PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Perasaan Dengan Harapan Manis


__ADS_3

...☘Hiasan cinta dalam batasan nyata,...


...larut dengan perasaan saat bersama☘...


Masih di cerita yang sama. Tolong cermat dalam membaca cerita bab ini. Ada sedikit drama di dalamnya. Selamat membaca para pembaca setia Mas Pras.


Siang yang menantang sebuah rasa penasaran, akan seorang gadis. Vava yang penasaran dan masih ingin lebih mengetahui sosok suaminya.


Di ruangan kerja, dan Vava dengan perasaan tidak biasa menanyakan tentang sekretaris Lingga.


"Sekretarisku?" Lingga dengan datar dan masih menatap Vava "Dia ada di ruangannya dilantai 15. Di ruangan ini cuma ada aku, dan mereka-mereka yang membaca di perpustakaan." Ucap Lingga dengan biasa saja.


Vava yang belum puas atas jawaban suaminya, dan dia kembali bertanya "Cewek?"


"Emss.. Iya, dia perempuan. Kenapa? Kamu mau kenalan sama dia?"


Lingga yang masih cukup kaku, dan belum paham dengan apa yang di maksud dengan pertanyaan Vava.


"Bukan begitu maksud aku. Aku cuma ingin tahu aja."


Lingga tersenyum saat melihat ekspresi Vava, lalu dia mendekati Vava dan berkata "Iya, dia cewek tapi dia sudah dewasa, bahkan dia sudah punya suami dan anak. Apa kamu cemburu?"


Kedua tangannya memenggang bahu Vava, dan kedua mata itu bertemu, sorot mata yang terlihat begitu jujur dan menjelaskan keadaan, Vava cukup puas dengan jawaban Lingga saat ini.


"Saat ini aku tidak keberatan, tapi tidak tahu nanti. Soalnya dulu Kak Britney hamil, dia cemburuan. Aku hanya bingung aja, takut aja nantinya juga seperti Kak Britney."


Lingga memandangi Vava dan berkata "Baguslah kalau kamu cemburu, berarti kamu ada perasaan sama aku. Tapi kamu tidak perlu cemas, aku juga tidak suka menduakan."


Vava menjauh dan mendekati kursi putar, yang ada di dekat Lingga, lalu Vava mulai duduk dan dia berkata "Bisa saja, kita tidak tahu nantinya. Aku saja yang tidak kenal kamu, tapi aku bisa hamil."


Lingga berubah ekspresi, tampak sedikit senyuman pahit.


"Vava, sudahlah jangan diungkit lagi."


"Tapi memang benar, aku hamil gara-gara kamu. Bahkan aku lupa malam itu. Aku sadar sudah__"


"Ssthhh..." Lingga menggeleng dan berkata "Aku tahu aku salah, ayolah... Jangan diungkit lagi."


"Mas Lingga, sampai sekarang aku masih bingung. Apa kamu kenal sama aku??"


Lingga menjauh, dan ada hal yang membuatnya tidak nyaman. Lingga berjalan dan mengambil anak panah yang seperti jarum, lalu melemparkan pada papan bulat dan melesat cepat. Sangat tepat sasaran dan ngenai titik tengahnya.


Vava yang melihat itu cukup diam, dan menjadi gelisah. Vava mengalihkan pandangannya, lalu melihat ke arah meja kerja Lingga, ada sebuah foto.


Tampak tercengang saat melihat bingkai putih, dengan gambar yang tidak asing, dan terlihat seorang gadis cantik, yang memakai seragam sekolah.


"Mas Lingga, ini??"


Lingga menoleh ke arah Vava. Dengan tatapan sendu, dan Vava gemetar saat memegang bingkai foto itu. Vava tidak menyangka, bagaimana Lingga memiliki foto mantan kekasih Jonathan yang telah tiada.


"Mas Lingga, jelasin sama Vava. Ini Evellyn."


Vava berdiri dari kursi itu, dan beranjak mendekati Lingga yang tampak mematung. Pikiran Vava saat ini tidak bisa tenang, sangat gelisah, badannya berubah rasa, jantung sudah berdebar kencang, tangan Vava sangat dingin dan gemetar.


Apa semua ini sudah terencana?? Sepertinya memang disengaja oleh Lingga Mahatma.


"Mas Lingga jelaskan!! Apa maksud dengan semua ini? Mas Lingga sudah merencanakan semuanya? Mas Lingga tahu tentang Vava?? Apa Mas Lingga yang membuat Vava tidak sadar diri?"


Lingga menghela nafas pelan, dan menatap Vava dengan perasaan gelisah, lalu berkata "Vava, awalnya memang aku ingin merencanakan hal itu. Aku memang ingin menghancurkan kamu karena Jonathan. Aku memang menyuruh orang untuk mengikuti kamu, itu semua karena Jonathan. Evellyn meninggal karena Jonathan. Aku tidak terima, aku sudah merelakan Evellyn untuk Jonathan, tapi apa yang Jonathan perbuat."


Hati dan perasaan Vava semakin runtuh, kedua tangannya meremas sisi jas Lingga, yang dirinya pakai saat ini "Mas Lingga, Mas Lingga kejam!"


"Vava, aku mohon sama kamu. Vava, aku akan menjelaskan semuanya. Aku memang ingin membalas dendam kepada Jonathan. Bahkan seluruh keluarga besarnya, dan semua itu karena Evellyn. Tapi kamu saat ini kamu hamil dan itu anakku." Ucap Lingga, dan Vava yang runtuh hanya mematung dengan luka yang lebih menyakitkan.


"Jujur saja, malam itu awalnya aku tidak tahu kalau itu kamu, seorang Vallezia Varrez pacar Jonathan. Aku tidak mengenal wanita malamku. Tapi setelah malam itu aku baru tahu kalau kamu pacar Jonathan, ternyata gadis yang bernama Vallezia Varres itu sudah ada dalam gengggaman aku. Aku sangat puas, tapi setelah tahu kamu hamil, dan itu anakku. Aku jadi dilema, aku gelisah, semua yang aku harapankan ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Saat ini, aku juga terluka."


"Mas Lingga jahat!" Vava dengan sorot mata yang tajam, dan air bening sudah luruh dengan lembut. Wajahnya terlihat tidak biasa, dan Lingga mulai memeluknya.

__ADS_1


Evellyn adalah gadis yang pernah mengisi hati Lingga, bahkan dari kecil. Tapi Evellyn mencintai Jonathan, dan berpacaran dengan Jonathan semasa SMA. Lingga sudah cukup bahagia melihat Evellyn bahagia.


Setelah Jonathan ke Jerman, dan mereka cukup LDR, setelah tahu Jonathan bersama Vava, lalu Evellyn mengetahui hal itu, dia memilih untuk pergi dari dunia ini. Lingga tidak kuat menahan dirinya, untuk tidak membalas perbuatan sang pacar Evellyn, yaitu Jonathan. Bahkan saat bersama Vava, Jonathan selalu bilang kalau Evellyn hanya mantan kekasih dan bukan pacar.


"Aku tahu aku salah. Aku tahu kamu tidak terima dengan perbuatanku. Tapi malam itu, aku berani bersumpah, aku tidak tahu kalau kamu adalah orang yang ingin aku hancurkan bersama Jonathan." Ucap Lingga saat memeluk erat istrinya.


"Maafkan aku, maafkan semua apa yang telah aku perbuat."


Vava mendengar itu masih mencerca, tapi sang suami juga pernah berencana untuk membuatnya hancur bersama Jonathan. Apa yang terjadi pada dirinya. Terakhir bertemu Evellyn sekitar dua tahun yang lalu di Jerman. Setelah itu Vava juga tahu kalau Evellyn meninggal dunia, karena Jonathan. Awalnya Vava juga ingin mengakhiri hubungannya, tapi keluarga Jonathan selalu membuat Vava agar tidak memutuskan hubungannya.


"Mas Lingga, aku mau pulang." Lirih Vava, dengan perasaan yang sudah tidak karuan. Lingga yang masih memeluknya, juga merasakan kegelisahan. Hatinya juga sangat tidak nyaman, apalagi saat ini Vava adalah istri sahnya. Dia sudah berjanji untuk menjaga dan mencintai istrinya.


"Iya, kita pulang." Balas Lingga dan Vava mulai lemas, badannya sudah tidak betopang. Vava mulai memejamkan matanya, dan Lingga sangat terkaget. "Vava, Vava.... Vava..."



Jakarta, pukul 15.00 WIB.


Di tempat lain, yang cukup dekat kantor Mahatma. Seorang wanita anggun duduk di sebuah sofa, dan di ruangan yang begitu mewah. Tampak sedang membaca sebuah buku.


"Selamat siang Madam." Ucap Nat, saat menyapa Hesti, sang Bunda Lingga Mahatma.


"Siang Nat. Gimana kabar istrinya Lingga?"


"Baik Madam, tadi kita menemaninya saat di Mall." Jawab Nat dengan jelas dan suara Nat terdengar tegas.


Hesti menutup bukunya dan bertanya "Apa Vava sudah mengetahui tentang Evellyn? Apa Vava sudah memaafkan perbuatan Lingga? Bukannya kamu yang selalu mengawasi Vava."


Nat mulai menunduk, "Madam, waktu di Paris itu adalah kesalahan. Tuan Lingga tidak melakukan dengan sengaja. Saya bahkan sudah menjelaskan kepada Madam dan Pak Yuda."


"Nat, aku belum memaafkan Lingga dan kamu, kalau istrinya Lingga belum tahu apa rencana kalian. Apalagi kalau Lingga belum dimaafkan istrinya. Aku tidak bisa bertemu dengan Lingga."


Nat mengerti, bahkan saat pernikahan, Hesti tidak menerima tangan putranya, bahkan masih saja dia menganggap Lingga adalah pendosa.


"Madam saya mengerti. Tuan Lingga memang ingin menghancurkan Jonathan, dan kejadian di Paris, adalah kelaian saya. Saya yang tidak bisa mengawasi Tuan Lingga. Bahkan saya tidak tahu kalau Nyonya Vava bisa bertemu dan dalam satu hotel yang sama."


"Baik Madam. Saya memang bersalah. Pasti saya akan menjelaskan kepada Nyonya Vava."


"Bagaimana kandungannya?"


"Baik Madam, tidak ada masalah."


"Bagus, kamu harus menjaga cucuku."


"Baik Madam, saya akan menjaga Nyonya Vava dengan baik."


Hesti tampak berjalan dan mendekati Nat, "Besok ajak Vava kesini. Biar kita semua jadi lebih dekat."


"Baik Madam."


"Nat, ada tugas baru untukmu." Ucap Hesti dengan suara pelan tapi sangat menekan. Nat tahu apa yang harus dia kerjakan. "Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan untukku?"


"Saya mengerti Madam. Kalau begitu saya permisi dulu."


Hesti tampak bersedekap, perlahan tangan kanan mengusap pelipisnya dan bergumam "Vava, kamu tidak perlu cemas. Ada aku yang akan mengawasi Lingga untukmu."


Kembali ke Pras yang sedang selesai rapat, dan Britney tadi sudah kembali ke kantornya. Yang ada saat ini hanya Rendy dan Pandu, masih menatap Pras. Suasana hati Pras sedang bahagia. Pandu dan Rendy menatap Pras dengan aneh.


"Mas, kamu seperti orang puber!"


Pras tidak menghiraukan dan masih menatap layar ponselnya. Setelah rapat dengan beberapa staff pemasaran dan juga staff operasional. Pras masih ditemani Rendy dan juga Pandu.


"Masmu baru kasamaran. Kita hanya lalat yang mengganggu dia." Ucap Rendy.


Pandu memundurkan kursinya dan mulai berdiri "Mas Rendy, kita tahu Mbak Britney hamil. Tapi kenapa Mas Pras seperti orang sedang jatuh cinta? Apa jangan-jangan bukan karena Mbak Britney?"


"Ngaco kamu! Mana mungkin Masmu jadi buaya darat. Dulu aja nggak begitu." Balas Rendy, yang sangat tahu tentang masa muda sahabatnya itu.

__ADS_1


"Bisa saja. Mas Rendy lihat kan, dari tadi dia sibuk menatap ponselnya. Apa yang dia lihat, dia lihat foto-foto artis cantik dan sexy sexy."


"Bisa jadi dia yang ngidam, mungkin aja anaknya nanti jadi cantik seperti artis korea, atau tampan seperti aktor hollywood."


Pras mulai meletakan ponselnya, dan tampak menyangga dagunya, lalu bertanya "Kenapa kalian masih disini? Apa masih ada kerjaan lagi?"


Pandu yang sudah berdiri mendekati sang Kakak dan berkata "Mas Pras, aku tahu kalau kamu sedang bahagia. Tapi aku heran, Mas Pras tidak suka nonton film romantis. Terus kenapa dari tadi lihatin aplikasi foto dan melihat deretan wanita sexy?"


Rendy juga sangat penasaran dan menatap Pras dengan tanya. Pandu yang sudah mendekat, tadi hanya melihat ekspresi Pras yang tampak bahagia, dengan senyuman tengil nan manis penuh pesona.


"Aku lagi cari ide, aku lagi cari sesuatu untuk Britney. Aku mau cari hadiah, dan yang cocok untuk istriku. Tapi aku bingung, jadi tidak ada salahnya bila mencari dari apa saja yang dipakai artis-artis yang ada di luar negeri. Sudah lama aku tidak memberikan hadiah, jadi aku mau kasih satu hadiah yang special. Apa menurut kalian aku salah??"


Rendy tampak mlengos dan senyuman manis, tapi penuh kekesalan. Pandu yang salah menduga cukup menggaruk kepalanya, dan memalingkan wajahnya, seolah-olah tidak mengatakan hal yang negatif terhadap Kakaknya.


"Beliin aja tas branded kesukaan Mbak Britney." Ujar Pandu yang cukup tahu, kalau dulu masa muda Britney sebelum menikah, banyak mengoleksi tas, sepatu dan aksesoris wanita.


Pras menggeleng dan jari telunjuknya mengatakan tidak. Rendy mengungging bibirnya ke kanan, dan tidak tahu apa yang dipikirkan sahabatnya saat ini.


"Perhiasan, perempuan suka perhiasan." Ucap Rendy, karena istrinya cukup senang. Saat diberi kejutan yang berisi perhiasan.


"Britney tidak telalu suka emas, atau perhiasan lainnya. Soalnya sudah cukup ada Mas Pras yang tampan ini. Jadi dia tidak menyukai emas-emas yang lainnya."


Rendy tampak mengepal, dia sudah memberi saran yang cukup serius, tapi sahabatnya begitu. Tidak merima sarannya, malah cukup memuji dirinya sendirinya sendiri.


"Aseem, koncoku kumat." Batin Rendy dan mulai tersenyum dengan terpaksa.


(Aseem, temanku kambuh.)


Pandu juga melirik Rendy dan mereka berdua cukup saling mengode dengan mata mereka.


Pras kembali menatap ponselnya, dan mulai memperlihatkan apa yang dia lihat "Sunset"


"Sunset? Apa bikini?" Pandu yang tampak melotot dengan apa yang dia lihat. Rendy yang masih tidak percaya dengan hal itu.


"Liburan?" Tanya Rendy.


"Sunset. Bukan liburan." Jawab Pras dengan tengil.


"Maksudmu??" Rendy dan Pandu yang tidak tahu apa rencana Pras.


"Matahari terbenam adalah ciuman berapi-api matahari di malam hari." - Crystal Woods


Pras dengan tengil menunjukan tulisan itu.


"Aku tadi lihat artis ada yang diberi sunset. Ternyata sangat manis. Aku juga mau begitu."


Rendy dan Pandu seolah tidak habis pikir, kenapa mereka tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Pras. Sunset yang mereka pikirkan adalah matahari terbenam di pantai atau semacamnya. Tidak tahunya, dari kata-kata itu dan Pras menjadi pensaran, bagaimana cara memberikan sunset kepada wanita yang dia cintai.


"Sepertinya aku jatuh cinta lagi." Ucap Pras dengan menunduk, dan ada debaran aneh. Senyuman Pras juga semakin aneh.


"Wah, Mas Pras sepertinya ada cem-ceman??"


Rendy menggeleng saja dengan senyuman sinis.


"Cem-ceman, ada aja. Cem-cemanku. Meowng." Ucap Pras dengan percaya diri.


Tengilnya semakin maksimal, mulai berdiri dan meninggalkan mereka berdua. Pras memegang map merah dan menggenggam ponselnya. Sangat manis senyumannya.


"Sangat terampil." Ucap Pandu.


"Masmu itu, memang penuh tanda tanya." Ucap Rendy menepuk pundak Pandu, dan pergi dengan senyuman manis.



Uupss.. Maaf ya, selalu update sore-sore. Mas Pras gitu sih, nunggu sunset 😂.


Semoga suka 😘

__ADS_1


__ADS_2