
"Lagi!" Pinta Gretha seraya mengerjap-ngerjapkan matanya pada Sakya. Ekspresi Gretha benar-benar genit kali ini seolah wanita muda itu sesang menggoda Sakya agar lanjut ke ronde kedua.
"Sudah, Gre!"
"Kasihan dedeknya kalau kita kuda-kudaan terus," ujar Sakya berusaha menberikan pengertian pada Gretha. Sakya juga stdah mengusap perut istrinya tersebut, lalu lanjut mengusap wajah Gretha.
"Eeeee! Tapi aku Gretha masih mau, Pak Dokter!"
"Gretha masih bergairah!" Ucap Gretha blak-blakan yang malah membuat Sakya membelalakkan kedua matanya.
"Apa katamu barusan?"
"Gretha bergairah," ulang Gretha dengan raut polosnya yang tentu saja langsung membuat Sakya tak habis pikir. Darimana Gretha dapat istilah itu? Perasaan Sakya tak mengajari Gretha istilah tentang bergairah dan sebagainya.
Sakya kan hanya mengajari Gretha prakteknya secara langsung!
"Ck! Tapi tidak baik jika kita terlalu banyak main kuda-kudaan, Gre! Kandungan kamu kan masih usia muda. Masih rawan guncangan-"
"Kan baru satu kali, Pak Dokter!"
"Gretha masih mau dimasuki sama Pak Dokter!".
"Enak!" Gretha sudah memainkan jarinya di dada Sakya sekarang.
"Ya!" Rayu Gretha sekali lagi dengan ekspresi manja khas Gretha.
Bisa juga ternyata istri bocah Sakya ini merayu. Hahaha!
"Bagaimana, ya...." Sakya berpikir sejenak sementara Gretha sudah merengut tak karuan.
"Ck! Pak Dokter kelamaan mikir!"
"Gretha masukin sendiri saja!" Gretha tiba-tiba sudah menggenggam milik Sakya lalu mengarahkannya ke milik Gretha sendiri.
"Gre-" suara Sakya seketika tercekat, saat pria itu merasakan miliknya yang sudah kembali tenggelam ke dalam milik Gretha. Sengatan listrik serasa menjalari seluruh aliran darah dan syaraf Sakya sekarang.
Ouuugh!
Sakya juga tidak bisa menolak bagian menyenangkan ini!
"Enak, Pak Dokter?" Tanya Gretha seraya tertawa kecil karena melohat ekspresi wajah Sakya yang sepertinya menikmati sekali ronde kedua ini. Gretha mulai bergerak lagi di atas Sakya.
"Pelan-pelan, Gre!" Sakya menahan tubuh Gretha yang bergerak dengan begitu semangat. Sakya harus mengendalikan tingkah polah istri bocahnya ini agar tak kebablasan.
"Pak Dokter nggak mau mainin yang ini?" Tanya Gretha selanjutnya seraya membusungkan dadanya pada Sakya.
"Bentuknya udah nggak mungil sekarang, Pak Dokter!" Ujar Gretha lagi pamer.
"Iya kan pengaruh hormon kehamilan." Sakya sudah menangkup kedua gundukan kenyal Gretha dengan dua tangannya. Pria itu lalu mer*masnya perlahan hingga sukses membuat Gretha melenguh.
__ADS_1
"Nanti habis ini lanjut ronde ketiga, kan, Pak Dokter?" Tanya Gretha di sela-sela lenguhannya.
"Enggak! Habis ini kita bersih-bersih trus bobok!" Jawab Sakya tegas.
"Pak Dokter!" Gretha merengut tak terima.
"Kasihan dedeknya kalau kita main beronde-ronde, Gre!" Sekali lagi Sakya harus memberikan pengertian pada Gretha.
"Emang kenapa? Dedeknya pusing dan mabok di dalam?" Tanya Gretha polos.
"Iya, anggap aja begitu!"
"Lagian, nanti perut kamu juga bisa kram kalau terlalu banyak kuda-kudaan begini," ujar Sakya lagi.
"Begitu, ya?" Gumam Gretha yang langsung membuat Sakya manggut-manggut.
"Tapi ngomong-ngomong, kaki Gretha sedikit kram, Pak Dokter!" Keluh Gretha selanjutnya seraya melepaskan begitu saja miliknya dari milik Sakya.
"Lho! Kok dilepas, Gre?" Cicit Sakya yang padahal hampir keluar.
"Kaki Gretha kram, Pak Dokter!" Rengek Gretha seraya berusaha meluruskan kakinya. Namun entah apa yang merasuki Gretha, karena tiba-tiba istri Sakya itu malah menjerit kencang.
"Aaaaaakkkghhh! Pak Dokter!"
Sakya refleks terlonjak dan buru-buru memeriksa kaki Gretha yang mendadak jadi kaku.
"Sakit!" Rengek Gretha seraya mencebikkan bibir. Sementara Sakya bergegas memberikan pertolongan pertama untuk kaki Gretha yang kram mendadak.
Tak bisa dibayangkan kalau Sakya bukan dokter ortopedi!
"Hihi!" Gretha tiba-tiba terkikik saat Sakya tengah serius memulihkan kaki istrinya itu.
"Ada apa, Gre? Udah sembuh kakinya?" Tanya Sakya memastikan.
"Belum. Masih sakit," rengek Gretha manja.
"Trus kenapa malah cekikikan?" Tanya Sakya heran.
"Itu punya Pak Dokter goyang-goyang lucu," kikik Gretha seraya menunjuk ke milik Sakya yang kini tergantung bebas tanpa tertutupi underwear. Efek Sakya yang harus cepat-cepat menyelamatkan kaki kram Gretha tadi!
"Ck! Ada-ada saja kamu, Gre!" Gerutu Sakya yang sudah bangkit dari atas ranjang, lalu mencari-cari celananya.
"Kaki Gretha gimana, Pak Dokter? Gretha juga belum pakai baju!" Gretha menunjuk ke tubuhnya yang masih naked.
Sakya berdecak sebentar, lalu ganti mengambil baju Gretha dengan asal dari dalam almari. Pria itupun memakaikan baju ke tubuh sang istri yang masih senyum-senyum sendiri.
"Kenapa lagi?" Tanya Sakya heran.
"Pak Dokter ganteng."
__ADS_1
"Beliin Gretha terang bulan, dong!" Jawab Gretha dengan nada merayu.
"Ck! Modus!" Sakya menangkup gwmas pipi Gretha.
"Kan ngidam, Pak Dokter!" Ujar Gretha beralasan.
"Iya!" Sakya meraih jam di atas nakas yang menunjukkan pukul sebelas malam.
"Aku bersih-bersih sebentar!"
"Kamu mau teeang bulan yang rasa apa?" Tanya Sakya seraya mengayunkan langkah ke kamar mandi.
"Keju!"
"Oke!" Sakya mengacungkan jempolnya ke arah Gretha, sebelum pria itu masuk dan menutup pintu kamar mandi.
****
"Ck!" Sakya berdecak saat melihat antrian kendaraan di depannya.
"Sudah tengah malam, masih saja ada kemacetan!" Gerutu Sakya bersamaan dengan lampu sirene ambulans yang terlihat di kejauhan. Sepertinya ada kecelakaan yang menyebabkan laju kendaraan sedikit tersendat.
Sakya mengemudikan mobilnya perlahan, mengikuti mobil di depannya. Semakin mendekat ke lokasi kecelakaan, semakin terlihat kekacauan di jalan tersebut. Beberapa motor tampak bergelimpangan di tengah jalan. Sepertinya baru saja ada balap liar yang berakhir kecelakaan beruntun.
Sakya terus melajukan mobilnya perlahan, sambil sesekali mengamati lokasi kecelakaan, hingga tiba-tiba tatapan mata Sakya tertumbuk pada seseorang yang terkapar di atas aspal.
"Seharusnya kau bisa memberikan Jill kesempatan! Toh istrimu pasti juga tak akan keberatan misalnya kau menikah lagi-"
Plak!
Sakya bergegas mencari celah untuk menepikan mobil. Beberapa petugas medis sudah menghampiri pemuda yang terkapar di atas aspal tadi danhe dak mengangkatnya, saat Sakya tiba.
"Tunggu!" Seru Sakya saat pemuda yang masih mengenakan kemeja putih itu hendak dimasukkan kedalam kantong jenazah oleh petugas medis.
"Korban sudah meninggal, Pak! Anda mengenalnya?" Tanya salah satu petugas medis seraya memberikan ruang bagi Sakya untuk melihat wajah pemuda yang terkapar tadi yang sudah bersimbah darah.
Sakya mematung sejenak saat melihat wajah yang beberapa jam lalu masih berdebat dengannya di acara anniversary pernikahan Tuan Peyton.
Itu adalah.....
Jack Peyton!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like