Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
MAMI SAKIT


__ADS_3

"Ini mobil!" Ucap Sakya seolah sedang mengajari Barley bicara. Namun Barley hanya melengos dan kembali fokus mengamati mobil mainan lain di tangannya. Bocah empat tahun itu sama sekali tak mau menirukan ucapan Sakya barusan.


"Kenapa cuma diamati? Begini cara mainnya," Sakya mengambil mobil yang dipegang oleh Barley, lalu hendak mengajari Barley bagaimana cara memainkannya,saat kemudian balita itu malah menangis.


"Pak Dokter apain Barley-nya? Kok nangis?" Tanya Gretha yang sudah buru-buru menghampiri Sakya.


"Tidak ada!" Jawab Sakya tergagap.


"Kau mencubitnya?" Tuduh Dad Matthew yang sudah mendelik pada Sakya.


"Tidak, Dad!"


"Sakya hanya mengajari Barley bagaimana memainkan mobil yang benar," jelas Sakya pada Dad Matthew dan juga Gretha.


"Tapi Barley main mobilnya memang seperti itu Pak Dokter!"


"Jangan diganggu atau nanti Barley marah!" Tukas Gretha menakut-nakuti Sakya yang memilih untuk segera menjauhi Barley. Dad Matthew sudah menggendong dan menenangkan balita itu sekarang.


"Kenapa melihat Barley seperti itu? Dia anak yang normal!" Sergah Dad Matthew pada Sakya yang sejak tadi masih memperhatikan Barley yang kini berada di gendongan Dad Matthew.


"Barley memang jadi pendiam dan jarang ngomong sejak mamanya meninggal, Pak Dokter!" Cerita Gretha sedikit berbisik pada Sakya


"Mama Barley meninggal kenapa?" Tanya Sakya balik berbisik pada Gretha.


"Kecelakaan," jawab Gretha lirih dan Sakya tak bertanya lagi. Sakya hanya menatap prihatin pada Barley yang sudah dibawa pergi Dad Matthew ke halaman belakang.


Sakya kemudian membuka ponselnya yang terasa bergetar. Sepertinya ada pesan masuk.


[Kau masih cuti? Aku tak melihatmu di rumah sakit] -Ethan-


[Besok aku baru praktek lagi. Kenapa? Ada yang mencariku?] -Sakya-


[Ya! Rumi merindukanmu aku rasa] -Ethan-


Sakya tersenyum sendiri saat membaca pesan dari Ethan, sepupunya yang juga berprofesi sebagai dokter. Cuma bedanya Ethan adalah dokter umum dan Sakya adalah dokter Ortopedi. Sedangkan Rumi adalah tetangga, sekaligus ipar Ethan yang beberapa bulan ini menjadi pasien Sakya, setelah kasus penganiayaan yang menimpanya tujuh tahun silam dan membuat Rumi lumpuh.


"Pak Dokter kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Gretha kepo seraya melihat ke layar ponsel Sakya.


"Rumi siapa? Kok merindukan Pak Dokter? Pacar Pak Dokter, ya?" Cecar Gretha dengan ekspresi wajah yang sudah merengut karena membaca pesan dari Ethan barusan.


"Hah? Rumi itu laki-laki, Gre!" Ujar Sakya seraya terkekeh.


"Masa? Tapi temannya Gretha dulu yang namanya Rumi itu perempuan! Nama panjangnya Arumi!" Sergah Gretha merasa tak percaya. Istri Sakya itu tetap merengut dan sepertinya cemburu akut sekarang.


"Yang ini laki-laki! Tetangganya Ethan. Kau ingat Ethan dan Ruby yang waktu itu datang ke pernikahan kita, kan?"


"Yang mana?" Tanya Gretha bingung.


"Yang pakai kacamata," jelas Sakya lagi. Gretha masih tampak mengingat-ingat sebelum kemudian wanita itu menggeleng.


"Lupa." Ucap Gretha polos.


"Baiklah, nanti kapan-kapan kalau ketemu lagi kamu pasti ingat," hibur Sakya seraya merangkul Gretha.


Ping!


Ada pesan masuk lagi dari Ethan.


[Ngomong-ngomong, kondisi Aunty Thalita bagaimana? Sudah baikan?] -Ethan-


Sakya sontak mengernyit saat membaca pesan dari Ethan. Maksudnya baikan? Memangnya Mami Thalita sakit?


[Memangnya Mami sakit?] -Sakya-


[Loh, kamu belum tahu? Kemarin Aunty Thalita pingsan di rumah dan aku datang ke sana untuk memeriksa. Aku pikir kau sudah tahu] -Ethan-

__ADS_1


[Tidak ada yang memberitahuku. Mami kenapa jadinya setelah kau periksa?] -Sakya-


[Tekanan darahnya tinggi. Sepertinya sedang banyak pikiran] -Ethan-


[Baiklah, terima kasih informasinya, Ethan! Aku akan pulang sekarang] -Sakya-


[Tunggu! Kau dimana memangnya sekarang? Sedang honeymoon?] -Ethan-


Sakya tak membalas pesan Ethan yang terakhir dan pria itu bergegas bangkit berdiri dan hendak menuju ke kamar. Sakya sampai melupakan keberadaan Gretha yang sejak tadi duduk menyender ke punggungnya.


"Eh!" Gretha nyaris terjengkang karena Sakya berdiri tanpa aba-aba.


"Astaga!"


"Hati-hati, Gre!" Sakya buru-buru membantu Gretha untuk bangun dan istri Sakya itu sudah langsung merengut hingga mungkin Sakya bisa menguncir bibirnya memakai karet gelang.


"Pak Dokter ini!" Omel Gretha bersungut-sungut.


"Mau kemana, sih?" Tanya Gretha selanjutnya yang sudah mengekori Sakya ke kamar.


"Ke rumah Mami," jawab Sakya seraya menyambar jaketnya, lalu mengambil dompet dan kuncu mobil.


"Ikut!" Gretha sudah menggamit lengan Sakya.


"Pangkal pahanya sudah sembuh?" Tanya Sakya khawatir seraya memeriksa pangkal paha Gretha.


"Udah!"


"Nanti malam main kuda-kudaannya di rumah Mami, ya?" Ujar Gretha lagi seraya memonyongkan bibirnya pada Sakya.


Sakya hanya terkekeh lalu mencium singkat bibir Gretha yang menggemaskan tersebut.


"Yah, kok cuma bentar, Pak Dokter!" Gretha sudah mengalungkan kedua lengannya ke leher Sakya sekarang dan kembali memonyongkan bibirnya lagi pada Sakya.


"Kita harus ke rumah Mami, Gre!"


"Cium dulu!" Rengek Gretha lagi dan Sakya akhirnya menuruti kemauan Gretha. Sakya segera mengecup sekaligus mel*mat bibir merekah Gretha. Cukup lama keduanya berpagutan, sebelum kemudian terdengar suara pintu kamar yang ditutup dengan keras hingga membuat Gretha terlonjak.


"Siapa yang menutup pintu, Pak Dokter? Hantu, ya? Di rumah Dad ada hantu?" Cecar Gretha yang langsung membuat Sakya tergelak.


"Kok malah ketawa?" Gretha merengut dan memukul-mukul dada Sakya.


"Iya kamu lucu! Bisa-bisanya mikir kalau tadi itu hantu," ujar Sakya di sela-sela gelak tawanya.


"Trus siapa?" Tanya Gretha menatap sok serius pada Sakya.


"Nggak tahu!" Sakya mengendikkan kedua bahunya.


"Ayo pergi sekarang!" Ajak Sakya akhirnya seraya menggandeng tangan Gretha.


"Eh, iya! Mau ke rumah Mami."


"Aunty Zeline-"


"Kak Zeline!" Sakya mengoreksi panggilan Gretha pada Zeline dengan cepat. Kenapa juga istri Sakya ini lupa-lupa terus?


"Kak Zeline tidak di rumah, kan?" Gretha mengulangi pertanyaannya pada Sakya.


"Tidak sepertinya. Ini kan bukan weekend. Kak Zeline biasanya ngantor kalau weekdays begini," jawab Sakya seraya membuka pintu kamar.


Sudah ada Dad Matthew di depan pintu yang membuat jantung Sakya nyaris meloncat keluar.


Ya ampun!


Sedang apa coba Dad Matthew di depan kamar Sakya?

__ADS_1


Melakukan sidak lagi?


Atau jangan-jangan tadi yang menutup pintu kamar Sakya dengan keras juga Dad Matthew?


"Dad! Barley mana?" Tanya Gretha yang sudah ganti bergelayut pada Dad Matthew.


"Sedang main."


"Kalian mau kemana?" Tanya Dad Matthew penuh selidik karena melohat Sakya yang sydah memakai jaket dan memegang kunci mobil.


"Mau ke rumah Maminya Pak Dokter, Dad! Mau ikut?" Jawab Gretha seraya mengajak Dad Matthew yang tentu saja membuat Sakya ingin garuk-garuk tembok.


Kenapa juga harus mengajak Dad Matthew?


"Mami sakit, Dad! Jadi Sakya mau melihat Mami dulu-"


"Mami sakit, Pak Dokter?" Sela Gretha memotong kalimat Sakya dan berekspresi seperti orang kaget.


"Iya," Sakya mengangguk menjawab pertanyaan Gretha.


"Tapi nanti pulang lagi kesini, kan? Gretha harus tetap tinggal di rumah ini setelah kalian menikah! Itu dulu perjanjiannya!" Cerocos Dad Matthew mengingatkan Sakya tentang perjanjian sebelum menikah, dimana Gretha dan Sakya harus tinggal di kediaman Orlando. Jika Sakya menolak, maka Sakya harus siap LDR karena Dad Matthew tidak mengizinkan Gretha untuk tinggal di kediaman Abraham.


Egois sekali!


Tapi waktu itu Sakya juga sudah setuju.


Huh!


"Iya, Dad! Nanti Sakya dan Gretha akan pulang lagi kesini. Sakya hanya ingin menjenguk Mami," jawab Sakya akhirnya tak punya pilihan.


Nasib nasib!


Punya Dad mertua kejam begini!


"Kenapa nggak nginep di rumah Mami saja, Pak Dokter? Gretha kan mau lohat kamar Pak Dokter di rumah Mami dan main kuda-" Sakya buru-buru membungkam mulut Gretha yang asal nyeplos kalau bicara.


Dasar Gretha!


"Main apa, Gre?" Tanya Dad Matthew mengernyit.


"Kuda-kudaan, Dad!" Jawab Gretha keras setelah wanita itu berhasil melepaskan bekapan Sakya.


Sakya langsung meringis pada Dad Matthew yang kini sudah menatap geram kepadanya.


"Sakya!"


.


.


.


💜 Cerita Ethan dan Ruby ada di "Penantian Ruby"


💜 Cerita Rumi dan Vivian ada di "RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh"


💜 Cerita Zeline dan Gavin ada di "Telat Nikah (Zeline&Gavin)"


Semuanya sudah tamat!


Cek profil Othor untuk cerita lengkapnya.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2