aku bukan pembantumu?" Gertak Jill seraya mendelik-delik pada Gretha yang bibirnya langsung mencibir.


"Kan Mbak Jill lebih tua dari Gretha,ya wajar Gretha panggil Mbak. Seperti Om Bagus kalau manggil Mom juga Mbak. Karena Mom lebih tua," gumam Gretha panjang lebar sedikit menjelaskan pada Jill yang langsung terlihat tak senang.


"Kau benar-benar-" Jill sudah mengangkat tinggi tangannya dan hendak memukul Gretha yang sontak menjerit seraya bersembunyi di dalam dekapan Sakya.


Namun rupanya Sakya sudah bergerak cepat untuk mencegah Jill yang hampir memukul Gretha. Tangan Sakya sudah menahan tangan Jill dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Aakkh! Kau menyakitiku, Sakya!" Jerit Jill tiba-tiba seraya berakting kesakitan. Terang saja, hal itu langsung menarik perhatian beberapa tamu undangan, tak terkecuali perhatian Tuan Peyton yang merupakan Dad kandung Jill.


"Sakya, kau apakan Jill?" Desus Tuan Peyton yang langsung membuat Skaya melepaskan cekalannya pada tangan Jill.


"Maaf jika saya lancang, Tuan Peyton!"


"Tapi Jill yang terlebih dahulu mencari masalah dengan istri saya-"


"Apa maksudmu, Sakya? Aku hanya menyapa istrimu! Apa itu salah?" Sergah Jill memotong seraya memutar balikkan fakta.


"Kau menggodaku di depan istriku!" Jawab Sakya blak-blakan seraya menatap tajam pada Jill yang langsung berdecih.


"Kau kege-eran sekali! Atau jangan-jangan kau masih merasa dejavu dengan hubungan kita di masa lalu?" Jill tiba-tiba sudah menghampiri Sakya lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Sakya.


"Jill!" Tegur Tuan Peyton lantang saat melihat ulah sang putri yang kembali menggoda Sakya.


"Jill masih mencintai Sakya, Dad! Jill boleh jadi istri kedua Sakya, kan?" Tanya Jill yang entah sadar atau tidak saat mengucapkan kalimat memalukan itu.


"Anda lihat sendiri, Tuan Peyton! Bukan saya yang kasar pada putri anda, tapi putri anda yang terus menggoda saya dan merecoki hubungan saya dan istri saya!" Sakya sudah melepaskan rangkulan Jill dengan cepat, lalu pria itu ganti merangkul erat Gretha dan sedikit beringsut dari Jill yang tiba-tiba merasa tak terima.


"Tapi aku kekasihmu, Sakya! Aku yang kebih dulu jadi kekasihmu ketimbang gadis ingusan-"


"Jaga ucapanmu!" Gertak Sakya galak yang membuat Gretha ikut kaget.

__ADS_1


Selama menjadi istri Sakya, sepertinya baru kali ini Gretha melihat Sakya membentak seseorang dengan lantang dan galak.


"Jill, sudah cukup!" Tuan Peyton ikut-ikutan membentak Jill dan sepertinya pria paruh baya itu mulai hilang kesabaran pada sang putri.


"Sikapmu itu benar-benar memalukan!"


"Kau memalukan sekali, Jill!"


"Kau seperti wanita gatal yang tak laku yang menggoda pria yang jelas-jelas sudah beristri! Apa kau tak punya urat malu lagi, hah? Dimana harga dirimu?"


Tuan Peyton tak berhenti memarahi sang putri sekaligus sedikit menyeretnya untuk meninggalkan tempat acara. Sementara Sakya masih terus merangkul Gretha dengan erat.


"Jill mencintai Sakya, Dad!"


"Jill mencintai Sakya dan Jill akan merebut Sakya dari istrinya itu, Dad!"


"Jill mencintai Sakya!" Jill terus berteriak-teriak seperti orang gila saat Tuan Peyton kembali menyeret putrinya itu menjauh dari tempat acara.


****


"Jadi, Jill itu mantan pacarmu?" Tanya Dad Matthew serelah Sakya menceritakan kronologi yang tadi terjadi di acara anniversary pernikahan Tuan dan Nyonya Peyton yang justru malah berujung memalukan bagi keluarga itu karena tingkah polah Jill dan Jack yang entahlah.


Sakya pun tak mengerti kenapa dua saudara kembar itu bisa bersikap demikian di acara penting kedua orang tuanya. Apa mereka tak pernah belajar nirma kesopanan sepanjang hidupnya?


"Dad, sudah! Pak Dokter sudah tidak mencintai Mbak Ji dan Pak Dokter itu hanya mencintai Gretha!"


"Gretha percaya kok sama Pak Dokter!" Sergah Gretha yang sejak tadi tak mekepaskan gamitan tangannya pada lengan Sakya.


"Tapi tetap saja, Jill itu adalah ancaman! Dan bisa saja Sakya itu berpaling kapan saja, lalu berselingkuh-"


"Dad!"


"Matt!"


Mom Melody dan Gretha menegur Dad Matthew bersamaan.


"Dad hanya berjaga-jaga dan memaparkan kemungkinan yang akan terjadi." Dad Matthew masih saja mencari pembenaran.


"Seperti kemungkinan kau akan selingkuh dengan Claudia begitu? Mengingat saudariku itu adalah mantanmu juga. Atau kau akan selingkuh dengan mantanmu yang lain yang entah siapa aku juga tidak tahu!" Mom Melody tiba-tiba malah sudah bercerocos panjang lebar dan membahas masalalu Dad Matthew yang skbtak membuat Sakya dan Gretha sama-sama berekspresi bingung.


"Kok jadi membawa-bawa masalaluku, Mel? Aku kan sudah berubah. Aku hanya mencintaimu dan aku hanya setia padamu!" Ucap Dad Matthew tegas dan lantang.

__ADS_1


"Iya makanya kau juga tak usah lagi mengungkit tentang masalalu Sakya dan Jill!"


"Bukankah Sakya sudah mengatakan kalau hubungannya dengan Jill itu sudah lama berakhir!"


"Dan tadi Sakya juga sudah membuktikan semuanya. Sakya sudah dengan tegas menolak Jill yang terus-terusan menggodanya!"


"Apa pembuktian Sakya itu masih kurang, Dad Matthew?" Desis Mom Melody geregetan yang hanya membuat Dad Matthew meringis.


"Ayo ke kamar saja, Pak Dokter!" Bisik Gretha yangbsydah lrlah mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya. Wanita itu sudah menarik tangan Sakya dan menaksanya untuk berdiri.


"Kalian mau kemana?" Tegur Dad Matthew cepat saat Gretha dan Sakya hebdak meninggalkan pembicaraan.


"Gretha udah ngantuk dan mau bobok, Dad!" Jawab Gretha seraua menguap lebar.


"Sebaiknya kau memang istirahat, Gre! Tidak baik jika ibu hamil begadang!" Timpal Mom Melody menasehati sang putri.


"Tapi Sakya kan tidak hamil! Jadi kau tetap disini sampai Dad selesai menginterogasimu, Sakya" Dad Matthew sudah menuding pada Sakya.


"Dad!" Gretha nenghentakkan satu kakinya dan mengerucutkan bibit.


"Gretha nggak bisa bobok kalau nggak dipeluk Pak Dokter," ungkap Gretha lagi yang tentu saja langsung membuat Dad Matthew mendengus.


"Sudah biarkan! Tidak usah ngadi-adi begitu!" Desis Mom Melody pada sang suami. Dad Matthew akhirnya tak bisa berkutik dan membiarkan saja Sakya dan Gretha pergi ke kamar mereka.


"Seperti kurang jatah saja!" Gerutu Mom Melody selanjutnya pada Dad Matthew.


"Memang! Aku minta jatah, Mel Sayang!" Rayu Dad Matthew genit.


"Enggak, ah! Nanti punggung kamu kumat lagi!" Tolak Mom Melody seraya menahan tawa.


"Enggaklah! Kan udah sembuh!"


"Ada Sakya juga kalau misalnya kambuh!" Jawab Dad Matthew enteng. Mom Melody akhirnya hanya berdecak dan wanita paruh baya itu langsung masuk ke kamar diikuti oleh Dad Matthew yang sudah tersenyum penuh kemenangan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like


__ADS_2