
"Pak Dokter, itu apa?" Pekik Gretha seraya refleks menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, saat milik Sakya keluar dari dalam sarang.
"Apa? Yang mana?" Tanya Sakya pura-pura bingung. Padahal Dakya sedang menahan tawa sekarang karena tingkah Gretha yang menggemaskan. Masa iya, baru melihat punya Sakya saja sudah heboh begitu!
"Itu!"
"Tu!" Gretha mengendikkan dagunya ke arah milik Sakya masih sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Bibir istri Sakya itu juga terlihat mengerucut sekarang, membuat Sakya gemas dan ingin mencecapnya saja!
"Yang mana?" Tanya Sakya lagi seraya mendekat ke arah Gretha.
"Coba kamu tunjuk, yang mana?" Goda Sakya lagi yang langsung membuat Gretha menggeleng-gelengkan kepalanya.
Gretha sedikit mengintip melalui sela-sela jarinya, namun kemudian wanita itu kembali menggeleng-geleng dan merapatkan lagi jari-jarinya yang menutupi wajah.
"Buka tangannya!" Titah Sakya lembut seraya menyingkirkan tangan Gretha dari wajah istrinya tersebut.
"Nggak mau, Pak Dokter!" Tolak Grerha seraya menghentakkan kakinya bergantian.
"Buka dulu! Belum lihat juga!" Kekeh Sakya yang akhirnya berhasil menyingkirkan tangan Gretha dari wajah wanita itu. Namun kini Gretha malah ganti memejamkan rapat kedua matanya.
"Pokoknya, Gretha nggak mau lihat!" Gretha memalingkan wajahnya tetap sambil merem.
"Nggak mau lihat nggak masalah! Kan bisa pegang dulu," ujar Sakya seraya membimbing tangan Gretha menuju ke miliknya yang sudah sedikit terkulai.
Ish!
Semua karena Gretha yang mengulur-ulur waktu!
Padahal tadi milik Sakya sudah on dan siap tempur. Sekarang malah jadi terkulai lagi!
"Pak Dokter! Gretha nggak mau!" Gretha berontak saat Sakya memaksa tangan istrinya itu untuk memegang miliknya. Namun tentu saja Sakya tak menyerah dan terus memaksa tangan Gretha hingga akhirnya.
"Ouuuhhh!" Sakya melenguh, saat akhirnya tangan Gretha menggenggam miliknya. Gretha diam untuk beberapa saat, lalu tangannya bergerak naik dan turun seperti sedang mengurut milik Sakya.
Sakya langsung menejamkan mata dan menikmati sentuhan Gretha yang pertama kali di miliknya ini.
Enak juga ternyata!
"Ini apa?" Tanya Gretha lagi yang masih memejamkan kedua matanya. Tangan Gretha masih bergerak naik dan turun, hingga akhirnya milik Sakya yang tadi sempat terkulai, sudah kembali tegak berdiri.
"Kok keras?" Tanya Gretha lagi penasaran.
"Buka mata makanya, biar nggak penasaran dan tahu itu apa," goda Sakya pada sang istri.
Gretha akhirnya sedikit mengintip karena sudah sangat penasaran, dan seketika, wanita itu langsung memekik.
"Hah-"
"Sssttt!" Sakya membungkam mulut Gretha dengan cepat, dan kini kedua mata Gretha sudah membulat sempurna.
"Itu punya Pak Dokter?" Cicit Gretha tak terlalu jelas karena mulutnya masih dibekap Sakya.
"Iya! Sudah bangun dan harus segera dimasukkan," jawab Sakya seraya tangannya menunjuk ke milik Gretha yang lagi-lagi masih tertutupi oleh slipshort. Sakya mengusap milik Gretha yang sedikit basah tersebut, hingga membuat Gretha memejamkan mata dan sedikit menggeliat.
"Tapi kalau tidak muat bagaimana? Punya Pak Dokter besar sekali dan ujungnya mirip jamur," cicit Gretha yang benar-benar membuat Sakya ingin tertawa terbahak-bahak sekarang.
Mirip jamur katanya!
"Muat, pasti muat!" Ucap Sakya yakin.
"Katanya minta dibuat tak perawan lagi," imbuh Sakya lagi mengingatkan tentang permintaan Gretha tempo hari.
"Tapi sebentar! Kenapa punya Pak Dokter bentuk ujungnya tumpul begitu? Kenapa nggak seperti punya Barley sama punya Noah?" Tanya Gretha penasaran yang malah membuat Sakya membelalak.
__ADS_1
"Punya Noah? Kamu sudah pernah melihat punya Noah?" Tanya Sakya penuh selidik.
Tidak mungkin Dad Matthew dan Mom Melody mengajarkan pelajaran Biologi pada Gretha dan menjadikan Noah sebagai alat peraga edukasinya, kan?
"Sudah pernah! Tapi dulu, saat Noah masih TK. Bentuknya mirip pensil!"
"Punya Barley juga!" Jawab Gretha yang langsung membuat Sakya sedikit bernafas lega.
"Iya, itu karena mereka masih kecil, Gre!" Jawab Sakya akhirnya menjelaskan pada Gretha.
"Oh, jadi kalau udah gede, akan menumpul dengan sendirinya dan jadi mirip jamur, ya?" Gretha menarik kesimpulan sendiri seraya manggut-manggut.
Ya ampun!
Mau Sakya jelaskan perihal sunat, takutnya Gretha semakin kepo. Tapi kalau tak dijelaskan wanita ini sepertinya akan tersesat.
Entahlah! Sakya bingung!
"Aaaarrrgggh! Enak, Gre!" Des*h Sakya saat tangan Gretha yang ternyata sudah kembali mengurut miliknya Sakya.
Hahaha!
Gretha sadar atau tidak kira-kira?
"Enak kena-" Gretha akhirnya sadar dan buru-buru melepaskan genggamannya pada milik Sakya.
"Ck! Kenapa berhenti, Gre?"
"Pegang lagi!" Sakya membimbing tangan Gretha agar kembali memegang miliknya.
"Pegang aja?" Tanya Gretha yang sudah kembali menggenggam milik Sakya.
"Sambil gerakin tangan kamu begini," Sakya mengajari Gretha agar menggerakkan tangannya naik dan turun. Pria itu lalu memejamkan matanya dan menikmati sentuhan yang kini sedang diberikan oleh Gretha.
"Pak Dokter kenapa, sih?" Tanya Gretha saat melihat Sakya yang merem melek keenakan, hanya karena Gretha mengurut miliknya.
"Enak!" Jawab Sakya seraya membuka mata. Sakya lalu memiringkan kepalanya dan mengecup bibir Gretha. Tadinya hanya kecupan singkat, namun Gretha malah menahan bibir Sakya dan membalas kecupan pria itu. Cukup lama pasangan suami istri itu berpagutan. Hingga akhirnya Sakya yang terlebih dahulu mengakhiri pagutannya bersama Gretha.
"Milikmu sudah basah," bisik Sakya setelah tangannya mengusap milik Gretha yang masih belum terbuka sepenuhnya.
Sakya lalu berlutut di depan Gretha dan menurunkan perlahan slipshort Gretha, sekalian dengan underwear di dalamnya. Kini Gretha dan Sakya sudah sama-sama full naked.
Sakya mendudukkan Gretha perlahan, lalu membaringkan tubuh itu dengan lembut ke atas ranjang. Sakya lalu juga menekuk kaki Gretha dan membuka kedua paha istrinya tersebut. Sesekali Sakya akn memberikan kecupan untuk Gretha yang kini sudah terbaring pasrah.
"Aku akan pelan-pelan," janji Sakya seraya menatap dalam ke wajah Gretha yang hanya mengangguk samar. Sakya mengarahkan ujung dari miliknya ke milik Gretha.
Gretha langsung menggelinjang saat ujung dari milik Sakya mulai menyentak masuk. Istri Sakya itu memejamkan kedua matanya.
"Gretha!" Panggil Sakya lembut.
"Iya, Pak Dokter."
"Buka matamu dan tatap wajahku," titah Sakya yang langsung membuat Gretha membuka matanya perlahan.
"Aku ingin kau menatapku saat aku memilikimu," ucap Sakya lagi seraya mendorong miliknya lebih ke dalam lagi. Gretha yang kaget, refleks menjerit. Namun Sakya cepat-cepat membungkam bibir Gretha dengan bibirnya. Sakya memberikan kecupan serta pagutan mendalamnya di bibir Gretha yang langsung melesakkan kuku-kukunya di punggung Sakya.
Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya Sakya bisa merasakan kecupan balasan dari Gretha. Sakya melepaskan tautan bibirnya dan bibir Gretha, lalu istri Sakya itu terlihat merengut.
"Sakit," cicit Gretha dengan bibir yang sudah mencebik.
"Hanya sebentar," bujuk Sakya lembut seraya mengusap wajah Gretha.
"Udah selesai berarti?" Tanya Gretha lagi.
__ADS_1
"Belum! Kan baru dimulai!" Jawab Sakya seraya terkekeh. Sakya lalu mengecup bibir Gretha lagi.
"Mmmmhhh! Pak Dokter, jangan di lepas!" Gretha menarik kepala Sakya yang hendak menyudahi pagutannya bersama Gretha.
"Sakya! Panggil aku Sakya!" Titah Sakya sekali lagi pada Gretha di sela-sela pagutan mereka.
"Kan Pak Dokter lebih tua! Nggak sopan kalau panggil nama," tukas Gretha beralasan.
"Panggil Mas Sakya kalau begitu atau Sayang, atau Honey, Bunny, Sweety," usul Sakya memberikan beberapa pilihan.
"Mmmmm, Pak Dokter saja, ya!" Ujar Gretha yang langsung membuat Sakya berdecak. Sakya akhirnya tak menpersoalkan lagi perihal panggilan Gretha padanya, dan pria itu memilih untuk lanjut bergerak saja.
"Pak Dokter ngapain? Kok malah push up di atas Gretha?" Tanya Gretha heran saat Sakya mulai bergerak turun dan naik.
"Iya memang begini, biar kamu nggak sakit terus." Jawab Sakya menjelaskan.
"Sekarang masih sakit?" Tanya Sakya lagi menatap serius pada Gretha.
"Enggak, sih! Tapi kok geli-geli gimana gitu. Dan Gretha jadi pengen pipis."
"Masih lama, ya?" Tanya Gretha malu-malu.
"Pipis saja kalau begitu," jawab Sakya santai yang langsung membuat Gretha menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Enggak, ah!"
"Nanti saja di toilet," ujar Gretha seraya memainkan jarinya di dada Sakya yang sudah mulai dipenuhi oleh peluh. Nafas Sakya juga terdengar terengah-engah. Pria itu berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang.
"Capek," gumam Sakya seraya tersenyum dan menatap pada wajah Gretha.
"Ini nanti sampai kapan, Pak Dokter?" Tanya Gretha penasaran.
"Iya sampai kita berdua keluar," jawab Sakya seraya mengendikkan bahu.
"Apanya yang keluar?" Tanya Gretha bingung.
"C*iran cinta," bisik Sakya di telinga Gretha,lalu dilanjutkan kecupan berupangdi wajah istrinya tersebut. Sakya juga sudah kembali memulai pergerakannya, sambil bibirnya tak berhenti memagut bibir Gretha yang sudah terlihat semakin sexy.
"Pak Dokter!" Gretha mencengkeram kuat lengan Sakya, saat wanita itu merasakan sesuatu yang membuncah dalam dirinya, yang membuatnya melayang dan ingin berteriak sekarang.
Sakya yang seolah paham dengan apa yang dirasakan oleh Gretha semakin mempercepat gerakannya karena Sakya juga hampir mencapai pelepasannya.
"Aaaarrrggghh!" Sakya mengerang dengan kuat bersamaan dengan miliknya yang sudah ia lesakkan dengan dalam ke dalam milik Gretha. Tubuh Sakya mengejang, saat benih-benih miliknya menyembur dan langsung memenuhi rahim Gretha.
Dengan nafas tersengal-sengal, Sakya melepaskan tautan bibirnya dari bibir Gretha yang sejak tadi memejamkan matanya. Sakya lalu mengecup kening Gretha, dan istri Sakya itu akhirnya membuka mata perlahan.
"Pak Dokter, maaf!" Cicit Gretha takut-takut.
"Maaf kenapa?" Tanya Sakya bingung.
"Gretha pipis kayaknya," ucap Gretha lirih seolah sedang menahan malu pada Sakya. Dan diluar dugaan Gretha, Sakya malah tertawa terbahak-bahak sekarang.
Hahahaha!
Dasar Gretha!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.