Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
TERTUNDA


__ADS_3

"Ada apa, Sakya? Ekspresi wajahmu terlihat tidak senang?" Pertanyaan Dad Matthew langsung membuat Sakya yang sejak tadi sibuk mengumpat dalam hati buru-buru memperbaiki ekspresi wajahnya.


"Tidak ada, Dad!"


"Sakya hanya-"


"Hoaaaaam!" Sakya pura-pura menguap lebar.


"Pak Dokter sudah ngantuk, ya?" Celetuk Gretha sok tahu.


"Iya," jawab Sakya seraya tersenyum pada Gretha yang malam ini terlihat begitu anggun, cantik, dan mempesona.


Dan sepanjang acara tadi, Sakya juga sudah membayangkan malam pertamanya bersama Gretha nanti. Pasti menggemaskan bagaimana, begitu!


Sebelum akhirnya semua bayangan Sakya tersebut harus buyar hanya karena satu kalimat yang dilontarkan Dad Matthew barusan,


"Gretha, nanti kamu tidur bersama Mom, ya!"


Hhhh!


Ingin rasanya Sakya mengurung Mom Melody dan Dad Matthew di dalam kamar mereka, lalu mengunci pintunya dari luar dan membuang kuncinya ke dasar Palung Mariana di Samudera Pasifik!


"Istirahat dan tidur sana jikaemang sydah mengantuk, Sakya! Besok kau ada praktek-"


"Besok Sakya masih cuti, Dad!" Sergah Sakya cepat.


Walaupun malam ini malam pertama Gretha dan Sakya harus tertunda, tapi besok pagi saat Dad Matthew ke kantor, Sakya akan langsung membayar lunas malam pertamanya bersama Gretha!


Jadi siang pertama berarti kalau dilakukan siang bolong!


"Oh, bagus!"


"Kita bisa bermain catur atau golf saja bagaimana? Kebetulan Dad besok juga masih cuti." Ujar Dad Matthew yang langsung membuat Sakya harus kembali mengumpat dalam hati.


Sial!


Brengsek!


Mertua menyebalkan!


Tidak pengertian!


Sakya ingin ganti mertua saja!


Tapi bukan ganti istri karena Sakya maunya tetap beristrikan Gretha, sekalipun gadis itu sering membuat geregetan!


"Mungkin bisa bermain catur saja, Dad!" Ringis Sakya berusaha menahan dirinya sendiri agar tak meledak.


"Baiklah!"


"Silahkan istirahat! Kamarmu di bawah tangga," titah Dad Matthew sekali lagi pada Sakya yang langsung menghela nafas panjang.


Sabar, Sakya!


Sabar!


"Perlu Gretha antar, Pak Dokter?" Tawar Gretha yang sejak tadi masih bergelayut pada sang Dad.

__ADS_1


Kenapa juga Gretha tak berontak atau protes, saat Dad Matthew menyuruhnya tidur bersama Mom Melody? Atau jangan-jangan selama ini Gretha memang masih tidur bersama sang Mom?


Mencurigakan!


"Kau juga istirahat ke kamarmu, Gre! Kau pasti lelah setelah acara tadi, kan?" Ujar Dad Matthew pada Gretha yang langsung mengangguk-angguk.


"Lelah sekali, Dad!"


"Gretha mau ganti baju juga-"


"Nanti dibantu Mom!" Sergah Dad Matthew cepat, sebelum kemudian pria paruh baya itu memanggil sang istri.


"Mel!"


"Iya? Gretha dan Sakya sudah mau istirahat? Kamar mereka sudah siap-"


"Kau temani Gretha di kamarnya malam ini!" Ucap Dad Matthew tegas memotong kalimat sang istri. Mom Melody sontak melebarkan kedua matanya.


"Tapi mereka kan sudah sah, Matt!" Mom Melody berbisik-bisik pada Dad Matthew.


"Iya, lalu? Gretha itu masih kecil dan lagi, Sakya juga sudah mencicil apa yang menjadi haknya!"


"Jadi mereka tak butuh lagi malam pertama!" Ucap Dad Matthew balik berbisik pada Mom Melody yang langsung bungkam.


"Sakya, kau mau berdiri disitu sampai kapan? Katanya tadi sudah nengantuk?" Tegur Dad Matthew pada Sakya yang seperti sedang mencuri-curi dengar bisik-bisik antara Mom Melody dan Dad Matthew.


"Eh, iya, Dad! Sakya akan ke kamar sekarang!" Pamit Sakya akhirnya seraya mengayunkan langkah, lalu masuk ke dalam rumah.


"Gretha juga udah ngantuk, Mom!" Grerha sudah ganti bergelayut pada Mom Melody.


"Kau bantu Gretha melepaskan baju dan semua hiasan di kepalanya itu, Mel! Lalu temani dia tidur malam ini!" Titah Dad Matthew pada Mom Melody.


"Tentu saja bisa! Ini semua demi keamanan Gretha!" Jawab Dad Matthew seraya berbisik pada Mom Melody yang hanya memutar bola mata. Dad Melody lalu membimbing Gretha untuk masuk ke rumah, dan mereka langsung menuju ke kamar Gretha di lantai atas.


****


Tik tok tik tok tik tok.


Sakya masih memperhatikan jarum jam yang terus saja bergerak, seirama dengan gerakan dari piringan logam yang tergantung di bagian bawah jam.


Tok tok tok!


Samar-samar, Sakya mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


Ceklek!


"Pak Dokter." Suara manja Gretha langsung membuat Sakya menoleh ke arag pintu kamar. Lalu Gre yang kini hanya mengenakan baju tidur model lingerie, mengedip-ngedipkan matanya ke arah Sakya.


"Gretha boleh masuk, Pak Dokter?" Tanya Gretha tetap dengan suara manjanya.


"Masuk saja, Gre!" Ucap Sakya cepat seraya bangun dan duduk di atas ranjang. Tak lupa, Sakya juga sedikit menggeser posisinya, seolah sedang memberikan ruang untuk Gretha.


"Tadi Gretha kira Pak Dokter sudah tidur," Gretha mengedip-ngedipkan matanya sekali lagi pada Sakya.


"Belum!" Jawab Sakya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kamu sendiri juga belum tidur," ujar Sakya selanjutnya sedikit berbasa-basi pada Gretha.

__ADS_1


"Kan belum godain Pak Dokter," Gretha memukul kecil lengan Sakya, dan seolah tak mau melewatkan kesempatan, Sakya dengan cepat menahan tangan Gretha sebelum ditarik kembali oleh sang empunya.


"Jadi ini ceritanya sedang godain aku?" Tanya Sakya yang sudah menciumi punggung tangan Gretha.


"Iya," jawab Gretha dengan wajah yang sudah bersemu merah.


Sakya melanjutkan kecupannya yang tadi hanya di punggung tangan Gretha, lalu bergeser ke tangan istrinya itu. Laku terus naik hingga akhirnya sampai di pundak Gretha yang hanya teedapat tali lingerie warna merah maroon yang kini Gretha kenakan. Benar-benar kontras dengan kulit seputih pualam milik Gretha.


"Sudah siap?" Tanya Sakya yang tangannya sudah menggeser tali lingerie Gretha ke samping, hingga akhirnya jatuh dari pundak wanita itu.


"Siap apa?"


"Siap aku terjang." Bisik Sakya sebelum pria itu mengecup pundak Gretha, lalu meninggalkan tanda kepemilikan di sana.


"Mmmmmmmm," Gretha tak menjawab pertanyaan Sakya tadi dan istri remaja Sakya itu hanya bergumam panjang.


Selesai menurunkan kedua tali lingerie Gretha, Sakya bersiap juga untuk menurunkan lingerie yang masoh menyembunyikan dada serta bagian tubuh Gretha yang lain.


"Sakya!" Gretha tiba-tiba sudah menangkup wajah Sakya, saat tangan Sakya baru bersiap untuk memelorotkan lingerie Gretha.


"Tumben panggil Sakya?" Tanya Sakya dengan ekspresi heran. Sakya mengurungkan sejenak niatnya untuk menurunkan lingerie Gretha, dan pria itu mengusap sejenak tangan Gretha yang mendadak berubah besar-besar taj seperti tadi yang masih lentik dan mungil.


Tunggu dulu!


Kenapa jari Gretha bisa langsung berubah ukuran hanya dalam hitungan menit?


Apa Sakya salah memegang jari?


Sakya menatap lekat wajah Gretha sambil.masoh mengusap jari-jari jumbo Gretha, hingga akhirnya wajah Gretha perlahan memudar dari pandangan Sakya.


"Sakya!"


"Sakya!"


Suara Gretha perlahan juga berubah menjadi suara berat khas pria dewasa, sebelum kemudian wajah imut Gretha sudah berganti menjadi wajah ketus Dad Matthew.


Hah,


"Sakya! Lepaskan tanganmu!"


Sakya membuka lebar kedua matanya, saat akhirnya pria itu menyadari kalau ia kini tengah berhadapan dengan Dad Matthew dan tangannya juga menangkup wajah Dad mertuanya tersebut. Dan yang lebih konyol, jarak wajah Sakya dan Dad Matthew sudah dekat sekali, hingga membuat Sakya refleks berteriak.


"Hah?"


Sakya berguling ke belakang dengan cepat, lalu tubuhnya terasa melayang, sebelum kemudian Sakya merasakan punggungnya yang terbanting dengan luar biasa!


Bugh!


"Auuuw!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2