Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
IZIN


__ADS_3

"Halo, Gretha! Ada apa? Kau sudah pulang?"


"Dad!"


"Gretha masih di rumah Pak Dokter," ucap Gretha memberikan laporan pada Dad Matthew setelah telepon wanita itu diangkat oleh sang Dad tercinta.


"Lalu kapan pulang? Sebaiknya jangan malam-malam pulangnya!" Tanya Dad Matthew yang bisa didengar oleh Sakya juga, karena tadi Sakya langsung memasang loudspeaker, sesaat setelah telepon Gretha diangkat oleh Dad Matthew.


"Mmmmm, kata Pak Dokter-" Sakya cepat-cepat membungkam mulut Gretha yang malah mau bicara jujur dan blak-blakan kalau yang meminta merwka menginap itu adalah Sakya dan bukan kemauan Gretha sendiri.


Dasar Gretha!


Padahal sudah diajari. Tapi kenapa tidak paham juga?


Giliran diajari gaya baru saat bercinta, langsung paham dan hafal!


"Gretha! Kata Sakya kenapa? Dia menyuruhmu minta izin untuk menginap?"


Sakya benar-benar harus mengumpat dalam hati saat mendengar tebakan Dad Matthew yang ternyata tepat sasaran.


Sial, sial, sial!


Apa Daddy-nya Gretha itu cenayang yang bisa membaca isi pikiran Sakya?


"Kok tahu, Dad?" Ceplos Gretha yang sudah berhasil melepaskan bungkaman Sakya, serelah Gretha sedikit menggigit tangan suaminya tersebut. Saat ini, Sakya sedang mengibas-ngibaskan tangannya yang lumayan nyeri setelah digigit oleh Gretha.


"Sakya mana?" Tanya Dad Matthew selanjutnya dengan nada galak.


"Ini, di samping Gretha, Dad! Sedang meringis karena tangannya Gretha gigit," jawab Gretha jujur sekali.


Ya, ya, ya!


Jika ada nominasi orang paling jujur dan blak-blakan, mungkin Gretha akan jadi pemenangnya!


"Berikan ponselnya pada Sakya!" Perintah Dad Matthew selanjutnya.


"Nih, Pak Dokter! Dad mau bicara sama Pak Dokter," ucap Gretha seraya menyodorkan ponselnya pada Sakya. Tak lupa, Gretha juga memasang senyuman imut menggemaskan seolah tanpa dosa pada Sakya.


Jika di situasi normal, mungkin Sakya akan langsung menciumi wajah istri kecilnya itu!


Tapi berhubung ini situasi tak normal,jangankan mau mencium, Sakya saja masih meratapi tangannya yang tadi digigit oleh Gretha!


"Gretha pegangin, Pak Dokter!" Gretha mendekatkan teleponnya di telinga Sakya, tepat saat Dad Matthew memanggil nama Sakya dengan lumayan kencang.


Padahal Gretha juga belum mematikan loudspeaker di ponselnya. Jadilah suara Dad Matthew terdengar semakin menggelegar di telinga Sakya.


"Sakya!" Sakya memejamkan matanya saat suara Dad Matthew terasa menusuk gendang telinganya.


Astaga!


"Jauhkan ponselnya, Gre! Itu sudah di loudspeaker!" Cicit Sakya pada Gretha yang seolah baru sadar.


"Eh, iya! Lupa," ringis Gretha masih tanpa dosa.


Ya, ya, ya!


Kapan memang istri Sakya ini merasa berdosa?


"Sakya!" Panggil Dad Matthew sekali lagi.


"Iya, Dad!" Jawab Sakya seraya menggosok-gosok telinganya.


"Awas keluar jin-nya, Pak Dokter!" Seloroh Gretha saat melihat Sakya menggosok-gosok telinga.


Jin apa maksudnya?


"Kau menyuruh Gretha apa tadi? Menelepon Dad agar diizinkan menginap di rumah kedua orang tuamu?"


"Tidak, Dad!" Sanggah Sakya cepat.


"Sebenarnya, Mami yang tadi meminta Gretha dan Sakya untuk.mengunal barang semalam disini,karena kan sejak kami menikah, Gretha belum pernah menginap disini."


"Lalu Gretha bertanya pada Sakya apa nanti malam menginap disini atau pulang, jadi Sakya menyuruh Gretha untuk menelepon Dad saja dan minta izin," jelas Sakya panjang lebar membawa-bawa Mami Thalita demi menyelamatkan dirinya sendiri dari omelan samg Dad mertua.


Biar saja!


Mami Thalita juga tak akan tahu!


Lagipula, mustahil Dad Matthew akan menelepon Mami Thalita juga dan menanyakan kebenarannya!

__ADS_1


Kurang kerjaan sekali jika nanti Dad Matthew benar-benar menelepon Mami Thalita!


"Dad tidak memberikan izin kalian berdua untuk menginap disana-"


"Eeeeeeee! Dad!" Rengek Gretha menyela jawaban tegas Dad Matthew. Sakya langsung bersorak dalam hati karena akhirnya Gretha mau juga bekerja sama.


"Gretha mau menginap disini malam ini, Dad!"


"Gretha mau ngrasain bobok di kamarnya Pak Dokter!" Rengek Gretha lagi panjang lebar pada Dad Matthew yang mungkin sekarang sedang ingin mengumpat.


Hahahaha!


Rasakan kau, Dad!


Putri manja kesayanganmu sudah merengek sekarang!


"Rasanya juga paling sama saja, Gretha!"


"Pulang malam ini,atau Dad akan menjemputmu-"


"Tidak!" Jawab Gretha tegas menolak perintah Dad Matthew.


"Pokoknya malam ini, Gretha mau menginap di rumah Mami dan Papi!"


"Mami kan juga sedang sakit, Dad! Mami sakit hati karena dikiranya Mami, Gretha nggak mau tinggal disini nemenin Mami," ungkap Gretha lagi yang benar-benar diluar perkiraan Sakya.


Sakya tadi bahkan tak mengajari Gretha untuk memakai alasan itu.


Atau mungkin Gretha ingat pada perkataan Mami Thalita tadi tentang Gretha yang tak mau tinggal di rumah ini setelah menikah,dan malah tinggal di rumah Mommy dan Daddy-nya?


"Sakit hati bagaimana maksudmu, Gretha?" Suara Dad Matthew terdengar bingung.


"Gimana, ya?" Gretha malah garuk-garuk kepala sekarang.


Halah!


Sakya kira Gretha tadi sudah paham!


"Gimana, Pak Dokter? Mami tadi sakit apa?" Gretha berbisik-bisik pada Sakya.


"Sakya!" Panggil Dad Matthew lagi dari ujung telepon.


"Mami kamu jadinya sakit apa?"


"Tekanan darah tinggi, Dad! Karena Mami banyak pikiran."


"Kata Papi, Mami dari kemarin mikirin kenapa Gretha tidak mau tinggal di rumah ini atau sekedar berkunjung kemari. Padahal Mami ingin mengajak Gretha jalan-jalan," jelas Sakya panjang lebar dengan sedikit karangan indah.


"Tapi sejak awal kan perjanjiannya memang kau dan Gretha tinggal di rumah Dad setelah menikah!"


"Mami kamu kan sudah paham hal itu!"


"Memang! Tapi Sakya dan Gretha kan juga hanya menginap satu malam disini, Dad! Bukan pindah kesini. Masa iya Dad tidak mengizinkan?" Sakya masih mencoba menjelaskan pada Dad Matthew.


"Besok pagi Sakya akan mengantar Gretha pulang ke rumah, sebelum Sakya pergu ke rumah sakit," janji Sakya lagi pada Dad Matthew.


"Boleh, ya, Dad!" Mohon Gretha ikut-ikutan membujuk sang Dad.


"Baiklah!" Ucap Dad Matthew akhirnya meskipun terdengar setengah hati. Pasti karena terpojok dan kalah suara.


"Tapi ingat, Sakya! Besok pagi Gretha harus pulang kesini, lalu tak ada acara menginap lagi setelahnya!"


Sakya tak jadi bersorak dengan syarat yang kemudian diajukan Dad Matthew.


Hhhhh! Masih egois ternyata!


Berarti Sakya harus mempengaruhi Gretha agar Gretha merengek lagi dan minta menginap lagi di rumah Mami dan Papi.


Baiklah! Sakya tak akan menyerah!


"Iya, Dad! Besok sebelum ke rumah sakit Sakya akan mengantar Gretha pulang," janji Sakya sekali lagi pada Dad Matthew.


"Berikan teleponnya pada Gretha dan matikan loudspeaker-nya!"


Sakya langsung mencibir dengan perintah Dad Matthew barusan. Pria itu lalu menyodorkan ponsel Gretha pada Gretha.


"Jangan!" Ucap Sakya tanpa suara, saat Gretha hendak mematikan loudspeaker.


"Tapi, kan-"

__ADS_1


"Ssstttt! Aku diam." Sakya memberikan isyarat pada Gretha kalau oa tak akan membuat suara.


Gretha akhirnya menurut dan tak jadi mematikan loudspeaker.


"Gretha!"


"Iya, Dad!" Jawab Gretha manja.


"Loudspeaker sudah dimatikan?"


"Be-"


"Eh, sudah, Dad!" Jawab Gretha setelah Sakya memberikan kode untuk berbohong.


"Iya, sudah, Dad!" Ulang Gretha lagi.


"Dad cuma mau bilang, nanti malam, ponsel jangan dimatikan dan segera telepon Dad, jika kamu merasa tak nyaman berada di rumah Sakya!"


"Dad akan datang menjemput kamu, sekalipun tengah malam, agar kamu tak dianiaya oleh keluarga Sakya!"


"Hah? Dianiaya, Dad?" Tanya Gretha terlihat bingung.


"Iya, kakaknya Sakya kan galak! Dad takutnya kamu nanti dipukuli oleh Kakaknya Sakya-"


"Oh, Kak Zeline!"


"Iya, sih! Tadi Gretha mau dipukul Kak Zeline-"


"Nah, kan! Dad jemput kamu sekarang!"


Sakya menepuk keningnya sendiri mendengar laporan Gretha serta reaksi Dad Matthew.


Dad dan putrinya ini ternyata sama-sama lebay.


"Nggak usah, Dad!" Ucap Gretha cepat, mencegah Dad Matthew yang mau menjemputnya.


"Tapi katamu tadi kamu mau dipukul oleh Zeline?"


"Kan tidak jadi, Dad! Ada Pak Dokter yang melindungi Gretha."


"Dan lagi, kata Pak Dokter, Kak Zeline itu nggak akan mungkin memukul Gretha karena Kak Zeline itu sebenarnya sayang sama Gretha. Meskipun Kak Zeline nggak mau ngaku tadi," tukas Gretha panjang lebar yang ternyata begitu jujur saat bercerita pada Dad Matthew.


"Tapi Dad khawatir-"


"Nggak usah khawatir, Dad! Kan ada Pak Dokter yang jagain Gretha sekarang!" Potong Gretha cepat menenangkan Dad Matthew.


"Dad jemput sekarang, ya!"


"Tidak usah, Dad! Gretha mau menginap disini pokoknya!" Ucap Gretha keras kepala.


"Baiklah! Tapi nanti langsung telepon Dad kalau kamu berubah pikiran!"


"Gretha tidak akan berubah pikiran!"


"Bye, Dad!" Pungkas Gretha seraya menutup telepon.


Fiuuh!


Sakya sudah bisa bernafas lega dan buka suara sekarang.


"Yeayyy! Kita boleh menginap disini, Pak Dokter!" Sorak Gretha seraya menghambur ke pelukan Sakya yang hanya manggut-manggut.


"Nanti jadi ngasih bonus pas main kuda-kudaan, kan?" Tanya Gretha lagi mengingatkan Sakya


"Jadi!" Jawab Sakya seraya tersenyum lebar.


Bonus katanya!


Yang ada, Sakya yang bakal dapat bonus nanti malam!


Hahahahaha!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2