Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
MARAH


__ADS_3

"Sakya! Kemari!" Panggil Dad Matthew pada Sakya yang baru keluar dari kamar. Hari memang masih pagi, namun Sakya maupun Dad Matthew sudah sama-sama rapi dan siap berangkat ke tempat kerja masing-masing.


"Ada apa, Dad?" Tanya Sakya seraya menarik kursi di samping Dad Matthew, lalu duduk di sana. Dad Matthew mengangsurkan sebuah surat kabar untuk Sakya. Headline berita adalah tentang kecelakaan semalam yang tentu saja Sakya juga sudah tahu siapa korbannya.


"Mantan calon saudara iparmu ada di sana," ujar Dad Matthew lagi seolah sedang memberitahu Sakya yang masih fokus membaca berita.


"Jack tewas di tempat semalam," cerita Sakya seraya melipat kembali surat kabar di tangannya.


"Kau sudah tahu?"


"Sakya lewat di TKP semalam-"


"Kau kemana tadi malam? Ikut balapan juga?" Cecar Dad Matthew melayangkan tuduhan konyol seperti biasa.


"Sakya beliin terang bulan untuk Gretha yang ngidam, Dad! Sakya sudah mengetuk pintu kamar Dad juga dan mau nawarin. Tapi sepertinya Mom dan Dad sudah tidur," ujar Sakya menyanggah tuduhan konyol Dad Matthew.


"Lalu sekarang Gretha mana? Kau tidak mengajaknya sarapan?" Cecar Dad Matthew lagi berapi-api.


"Gretha masih tidur tadi, Dad! Tapi Sakya sudah pamit karena Sakya ada praktek pagi," jelas Sakya panjang lebar.


"Memangnya kamu apakan Gretha, sampai jam segini belum bangun-"


"Matt!" Mom Melody yang baru keluar dari dapur langsung menegur sang suami.


"Gretha belum bangun mungkin karena tadi malam tidak bisa tidur. Jadi jangan menyalahkan Sakya atau melontarkan tuduhan konyol begitu!" Omel Mom Melody panjang lebar yang langsung membuat Dad Matthew mendengus.


"Iya, Mom. Tadi malam Gretha muntah beberapa kali dan baru tidur menjelang dinihari," cerita Sakya membenarkan dugaan Mom Melody.


"Hal wajar untuk ibu hamil di trimester pertama," gumam Mom Melody seraya meletakkan satu lembar roti di piring Sakya.


"Sarapan dulu sebelum ke rumah sakit," ucap Mom Melody selanjutnya pada sang menantu.


"Kenapa harus kamu ambilkan, Mel? Sakya juga pasti bisa mengambil sarapannya sendiri!" Dengkus Dad Matthew yang sepertinya cemburu melihat perhatian Mom Melody pada Sakya.


"Ini!" Mom Melody ganti menaruh dua lembar roti tawar di piring Dad Matthew.


"Ambilkan selainya sekalian," pinta Dad Matthew manja. Mom Melody sontak berdecak sementara Sakya malah menahan tawa.


"Kenapa? Sedang menertawakan Dad?" Delik Dad Matthew yang langsung membuat Sakya mengangkat kedua tangannya.


"Tidak, Dad!" Bantah Sakya seraya nengoleskan selai kacang keatas rotinya. Sakya baru saja akan menggigit roti di tangannya tersebut, saat tiba-tiba ada dia lengan yang sudah bergelayut ke lehernya.


"Pak Dokter! Kok nggak bangunin Gretha?" Rengek Gretha yang sekarang sudah ganti duduk di pangkuan Sakya.


Seperti tidak ada kursi lain yang kosong saja.


"Kok sudah bangun, Gre? Kata Sakya kau begadang semalam karena muntah-muntah," tanya Dad Matthew khawatir.


"Gretha nggak bisa bobok semalam bukan karena muntah-muntah, Dad! Tapi karena Pak Dokter nggak mau ngasih ronde-"


Sakya buru-buru membungkam mulut Gretha sebelum kebablasan. Bisa hancur keakraban Sakya dan Dad Matthew yang baru terjalin beberapa waktu ini kalau Gretha sampai cerita blak-blakan perihal ronde ketiga.


"Ronde apa? Kamu ngidam wedang ronde, Gre?" Tanya Mom Melody menerka-nerka.


"Wedang ronde apaan, Mom?" Gretha balik bertanya bingung pada Mom Melody.


"Minuman jahe itu yang dijual pakai gerobak," jelas Mom Melody yang malah membuat Gretha semakin bingung. Gretha akhirnya hanya mengendikkan bahu dan wanita itu lanjut bergelayut pada Sakya yang susah payah berusaha menggigit rotinya.


"Pak Dokter mau kemana?" Tanya Gretha manja.


"Ke rumah sakit. Aku ada praktek pagi," jelas Sakya cepat.


"Ikut," rengek Gretha lagi.


"Aku kan kerja, Gre-"


"Ehem!" Dad Matthew yang sejak tadi duduk di sebelah Sakya berdehem ketas dan sepertinya sedikit risih dengan adegan pangku-pangkuan yang dilakukan oleh Gretha dan Sakya.

__ADS_1


"Pagi semua!" Sapa Noah yang baru turun dari lantai dua.


"Kenapa duduknya dipangku gitu, Kak? Lagi bisulan?" Celetuk Noah selanjutnya saat melihat Gretha yang masih bergelayut di pangkuan Sakya.


"Berisik!" Omel Gretha pada sang adik.


"Sudah! Diam dan habiskan sarapanmu!" Timpal Mom Melody seraya meletakkan satu lembar roti ke piring Noah. Namun kemudian adik Gretha utu mengambil dua lembar roti lagi dan menumpuknya ke atas piring. Dasar tukang makan!


"Ya, Pak Dokter!" Rengek Gretha lagi yang minta untuk ikut Sakya ke rumah sakit. Yang benar saja! Gretha mau apa memang di rumah sakit? Merecoki Sakya yang sedang melakukan terapi?


"Nggak bisa, Gre! Aku kan kerja. Nanti pulang praktek aku ajak jalan-jalan, ya!" Ujar Sakya berusaha membujuk sang istri.


"Nggak mau!" Gretha sudah merengut sekarang san ponsel Sakya tiba-tiba berdering nyaring.


"Maaf, Mom, Dad! Sakya angkat telepon dulu."


"Dari Mami," izin Sakya seraya berusaha bangkit berdiri. Gretha benar-benar tak mau turun dari pangkuan Sakya, hingga akhirnya Sakya terpaksa menggendong istrinya itu di depan seperti induk kangguru.


Sebuah adegan yang sukses membuat keluarga Orlando menahan tawa.


"Kak Gretha manja sekali, sih!" Seloroh Noah sebelum pemuka itu menggigit rotinya.


"Halo-"


"Mi!" Sakya sedikit meringis saat harus mengangkat telepon sembari menggendong Gretha. Gretha kemudian membantu memegangi ponsel Sakya, agar suaminya itu bisa leluasa menggendong tubuh mungilnya.


Iya, untung Gretha mungil, jadi Sakya bisa menggendongnya di depan begini. Tak bisa dibayangkan kalau Gretha sebesar Kak Zeline, bisa ambruk Sakya kalau harus menggendong Gretha.


"Halo, Mi! Ada apa?" Sakya mengulangi sapaannya pada Mami Thalita.


"Sakya, kau ada praktek hari ini?"


"Iya, Mi! Praktek pagi. Ini Sakya baru mau berangkat." Jawab Sakya menjelaskan.


"Nanti pulang dari rumah sakit langsung ke rumah, ya! Hari ini ada acara pertemuan keluarga besar Abraham di rumah. Ajak Gretha sekalian-"


"Gre!"


"Ada Gretha, Sak?"


"Iya ada, Mi! Tapi jangan panggil Sak, dong!" Protes Sakya yang tak terima dipanggil sak.


Ujung-ujungnya jadi sak semen atau sak beras!


"Iya! Berikan ponselnya pada Gretha! Mami mau bicara dengan menantu Mami!"


"Bicara saja, Mi! Gretha dengerin, kok!" Jawab Sakya seraya membenarkan letak bokong Gretha di gendongannya.


Astaga!


Meskipin Gretha mungil, lama-lama Sakya pegal juga menggendong istrinya ini!


"Gre, nanti kamu ke rumah mami bareng Sakya, ya!"


"Nanti kapan, Mi? Kenapa nggak sekarang?" Tanya Gretha menawar.


"Oh, mau datang sekarang? Boleh! Nanti kita bisa ke salon dulu berdua atau shopping kemana gitu."


"Yeayyyy! Mau, Mi!"


"Yasudah, Gretha kesini sekarang, ya! Suruh Sakya antar sebelum ke rumah sakit."


"Siap, Mi! Sampai jumpa nanti!" Pungkas Gretha seraya menutup telepon, lalu mencium bibir Sakya yang masih menggendongnya.


"Aku mau ke rumah Mami!"


"Anterin, ya, Pak Dokter!" Ujar Gretha dengan raut riang.

__ADS_1


"Iya! Tapi turun, trus mandi dulu sana!" Titah Sakya pada sangistri.


"Nggakau mandi! Dingin," tolak Gretha beralasan.


"Kan ada air hangat, Gre!"


"Mandiin kalau begitu!" Rengek Gretha manja.


"Aku udah mandi, Gre! Trus ini juga aku harus buru-buru ke rumah sakit-" Sakya tak melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba wajah Gretha sudah berubah cemberut.


"Iya, iya sudah! Aku mandikan, ya!" Ujar Sakya akhirnya pada Gretha yang stdah turun sendiri dari gendongannya.


"Nggak usah!" Sentak Gretha marah.


"Gretha!" Sakya langsung mengejar Gretha yang sudah kembali ke ruang makan dan menghampiri Dad Matthew.


"Ada apa, Gre?" Tanya Dad Matthew dan Mom Melody kompak.


"Pak Dokter itu!" Rengut Gretha seraya menuding ke arah Sakya yang langsung garuk-garuk kepala.


"Sakya!!" Geram Dad Matthew geregetan. Sementara Sakya hanya meringis dan memilih untuk tak melakukan pembelaan. Busa panjang urusannya nanti dan Sakya bisa-bisa juga malah terlambat ke rumah sakit.


"Dad anterin Gretha ke rumah Mami, ya!" Rengek Gretha selanjutnya pada Dad Matthew.


"Mau ngapain ke rumah keluarga Abraham?" Tanya Dad Matthew tidak senang.


"Ada acara, Dad! Kata Mami disuruh kesana," Jawab Gretha menjelaskan.


"Benar ada acara, Sakya?" Tanya Mom Melody memastikan.


"Iya, Mi! Acara kumpul keluarga rutin," jawab Sakya membenarkan.


"Yaudah, kamu antar Gretha sana, Matt! Sekalian berangkat ke kantor," titah Mom Melody pada sang suami.


"Sakya-"


"Gretha nggak mau diantar Pak Dokter! Gretha maunya diantar Dad!" Rengek Gretha manja.


"Iya, iya!"


"Ayo!" Tukas Dad Matthew akhirnya seraya bangkit berdiri.


"Gretha pakai piyama saja?" Tanya Sakya dan Mom Melody berbarengan.


"Eh, iya. Kamu tidak ganti baju dulu, Gre?" Tanya Dad Matthew setelah memindai penampilan Gretha yang masih mengenakan piyama gambar pinguin.


"Enggak! Gretha mau pakai piyama ke rumah Mami!"


"Lagi ngidam! Bawaan bayi!" Jawab Gretha beralasan.


"Biar Mom ambilkan jaket kalau begitu!" Tukas Mom Melody akhirnya seraya berjalan ke kamar Gretha untuk mengambil jaket.


"Aku antar ke rumah Mami, ya, Gre!" Bujuk Sakya sekali lagi pada Gretha yang langsung merengut dan bersedekap.


"Enggak! Gretha marah sama Pak Dokter!"


"Syukurin!" Celetuk Dad Matthew tertawa puas. Dasar Dad mertua tak pengertian.


"Berangkat sana! Gretha nanti Dad yang antar!" Usir Dad Matthew selanjutnya pada Sakya yang hanya garuk-garuk kepala. Karena gagal membujuk Gretha, Sakya akhirnya pamit dan berangkat duluan. Nanti saja saat pulang, Sakya akan coba membujuk istrinya itu lagi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2