
"Selamat sekali lagi untuk pernikahan kalian!" Mami Thalita memeluk Sakya dengan erat, entah sudah yang keberapa hari ini.
"Kau sudah jadi suami sekarang! Jadi, jadilah suami yang bertanggung jawab dan sayang pada Gretha bagaimanapun keadaannya!"
"Jangan membentak Gretha, jangan membuatnya menangis, jangan memukul atau menyakitinya! Suami itu harus mengayomi! Tirulah Papimu yang begitu menyayangi Mami dan menyayangi kau serta Zeline!" Nasehat Mami Thalita panjang lebar pada Sakya, sebelum wanita paruh baya itu pamit pulang.
"Kalau ada masalah, selesaikan dulu berdua dan jangan buru-buru mengumbarnya!"
"Kalau sampai papi mendapat laporan tentang kau yang menyakiti Gretha, Papi sendiri yang akan turun tangan untuk memberimu pelajaran!" Papi Zayn mengacungkan tinjunya demi memperingatkan Sakya.
"Iya, Pi! Sakya tidak akan menyakiti Gretha!" Jawab Sakya patuh.
"Sakya akan menyayangi Gretha, membimbingnya, mengayominya, dan selalu menjaganya!" Lanjut Sakya lagi berjanji pada Mami dan Papinya.
"Tepati itu janjinya! Jangan omong kosong saja!" Cibir Zeline pada sang adik.
"Siapa yang omong kosong, Kak! Sakya kan pria jantan!" Sergah Sakya balik berucap ketus pada Zeline.
"Zeline, sudah!" Ujar Mami Thalita yang lagi-lagi harus menengahi kedua anaknya yang hobi berdebat ini.
"Ayo pamitan pada Matt dan Melody lalu pulang!" Ajak Papi Zayn selanjutnya pada Mami Thalita dan Zeline, saat tiba-tiba Gretha berlari menghampiri Zeline.
"Aunty Zeline! Aunty Zeline!"
Zeline refleks melotot pada sang adik ipar yang masih saja memanggilnya Aunty. Apa Zeline memang setua itu?
"Eh, maksudnya Kak Zeline-"
"Gretha kamu jangan lari-lari! Jangan pecicilan! Berapa kali Mom haris mengingatkan?" Omel Mom Melody yang yadi mengekori Gretha.
"Iya, Gretha kan buru-buru, Mom!"
"Nanti Aunty Zeline keburu pulang," sergah Gretha beralasan.
"Aunty," Sakya menahan tawa karena mendengar panggilan Gretha pada Zeline yang terus saja memanggil Aunty alih-alih memanggil kakak.
"Diam!"
"Kak Zeline, Gre! Bukan Aunty Zeline! Zeline ini kakak iparmu!" Ujar Mom Melody mengingatkan Gretha yang langsung nyengir tanpa dosa.
Dasar Gretha greget!
"Iya, Mom! Kan belum terbiasa. Lagian, Aunty-" Gretha membungkam mulutnya sendiri.
"Eh, maksud Gretha, Kak Zeline sama Gretha kan selisih usianya jauuuuh sekali!" Gretha mengucapkan kata jauh dengan nada dan ekspresi wajah lebay.
"Cuma sebelas tahun! Wajarlah kakak adek selisih sebelas tahun!" Cerocos Zeline yang sepertinya kesal sekali dipanggil Aunty oleh Gretha.
"Iya, Kak! Iya!"
"Tu! Gretha udah panggil Kak dan bukan Aunty lagi ke Aunty Zeline!" Gretha bersorak girang dan semua yang menyaksikan hanya bisa geleng-geleng kepala sembari mengelus dada.
Ngidam apa Mom Melody dulu sampai putrinya bisa se-ajaib ini!
"Jadi tadi lari-larian kesini mau apa, Gre?" Tanya Sakya akhirnya mengalihkan topik sebelum Kak Zeline semakin kesal karena terus saja dipanggil Aunty oleh Gretha.
"Gretha mau ngasih ini buat Aunty-" Gretha lagi-lagi membungkam mulutnya sendiri karena terus saja memanggil Aunty pada Zeline yang kini sudah menatap Gretha dengan geram. Mungkin jika sekali lagi Gretha memanggil kakak kandung Sakya itu dengan sebutan Aunty, Kak Zeline akan langsung mencaplok Gretha.
"Maksud Gretha Kak Zeline," koreksi Gretha akhirnya seraya meringis.
"Ini, Kak!" Gretha mengangsurkan buket bunga yang sejak tadi dibawa gadis itu sepanjang acara.
__ADS_1
"Maksudnya?" Tanya Zeline bingung.
Lagipula, kenapa Gretha memberikan Zeline buket bunga bekas yang sudah lumayan buluk itu. Seperti Zelintak kuat membeli buket bunga yang bagus saja!
Kalau mau, Zeline juga bisa membeli buket bunga setoko-tokonya!
Gaji Zeline sebagai nona direktur lebih dari cukup jika hanya untuk membeli toko bunga!
"Biar Kak Zeline segera menyusul menikah bersama Abang Aliando-" Gretha menatap pada Mami Thalita untuk memastikan kalau ia benar menyebut nama pacar Zeline.
Gretha ingatnya awalannya huruf A akhirannya huruf O.
Benar Aliando berarti, kan?
"Aliando siapa?" Tanya Zeline galak.
"Pacar Kak Zeline!" Gretha menunjuk ragu pada Zeline.
"Salah, ya?" Tanya Gretha selanjutnya seraya menatap pada Mami Thalita untuk memastikan.
"Armando, Gre!" Tukas Mami Thalita akhirnya seraya menahan tawa
"Oh!"
"Sembarangan saja ganti-gabti nama orang!" Sungut Zeline seraya mebatap kesal pada Gretha.
"Iya, maaf, Kak!"
"Kan beda tipis, Aliando dan Armando," ujar Gretha yang masih saja beralasan.
"Ini, Kak!" Gretha mengangsurkan sekali lagi buket bunga buluk tadi pada Zeline.
"Apa hubungannya, coba?" Decak Zeline yang sepertinya tak percaya dengan mitos yang beredar di masyarakat.
Mitos adalah sesuatu yang salaha kaprah tetapi dipercayai orang secara turun temurun.
Mungkin Kak Zeline tidak mau jadi orang yang salah kaprah!
"Sudah terima saja, Zel! Didoakan sama adik ipar haris diaminkan juga!" Nasehat Mami Thalita sambil sedikit menyenggol pundak Zeline.
Zeline akhirnya menerima buket bunga Gretha meskipun terlihat setengah hati.
"Sama satu lagi, Kak!" Tukas Gretha lagi yang tanpa izin tanpa permisi tiba-tiba sudah menginjak kaki Zeline.
"Aaaaauw!"
"Gretha greget!" Zeline sudah melayangkan tangannya dan hendak memukul Gretha saat Mami Thalita dan Mom Melody dengan cepat mencegah. Gretha juga buru-buru bersembunyi di balik punggung Mom Melody.
"Zeline!"
"Bocah ini menginjak kaki Zeline, Mi!" Adu Zeline yang terlihat geregetan sekali pada Gretha.
"Biar Kak Zeline cepat menyusul menikah!" Ringis Gretha dari balik punggung Mom Melody seraya mengacungkan jarinya membentuk tanda V.
"Teori menyesatkan!" Sungut Zeline kesal.
"Kan nggak keras nginjaknya, Kak!" Kilah Gretha beralasan.
"Tidak keras, tidak keras! Sini aku injak kaki kamu-"
"Aaaaaa! Tidak mau!" Tolak Gretha yang langsung kabur dan berlari ke arah sang Dad.
__ADS_1
"Gretha! Jangan lari-lari!" Mom Melody sigap mengejar sang putri yang sudah bergelayut pada Dad Matthew.
"Sudah Mom bilang untuk tak lari-lari, Gretha!" Ucap Mom Melody ikut geregetan dengan tingkah Gretha yang pecicilan.
"Jangan lari-lari lagi!" Dad Matthew ikut menasehati Gretha yang langsung merengut. Dad Matthew lalu membimbing putrinya itu untuk kembali menghampiri keluarga Abraham. Zeline masih menatap penuh kesal pada Gretha yang kini bersembunyi di balik punggung Dad Matthew.
"Kami langsung pamit saja, Matt!" Ujar Papi Zayn seraya mengulurkan tangan pada Dad Matthew.
"Tidak istirahat disini saja malam ini?" Tawar Dad Matthew berbasa-basi yang langsung ditolak oleh Papi Zayn dan Mami Thalita.
"Pak Dokter tetap disini, kan?" Tanya Gretha yang sudah ganti menghampiri Sakya, lalu bergelayut pada pria yang kini sudah sah menjadi suaminya tersebut.
"Iya!" Jawab Sakya yang hendak mengusap kepala Gretha, namun tak jadi karena tatapan membunuh Dad Matthew saat Sakya melihat sekilas pada Dad mertuanya itu.
Astaga!
Padahal sudah sah!
Masih saja tak boleh menyentuh!
"Yeay! Nanti malam bisa bobok bareng!" Sorak Gretha riang yang langsung membuat Mami Thalita menahan tawa.
"Nanti bobok di kamar Gretha, ya, Pak Dokter!" ujar Gretha lagi dengan nada manja.
"Iya!" Jawab Sakya lagi seraya bersorak dalam hati.
Dapat jatah!
"Kami langsung pulang saja, Matt!" Pamit Papi Zayn sekali lagi pada Dad Matthew.
Keluarga Abraham akhirnya benar-benar pulang setelah basa-basi lumayan panjang tadi, dan kini Sakya harus menguatkan mental untuk menghadapi Dad Matthew yang mungkin akan mengganggu malam pertamanya bersama Gretha.
"Uncle-" Dad Matthew langsung mendelik saat Sakya memanggilnya Uncle.
Eh, iya!
Kan sudah sah!
"Eh, maksud Sakya Dad."
"Sakya sudah boleh istirahat?" Tanya Sakya sesopan mungkin.
"Ya! Kamarmu di bawah tangga!" Jawab Dad Matthew menatap tegas pada Sakya.
"Loh! Pak Dokter nggak bobok bareng Gretha di kamar, Dad? Kamar Gretha kan di lantai atas?" Tanya Gretha bingung.
"Kau akan tidur bersama Mom malam ini, Gre!"
"Bukankah biasanya begitu?" Jawab Dad Matthew yang langsung membuat Sakya mengumpat dalam hati.
"Mertua sialan!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1