
Gretha mengerjapkan matanya beberapa kali, saat calon ibu muda itu merasakan Sakya yang sepertinya tengah mondar-mandir di dalam kamar.
"Pak Dokter!" Gretha meraba-raba ruang kosong di setelahnya untuk mencari keberadaan Sakya
Tidak ada!
"Pak Dokter!" Panggil Gretha lagi sedikit merengek.
"Iya, Gre!" Jawab Sakya akhirnya tapi masih tanpa menghampiri Gretha. Sakya sepertinya sedang sibuk dengan sebuah ransel warna hitam.
"Pak Dokter kenapa masukin baju ke dalam ransel?" Tanya Gretha setelah wanita itu bangun dan duduk di atas tempat tidur.
"Pak Dokter mau minggat?" Tanya Gretha lagi padahal pertanyaannya yang pertama belum dijawab oleh Sakya.
"Mau menemani Papi menyusul Kak Zeline," jawan Sakya.
"Kenapa harus disusul? Emang Kak Zeline nggak bisa pulang sendiri?" Tanya Gretha lagi yang langsung membuat Sakya nengusap wajah, lalu melirik arlojinya sebentar sebelum akhirnya pria itu duduk di samping Gretha. Tentu saja Gretha langsung menyusupkan kepalanya ke pelukan Sakya.
"Kak Zeline hilang," ujar Sakya akhirnya menjawab pertanyaan Gretha.
"Hah! Hilang? Hilang bagaimana? Kak Zeline kan besar. Siapa yang ngumpetin?" Cecar Gretha yang malah membuat Sakya ingin tertawa terbahak-bahak sekarang.
Tapi kalimat Gretha ada benarnya, sih!
Kak Zeline memang besar!
Seperti gapura kecamatan.
"Aku juga tidak tahu, Gre!"
"Tapi kata petugas resort, Kak Zeline itu pergi bersama seorang tour guide ke pulau lain, tapi sampai sekarang mereka belum kembali." Sakya mencoba menjelaskan pada Gretha.
"Tour guide-nya laki-laki atau perempuan?" Tanya Gretha yang malah tak nyambung. Istri Sakya itu juga tak terlihat mengkhawatirkan Kak Zeline.
"Kok malah nanyain tour guide-nya? Kamu kan udah punya aku, Gre!"
"Aku suami kamu!" Ujar Sakya berapi-api yang sontak membuat Gretha tergelak.
"Yeeee! Siapa juga yang naksir tour guide-nya Kak Zeline! Maksud aku kan kalau tour guide-nya laki-laki trus masih muda kan mungkin bisa jadi pacar barunya Kak Zeline." Tukas Gretha menjelaskan pada Sakya yang langsung terlihat salah tingkah. Namun jrmudian Sakya mengendikkan bahu karena ia juga tidak tahu tour guide yang pergi bersama Kak Zeline laki-laki atau perempuan. Informasi yang Sakya terima masih kurang detail. Makanya Papi Zayn mengajak Sakya untuk langsung ke lokasi demiantau atau kalau perlu turun langsung dan ikut membantu mencari Kak Zeline.
"Pak Dokter nggak tahu?" Tebak Gretha.
"Nggak tahu!" Sakya mengendikkan kedua bahunya sekali lagi.
"Sakya! Kau sudah selesai bersiap?" Terdengar panggilan Papi Zayn dari luar kamar.
"Iya, Pi!"
"Cepatlah! Nanti tertinggal pesawat!" Seru Papi Zayn lagi.
__ADS_1
"Iya, Pi!" Jawab Sakya sekali lagi.
"Gretha ikut, Pak Dokter!" Rengek Gretha seraya menggamit lengan Sakya.
"Nggak bisa, Gre! Kamu kan masih morning sickness."
"Dirumah saja sama mami, ya!" Bujuk Sakya yang langsung membuat Gretha merengut.
"Atau mau aku antar ke rumah Dad?" Tawar Sakya dan Gretha tetap merengut tanoa menjawab.
"Gre, mengertilah sebentar saja-"
"Tapi nanti malam Gretha nggak bisa bobok kalau Pao Dokter nggak melukin Gretha!" Cebik Gretha dengan bibir yang semakin mengerucut.
"Nanti aku video call, trus aku temani sampai kamu bobok," bujuk Sakya lagi.
"Emang disana ada sinyal?" Tanya Gretha ragu.
"Ada-"
"Sakya!"
Belum juga kalimat Sakya selesai, Papi Zayn sudah memanggil lagi.
Ck!
"Iya, Pi! Iya!" Jawab Sakya berseru.
Gretha sontak langsung mencium bibir Sakya.
"Gretha-"
"Satu ronde dulu, Pak Dokter!" Rengek Gretha yang sudah mengalungkan kedua lengannya di leher Sakya.
"Mana sempat, Gre! Papi sudah keluar tanduk itu!" Ujar Sakya seraya meringis.
"Eeee!" Gretha menarik Sakya dengan kuat dan memaksa Sakya agar memperkosanya.
Loh!
"Gretha! Nanti saja kalau aku pulang!" Bujuk Sakya seraya berusaha untuk kembi bangun.
"Tapi pak Dokter kapan pulang?" Tanya Gretha yang sudah kembali merengut.
"Kalau Kak Zeline sudah ketemu, aku nanti langsung pulang!" Janji Sakya seraya menangkup sekali lagi wajah Gretha.
"Janji!"
"Iya, janji!" Sakya mengecup kening Gretha, lalu pria itu bangkit dari atas tempat tidur dan merapikan bajunya yang sedikit semrawut karena ulah Gretha tadi.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, Sayang!"
"Bye!" Sakya melambaikan tangan pada Gretha yang hanya merengut sembari duduk bersila di atas tempat tidur.
"Bye, Sayang!" Pamit Sakya lagi sebelum pria itu keluar dari kamar dan menutup pintu. Meninggalkan Gretha yang kini sudah bersedekap sambil tetap merengut.
****
"Baru bangun, Gre!" Sapa Mami Thalita saat akhirnya Gretha keluar dari kamar karena perutnya keroncongan. Gretha mau makan mile crepes yang katanya sedang viral itu.
"Udah dari tadi sebenarnya, Mi!" Jawab Gretha seraya meringis.
"Pak Dokter udah berangkat, ya?" Tanya Gretha selanjutnya.
"Sudah dari tadi." Jawab Mami Thalita.
"Kamu mau makan sesuatu?" Tanya Mami Thalita seraya mengusap kepala Gretha.
"Gretha mau mile crepes, Mi! Yang rasa tiramisu," jawab Gretha sembari memainkan kedua jari telunjuknya.
"Yang kue berlapis-lapis itu, ya? Mami pesankan sebentar," tukas Mami Thalita yang langsung mengutak-atik ponselnya.
"Yeay!" Gretha bersorak senang dan segera memeluk Mami Thalita dengan lebay.
"Makasih, Mi!" Ucap Gretha kemudian.
"Iya!"
Setelah memeluk Mami Thalita, Gretha lalu duduk di sofa dan mengutak-atik ponselnya sebentar. Calon ibu muda itu mencoba menghubungi Sakya, tapi ppnsel suaminya tersebut malah tidak aktif.
"Telepon siapa? Mom?" Tanya ai Thalita yang sudah menyusul duduk di sofa.
"Pak Dokter. Tapi kok ponselnya nggak aktif, ya, Mi?" Jawab Gretha bertanya-tanya.
"Mungkin masih di pesawat," Mami Thalita menerka-nerka.
"Udah kangen padahal," Gretha meringis dan Mami Thalita malah terkekeh.
"Kangen terus bawaannya, ya?" Seloroh Mami Thalita yang langsung membuat wajah Gretha memerah.
"Bawaan bayi, Mi!" Tukas Gretha beralasan dan kali ini Mami Thalita hanya mengangguk.
Tak berselang lama, kue pesanan Gretha akhirnya datang. Dan ternyata Mami Thalita memesan semua rasa yang tersedia agar Gretha puas makan.
Benar-benar mertua yang perhatian!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.