Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
SANGSI


__ADS_3

"Sudah!" Ucap Sakya seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah Jill yang sepi. Entah pergi kemana maid Jill yang jumlahnya selusin itu!


Sakya memaksa Jill agar turun dari pangkuannya, setelah tadi mereka berdua berpagutan cukup lama.


"Kenapa, sih? Takut tergoda?" Tanya Jill dengan nada genit khasnya.


"Ya!" jawab Sakya jujur seraya mengusap wajahnya.


"Aku tak keberatan." Jill kembali mengalungkan lengannya pada Sakya.


"Aku tahu kau buka pria brengsek, Sakya! Jadi aku tak keberatan memberikan milikku yang pertama untukmu," ucap Jill seraya menatap lekat wajah Sakya.


"Dan aku tak akan melakukannya sebelum ada kata sah!" Sakya mencolek hidung Jill.


"Jadi berhentilah menggodaku, oke!" Tukas Sakya lagi mengingatkan sang kekasih. Jill langsung tergelak dan gadis itu segera menjaga jarak dari Sakya.


"Baiklah, Sakya yang selalu sok alim tapi tak pernah menolak ciuman dariku," ledek Jill selanjutnya seraya tergelak dan Sakya langsung berdecak.


"Tidak perlu membahas yang itu!" Desis Sakya yang malah membuat tawa Jill semakin keras.


Sakya mengeluarkan ponselnya, lalu mengambil foto Jill yang sedang tertawa lepas.


"Sakya, kau sedang apa?" Jill sudah menghentikan tawanya, lalu secepat kilat meraih tangan Sakya yang masih sibuk mengambil foto Jill.


"Hapus!"


"Tidak akan! Mau aku koleksi," tolak Sakya seraya menyembunyikan ponselnya sebelum diotak-atik oleh Jill.


"Kau sudah punya banyak fotoku! Mau buat apa memangnya?" Tanya Jill penasaran.


"Untuk aku tatap setiap malam tentu saja!" Jawab Sakya jujur.


"Menatap tulisan di buku terkadang membuat jenuh. Jadi aku akan ganti menatap fotomu," lanjut Sakya lagi seraya mengerling pada Jill.


"Dasar bucin!" Cibir Jill selanjutnya.


"Biarin! Kan bucinnya sama kamu saja."


Kriiiing!


Dering ponsel Sakya yang kini tergeletak di atas meja, serta merta langsung membuyarkan semua lamunan Sakya tentang hubungannya di masalalu brsama Jill.


Ya, semuanya hanya masalalu, termasuk kebucinan Sakya pada Jill. Dan semua koleksi foto Jill di ponsel Sakya juga sudah Sakya hapus bersih tanpa ada sisa satupun. Semuanya Sakya lakukan di hari pernikahan Jill dan suami pertamanya.


Sakya mendapat undangan juga kala itu, dan Sakya memilih untuk tak datang. Sakya memilih untuk menjaga kewarasannya sendiri kala itu.


Sakya akhirnya benar-benar bisa move on dari Jill setelah dirinya melanjutkan kuliah program spesialis. Sakya sudah melupakan semua masa lalunya bersama Jill, dan sekarang Sakya sedang fokus mencintai satu wanita dalam hidupnya, yang belakangan ini sedikit membuat hidup Sakya jadi berwarna.


Gretha!


Sakya tersenyum sendiri saat membayangkan wajah polos Gretha, sebelum kemudian pria itu melirik ke layar ponselnya, dimana tertera nama Mami Thalia yang sejak tadi menelepon Sakya tapi hanya Sakya abaikan.


Ada apa Mami menelepon?


Dad Matthew tidak sedang mengamuk di kediaman Abraham sekarang, kan?

__ADS_1


"Halo, Mi!" Sambut Sakya akhirnya mengangkat telepon dari Mami Thalita.


"Kau masih praktek, Sakya?"


"Sudah tidak ada pasien, Mi! Sakya baru siap-siap pulang." Jawab Sakya cepat.


"Ada apa, Mi?", tanya Sakya selanjutnya.


"Dad-mu!"


"Dad Matthew? Ada apa? Apa Dad Matthew jadi ke rumah menjemput Gretha?" Cecar Sakya penasaran. Kalau dugaan Sakya benar, berarti Dad Matthew memang sedang kurang kerjaan!


"Ya! Dia datang ke rumah untuk menjemput Gretha, tapi Gretha tak mau pulang. Lalu Dad mertuamu itu memaksa untuk membopong Gretha saat kemudian...."


"Kemudian apa, Mi?" Sergah Sakya penasaran.


"Pinggangnya entah patah entah keseleo, entah terkilir."


Sakya mendadak ingin tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Mami Thalita tentang apa yang terjadi pada Dad Matthew.


Eh, tapi tidak baik juga teryawa di atas kesakitan orang lain, terlebih jika orang tersebut adalah Dad mertua Sakya sendiri.


Baiklah, Sakya tak jadi tertawa!


"Jadi, Dad keseleo punggungnya?" Tanya Sakya memastikan, sembari tangannya bergerak lincah untuk memberkan meja dan mengemasi peralatannya.


"Mami juga tidak tahu! Pulanglah dan periksa sendiri!"


"Iya, Mi!"


"Mom Melody disitu juga, Mi?" Tanya Sakya pada sang mami


"Oh," Sakya hanya ber-oh ria


"Tapi Mami sudah memberitahu Mommy kamu dan ia sedang dalam perjalanan kesini."


"Iya, Mi! Sakya juga akan pulang sekarang!" Pamit Sakya akhirnya sebelum mengakhiri panggilan.


Sakya lalu bangkit berdiri dan keluar dari ruang prakteknya, seraya membawa setumpuk data pasien di tangannya.


****


"Sakya sedang dalam perjalanan, Matt. Sabar dulu, ya!" Ucap Mami Thalita seraya menatap prihatin pada Dad Matthew yang masih terlihat kesakitan. Dad kandung Gretha itu kini hanya bisa tengkurap di atas tempat tidur di kamar Gretha.


"Bu, es batunya," ucap maid yang mengantarkan es batu ke kamar Sakya untuk mengompres punggung serta pinggang Dad Matthew. Tadi Sakya memang berpesan agar punggung Dad Matthew dikompres es batu dulu sembari menunggu Sakya pulang.


"Dad, sih!"


"Udah uzur, tapi sok-sokan mau bopong Gretha! Keseleo, kan?" Omel Gretha pada Dad Matthew yang kini meringis.


"Harusnya, biar Pak Dokter saja yang menggendong Gretha!" Sambung Gretha lagi tetap mengomel.


"Beberapa bulan lalu Dad masih kuat menggendong kamu, Gre!" Sergah Dad Matthew seraya meringis menahan sakit.


"Matt!" Suara Mom Melody yang baru datang langsung membuat Dad Matthew menoleh ke arah pintu kamar.

__ADS_1


"Thalita, Matt kenapa?" Tanya Mom Melody pada Mami Thalita yang sejak tadi hanya berdiri di tepi ranjang.


"Punggungnya keseleo sepertinya, Mel! Ini juga masih menunggu Sakya pulang. Sakya yang paham hal-hal semacam ini," jelas Mami Thalita yang langsung membuat Mom Melody menghampiri sang suami.


"Kau sedang apa disini sebenarnya, Matt? Kenapa punggungmu sampai keseleo?" cecar Mom Melody pada Dad Matthew.


"Aku tadi mau menjemput Gretha karena katanya Gretha tak betah-"


"Dad! Jangan mengarang dan membohongi Mom!" Gertak Gretha memotong cerita Dad Matthew.


"Gretha betah kok disini! Dad saja yang maksa-maksa Gretha buat pulang, lalu sok-sokan mau membopong Gretha! Eh, malah punggungnya keseleo," Cerocos Gretha membuka semua aib Dad Matthew hari ini. Sontak Dad kandung Gretha itu langsung melengos.


"Ngapain kamu maksa-maksa Gretha untuk pulang, Matt?" Desis Mom Melody merasa geregetan pada sang suami.


"Memalukan!" Gerutu Mom Melody lagi dan Dad Matthew hanya meringis.


"Ngomong-ngomong, Barley nggak Mom ajak kesini?" Tanya Gretha selanjutnya seraya celingukan mencari Barley.


"Barley baru saja dijemput papanya. Ternyata Bagus pulang lebih cepat," terang Mom Melody yang langsung membuat Gretha membulatkan bibirnya.


"Padahal Gretha belum sempat pamitan pada Barley tadi."


"Salah sendiri Dad ajak pulang nggak mau!" Sergah Dad Matthew menyalahkan Gretha yang sekarang ganti merengut.


Tak berselang lama, Sakya akhirnya tiba di rumah. Suami Gretha itu bergegas memeriksa Dad Matthew yang hingga kini masih tengkurap si atas tempat tidur Sakya.


"Bagaimana?" Tanya Mami Thalita setelah Sakya sekesai memeriksa.


"Hanya keseleo, Mi!" Jawab Sakya santai.


"Kau yakin tidak salah diagnosa, Sakya? Rasanya sakit sekali dan seperti tulang patah!" Ujar Dad Matthew meragukan jawaban Sakya.


"Tidak ada yang patah, Dad! Ini murni hanya keseleo," jawab Sakya yakin.


"Bagaimana kau bisa tahu tak ada yang patah? Kau saja belum melakukan rontgen dan hanya merabanya tadi!" Sergah Dad Matthew lagi masoh merasa sangsi.


"Yang pertama, karena Dad tidak ada riwayat jatuh atau mengalami bebturan keras. Dad hanya memutar punggung tadi kata Mami, lalu tiba-tiba Dad kesakitan. Jadi itu mengindikasikan kalau yangvterjadi pada punggung Dad itu hanya keseleo."


"Lalu yang kedua, kalau memang tulang Dad ada yang patah, saat tadi Sakya menekan bagian yang patah Dad pasti akan langsung menjerit atau berteriak. Tapi tadi Dad hanya meringis dan tak terlihat kesakitan. Jadi ini memang murni keseleo, Dad! Tidak ada yang patah, dan Sakya akan membenarkannya, lalu membebat punggung Dad agar membaik," jelas Sakya panjang lebar yang langsung membuat Dad Matthew mendengus.


"Menantumu ini dokter, Matt! Jam terbangnya sudah tinggi! Dan kau masih saja meragukan diagnosisnya!" Omel Mom Melody selanjutnya yang kembali membuat Dad Matthew berdecak.


Sakya sudah mengambil ancang-ancang untuk memulihkan punggung Dad Matthew yang keseleo saat kembali terdengar protes dari Dad kandung Gretha tersebut.


"Kau mau apa, Sakya?"


"Membenarkan punggung Dad agar Dad segera bisa telentang, lalu bangun dan duduk!" Jawab Sakya seraya melakukan satu gerakan cepat yang langsing membuat Dad Matthew menjerit keras.


"Sakya!!!! Keparat kamu!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2