
"Yeay!" Gretha bersorak lebay saat wanita itu berhasil memasukkan bola terakhir ke dalam lubang. Ternyata Gretha memang sudah pandai bermain bilyard setelah pagi tadi Papi Zayn mengajarinya.
Padahal Sakya pikir, Gretha pandainya bermain pacuan kuda saja di ranjang. Ternyata Gretha pandai bermain bilyard juga setelah diajari.
"Gretha menang, kan?" Tanya Gretha lagi yang sudah sangat antusias.
"Menang?" Zeline mencibir dan mengejek Gretha.
"Aku yang menang!" Lanjut Zeline dengan nada sombong sembari memukul dadanya.
"Tapi Gretha juga udah masukin banyak bola tadi, Kak!" Cebik Gretha seraya menghentakkan satu kakinya.
"Poinku lebih banyak, Bocah!" Zeline mengacak rambut Gretha yang tentu saja semakin membuat adik iparnya itu merengut.
"Pak Dokter...." Gretha akhirnya mengadu pada Sakya yang sejakmtadi menjadi penonton.
"Permainanmu sudah bagus," puji Sakya seraya merangkul Gretha dengan mesra.
"Gretha juga udah pinter nyodok bola, kan?" Ujar Gretha lagi yang langsung membuat Sakya mengangguk.
"Iya!"
"Yeay!" Gretha kembali bersorak lebay, saat kemudian ponsel Gretha yang ada di atas meja berdering nyaring.
"Ada telepon!" Gretha melesat cepat dari pelukan Sakya, kemudian wanita itu mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Noah?
"Halo, Noah! Ada apa?" Sambut Gretha setelah mengangkat telepon sang adik.
"Kak, sedang di mana?"
"Di rumah Pak Dokter! Bermain bilyard!" Jawab Gretha pamer.
"Wuiiihhh! Bisa memang?"
"Bisalah! Kan diajari sama Papi dan Pak Dokter," ucap Gretha pamer lagi.
"Oh. Noah mau juga diajari-"
"Aduh! Sakit, Dad!"
Terdengar suara Noah yang mengaduh dan menyebut-nyebut nama Dad. Apa Noah sedang bersama Dad Matthew?
"Noah, ada apa?" Tanya Gretha penasaran.
"Nggak apa-apa, Kak! Ada yang nakal ini di samping Noah." Adik Gretha itu malah terkikik sekarang.
"Kau sedang duduk bersama siapa memang? Bersama Dad?" Tebak Gretha menerka-nerka.
"Iiii-"
"Eh, enggak enggak!"
"Iya, enggak!"
Gretha mengernyit dan sekarang ia tak percaya dengan jawaban Noah.
"Dad menyuruhmu bicara apa?" Tanya Gretha to the point akhirnya.
"Kata Dad, Kak Gretha disuruh pulang karena Dad sedang sakit sekarang-"
"Auuuw! Sakit, Dad! Kenapa Noah ditoyor?"
"Sudah dibilang untuk akting! Kenapa malah berkata jujur?"
Samar-samar terdengar omelan Dad Matthew pada Noah. Dan sepertinya dua pria di keluarga Orlando tersebut sedang berkelahi dan jambak-jambakan sekarang.
"Dad!" Panggil Gretha lumayan kencang. Zeline yang hendak menyodok bola billiard sampai kaget dan sodokannya meleset.
"Ish!" Geram Zeline kesal dan Gretha hanya meringis tanpa dosa seperti biasa.
"Pindah sana kalau mau teriak-teriak di telepon!" Usir Zeline selanjutnya pada Gretha yang akhirnya pindah ke sofa.
"Dad!" Gretha memanggil Dad Matthew sekali lagi.
__ADS_1
"Noah, apa Dad-"
"Gretha! Kau ingin pulang dan Dad jemput sekarang?"
"Tidak!" Jawab Gretha cepat.
"Gretha sudah pandai bermain billiard, Dad! Dan Gretha mau mengalahkan Kak Zeline setelah ini!" Lanjut Gretha lagi beralasan.
"Dad jemput sekarang dan kau bermain billiard di rumah saja, oke!"
"Dad kangen berat padamu, Gretha!"
Gretha sontak tergelak mendengar perkataan Dad Matthew barusan.
"Kan tadi baru bertemu, Dad! Masa iya sudah kangen?"
"Kau pulang sekarang dan bermain billiard di rumah, ya! Dad sudah membelikanmu meja billiard baru!"
"Mmmmm, tapi kalau Gretha main billiard di rumah Dad, nggak ada Kak Zeline. Gretha kan maunya main bersama Kak Zeline," ujar Gretha kembali beralasan.
"Kau kan bisa main bersama Noah!"
"Yah, Noah mana bisa, Dad! Noah bisanya main game online saja!" Tukas Gretha cepat.
"Kalau begitu, kau ajak Kak Zeline-mu itu bermain billiard di sini!"
"Sebentar, Dad!" Gretha bergegas menghampiri Zeline yang kini sedang bermain billiard bersama Sakya.
"Yeay! Pak Dokter hebat!" Sorak Gretha lebay saat Sakya berhasil memasukkan bola ke dalam lubang. Gretha langsung menghampiri Sakya dan menciumi wajah suaminya tersebut.
"Lebay!" Cibir Zeline seraya berdecak.
"Gretha!"
"Eeh, iya, Dad!" Gretha baru ingat kalau ia tadi masih bicara di telepon bersama Dad Matthew.
"Dad jemput sekarang?"
"Sebentar, Dad! Gretha tanya ke Kak Zeline dulu-"
"Kak Zeline mau main billiard di rumah Gretha, nggak? Dad baru saja beli meja billiard baru," tanya Gretha menatap serius pada Zeline.
Sakya sontak menahan tawa mendengar pertanyaan Gretha pada Zeline. Sepertinya Dad Matthew niat sekali membujuk Gretha yang keras kepala dan banyak alasan untuk pulang ke rumah.
"Nggak mau!" Jawab Zeline akhirnya.
"Disini sudah ada meja billiard, kenapa juga aku harus jauh-jauh ke rumah kamu," sambung Zeline lagi beralasan.
"Oke!" Gretha kembali bicara pada Dad Matthew.
"Bagaimana, Gre?"
"Kak Zeline tidak mau, Dad! Jadi Gretha nggak usah dijemput, ya! Gretha mau bobok disini lagi malam ini!" Jawab Gretha panjang kali lebar.
"Ck! Dad kesepian di rumah, Gre!"
"Kan ada Mom! Dad lebay, ah!" Cibir Gretha pada sang Dad.
"Udah, ya, Dad! Gretha mau lanjut main billiard! Bye!" Pungkas Gretha akhirnya seraya menutup telepon dari Dad Matthew. Gretha lalu menghampiri Sakya yang sedang bersiap menyodok bola.
"Menang?" Tanya Gretha seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Sakya.
"Belum," jawab Sakya sebelum kemudian pria itu fokus ke bolanya lagi.
"Gretha aja yang memukul, boleh, Pak Dokter?" Tanya Gretha lagi membuyarkan konsentrasi Sakya.
"Boleh!" Sakya tak jadi memukul bola, lalu memberikan tongkatnya pada Gretha.
"Yang mana?" Tanya Gretha yang sudah mengambil ancang-ancang.
"Yang ini," Sakya ikut memegang tongkat Gretha lalu mengajari istrinya tersebut.
"Ck! Hadeeuuuh! Kenapa malah mesra-mesraan begitu, sih?" Gerutu Zeline kesal seraya membanting tongkatnya.
"Udahlah! Aku mau istirahat! Daripada cuma jadi obat nyamuk!" Ujar Zeline lagi seraya berlalu meninggalkan Sakya dan Gretha.
__ADS_1
"Makanya cepetan nikah, Kak!" Seru Sakya menggida sang kakak.
"Iya! Besok aku akan menyuruh Armando melamarku langsung!" Jawab Zeline balik berseru, sebelum kemudian kakak perempuan Sakya itu menghilang ke arah dapur.
****
"Pak Dokter!" Panggil Gretha mesra seraya naik ke atas tempat tidur, menyusul Sakya yang sudah terlebih dahulu berada di sana. Salya masih memilih-milih film yang akan ia dan Gretha tonton malam ini.
"Ada apa?" Tanya Sakya pada Gretha yang kini sudah menyusup.ke dalam dekapan Sakya.
"Olahraga ranjang itu apa? Tadi kan Pak Dokter belum jadi ngasih tahu Gretha," tanya Gretha yang rupanya masih ingat dengan pesan Sakya pada Dad Matthew sore tadi mengenai olahraga ranjang.
"Olahraga di atas ranjang," jawab Sakya seraya mencium puncak kepala Gretha.
"Hah? Maksudnya?" Gretmemasang raut wajah bingung.
"Kayak yang sering kita lakukan itu-"
"Main kuda-kudaan itu?" Tanya Gretha cepat.
"Iya, itu salah satunya. Itu namanya olahraga ranjang," jelas Sakya yang langsung membuat Gretha manggut-manggut paham.
"Gretha mau olahraga ranjang lagi kalau begitu!" Ucap Gretha seraya mencium sekilas bibir Sakya.
"Pangkal paha sudah sembuh memang?" Tanya Sakya khawatir.
"Sudah!"
"Lihat ini!" Gretha menyibak gaun tidurnya tanpa malu, lalu menunjukkan pangkal pahanya pada Sakya.
"Udah nggak ruam," ucap Gretha lagi riang.
"Iya, sudah sembuh." Tangan Sakya langsung bergerak nakal dan mengusap milik Gretha yang masih terbalut underwear. Gretha refleks menggelinjang dan Sakya langsung mengulas senyum.
Sakya lanjut meraup bibir Gretha yang merekah, lalu mencecapnya dengan dalam dan penuh gairah. Pasangan pengantin baru itupun segera larut dalam pergelutan panas mereka. Des*han, lenguhan, lalu cecapan demi cecapan tak henti mereka lakukan. Sakya dan Gretha yang kini juga sudah sama-sama naked, mulai bergerak dengan berirama, hingga nafas keduanya sama-sama terengah.
Sakya kembali mel*mat bibir Gretha bersamaan dengan miliknya yang terasa semakin terjepit oleh milik Gretha.
"Aaaarrgghh!" Sakya mengerang, saat miliknya terasa berkedut, lalu.....
"Pakai pengaman dan jangan membuat Gretha hamil dulu! Gretha itu masih kecil!"
Kalimat peringatan dari Dad Matthew sore tadi langsung terngiang di telinga Sakya, tepat setelah Sakya menyemburkan benih-benihnya ke rahim Gretha.
Tanpa pengaman!
Sial!
"Pak Dokter kenapa?" Tanya Gretha seraya mengedip-ngedipkan kedua matanya ke arah Sakya.
"Tidak apa-apa," jawab Sakya seraya tersenyum, karena wajah Gretha yang terlihat begitu lucu, imut, dan menggemaskan. Sakya lalu mencium kening Gretha cukup lama.
"Sudah selesai, ayo bersih-bersih!" Ajak Sakya selanjutnya pada Gretha yang langsung merengut.
"Kenapa nggak lanjut ronde kedua?"
"Ronde kedua?" Sakya sontak mengernyit.
"Heem! Kita pakai gaya yang nungging itu, Pak Dokter!" Ujar Gretha lagi begitu antusias.
"Gaya nungging." Sakya hanya bergumam seraya garuk-garuk kepaka, saat Gretha tiba-tiba sudah jembali mel*mat bibir Sakya.
Eh,
Bukannya kebalik, ya?
Kok Gretha agresif?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.