
Sakya tiba di kediaman Abraham saat langit sudah hampir gelap. Padahal tadi hanya mengantar keluarga Orlando pulang, tapi ternyata berjam-jam lamanya sampai malam begini.
"Kamu kelayapan dari mana, Sak? Besok mau menikah,bukannya istirahat-"
"Sakya dari rumah Gretha, Mi!" Sela Sakya memotong kalimat Mami Thalita sebelum maminya itu bercerocos lebih panjang lagi.
"Baru pulang?" Gantian Papi Zayn yang bertanya pada Sakya.
"Sakya tidak kelayapan, Pi! Sakya tadi mengantar Gretha, Uncle Matt, dan Aunty Melody!" Sergah Sakya sebelum Papi Zayn ikut mencecar dirinya.
Sakya lelah!
"Yasudah, mandi lalu istirahat sana! Tadi sudah makan?" Ujar Mami Thalita akhirnya seraya mengusap punggung sang putra.
"Makan siomay! Tapi masih lapar, Mi!" Keluh Sakya seraya mengusap perutnya yang sejak tadi kelaparan. Hanya diganjal siomay satu porsi, mana kenyang?
"Mandi dulu baru makan!" Ujar Papi Zayn yang hanya membuat Sakya mengangguk patuh. Sakya segera masuk ke dalam rumah, lalu langsung menuju ke kamarnya untuk mandi dan membersihkan diri.
****
"Emmmhh! Pak Dokter!" Lenguh Gretha dengan nada manja serta wajah yang sudah memerah.
"Geli," cicit Gretha saat Sakya menjilat-jilat ujung dada Gretha yang bisa dibilang amat sangat imut tersebut. Sakya menggigit kecil tonjolan imut itu lalu menariknya hingga Gretha berteriak.
"Pak Dokter!"
"Sakya!"
"Kau apakan Gretha?"
Bugh!
Auwww!
Sakya mengaduh saat merasakan tubuhnya yang baru saja mendarat dengan keras ke atas karpet yang berada si bawah ranjangnya.
Apa?
Apa Sakya baru saja jatuh dari atas ranjang?
Sakya bangun dan memegangi punggungnya yang sedikit nyeri. Pria itu menggaruk kepalanya sendiri, saat kemudian kedua netranya tertumbuk pada celana pendeknya yang basah di bagian pangkal paha.
Oh, ya ampun!
Apa Sakya baru saja mimpi bercinta dengan Gretha hingga mengompol?
Dasar gila!
"Kenapa selalu saja ada Uncle Matthew, setiap aku sedang bermimpi bercinta dengan Gretha?" Gumam Sakya kesal seraya bangkit berdiri. Sakya lalu berjalan ke kamar mandi untuk ganti baju sekalian mandi.
Nanti malam Sakya akan balas dendam pada Gretha!
__ADS_1
Salah sendiri gadis itu selalu saja hadir di mimpi Sakya dua malam terakhir!
"Sak!" Panggil Kak Zeline bersamaan dengan pintu kamar Sakya yang sudah menjeblak terbuka. Sakya segera menutupi pangkal pahanya yang basah dengan tangan sebelum menjawab panggilan sang kakak.
"Apa, Kak?"
"Kau baru bangun? Mentang-mentang hari ini menikah, bangun siang!" Cibir Kak Zeline yang sudah merangsek masuk ke dalam kamar Sakya.
Pasti mencari charger ponsel.
Kakak Sakya itu kadang memang teledor dan selalu lupa menaruh charger ponsel. Ujung-ujungnya charger Sakya juga yang dia ambil. Entah sudah berapa kali Sakya membeli charger baru karena charger-nya terus-terusan diambil Kak Zeline.
"Ponselku mati sejak semalam. Aku takut Armando tiba-tiba menelepon dan memberitahu kalau dia sudah di airport minta aku jemput," Zeline tertawa sendiri setelah gadis itu sedikit curhat pada Sakya tentang Armando kekasihnya.
"Abang Armando berarti pulang hari ini?" Tanya Sakya memastikan. Tangan Sakya masih di pangkal paha menutupi celananya yang basah karena calon Sakya junior yang terbuang sia-sia dan menempel di celana.
Semoga mereka tak gentayangan dan memanggil-manggil Sakya!
Horor sekali!
"Aku belum tahu! Armando belum membalas pesanku sejak semalam," jawab Zeline yang sudah berhasil menemukan charger Sakya. Gadis itu segera men-charger ponselnya.
"Memangnya Abang Armando sedang dimana sekarang? Masa iya dia tidak mau berkorban sedikit untuk menemani Kak Zeline sore nanti." Tanya Sakya lagi merasa kepo.
"Armando masih ada pekerjaan di luar kota," jelas Zeline santai.
"Pekerjaan membuat konten?" Sakya sedikit mencibir.
"Iya! Itu kan memang pekerjaan Armando," jelas Zeline.
****
"Anak-anak mana, Val? Ezra, Vaia, yang bungsu."
"Siapa namanya?" Tanya Mami Thalita pada Tante Vale seraya mengingat-ingat nama putra bungsu Tante Vale dan Om Arga.
"Gavin." Jawab Tante Vale seraya tertawa kecil.
"Nah itu! Dia tak pernah kelihatan," ujar Mami Thalita yang sepertinya memang penasaran sekali dengan Gavin.
"Acaranya sungguh mendadak, Thalita! Jadi anak-anak hanya titip salam dan minta maaf karena tak bisa datang."
"Vaia sedang di rumah mertuanya, Ezra sedang ikut seminar dan Gavin belum pulang dari pulau," terang Tante Valeria.
"Sayang sekali! Groomsmennya jadi kurang personil," tukas Mami Thalita sedikit kecewa.
"Sudah ada empat itu! Sudah lebih dari cukup," pendapat Om Arga yang merupakan suami Tante Vale. Sejak tadi, pria paruh baya itu memang menyimak obrolan Mami Thalita dan Tante Vale.
"Tapi akan lebih lengkap kalau Ezra dan Gavin ikut jadi groomsmen-nya Sakya juga," tukas Mami Thalita yang masih saja berharap.
"Mi!" Zeline tiba-tiba sudah menghampiri Mami Thalita yang masih mengobrol bersama Tante Vale.
__ADS_1
"Zeline! Lama tidak berjumpa!" Tante Vale segera menyapa Zeline dan sedikit bercipika-cipiki dengan keponakan jauhnya tersebut.
"Jadi semakin cantik saja," puji Tante Vale lagi.
"Tante Vale juga semakin cantik dan awet muda," Zeline balik memuji sang tante.
"Ngomong-ngomong, calon kamu mana? Katanya sudah tunangan juga? Kenapa tidak barengan saja nikahnya?" Cecar Tante Vale pada Zeline yang langsung salah tingkah.
"Armando masih ada pekerjaan di luar kota, Tante!"
"Acaranya juga kan dadakan," jelas Zeline seraya meringis.
"Begitu, ya?"
"Semoga kamu lekas menyusul juga, Zel! Kalau sudah sama-sama cocok, kan sebaiknya langsung ke jenjang pernikahan," pendapat Tante Vale lagi yang hanya membuat Zeline sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Benar itu, Zel! Sudah cukup penjajakannya. Umur kamu kan juga sudah lebih dari cukup untuk melangkah ke jenjang pernikahan!" Timpal Mami Thalita yang langsung membuat wajah Zeline berubah muram.
"Iya, Mi! Iya!"
"Zeline mau ke toilet dulu!" Pamit Zeline akhirnya seraya meninggalkan Mami Thalita, Tante Vale, dan Om Arga.
"Jadi calonnya Sakya ini putri dari?"
"Matthew dan Melody Orlando." Jawab Mami Thalita cepat.
"Yang itu! Kok mungil?" Celetuk om Arga seraya menunjuk ke arah Gretha yang baru saja dituntun keluar oleh Mom Melody dan Dad Matthew.
"Iya! Masih delapan belas tahun sebenarnya-"
"Hah?" Tante Vale dan Om Arga kompak ternganga.
"Seperti usia Mama dulu saat menikah dengan Papa," bisik Tante Vale selanjutnya pada Om Arga yang masih bisa didengar oleh Mami Thalita.
Mami Thalita bahkan masih ingat awal-awal hubungan Opa Theo dan Oma Airin yang waktu dipertemukan di rumah keluarga Halley. Siapa menyangka kalau kini keduanya awet menjadi pasangan suami istri dan menua bersama. Bahkan pernikahan Mami Thalita dan Papi Zayn juga tak lepas dari campur tangan Opa Theo karena waktu itu dadakan juga dan malah digelar saat tengah malam. Tapi mungkin bedanya dengan pernikahan Sakya sekarang adalah saat itu belum terjadi apa-apa diantara Mami Thalita dan Papi Zayn. Sedangkan Sakya sekarang terpaksa harus menikah dadakan karena sudah terlanjur terjadi kecelakaan.
Semoga ini yang terakhir terjadi di keluarga Abraham!
Sakya! Sakya!
Kenapa juga putra bungsu Mami Thalita dan Papi Zayn itu tidak bisa sedikit saja menahan diri!
"Thalita! Kenapa melamun? Ayo ke depan!" Ajakan Tante Vale menyentak lamunan Mami Thalita.
"Iya, ayo!" Mami Thalita segera berjalan ke depan dan bergabung bersama keluarga besar Halley, keluarga besar Abraham, serta keluarga besar Rainer untuk menyaksikan acara sakral sore ini, dimana Sakya Arsenio Abraham dan Gretha Orlando akhirnya dinyatakan sah sebagai suami istri.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.