
"Pi! Sakya dan Gretha yang akan datang ke acara Tuan Peyton!" Putus Sakya tiba-tiba saat Papi Zayn dan Zeline masih berdebat perihal siapa yang akan datang memenuhi undangan dari keluarga Peyton.
"Apa katamu barusan, Sakya?" Tanya Papi Zayn terlihat ragu.
"Sakya dan Gretha-"
Kalimat Sakya belun selesai saat tiba-tiba Gretha sudah meninggalkan pembicaraan dan istri Sakya itu berlari ke kamar.
"Gre, jangan lari-lari!" Sakya sigap mengejar Gretha, namun masih kalah cepat karena Gretha yang sudah sampai di kamar langsung membanting pintu.
"Hhhh, ceritanya mau nostalgia, Sak? Gretha jadi ngambek, kan?" Kak Zeline sudah menghampiri Sakya dan menepuk punggung adiknya tersebut.
"Bukan nostalgia, tapi memberikan pelajaran dan menyudahi tingkah menyebalkan Jill!" Jawab Sakya kesal seraya mengetuk pintu kamar.
"Gre! Buka pintu, Sayang!" Bujuk Sakya pada sang istri. Sakya berulang kali mengetuk pintu kamar, namun tak ada jawaban dari Gretha.
"Papi rasa kita semua tak perlu datang!" Putus Papi Zayn akhirnya setelah melihat sang menantu yang sekarang ngambek dan mengunci diri di kamar.
"Jill juga mengirim undangan ke rumah Dad Matthew, Pi!" Lapor Sakya seraya menunjukkan pesan dari Dad Matthew sekalian foto undangan yang dikirimkan Dad Matthew.
"Apa harus diperjelas begitu juga statusnya?" Tanya Mami Thalita heran setelah mami kandung Sakya itu ikut melihat foto undangan yang dikirimkan Dad Matthew.
"Kau dulu seperti itu juga atau tidak saat mengirim undangan pada Daniel?" Tanya Papi Zayn sedikit menggoda sang istri.
"Apa, sih! Jelas-jelas kita berdua yang menulis undangannya bersama-sama!" Mami Thalita sudah mencubit perut Papi Zayn sekarang.
"Daniel siapa, Mi? Mantan mami?" Zeline mengernyit curiga.
"Uncle Daniel papinya Ryan itu! Dia kan mantannya mami kamu," jawab Papi Zayn memberitahu.
"Ck! Thalia juga mantan kamu!" Mami Thalita membalikkan kata-kata sang suami.
"Loh!" Sakya dan Zeline ternganga bersamaan.
"Uncle Daniel mantannya Mami." Ucap Sakya.
"Aunty Thalia mantannya papi." Timpal Zeline.
"Kok bisa?" Tanya Sakya dan Zeline kompak.
"Bisalah!" Jawab Mami Thalita dan Papi Zayn tak kalah kompak.
Sakya hanya mengendikkan kedua bahunya, lalu kembali mengetuk pintu kamar.
"Gretha! Buka pintu dan dengerin penjelasanku dulu!" Bujuk Sakya berulang-ulang.
"Nanti kalau lapar juga keluar dari kamar," ucap Zeline sebelum gadis itu naik tangga ke lantai dua.
"Itu kan Kak Zeline!" Gumam Sakya kesal.
"Gretha Sayang! Kau mau makan sesuatu!" Mami Thalita sudah ikut mengetuk pintu dan membujuk Gretha.
"Gre!"
"Gretha!" Panggil Mami Thalita berulang-ulang.
Tak berselang lama, pintu kamar akhirnya dibuka dari dalam.
"Gre-"
"Gretha mau pulang ke rumah Dad," ucap Gretha seraya merengut.
"Gre, dengerin penjelasan aku dulu-"
"Pak Dokter kalau emang mau balikan sama mbak Jill balikan aja!" Sergah Gretha memotong kalimat Sakya.
"Siapa yang mau balikan? Aku datang ke acara itu mau memberi pelajaran pada Jill dan menyudahi drama Jill dan Jack!"
"Aku juga udah muak, Gre!" Jelas Sakya panjang lebat seraya merengkuh kedua pundak Gretha.
"Nanti kamu datang juga sama aku, oke!" Bujuk Sakya lagi yang kini sudah ganti menangkup wajah Gretha.
"Nanti kalau Sakya balikan sama Jill, Papi yang akan menjewer telinganya sampai putus," ujar Papi Zayn ikut-ikutan membujuk Gretha.
"Jangan, Pi! Nanti kalau kupingnya Pak Dokter putus, Pak Dokter nggak punya kuping lagi bagaimana?" Sergah Gretha seraya merengut.
"Kan nanti tinggal diganti pakai cantolan apa itu, Mi? Yang di dapur," Papi Zayn sedikit berseloroh.
__ADS_1
"Cantolan panci?"
"Nah itu! Tinggal diganti cantolan panci," seloroh Papi Zayn lagi yang sontak membuat Mami Thalita terkekeh.
"Masa cantolan panci, Pi?" Rengut Sakya merasa tak terima.
"Nanti Pak Dokter nggak ganteng lagi," Gretha sudah bisa tertawa dan ikut meledek Sakya.
"Ck! Penting kamu masih mau sama aku," Sakya sudah ganti mendekap dan menciumi puncak kepala Gretha.
"Siap-siap sana kalau mau ke acara Tuan Peyton!" Ujar Mami Thalita selanjutnya mengingatkan Sakya.
"Mami dan Papi nggak siap-siap juga? Katanya ada acara?" Sakya balik mengingatkan.
"Iya ini baru mau siap-siap!" Jawab Mami Thalita seraya menarik papi Zayn dan meninggalkan kamar Sakya.
"Pak Dokter," rayu Gretha tiba-tiba setelah Mami Thalita dan Papi Zayn pergi. Istri Sakya itu sudah mengalungkan kedua lengannya di leher Sakya.
"Apa? Mau dimandiin?" Tebak Sakya yang seolah langsung tahu kemauan Gretha.
"Hihi."
"Gendong ke kamar mandi. Kan tadi di rumah Dad Gretha belum jadi digendong," rengek Gretha lagi.
"Iya!" Sakya segera menggendong Gretha aka bridal lalu menutup pintu kamar.
"Gretha kan sekarang lagi hamil, Pak Dokter."
"Iya."
"Trus nanti kalo perut Gretha membesar, apa Pak Dokter tetap.kuat nggendong Gretha?" Tanya Gretha seraya menatap pada wajah Sakya.
"Kuat, dong!" Jawab Sakya penuh keyakinan.
"Asyiiiik!" Sorak Gretha sebelum Sakya membawa wanita itu masuk ke dalam kamar mandi.
****
"Tidak diangkat!" Geram Dad Matthew saat berulang kali pria paruh baya itu menelepon Sakya, namun sana sekali tak diangkat.
Sepertinya Sakya memang sengaja!
"Lalu kenapa Jill bisa mengirim undangan dengan embel-embel seperti ini kalau memang mereka sudah lama putus?"
"Ini pasti Sakya bermain api diam-diam di belakang Gretha!" sergah Dad Matthew masih merasa curiga.
"Aku akan menjemput Gretha ke rumah Zayn!" Cerus Dad Matthew akhirnya setelah bercerocos panjang kali lebar.
"Matt, sudah tak perlu memperkeruh suasana begini!" Ujar Mom Melody berusaha mencegah Dad Matthew yang sudah berjalan ke arah mobil di garasi.
"Tapi kalau sampai Jill mengirim undangan seperti ini, bukankah itu artinya Sakya membuka celah untuk wanita itu?" Dad Matthew masih keras kepala.
"Pokoknya aku akan menjemput Gretha dan membawanya tinggal di rumah ini sampai Sakya bisa menyelesaikan masalahnya dengan mantan pacarnya, Jill Jill Peyton itu!"
"Jangan sampai nanti Gretha sendiri yang memergoki Sakya sedang selingkuh!"
"Dasar keparat!" Emosi Dad Matthew panjang lebar yang sudah menutup pintu mobil dan bersiap pergi.
"Aku ikut!" Putus Mom Melody akhirnya denagn nada memaksa.
Mom Melody hanya ingin berjaga-jaga dan memastikan kalau Dad Matthew tak akan membuat keributan lagi di kediaman Abraham seperti yang sebelumnya!
****
"Sakya tadi mengatakan kalau dia mau datang ke acara keluarga Peyton, Uncle," ujar Zeline memberitahu, saat Dad Matthew dan Mom Melody datang ke rumah keluarga Abraham.
"Gretha ikut juga?" Tanya Dad Matthew penuh selidik.
"Kurang tahu! Sebentar Zeline cek-"
"Biar aku cek sendiri!" Dad Matthew sudah metangsek masuk lalu segera menuju ke kamar Gretha dan Sakya. Membuka pintu dengan kasar, dan akhirnya hanya mendapati kamar yang kosong.
"Berarti Gretha pergi bersama Sakya," ujar Zeline seolah kembali memberitahu Dad Matthew.
"Tidak bisa dibiarkan!" Gumam Dad Matthew kemudian.
"Ayo kita ke sana juga, Mel! Jangan sampai Sakya melakukan sesuatu yang menyakiti Gretha!" Dad Matthew sudah menarik tangan Mom Melody dan pasangan paruh baya itu kembali meninggalkan kediaman Abraham serta Zeline yang hanya mengendikkan bahu.
__ADS_1
"Pantas saja Greget aneh begitu! Mom dan Daddy-nya juga aneh!" Gumam Zeline pada dirinya sendiri.
****
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, Dad Matthew dan Mom Melody akhirnya tiba di salah satu hotel milik keluarga Peyton, dimana acara malam ini digelar. Untunglah Mom Melody tadi berinisiatif membawa undangan, sehingga ia dan Dad Matthew bisa masuk ke dalam,meskipun sedikit salah kostum karena Mom Melody hanya mengenakan baju terusan biasa dan Dad Matthew yang juga hanya mengenakan kemeja tanpa mengenakan jas seperti tamu lain.
Pasangan paruh baya tersebut baru saja masuk dan hendak berbaur dengan tamu lain saat mereka tak sengaja mendapati pemandangan yang benar-benar di luar dugaan.
"Memalukan sekali, Jill!"
"Kau seperti wanita gatal yang tak laku yang menggoda pria yang jelas-jelas sudah beristri! Apa kau tak punya urat malu lagi, hah? Dimana harga dirimu?"
Tuan Peyton terlihat sedang memarahi sang putri sekaligus sedikit menyeretnya untuk meninggalkan tempat acara. Sedangkan di sisi lain Dad Matthew bisa melihat Sakya yang sedang merangkul Gretha seraya menggenggam tangan istrinya itu dengan erat.
"Jill mencintai Sakya, Dad!" Jill menjerit-jerit dan meronta-ronta.
"Itu hal yang tidak pantas, Jill!" Bentak Tuan Peyton.
"Sakya sudah punya seorang istri-"
"Jill tidak keberatan menjadi istri kedua Sakya-"
Plak!
Tuan Peyton langsung menampar sang putri seolah tak peduli pada para tamu undangan yang menyaksikan semua adegan tersebut.
"Jill mencintai Sakya dan Jill akan merebut Sakya dari istrinya itu, Dad!"
"Jill mencintai Sakya!" Jill terus berteriak-teriak seperti orang gila saat Tuan Peyton kembali menyeret putrinya itu menjauh dari tempat acara.
"Mom, Dad!"
Mom Melody dan Dad Matthew refleks menoleh saat mendengar suara sang putri yang rupanya sudah berada di dekat mereka. Gretha langsung memeluk Mom Melody dengan erat.
"Apa yang sudah terjadi, Sakya?" Tanya Dad Matthew tajam, menuntut penjelasan dari Sakya.
"Dan kenapa kau datang ke acara ini? Apa kau sengaja-"
"Kau benar-benar egois, Sakya!"
Dad Matthew belum menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba seirang pemuda sudah lancang menyela.
"Aku melakukan yang seharusnya aku lakukan, Jack! Aku sudah punya istri dan seharusnya Jill tahu diri untuk tak terus-terusan menggodaku!" Ucap Sakya menatap tegas pada Jack.
"Tapi Jill masih sangat mencintaimu dan dia sampai haris minum obat penenang belakangan ini, serelah dia tahu kau sudah menikah dengan gadis lain!"
"Seharusnya kau bisa memberikan Jill kesempatan."
"Tidak ada kesempatan apapun lagi untuknya! Semua diantara aku dan Jill sudah selesai tujuh tahun lalu!" Jawab Sakya lantang dan tegas.
"Munafik! Padahal istrimu juga tak keberatan misalnya kau menikah lagi-"
Plak!
Tamparan keras Dad Matthew seketika langsung mendarat di pipi Jack.
"Kau siapa memangnya, berani mengatur-atur putri dan menantuku, hah?" Gertak Dad Matthew mendelik pada Jack.
"Dia saudara kembarnya mbak Jill, Dad!" Bisik Gretha memberitahu Dad Matthew.
"Oh, pantas saja! Kelakuan kalian sebelas dua belas!" Decih Dad Matthew sinis.
"Dengarkan ini baik-baik, camkan, dan sekalian kau beritahu saudarimu yang kegatelan tadi!"
"Sakya Abraham adalah suami sah Gretha Orlando, putriku! Dan satu-satunya istri Sakya hanya Gretha! Jadi tidak usah menyuruh-nyuruh Sakya untuk berpoligami atau punya dua istri, karena jika Sakya punya niatan untuk melakukan semua itu, maka aku pastikan kalau Sakya Abraham hanya akan tinggal nama!" Dad Matthew memang menuding pada Jack, namun Sakya ikut menelan ludah dengan ancaman Dad Matthew barusan.
Hanya tinggal nama...
Baiklah! Sakya tak akan pernah dekat-dekat lagi dengan wanita manapun!
"Ayo pulang, Sakya!" Ajak Dad Matthew selanjutnya pada Sakya, menyusul Gretha dan Mom Melody yang sydah terlebih dahulu ke tempat parkir.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like.