
"Pak Dokter!"
Sakya masih menikmati mimpi indahnya, saat samar-samar terdengar suara Gretha diiringi goncangan di tubuhnya.
Sedang gempa, ya?
"Pak Dokter!"
Suara Gretha terdebgar lagi dan goncangan di tubuh Sakya terasa menguap.
"Pak Dokter, Gretha ngompol."
Kalimat selanjutnya yang terdengar di telinga Sakya, sukses membuat pria itu membuka matanya dengan lebar, lalu menoleh ke arah Gretha yang sudah setengah duduk di sebelahnya.
"Kasurnya tiba-tiba basah. Piyama Gretha juga basah!"
"Lihat!" Gretha menunjukkan bagian kasur yang basah pada Sakya yang buru-buru memeriksa itu benar-benar air kencing Gretha atau air yang lain. Jangan sampai....
"Ini bukan ngompol, Gre!" Ucap Sakya akhirnya seraya menyibak selimut. Lalu buru-buru bangkit dari atas tempat tidur.
"Trus apa?" Tanya Gretha bingung.
"Mi!" Sakya yang baru membuka pintu kamar langsung berteriak memanggil ai Thalita.
"Mi! Ketuban Gretha pecah!" Teriak Sakya lagi yang sudah kembali menghampiri Gretha, lalu bersiap menggendong istrinta tersebut.
"Kapan pecah ketubannya?" Tanya Sakya sembari menggendong Gretha keluar dari kamar.
"Tadi, pas bangun tidur kayaknya."
"Tiba-tiba keluar sendiri dan nggak bisa berhenti," cerita Gretha sebelum kemudian istri Sakya itu terlihat meringis.
"Kontraksi?" Tebak Sakya yang sama sekali tak dijawab Gretha karena wanita itu sibuk meringis menahan sakit.
"Kok sakit sekali, Pak Dokter!" Keluh Gretha yang wajahnya sudah merah pucat.
"Mi!" Sakya menuruni tangga dengan hati-hati sambil kembali memanggil-manggil Mami Thalita.
"Ada apa? Gretha mau melahirkan?" Tanya Mami Thalita yang sudah tergopoh-gopoh menghampiri Sakya dan sedikit membantu putranya yang sudah ngos-ngosan karena menggendong Gretha dari lantai dua.
"Ketubannya sudah pecah," lapor Sakya.
"Langsung ke rumah sakit!" Ujar Mami Thalita cepat.
Mobil sudah siap di depan teras, dan Sakya serta Mami Thalita bergegas memabwa Gretha ke rumah sakit.
****
"Sakit, Mi!" Rengek Gretha pada Mami Thalita yang sejak tadi terus mendampinginya.
"Sudah bukaan delapan," lapor Dokter Caleb pada Sakya.
"Kenapa cepat sekali?" Tanya Sakya heran. Biasanya orang nelahitkan bukaannya satu dulu, baru lanjut dua, tiga, empat.
Lah ini, Gretha baru sampai di rumah sakit kok sudah bukaan delapan.
"Mungkin sudah kamu buka duluan tadi malam?" Seloroh Dokter Caleb yang langsung berhadiah tinjuan di perut dari Sakya.
"Gretha!" Mom Melody yang baru tiba langsung merangsek masuk dan ikut menghampiri sang putri. Gretha lalu berbisik-bisik pada Mommy kandungnya tersebut.
"Apa?" Mom Melody tampak mengernyit bingung dan Mami Thalita yang tak mendengar Gretha berkata apa pada Mom Melody ikut-ikutan bingung.
"Udah nggak tahan, Mi!"
"Gretha keluarin, ya!" Tukas Gretha tiba-tiba yang sontak langsung nenbuat Mami Thalita dan Mom Melody saling bertatap pandang.
"Eh, apanya yang dikel-" Kalimat Sakya belum selesai saat tiba-tiba Caleb berteriak heboh.
__ADS_1
"Eh! Sebentar!" Caleb bergerak cepat untuk menangkap sesuatu yang katanya mau dikeluarkan oleh Gretha dan sekarang sudah keluar hingga hampir meloncat.
Bukan!
Bukan sesuatu!
Itu bayi Gretha dan Sakya.
Astaga!
"Oweeek!" Tangisan kencang dari bayi Sakya dan Gretha seolah mengembalikan kesadaran semua yang ada di dalam ruang bersalin.
Suasana di dalam kamar persalinan mendadak heboh karena Gretha yang melahirkan tanpa aba-aba di pembukaan yang kata Dokter Caleb masih delapan.
Sepertinya rekan dokter Sakya itu salah mengukur tadi!
Sudah bukaaan lengkap tapi bilang masih bukaan delapan! Dasar!
"Udah lega!" Celetuk Gretha yang sontak membuat Mami Thalita dan Mom Melody kembali bertukar pandang, dengan ekspresi wajah yang sama tentu saja.
Sama-sama heran!
"Melahirkan ternyata nggak sakit, Mom! Cuma kayak mau pup saja," celetuk Gretha lagi yang hanya membuat Mom Melody tersenyum.
"Iya! Kamu hebat!" Puji Mom Melody seraya mencium kening Gretha. Pun dengan Mami Thalita yang ikut mencium kening sang menantu seraya mengucapkan selamat karena kini Gretha sudah resmi menjadi seorang ibu.
"Selamat, Dokter Sakya! Bayimu perempuan," ucap Dokter Caleb seraya memberika bayi perempuan mungil yang baru saja dilahirkan oleh Gretha.
Sakya masih terlihat antara percaya dan tak percaya saat menatap bayi mungil di depannya tersebut.
"Gendong, Papa Sakya! Kenapa malah bengong?" Decak Dokter Caleb sedikit geregetan pada Sakya yang masih terbengong-bengong. Atau mungkin terheran-heran karena proses Gretha melahirkan tadi yang cepat sekali dan tak banyak drama. Bahkan tanpa aba-aba juga.
Benar-benar luar biasa istri kecil Sakya itu!
"Biar Omi yang Gendong!" Mami Thalita sudah bergerak cepat untuk mengambil dan menggendong cucu pertamanya. Sementara Sakya masih saja seperti orang linglung sekarang.
"Hadeeeuh! Dia pikir masih mimpi apa?" Seloroh Dokter Caleb yang sudah lanjut memeriksa kondisi Gretha.
Istri Sakya itu sudah terlihat segar bugar, ditambah tak ada jahitan sama sekali di jalan lahir Gretha.
Luar biasa memang!
"Nanti Gretha jangan langsung diterjang setelah pulang dari rumah sakit," pesan Caleb pada Sakya yang langsung berdecak.
"Aku juga tahu kalau itu! Kau pikir aku seorang maniak?" Dengkus Sakya kesal dan Caleb malah terkekeh sekarang. Teman Sakya itu lalu undur diri dan pamit dari kamar perawatan Gretha.
"Mirip Pak Dokter," Celetukan Gretha yang sedang belajar memangku dan menggendong bayi mungilnya, membuat Sakya bergegas menghampiri istrinya tersebut.
"Sudah menyiapkan nama?" Tanya Mami Thalita menatap bergantian pada Sakya dan Gretha.
"Sudah, Mi!" Jawab Sakya sembari mengusap-usap pipi sang putri. Benar kata Gretha, bayi Sakya dan Gretha ini memang mirip Sakya.
"Namanya Crystal!" Ujar Gretha menyambung kalimat Sakya.
"Crystal Abraham," timpal Sakya menyebutkan nama lengkap sang bayi.
"Tidak diselipkan nama Orlando? Nanti Matthew-" Mami Thalita tak melanjutkan kalimatnya karena mendadak Dad Matthew sudah masuk ke kamar perawatan bersama dengan Papi Zayn.
Tumben!
"Loh, sudah lahir?" Tanya Papi Zayn heran.
"Iya sudah, Pi! Papi yang lambat datang!" Jawab Sakya seraya berdecak.
Sementara Dad Matthew sudah langsung menghampiri Gretha dan memastikan kondisi sang putri.
"Kau baik-baik saja, Gre?" Tanya Dad Matthew cemas.
__ADS_1
"Gretha baik-baik saja, Matt! Tadi proses melahirkannya juga cepat dan mudah sekali," cerita Mom Melody menenangkan sang suami.
"Lihat cucunya Dad!"
"Cantik, kan? Namanya Crystal," Gretha memamerkan sang bayi pada Dad Matthew yang langsung mengernyit.
"Kok wajahnya Sakya semua?" Protes Dad Matthew kemudian yang langsung membuat ruangan sunyi mendadak.
Kriik kriik!
Kriik kriik!
"Kan memang anaknya Sakya! Kamu bagaimana, sih, Matt!" Mom Melody berbisik geregetan sembari menyikut perut sang suami.
"Tapi yang hamil dan melahirkan kan Gretha. Kenapa wajahnya Sakya sekali begini?" Dad Matthew masih saja protes dan Sakya hanya mampu garuk-garuk kepala.
"Nanti yang selanjutnya pasti mirip Gretha," ujar Papi Zayn mencairkan suasana.
"Betul itu! Kebanyakan anak pertama kan memang mirip papanya. Dulu Zeline juga mirip papi, kan?" Timpal Mami Thalita seolah sedang menenangkan Dad Matthew.
Lagipula, kenapa juga mertua Sakya itu seperti alergi sekali pada wajah Sakya. Padahal Sakya kan lumayan tampan dan tidak jelek!
Crystal juga cantik sekali. Putih bersih dan lucu menggemaskan!
"Ngomong-ngomong, Kak Zeline kok belum datang, ya?" Tanya Gretha yang sepertinya mulai rindu pada sang kakak ipar.
"Mami sudah telepon tadi. Katanya nanti agak sore baru datang karena masih ada pekerjaan di kantor," jelas Mami Thalita yang langsung membuat Gretha mengangguk.
"Sudah ada kabar baik dari Zeline, Thalita?" Gantian Mom Melody yang melontarkan pertanyaan.
"Katanya sudah telat, Mel! Semoga benar-benar kabar baik," jawab Mami Thalita yang langsung diaminkan oleh semua orang. Sementara Dad Matthew akhirnya mau menggendong Crystal bergantian dengan Papi Zayn yang terlihat lebih luwes.
"Mirip Sakya!"
"Seperti menggendong Sakya versi mini kalau begini," seloroh Dad Matthew yang sontak membuat semua orang terkekeh.
"Anaknya Sakya itu, Dad!" Sergah Sakya dengan nada sombong.
"Nama belakangnya Orlando, kan?" Tanya Dad Matthew lagi memastikan.
"Nama tengahnya, Dad!"
"Crystal Orland Abraham," ujar Sakya menyebutkan nama sang putri yang baru saja ia revisi.
Tak apa, demi menghindari perang dunia ketiga!
"Loh, Pak Dokter! Bukannya tadi namanya Crystal Abraham saja? Kok jadi ada Orland-nya?" Tanya Gretha membuka aib yang sontak membuat Sakya ingin mengumpat saja.
Kenapa kau selalu bicara jujur di waktu yang tidak tepat, Gretha?
Kenapa?
"Apa? Jadi kau tadi tidak menyelipkan nama Orlando-"
"Matt, sudah!" Mom Melody langsung menyela serta menengahi kemarahan Dad Matthew.
"Tidak usah dibesar-besarkan lagi!" Sergah Mom Melody lagi merasa geregetan pada sang suami.
"Jadi, nama lengkapnya Crystal Orland Abraham, ya!" Papi Zayn segera mencairkan suasana, dan akhirnya ketegangan yang tadi sempat terjadi langsung menguap pergi. Dua keluarga itu kembali mengobrol dengan hangat.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1