
"Halo, Dad!" Sambut Gretha sesaat setelah mengangkat telepon dari Dad Matthew.
"Gretha, apa kau sakit?"
"Tidak, Dad! Gretha sehat dan sekarang Gretha sedang belajar bermain bilyard bersama Papi!"
"Bermain bilyard?"
"Iya, Dad! Ada meja bilyard di rumah Papi, dan Dad tahu tidak? Kak Zeline inter banget main bilyard-nya. Gretha ingin bisa bermain bilyard juga agar bisa mengalahkan Kak Zeline! Makanya sekarang Gretha sedang belajar bersama Papi," terang Gretha panjang kebar dengan nada yang begitu antusias.
"Dad akan membelikan meja bilyard juga lalu mengundang guru les untukmu!"
"Kau pulang sekarang, ya! Supir akan menjemputmu-"
"Eeeeeee!" Gretha langsung merengek dan menghentakkan satu kakinya.
"Gretha-"
"Gretha masih mau disini, Dad! Gretha belum mau pulang!" Ucap Gretha tehas pada Dad Matthew di seberang telepon.
"Tapi Dad sudah kangen sama kamu, Gretha!"
"Memangnya Gretha tidak kangen Dad dan Mom?"
"Iya kangen, sih," jawab Gretha seraya merengut.
"Tapi Pak Dokter belum pulang dan masih di rumah sakit, Dad."
"Biar supir yang menjemput kamu, Gre!"
"Atau kau mau Dad jemput?"
"Mmmmmm, Gretha maunya pulang bareng Pak Dokter!" Jawab Gretha manja.
"Ck! Sakya pulang sore dan itu masih lama sekali, Gre! Kau tidak bosan memangnya di rumah Salya seharian menunggubSakya pulang?"
"Enggak! Gretha nggak bosan, Dad!" Jawab Gretha jujur.
"Gretha bisa nonton film kalau bosan atau main bilyard," cerita Gretha antusias.
"Kau nonton film apa saja selama di situ, Gre? Sakya menyaring film yang kau tonton, kan?"
"Iii...ya!" Jawab Gretha seraya meringis.
"Jangan membohongi Dad!"
"Sebenarnya ada beberapa film dua puluh satu plus, Dad! Tapi kata Pak Dokter, Gretha tak apa-apa menontonnya, karena Gretha sudah menikah sama Pak Dokter dan Gretha umurnya sudah dua puluh satu-"
"Kau masih delapan belas tahun, Gretha! Seharusnya kau menonton film sesuai umurmu!"
Gretha merengut dengan selaan tegas Dad Matthew yang terkesan menghakimi.
"Tapi kata Pak Dokter-"
"Tidak usah lagi mendengarkan Sakya! Dad akan menjemputmu sekarang!"
"Tapi Gretha masih mau disini, Dad!" Rengut Gretha yang masih merasa emggan untuk pergi dari rumah kedua orang tua Sakya.
"Dad akan menjemputmu sekarang! Kau bjsa ke rumah mertuamu lagi bulan depan!"
"Kenapa tidak minggu depan, Dad?" Gretha melakukan negosiasi.
"Jadwalmu menginap di rumah mertua, hanya sebulan sekali! Selebihnya kau harus berada di rumah Dad dan Mom!"
"Kau putri Dad dan Mom!"
"Iya, Dad!" Jawab Gretha tetap merengut.
"Dad tutup dulu teleponnya, Gretha! Dad harus menyelesaikan beberapa hal dulu sebelum menjemputmu."
"Iya, Dad! Nanti Gretha pulang bareng Pak Dokter saja," usul Gretha menawar.
__ADS_1
"Dad akan menjemputmu!"
Gretha kembali merengut bersamaan dengan Dad Matthew yang akhirnya menutup telepon.
"Gretha kan masih mau disini! Kenapa Dad memaksa-maksa Gretha untuk pulang?" Gretha menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
"Gretha, ada apa? Kok merengut?" Tanya Mami Thalita yang sudah menghampiri Gretha.
"Mami!" Gretha tiba-tiba langsung memeluk Mami Thalita.
"Ada apa? Tadi yang belajar bilyard sudah selesai?" Tanya Mmai Thalita seraya mengusap kepala Gretha.
"Nggak tahu. Tadi Dad telepon, jadi Gretha berhenti sebentar. Sekarang Papi kemana?" Gretha sudah ganti celingukan mencari keberadaan Papi Zayn.
"Papi pergi ke kantor tadi karena ada urusan mendadak," jelas Mami Thalita.
"Oh!"
"Padahal Gretha masih mau belajar main bilyard." Gretha memainkan kedua telunjuknya.
"Pak Dokter juga kok nggak pulang-pulang, Mi?" Tanya Gretha lagi.
"Sakya biasanya pulang jam dua atau jam tiga kalau praktek," jelas Mami Thalita.
"Yah! Masih lama! Mana Dad mau jemput kesini bentar lagi!" Gumam Gretha sembari mend*sah kecewa.
"Gretha kan masih mau nginep disini, Mi!" Ujar Gretha dengan bibir yang sudah merengut lagi.
"Dad mau kesini menjemput Gretha?" Mami Thalita balik bertanya untuk memastikan.
"Iya! Katanya Gretha baru boleh menginap lagi bulan depan-"
"Eh, Gretha punya ide, Mi!" Cerus Gretha tiba-tiba yang malah menbuag Mami Thalita bingung.
"Ide apa, Gre?"
"Gretha akan pura-pura sakit saja agar Gretha bisa merengek pada Dad dan lanjut menginap disini!" Ujar Gretha memaparkan idenya pada Mami Thalita.
"Apa? Pura-pura sakit?" Mami Thalita sontak terkejut.
"Gretha akan ke kamar, Mi! Nanti kalau Dad datang, pokoknya Mami harus bilang ke Dad kalau Gretha masih sakit dan belum bisa pulang!" Pesan Gretha selanjutnya pada Mami Thalita ya g masih terlihat bingung dengan ide Gretha.
"Tapi Gretha! Tudak baik berbohong." Nasehat Mami Thalita hanya terbang tertiup angin, karena Gretha sudah menaiki tangva dengan cepat menyju ke kamar Sakya di lantai dua.
****
"Kau bisa kembali untuk terapi minggu depan, Jack!"
"Dan, aku harap kau rajin datang terapi serta tak bolos, agar kakimu juga lekas pulih-"
"Dan aku bisa cepat naik motor serta balapan lagi," potong Jack melanjurkan kalimat Sakya. Meskipun tak sesuai dengan apa yang hebdak dikatakan oleh Sakya!
Ck! Terserah saja!
"Kau sudah bisa pulang," ujar Sakya selanjutnya seolah sedang mengusir Jack secara halus.
"Apa kau bisa mengantarku keluar sebentar, Sakya?" Pinta Jack yang tentu saja langsung nembuat Sakya berdecak malas. Padahal Jack juga sydah memakai tingkat dan keluar sendiri. Lalu kenapa Sakya harus mengantarnya keluar?
Namun meskipun menggerutu dalan hati, Sakya tetap mengantar Jack sampai ke pintu, dan alangkah terkejutnya Sakya, saat ua membuka pintu dan mendapati Jill yang sudah berdiri di depan pintu ruang terapi.
Oh, jadi ini alasan Jack!
"Hai, Saudara kembar! Kau menjemputku?" Jack berbasa-basi pada Jill yang kini tersenyum ramah pada Sakya.
"Ya! Agar kau tak terus-terusan meneleponku dan menuduh aku menelantarkanmu!" Jawab Jill seraya berdecak pada Jack.
"Hai, Sakya! Apa kabar?" Sapa Jill selanjutnya pada Sakya.
"Baik," jawab Sakya cepat.
"Kau sendiri?" Sakya ganti berbasa-basi pada Jill.
__ADS_1
"Tidak terlalu baik sebenarnya. Tapi setelah bertemu denganmu, sekarang sedikit membaik."
"Senyummu selalu meneduhkan hatiku," ungkap Jill lagi yang hanya ditanggapi Sakya dengan datar.
"Eheem! Yang cinta lama bersemi kembali!" Ledek Jack seraya berjalan keluar dari ruang terapi.
"Aku akan menungyu di luar, Jill! Selagi kau dan Sakya bernostalgia," seloroh Jack lagi
"Aku sudah menikah dan tidak sedang bernostalgia bersama Jill, Jack!" Ucap Sakya tegas yang langsung membuat Jack menoleh dan tertawa kecil pada Sakya.
"Aku tak akan membuka rahasia kalian berdua, Sakya!"
"Toh istri juga tidak akan tahu misalnya kau masih ada something pada Jill!
Kau dulu bucin sekali pada saudara kembarku itu, Sakya!" Cerocos Jack yang malah blak-blakan menyuruh Sakya selongkuh dengan Jill.
Dasar sinting!
"Pokoknya, rahasiamu aman bersamamu, Sakya!" Seru Jack lago sebelum kemudian pria itu menghilang di ujung lorong.
"Eheem!" Jill berdehem ringan.
"Aku harus mendampingi pasien lain untuk terapi, Jill! Maaf-"
"Tapi tak ada pasien yang mengantre, Sakyang."
Sakya tersentak dengan panggilan lama Jill padanya dulu.
Sakyang!
Sakya sayang!
"Maaf, aku masih terbawa suasana," ucao Jill seraya tersipu.
Entah benar-benar tersipu atau hanya sekedar tipu-tipu.
"Aku sudah menikah, Jill!" Ucao Sakya tegas seraya menunjukkan cincin nikahnya pada Jill.
"Aku tahu, Sakya!" Jill tiba-tiba sudah meraih tangan Sakya.
"Tapi aku yakin kalau perasaanmu kepadaku juga belum berubah. Kau dulu bahkan tak pernah berpacaran dengan gadis manapun setelah kita putus!" Ucap Jill lagi yang tangannya buru-buru disentak oleh Sakya.
"Aku tak pacaran saat itu karena aku sibuk mengejar gelar dokter!" Ucap Sakya tegas
"Tidak usah membohongi hatimu sendiri, Sakya!" Jill masih saja keras kepala dan sok tahu.
"Dan aku sejujurnya juga menyesal karena meninggalkanmu waktu itu, Sakya. Aku benar-benar menyesal!" Ungkap Jill blak-blakan.
"Jill, dengar!"
"Semua yang perrnah terjadi di antara kita hanya masalalu! Aku tak lagi menyimpan perasaan apapun padamu dan sekarang aku sudah menikah!"
"Aku hanya memcintai istriku!" Ucap Sakya menatap tegas pada Jill.
"Tapi tidak bisakah kita mengembalikan semua masalalu itu, Sakya?"
"Aku tak keberatan menjadi simpananmu," ucap Jill blak-blakan yang langsung membuat Sakya memandang rendah pada wanita di depannya tersebut.
"Kau merendah terlalu rendah, Jill!"
"Semua yang pernah terjadi diantara kita sudah selesai, dan aku sudah menikah sekarang.
"Selamat siang!" Pungkas Sakya seraya menutup pintu ruang terapi. Sakya menghela nafas panjang seraya bersandar pada pintu. Pria itu mengacak kasar rambutnya dan menghela nafas frustasi.
Dasar Jill!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.