Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
BUAH MALAM MINGGU


__ADS_3

"Baru pulang?" Sapa Zeline saat Sakya baru tiba di kediaman Abraham. Kakak kandung Sakya itu sedang duduk santai di teras seraya memainkan ponselnya.


"Kak Zeline tumben nggak ke kantor," bukannya menjawab pertanyaan sang kakak, Sakya malah balik melontarkan pertanyaan.


"Ini baru mau balik ke kantor. Tadi habis nganterin Mami dan Greget ke mall. Ngabisin duit," tukas Zeline sedikit berdecak.


"Gretha, Kak!"


"Kok Greget, sih. Geregetan sama siapa memang?" Gumam Sakya heran.


"Sama Armando!" Jawab Zeline berapi-api.


"Kenapa? Ribut lagi? Udah, nikah aja, biar ributnya pindah ke atas kasur," saran Sakya sesat.


"Boro-boro mau nikah. Dilamar aja belum!" Gerutu Zeline yang wajahnya terlihat kesal.


"Kok gitu? Abang Armand belum mau menikah emang?" Tanya Sakya menerka-nerka.


"Nggak tahulah!"


"Aku mau ke kantor dan mungkin aku pulang malam. Nanti kamu bilang ke Mom-"


"Eh, eh, eh! Ada acara sore ini, Kak!"


"Keluarga besar Abraham kumpul!" Tukas Sakya mengingatkan.


"Trus kenapa kalau pada kumpul? Aku banyak kerjaan!" Ujar Zeline beralasan.


"Kak, jangan begitulah!" Sakya menahan tangan Zeline yang hendak berangkat.


"Lepas! Aku tidak ikut acara sore ini! Aku banyak pekerjaan!" Zeline menyentak kasar tangan Sakya, lalu gadis itu berjalan cepat ke mobilnya yang berwarna hitam.


Namun baru saja membuka pintu mobil, Zeline sudah menutupnya lagi, lalu wanita itu berbalik dan menghampiri Sakya lagi.


"Berubah pikiran?" Tebak Sakya sok tahu.


"Hanya ingin tanya. Kau membuat masalah di acara Tuan Peyton kemarin?" Tanya Zeline tiba-tiba yang langsung membuat Sakya terkejut.


"Aku tidak membuat masalah! Putri Tuan Peyton yang cari gara-gara! Aku hanya menyelesaikannya dengan jantan!" Sanggah Sakya cepat.


"Lalu soal putra Tuan Peyton-"


"Aku sudah baca beritanya!" Jawab Sakya cepat.


"Putri Tuan Peyton juga katanya masuk rumah sakit jiwa." Timpal Zeline yang langsung membiat Sakya ternganga.


"Benarkah?"


"Ya! Kaget, ya?"


"Oh, iya aku lupa. Kau dulu kan mantannya Jill," Zeline tertawa mengejek pada Sakya.


"Ck! Itu kan hanya masalalu, Kak! Sudah bertahun-tahun yang lalu!" Sergah Sakya cepat mencari pembenaran.


"Iya, iya! Asal jangan ikut gila saja seperti Jill!" Zeline masih saja meledek samg adik.


"Ish! Sakya sekarang hanya tergila-gila pada Gretha!" Ucap Sakya yang langsung membuat Zeline memutar bola matanya.


"Greget!" Olok Zeline lagi serata berbalik dan kembali menuju ke mobilnya.


"Kak! Nggak jadi ikut acara?" Seru Sakya pada Zeline yang sydah membuka pintu.


"Kan udah kamu wakili! Bye!" Zeline melambaikan tangan ke arah Sakya, lalu masuk ke mobil dan menutup pintu. Tak berselang lama, Zeline sudah memacu mobilnya meninggalkan kediaman Abraham.


"Dasar Kak Zeline! Kumpul sama keluarga Abraham tidak mau, sama keluarga Halley juga tidak mau!"


"Bagaimana mau kenal sepupunya, coba?" Sakya bermonolog sendiri, sembari masuk ke rumah. Suasana sepi dan sepertinya semua orang sesang ada di halaman belakang sekarang karena acara memang akan diadakan di halaman belakang tepatnya di dekat kolam renang.


Sakya memilih untuk langsung ke kamar saja, sebelum pergi ke halaman belakang. Siapa tahu Gretha juga sedang di kamar sekarang, tidur siang mungkin. Atau sedang berendam.


"Gre! Aku pulang!" Sapa Sakya seraya membuka pintu kamar. Langsung terlihat Gretha yang cekikikan sendiri di atas tempat tidur, sembari memegang ponsel.


Gretha sedang chat bersama siapa?


"Gre!" Sapa Sakya sekali lagi lebih keras, dan Gretha langsung mendongakkan kepalanya. Istri Sakya itu juga sudah berhenti cekikikan sekarang.


"Hai, Sayang! Aku sudah pulang," sapa Sakya seraya menangkup wajah Gretha lalu hebdak mencium bibir istrinya itu. Namu Gretha dengan cepat menghalangi memakai tangan.

__ADS_1


"Aku masih marah sama Pak Dokter!" Gretha sudah sok-sokan mendelik pada Sakya.


"Trus biar nggak marah lagi aku harus bagaimana?" Tanya Sakya penuh kesabaran.


"Ambilin buah malam minggu di kulkas, trus kupasin sekalian," jawab Gretha yang langsung membuat Sakya mengernyit.


"Buah apa tadi?"


"Buah malam minggu yang pake gaun warna hijau!" Jawab Gretha bersungut.


"Itu buah apa?" Tanya Sakya bingung.


"Iya Pak Dokter pikir sendiri lah!"


"Nanti kalau salah, Ngambeknya Gretha perpanjang!" Ancam Gretha seraya menuding pada Sakya.


"Jangan begitu, Gre!"


"Aku ambilin sekarang buahnya, tapi kamu kasih clue dulu itu buahnya bentuknya bagaimana," sergah Sakya yang masih berpikir keras tentang buah malam minggu.


Apa sih buah malam minggu?


Otak Sakya benar-benar buntu sekarang!


"Bentuknya bulat!" Jawab Gretha cepat.


"Trus huruf pertamanya apa?" Tanya Sakya lagi memancing.


"Iya Pak Dokter cari sendiri, dong!" Jawab Gretha kesal.


"Tapi aku beneran nggak tahu, Gre!" Suara Sakya mulai memelas.


"Iya Pak Dokter tanya ke siapa gitu!" Saran Gretha yang malah membuat Sakya garuk-garuk kepala.


"Tanya siapa?"


"Cepat ambilin buahnya atau aku bakal ngambek sampai besok!" Ancam Gretha selanjutnya yang langsung membuat Sakya berbalik masih sambil berpikir keras.


"Buah malam minggu."


"Buah malam minggu."


"Buah malam minggu," sampai tiba di dapur Sakya masih saja garuk-garuk kepala karena bingung. Pria itu membuka kulkas lalu memindai buah-buahan yang ada di dalamnya. Lumayan lengkap karena Mami dan Papi gemar makan buah.


"Buah malam minggu pakai dress hijau."


"Alpukat?" Sakya mengambil satu alpukat dari dalam kulkas dan memperhatikannya.


"Atau anggur hijau?" Sakya gantiengambil anggur hijau.


"Apa, sih?" Sakya semakin bingung sekarang.


"Sakya! Sedang mencari apa?" Teguran Mami Thalita sontak membuat Sakya terkejut.


"Sedang mencari buah malam minggu, Mi! Mami tahu?" Jawab Sakya to the point sekalian bertanya.


"Buah malam minggu? Apel!" Mami Thalita tertawa kecil dan Sakya berpikir sejenak.


"Apel? Kok bisa, Mi?" Sakya masih bingung.


"Iya kalau orang pacaran, pas malam minggu ngapain?"


"Apel?"


"Iya itu tahu!" Mami Thalita tertawa lagi dan Sakya sontak garuk-garuk kepala.


"Kok mami malah bisa tahu, sih?" Tanya Sakya heran.


"Mami ingat jaman dulu Zeline SMA disuruh bawa buah malam minggu juga. Tapi Zeline langsung tahu waktu itu dan nggak bingung kayak kamu begini!"


"Lagian, kamu lagi ikut ospek atau gimana, sih? Kok tiba-tiba nyariin buah malam minggu?" Tanya Mami Thalita heran.


"Gretha yang tiba-tiba minta buah malam minggu bergaun hijau," ujar Sakya menjelaskan.


"Berarti apel hijau, ya," gumam Sakya lagi seraya mengambil dua buah apel hijau dari kulkas.


"Ada-ada saja si Gretha," Mami Thalita geleng-geleng kepala, lalu wanita paruh baya itu keluar dari dapur meninggalkan Sakya yang masih sibuk mengupaskan apel untuk Gretha.

__ADS_1


"Pak Dokter! Udah ketemu buah malam minggunya?" Tanya Gretha yang sedikit membuat Sakya kaget. Rupanya istri Sakya itu sudah menyusul ke dapur.


"Ini baru selesai dikupas," jawab Sakya seraya menunjukkan sepiring apel hijau yang sudah selesai ia kupas dan ia potong-potong.


"Kok bener? Tanya siapa tadi?" Gretha mengernyit curiga.


"Mami yang kasih tahu," jawab Sakya jujur.


"Lagian, kamu itu kayak mahasiswa lagi ospek saja. Ngidam tapi pakai tebak-tebakan dan nggak ngomong langsung." Ujar Sakya lagi seraya duduk di samping Gretha, lalu menyuapkan potongan apel ke mulut istrinya tersebut.


"Teman-teman lagi pada ospek, dan tadi rame di grup sekolah tentang barang yang harus dibawa. Kata mereka cuma dikasih clue gitu dan harus ditebak. Makanya aku ikut-ikutan."


"Aku kan nggak ngrasain ospek," tukas Gretha di sela-sela kunyahan apelnya. Hati Sakya sedikit tersentil mendengar penjelasan Gretha perihal ospek.


"Nanti kalau dedeknya sudah lahir, kamu lanjut kuliah, ya! Biar bisa ngerasain ospek juga," ujar Sakya yang kini sudah merangkul Gretha. Sesaat ada rasa bersalah di hati Sakya karena menikahi Gretha di usia yang seharusnya Gretha masih kuliah.


Tapi bukan sepenuhnya salah Sakya juga. Salahkan Dad Matthew yang memaksa-maksa Sakya bertanggung jawab karena mengira Gretha sudah hamil duluan. Eh, habis nikah malah beneran langsung hamil.


"Kuliah sambil bawa bayi, gitu?" Gretha menatap Sakya dengan polos, dan suami Gretha itu sontak tergelak.


"Ya enggak, Gre!"


"Nanti kan ada baby sitter yang jagain dedek bayinya di rumah. Kamu kuliah aja," jelas Sakya seraya mengusap kepala Gretha.


"Begitu, ya!" Gretha memasukkan potongan apel lagi ke dalam mulutnya.


"Padahal Gretha lebih suka di rumah. Hihihi." Gretha terkikik dan Sakya langsung mengernyit.


"Nggak mau lanjut kuliah ceritanya? Emang nggak punya cita-cita mau jadi apa gitu?" Cecar Sakya penasaran.


"Cita-cita?" Gretha mengendikkan kedua bahunya.


"Dari dulu selalu bingung kalau ditanya soal cita-cita," lanjut Gretha lagi.


"Yaudah, sementara cita-citanya jadi istri yang baik aja buat aku, ya!" Sakya merangkul Gretha dengan mesra, lalu menciumi wajah istrinya tersebut.


"Geli, Pak Dokter!" Rengek Gretha manja.


"Biarin! Mumpung nggak ada orang!" Sakya sudah ganti menangkup wajah Gretha, lalu mencium sekilas bibir istrinya tersebut.


"Bentar, bukannya aku tadi masih marah sama Pak Dokter, ya?" Celetuk Gretha tiba-tiba yang langsung membuat Sakya berdecak.


"Emang nggak capek marah terus?" Wajah Sakya sudah sok serius.


"Capek dikit." Gretha terkikik lalu membenamkan kepalamya ke pelukan Sakya.


"Pak Dokter beneran cinta sama aku, kan?" Tanya Gretha tiba-tiba.


"Iya! Cinta banget! Sayang banget!" Sakya memeluk Gretha dengan erat.


"Aku juga sayang banget sama Pak Dokter."


"Pak Dokter jangan selingkuh, ya!" Gretha sudah ganti mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Sakya.


"Kapan aku selingkuh memangnya?" Sanggah Sakya cepat.


"Waktu itu sama Mbak Jill," rengut Gretha yang kembali membawa-bawa Jill.


"Ck! Itu Jill saja yang kegatelan, Gre! Aku sudah nggak ada perasaan apa-apa pada Jill. Lagian, kata Kak Zeline, Jill sekarang dirawat di rumah sakit jiwa juga-"


"Hah? Serius? Emang Mbak Jill kenapa, Pak Dokter? Gagal move on?" Cecar Gretha dengan bola mata yang sudah membulat lucu.


"Aku juga nggak tahu dan nggak mau tahu. Karena yang aku tahu sekarang, ustri aku cuma kamu saja!"


"Nggak mau ngurusin wanita lain!" Sakya kembali memeluk Gretha sambil sesekali menciumi istri kecilnya itu.


Padahal sudah Sakya hamili tapi masih saja kecil!


Kapan besarnya, coba?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2