
"Kau kan dokter, kenapa malah memanggil dokter lain?" Komentar Dad Matthew saat tadi Sakya menelepon Ethan dan meminta sepupunya itu untuk datang memeriksa Gretha.
Sakya hanya meringis seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa jangan-jangan kau itu dokter gadungan?" Ujar Dad Matthew lagi sinis.
"Sakya dokter ortopedi, Dad! Kan kemarin Sakya membantu memulihkan punggung Dad yang keseleo," sergah Sakya menjelaskan dan Dad Matthew malah mendengus sekarang.
Ethan sudah selesai memeriksa Gretha dan pria itu segera menghampiri Sakya dan Dad Matthew.
"Bagaimana?" Tanya Sakya cepat pada sang sepupu.
"Tensinya rendah dan mungkin Gretha juga belum makan."
"Apa kau tadi tidak mengingatkan Gretha untuk makan?" Dad Matthew langsung menghakimi Sakya dan mendelik pada menantunya tersebut.
"Sakya baru pulang praktek, Dad!" Kilah Sakya beralasan.
"Aku boleh memberikan saran?" Ethan sedikit berbisik pada Sakya.
"Saran apa? Apa ada indikasi penyakit berat pada Gretha?" Cecar Sakya dengan raut wajah cemas.
"Bukan!" Ethan menepuk punggung Sakya dan sedikit membenarkan kacamatanya.
"Kau belilah testpack ke apotek, lalu nanti saat Gretha bangun-"
"Maksudmu Gretha sedang hamil sekarang?" Sela Sakya dengan kedua mata yang membelalak dan suara yang sedikit keras.
"Gretha hamil?" Dad Matthew yang mendengar ucapan Sakya barusan langsung ikut membelalak dan menghampiri sang menantu.
"Bukankah Dad sudah bilang untuk pakai pengaman, Sakya!!!" Geram Dad Matthew yang kini sudah mencengkeram kerah baju Sakya.
"Uncle!" Ethan buru-buru melerai mertua dan menantu yang hampir berkelahi tersebut.
"Diam, kau!" Dad Matthew menuding galak pada Ethan dan meminta sepupu Sakya itu untuk tak ikut campur.
"Sakya juga tak sengaja, Dad!" Cengir Sakya beralasan.
"Tidak sengaja tapi melakukannya berulang kali!"
"Namanya juga lupa, Dad!" Sergah Sakya lagi berani.
"Ck!" Dad Matthew langsung berdecak dan sedikit mendorong tubuh Sakya.
"Dad akan memberikanmu pelajaran, kalau Gretha benar-benar hamil!" Ancam Dad Matthew pada Sakya yang langsung meringis.
"Sakya pasti tanggung jawab dan tak akan kabur, Dad!" Seloroh Sakya yang kembali membuat Dad Matthew berdecak dan mendelik pada Sakya.
"Mom!" Panggil Gretha tiba-tiba yang langsung menyudahi perdebatan Sakya dan Dad Matthew.
"Gretha! Kau sudah bangun?" Dad Matthew bergegas menghampiri Gretha yang sedang berusaha untuk bangun, lau duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Dad, Mom kemana?" Tanya Gretha pada Dad Matthew.
"Mom sedang keluar-"
"Gretha sudah bangun, Matt?" Pertanyaan dari Mom Melody yang baru muncul dari luar kamar, memotong kalimat Dad Matthew.
"Mom!" Panggil Gretha yang langsung merentangkan kedua tangannya ke arah Mom Melody.
"Kau benar-benar membuat Mom cemas!" Ucap Mom Melody yang kini sudah memeluk Gretha.
"Ethan boleh memeriksa Gretha lagi, Aunty?" Izin Ethan yang sudah kembali menghampiri Gretha.
"Eh, Pak Dokter berkacamata," sapa Gretha seraya terkikik saat melohat wajah Ethan.
"Hai, aku sepupunya Sakya, Gre! Kau masih ingat, kan?" Tanya Ethan berbasa-basi sambil memeriksa Gretha lagi.
"Ingat sedikit, Pak Dok-" Gretha tak melanjutkan kalimatnya dan wanita itu sudah menatap pada Sakya yang sejak tadi hanya diam.
"Ingat sedikit, Pak Dokter baik!"
"Bukan Pak Dokter jahat kayak yang itu!" Ujar Gretha panjang lebar seraya mengendikkan dagunya ke arah Sakya.
"Pak Dokter jahat?" Ethan mengernyit, lalu mengikuti arah pandang Gretha.
"Sakya jahat?" Tebak Ethan menerka-nerka. Langsung terdengar decakan dari Sakya.
"Itu tadi hanya salah paham, Gre! Aku bisa menjelaskan-"
"Nggak usah dijelaskan lagi!"
"Kalau memang Pak Dokter mau balikan sama Mbak Jill, balikan sana!"
"Gretha ikhlas, kok! Nanti Gretha juga mau balikan sama Uan!" Cerocos Gretha seraya bersungut-sungut pada Sakya.
__ADS_1
"Jangan balikan pada ikan Haruan brengsek itu, Gre-"
"Sakya!" Tegur Mom Melody dan Dad Matthew bersamaan.
"Jangan pernah mengumpat di rumah ini!" Dad Matthew menuding sekaligus mendelik pada Sakya.
"Tapi Uan Uan itu memang breng-" Kalimat Sakya tak selesai karena delikan Dad Matthew sudah semakin tajam ke arahnya. Mungkin sebentar lagi bola mata Dad kandung Gretha itu akan meloncat keluar.
Baiklah, sebaiknya Sakya tak melanjutkan umpatannya.
"Ngomong-ngomong, Jill itu siapa, Sakya?" Tanya Mom Melody selanjutnya yang rupanya mendengar cerocosan Gretha tadi.
Ya iyalah, dengar!
Gretha saja bersuara dengan nyaring seperti itu!
"Mantan pacarnya Pak Dokter, Mom! Dan sekarang Pak Dokter mau balikan sama Mbak Jill-"
"Tidak!" Potong Sakya tegas.
"Lalu kenapa tadi mengantar pulang Mbak Jill kalau tidak ada niat balikan?" Gretha berteriak marah pada Sakya.
"Sudah gitu! Di dalam mobil juga mesra-mesraan!" Ungkap Gretha lagi yang bibirnya sudah merengut sekarang.
Bukan!
Bukan raut wajah Gretha yang saat ini Sakya pikirkan, tapi tatapan marah dari Dad Matthew dan Mom Melody.
"Kami tidak mesra-mesraan di dalam mobil, Gre!"
"Aku tadi hanya mengantar Jill dan Jack pulang, lalu aku langsung pualng juga."
"Aku sama sekali tak-'
"Lalu ini apa?" Sergah Gretha seraya menunjukkan foto dimana Sakya dan Jill sedang berpegangan tangan. Lalu foto berikutnya, Sakya terlihat sedang mengusap wajah Jill.
Sial!
Sakya sama sekali tak melakukan semua adegan itu di dalam mobil tadi!
Itu pasti editan!
Lalu siapa orang kurang kerjaan yang mengedit foto Sakya dan mengirimkannya pada Gretha?
"Berani kau berselingkuh di belakang Gretha, hah?"
Bugh!
Dad Matthew menghadiahi Sakya sebuah bogem mentaj demi meluapkan emosinya
"Dad! Sakya bisa menjelaskan!"
"Foto itu hanya editan-"
Bugh!
Bogem mentah Dad Matthew kembali mendarat di wajah Sakya.
"Uncle! Tolong lepaskan Sakya dan biarkan Sakya menjelaskan." Ethan berusaha melerai Dad Matthew yang hebdak melayangkan bogem mentah lagi pada Sakya.
"Diam, kau!" Gertak Dad Matthew galak pada Ethan.
"Dad, Sakya berani bersumpah!" Sakya akhirnya berteriak frustasu.
"Sakya tidak pernah selingkuh di belakang Gretha, Dad! Sakya mencintai Gretha!" Ungkap Sakya lagi yang langsung membuat Dad Matthew kembali mendelik ke arahnya.
"Sakya bersumpah, kalau Sakya tak pernah selingkuh apalagi melakukan adegan di foto itu!"
"Itu semua hanya editan!" Sergah Sakya seraya menatap penuh kesungguhan pada Dad Matthew yang sepertinya masih diliputi amarah.
"Apa aku boleh lihat foto Sakya tadi, Gre?" Tanya Ethan memecah kebisuan di dalam kamar tersebut.
"Sepupuku seorang detektif, jadi mungkin dia bisa mengidentifikasi apa foto itu editan atau memang benar. Dia detektif yang jujur dan tak kenal dengan Sakya," ujar Ethan lagi seolah sedang meyakinkan semua orang.
"Berikan fotonya pada Ethan, Gretha!" Ucap Dad Matthew akhirnya seraya menyingkir dari atas Sakya. Ethan buru-buru membantu Sakya untuk berdiri, sebelum kemudian pria itu memindahkan foto Sakya yang sedang bermesraan dengan Jill dari ponsel Gretha ke ponselnya.
Ethan tak membuang waktu dan segera mengirimkan foto tadi pada sang sepupu, Haezel yang berprofesi sebagai detektif.
"Berapa lama proses identifikasinya, Ethan?" Tanya Dad Matthew seraya bersedekap.
"Saya kurang tahu, Uncle. Tapi saya akan meminta Haezel untuk segera memeriksanya." Tepat saat Ethan menyelesaikan kalimatnya, ponsel pria itu berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Ethan terlihat serius membaca pesan yang masuk, sebelum kemudian, Sakya menunjukkan pesan yang tadi ia baca yang rupanya dari sang sepupu.
[Sangat jelas kalau itu foto editan, Ethan! Aku rasa yang mengedit payah dan tidak profesional! Kasar sekali editannya!] -Haezel-
__ADS_1
"Ck!" Dad Matthew berdecak, lalu menghampiri Gretha yang masih merengut dan dirangkul oleh Mom Melody.
"Ada apa? Sudah ada jawaban?" Tanya Mom Melody serius.
"Ya! Itu foto editan!" Jawab Dad Matthew malas.
"Berarti Pak Dokter nggak bohong, dong! Lalu kenapa Dad memukuli Pak Dokter?" Cecar Gretha yang sekarang malah ganti menghakimi Dad Matthew.
"Dad emosi tadi, Gre! Bukankah kau juga yang memancing emosi Dad?" Sergah Dad Matthew antara geregetan dan mungkin kesal pada Gretha.
"Tapi seharusnya kah tak sekasar tadi pada Sakya, Matt!" Timpal Mom Melody ikut-ikutan menghakimi Dad Matthew.
"Dad harus minta maaf pada Pak Dokter!" Ujar Gretha selanjutnya pada sang Dad.
"Tapi bukan Dad yang menuduh Sakya selingkuh!" Sergah Dad Matthew merasa keberatan sekaligus gengsi tentu saja!
"Matt!" Desis Mom Melody yang langsung membuat Dad Matthew berdecak.
"Baiklah! Dad minta maaf, Sakya!" Ucap Dad Matthew setengah hati sebelum kemudian pria paruh baya itu keluar dari kamar Gretha seraya tak berhenti menggerutu. Sementara Sakya hanya mengul*m senyum melohat tingkah laku sang Dad mertua.
"Sebaiknya memarmu segera dikompres es batu, Sakya!" Saran Ethan seraya meneriksa menar di wajah Sakya akibat bogem mentah Dad Matthew tadi.
"Ya!"
"Jadinya Gretha sakit apa, Pak Dokter berkacamata-"
"Ethan! Panggil saja Ethan, Gre!" Sela Ethan mengoreksi panggilan Gretha padanya.
"Baiklah, jadinya Gretha sakit apa, Dokter Ethan?" Tanya Gretha mengulangi pertanyaannya.
"Tekanan darahmu rendah karena mungkin kau belum makan tadi, Gre." Terang Sakya yang langsung membuat Gretha mengangguk.
"Tadinya Gretha mau nengajak Pak Dokter makan! Tapi Pak Dokter malah pulang bareng Mbak Jill," cerita Gretha seraya nemainkan kedua telunjuknya.
"Aku benar-benar minta maaf soal tadi, Gre!" Ucap Sakya cepat seraya menghampiri Gretha.
"Aku janji itu yang terakhir dan besok-besok aku tak akan dekat-dekat dengan Jill," janji Sakya selanjutnya pada Gretha.
"Jill itu mantan pacarmu, Sakya?" Tanya Mami Melody penasaran.
"Iya, tapi itu sudah lama sekali, Mom! Dan Sakya sudah tak ada perasaan apa-apa pada Jill," jawab Sakya menatap bersungguh-sungguh pada Mom Melody.
"Seharusnya kau juga tak dekat-dekat dengan Jill kalau memang tak ada perasaan apa-apa lagi!" Ujar Mom Melody sedikit menyindir Sakya.
"Iya, Mom! Sakya salah tadi. Dan Sakya benar-benar minta maaf!"
"Sakya tak akan mengulanginya lagi," janji Sakya menatap bergantian pada Mom Melody dan juga Gretha.
"Sakya sudah minta maaf, Gre! Jadi marahnya udahan," nasehat Mom Melody selanjutnya seraya mengusap kepala Gretha.
"Iya!" Jawab Gretha seraya bersedekap.
"Sakya, jangan lupa pesanku tadi, ya!" Ujar Ethan menyela sekaligus mengingatkan Sakya.
"Testpack tadi? Baiklah, aku akan membelinya nanti," jawab Sakya seraya mengangguk.
"Nanti langsung ke dokter kandungan saja kalau Gretha memang hamil. Aku akan pulang sekarang," pamit Ethan akhir sebelum kemudian sepupu Sakya itu berpamitan juga pada Gretha dan Mom Melody.
Sakya segera mengantar Ethan ke depan, meninggalkan Mom Melody dan Gretha di dalam kamar.
"Gre, Mom mau tanya. Apa kau sudah dapat tamu bulanan?" Tanya Mom Melody setelah Sakya dan Ethan kekuar dari kamar. Tadi Mom Melody memang samar-samar mendengar obrolan Sakya dan Ethan mengenai testpack.
"Tamu bulanan?" Gretha menatap sang Mom, lalu tampak berpikir.
"Kapan terakhir kau mendapat tamu bulanan," Mom Melody mengganti pertanyaannya.
"Waktu itu, Mom." Jawab Gretha setelah berpikir beberapa waktu.
"Waktu itu kapan?" Tanya Mom Melody lagi semakin tak sabar.
"Sebelum Gretha ketemu Pak Dokter." Jawab Gretha akhirnya yang langsung membuat Mom Melody berpikir. Mom Melody menghitung-hitung jarak waktu antara pernikahan dadakan Gretha dan tanggal hari ini.
Sudah hampir lima minggu sejak pernikahan dadakan Gretha dan Sakya. Dan Gretha belum sapat tamu bulanan.
Jadi itu artinya.....
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like.
__ADS_1