Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
PAK DOKTER JAHAT!


__ADS_3

Sakya memperhatikan Jack yang kini sedang melakukan terapi dan rehabilitasi pasca patah tulang yang dialaminya.


"Apa pergelangan kakimu masih terasa nyeri?" Tanya Sakya memastikan.


"Jika dipakai berjalan begini? Sama sekali tidak!" Jawab Jack seraya memutar-mutar pergelangan kakinya.


"Aku sudah sembuh, kan? Sudah bisa balapan lagi?" Tanya Jack lagi yang langsung membuat Sakya berdecak.


"Sebaiknya kau berhenti melakukan aksi balapan bodoh itu, Jack!"


"Itu sangat-sangat tidak aman!" Nasehat Sakya yang sebenarnya merasa malas untuk bicara apalagi menasehati kembaran Jill ini! Tapi bukankah Sakya harus profesional dan tak boleh membawa persoalan pribadi ke dalam pekerjaannya?


"Ck! Balapan sudah jadi bagian dari hidupku, Sakya!" Jawab Jack dengan nada pongah. Sakya akhirnya tak berkomentar lagi.


"Ngomong-ngomong, kau praktek sampai jam berapa hari ini?" Tanya Jack selanjutnya pada Sakya.


"Jam dua," Sakya melihat ke arlojinya.


"Ini sudah jam dua. Apa aku pasien terakhir?" Tanya Jack lagi.


"Ya!" Jawab Sakya setelah memeriksa tentang data pasien yang sudah tak ada lagi di atas mejanya. Jack memang pasien terakhir Sakya hari ini.


"Bagus!"


"Ayo aku traktir!" Ajak Jack kemudian yang sudah merangkul pundak Sakya.


"Tidak, terima kasih, Jack!"


"Aku ingin secepatnya pulang saja dan menemui istriku," tolak Sakya halus.


"Sayang sekali!"


"Tapi ngomong-ngomong, aku boleh menumpang pulang?" Tanya Jack lagi yang membuat Sakya benarkah haris menggerutu dalam hati.


"Kenapa tak menelepon Jill atau supirmu saja?" Ujar Sakya memberikan saran.


"Jill sedang ada acara penting dan supirku sedang sakit hari ini," jawab Jack beralasan.


"Satu kali ini saja, Sakya!"


"Please!" Mohon Jack yang hanya mampu membuat Sakya menarik nafas.


"Baiklah, aku antar!" Putus Sakya akhirnya meskipun setengah hati. Tapi mana Jack paham? Pria ini memang menyebalkan!


"Aku berkemas sebentar," ujar Sakya kemudian dan Jack hanya mengangguk.


Tepat saat Sakya hebdak keluar dari ruang praktek, ponsel pria itu berbunyi.

__ADS_1


[Pak Dokter....] -Gretha-


Sakya tersenyum sendiri saat membaca pesan dari Gretha dan sedikit membayangkan ekspresi wajah Gretha saat mengucapkan kalimat barusan.


[Iya, Sayang!] -Sakya-


[Pak Dokter udah pulang? Anterin Gretha jalan-jalan, dong!] -Gretha-


[Ini baru selesai praktek. Nanti kita jalan-jalan setelah aku sampai di rumah] -Sakya-


[Pak Dokter sekarang di mana memang?] -Gretha-


[Masih di rumah sakit, Gre! Baru siap-siap mau pulang] -Sakya-


[Oh] -Gretha-


[Kamu dimana memangnya] -Sakya-


[Di parkiran] -Gretha-


Tak berselang lama, pesan Gretha yang mengatakan kalau Gretha berada di parkiran tadi dihapus oleh Gretha.


[Sayang] - Sakya-


[Hehe, Gretha di rumah, Pak Dokter] -Gretha-


"Sakya! Kita jadi pulang tidak?" Pertanyaan Jack menyentak lamunan Sakya.


Ah, iya!


Sakya masih harus mengantar pulang kembaran Jill ini.


Menyebalkan!


"Iya, jadi!" Jawab Sakya sedikit ketus. Salya kembali menyimpan ponselnya ke saku.


"Kau tadi tersenyum sendiri. Sedang bertukar pesan dengan siapa?" Tanya Jack kepo.


"Bukan siapa-siapa!" Jawab Sakya malas. Dua pria itupun masuk ke dalam lift dan segera turun ke lantai bawah.


"Ngomong-ngomong, apa enaknya menikah dengan seorang hadis remaja?" Tanya Jack membuka obrolan.


"Selain mereka masih polos dan gampang digombali maksudku," lanjut Jack lagi seraya tertawa kecil.


"Apa kau sedang meledekku?" Dengkus Sakya menatap tak senang pada Jack.


"Sama sekali tidak! Aku benar-benar hanya bertanya karena barangkali aku mau mengikuti jejakmu," ujar Jack beralasan yang hanya membiat Sakya tertawa kecil. Tepat di saat bersamaan, pintu lift sudah terbuka. Lift sudah sampai di pintu bawah.

__ADS_1


"Halo, Jill!" Ucap Jack seraya meletakkan ponselnya di telinga. Tadi setelah keluar dari lift, ponsel pria itu memang berdering.


"Ya, aku sudah mau pulang diantar Sakya, mantan pacarmu." Jack terkekeh dan Sakya lagi-lagi harus mendengus mendengar kalimat Jack pada Jill.


"Apa? Kau di depan rumah sakit? Mau menjemputku?" Jack baru selesai mengicapkan kalimatnya, saat tiba-tiba seseirang yang sedang Sakya hindari malah muncul di depan Sakya dan Jack.


Jill!


"Ya! Tadinya aku mau menjemputmu," ucap Jill sambil sesekali melirik ke arah Sakya.


"Tadi bilangnya sibuk!" Decak Jack yang hendak menoyor kepala sang kembaran, tapi meleset.


"Tidak jadi."


"Dan, apa aku boleh menumpang mobilmu juga, Sakya?" Tanya Jill seraya mengusap lengan Sakya. Refleks Sakya langsung menyentaknya, lalu menjaga jarak dari Jill.


"Kau kan sudah bawa mobil sendiri! Pulang saja sana berdua dengan Jack!" Ucap Sakya ketus.


"Itulah masalahnya, ban mobilku kempes dan orang bengkel sedang dalam perjalanan kesini," terang Jill yang benar-benar membuat Sakya harus berdecak.


"Antarkan aku dan Jack pulang satu kali ini saja, Sakya! Dan kami akan sangat berterima kasih," rayu Jill seraya mebdekat pada Sakya. Lalu entah disengaja atau tidak, Jill tiba-tiba terhuyung seolah baru saja tersandung.


Sakya tentu saja refleks menahan tubuh Jill, hingga kemudian mereka berdua saling beradu pandang.


"Kau masih perhatian seperti dulu, Sakya," ucap Jill dengan nada lembut merayu, bersamaan dengan kesadaran Sakya yang seolah kembali. Segera Sakya melepaskan topangannya pada tubuh Jill dan kembali menjaga jarak.


"Tolong antarkan kami pulang, Sakya! Kan searah juga," bujuk Jack sekali lagi pada Sakya yang akhirnya mengangguk.


Sakya lalu segera berjalan ke parkiran, masih bersama Jill dan Jack tentu saja.


"Aku duduk di belakang!" Ucap Jack cepat seraya masuk ke jok belakang. Sakya kembali harus mendengus karena ia yang terpaksa harus duduk berdampingan dengan Jill di jok depan.


Tak berselang lama, mobil Sakya sudah melaju meninggalkan rumah sakit.


Sementara dari kejauhan, seorang wanita tampak merengut seraya menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.


"Pak Dokter jahat!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2