PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Witing Tresno Jalaran Soko Kulino


__ADS_3

...☘Sesulit Lingga yang ingin mencintai,...


...akan mudah bila sudah terbiasa☘...


Tolong baca baik-baik setiap kata dalam kalimatnya. Panggil Aku Mas! Season 2. Sudah dimulai, dari kisah cinta Mas Pras dan Britney, serta Lingga dan Vava.


...Kembali ke Bab 1....


Siang itu Lingga, yang duduk bersandar pada pohon angsana yang rindang. Tapi Vava sudah menelfonnya. Vava yang saat itu pergi bersama asistennya, dan menginginkan Lingga untuk datang menjemputnya.


"Aku kenapa begini, tadi pengen di jemput Mas Lingga. Giliran dia mau kesini, aku malas kalau bertemu dia."


Vava menggerutu dengan tidak senang, tadi Lingga juga sudah menyuruh agar Vava, berdiam diri di rumah saja, tapi dia merengek untuk ke sebuah Mall mewah yang ada di Jakarta Barat.


"Nyonya, apa sudah ingin pulang?" Tanya seorang bodyguard wanita yang mengawal Vava.


"Belum, aku masih ingin jalan-jalan. Kita ke toko sepatu."


Vava berfikir untuk membeli sepatu sporty, agar nyaman bila nanti dipakai selama berpergian. Apalagi sedang hamil, tidak perlu memakai high heels.


Dua bodyguard yang cukup fashionable, pria dan wanita, sangat gagah, tampak penampilan mereka seperti pemain di film action. Usianya sekitar 38 tahun, dan mereka dipercaya untuk menemani Vava sepanjang berpergian.



"Nat, aku heran. Kenapa kamu yang harus jagain aku, bukannya seorang suami yang harus menjaga istrinya?"


Vava sangat kesal, dia berfikir Lingga tidak peduli padanya. Hanya tinggal menyuruh pengawal saja.


"Tuan sangat sibuk, banyak pekerjaan yang harus ditangani. Bukan hanya di perusahaan pusat, tapi Tuan juga banyak pekerjaan lainnya."


Nat cukup tersenyum, dan penjelasan Nat cukup di dengar oleh Vava. Tapi ekspresi Vava seolah tidak percaya dengan hal itu.


"Sejak kapan kamu bekerja untuk Mas Lingga?"


"Sudah 10 tahun saya bekerja di Mahatma Corporation."


Vava menghentikan langkah kakinya, dan menatap Nat dengan tanya. 10 tahun waktu yang lama, tapi kenapa dia hanya bekerja sebagai pengawal.


"10 tahun? Kamu tidak bosan?"


Nat tersenyum dan berkata "Saya tidak akan bosan Nyonya. Karena pekerjaan saya, cukup menyenangkan. Bahkan saya bisa ke luar negeri tanpa biaya, jadi bekerja dan seperti liburan."


"Apa kamu tidak menikah? Tidak memiliki keluarga?" Tanya Vava, yang cukup penasaran akan pribadi Nat. Apalagi dia sosok wanita, yang seperti dirinya, menikah dan mempunyai anak. Nat juga sangat cantik, tidak mungkin bila tidak punya pasangan.


"Dulu saya memang menikah. Tapi saat ini, saya menikmati kesendirian saya. Anak saya sudah besar, dia tinggal dengan ayah dan ibu saya di kampung. 3 bulan sekali saya pulang dan itu cukup mengobati kerinduan saya. Satu minggu waktu libur yang diberikan Pak Yuda dan Tuan Lingga, jadi cukup untuk saya bersama anak dan keluarga saya. Saya hanya butuh uang, untuk memenuhi kebutuhan anak saya, saya harus kerja keras, agar anak saya punya pendidikan tinggi, tidak seperti saya." Ucap Nat, dengan wajah tersenyum.


"Terus suami kamu?" Tanya Vava, dengan rasa penasaran, dan Ruk hanya memperhatikan kedua orang yang mengobrol itu.


Mereka sudah ada di dalam toko sepatu, bukannya segera memilih sepatu, malah keasyikan mengobrol.


"Saya sudah bercerai, dia tidak peduli dengan saya dan juga anaknya. Makanya, saya pergi merantau, dan mengikuti seleksi anggota pengawal. Saya akhirnya keterima dan mengikuti pelatihan. Lalu bekerja di Mahatma Corporation, dan mengenal Pak Yuda juga keluarga besarnya. Akhirnya saya menjadi pengawal pribadi keluarga. Tadinya saya juga bagian team keamanan, di perusahaan Mahatma." Jawab Nat.


Vava mulai mengerti, tidak banyak wanita yang beruntung. Nat cukup baik, dan terlihat dari cara dia bekerja yang tidak kenal lelah.


"Iya, aku mengerti." Ucap Vava dan menjadi sendu. Dia menghela nafas dan berfikir "Apa Mas Lingga bisa jadi suami dan ayah yang baik? Kenapa aku jadi kepikiran akan hal ini. Semoga saja memang dia tulus dan tidak mempermainkan aku."


Vava mulai berjalan mengelilingi toko sepatu itu. Vava tampak melihat-lihat sepatu yang tertata rapi, di sebuah rak yang menempel dinding.



"Nyonya, kalau anda lelah. Nyonya duduk saja, kita bisa mencari dari katalog."


"Tidak, aku suka begini. Kamu tidak perlu cemas."


Toko yang luas, ada sekat kaca yang memisahkan antara jenis-jenis sepatu, dan juga nama brand. Tidak butuh waktu lama, Vava sudah memegang sepatu sporty warna putih dengan brand ternama, harganya tidak mahal bagi seorang Vava.


Apalagi sekarang Vava sudah memegang kartu, yang berisi uang dari suaminya, tidak masalah kalau Vava menggunakannya.


"Nat, aku mau ini dan juga yang ini." Ucap Vava, yang hanya menunjuk dua jenis sepatu sporty, dengan warna dan model yang berbeda.


"Baik Nyonya." Balas Nat.


Ruk tampak menelfon seseorang, dan Vava hanya menatap dari kejauhan.


Vava mulai duduk, ada seorang pelayan yang memberikan contoh sepatu untuk dicobanya.


"Ukurannya pas, iya aku mau yang ini." Ucap Vava, dan Nat tampak tersenyum.


Ruk tampak berdiri di dekat pintu masuk toko, dia dari kejauhan juga masih mengawasi Vava.


Sudah dua jam, Vava berada dalam Mall itu. Sang suami yang dihubunginya, ternyata datang juga.


"Kamu?"

__ADS_1


"Apa begitu cara kamu menyapa suamimu?"


Vava berdiri dari tempat dia duduk, dan mencium tangan suaminya, lalu memeluk suaminya "Mas Lingga, tadi aku bilang, kamu tidak perlu datang kesini."


Lingga yang tampak masih kaku, hanya mengelus rambut pendeknya Vava.


"Kamu beli sepatu?"


Vava mendongak ke menatap wajah suami yang masih dipeluknya, kedua tangan Vava melingkari dada Lingga, lalu Vava berkata "Emss, aku beli dua sepatu. Aku lagi hamil, mana bisa aku pakai high heels."


Vava tampak cemberut dan Lingga menatap manis, mulai tampak senyuman dari wajah kaku Lingga Mahatma.


"Beli yang banyak. Kalau perlu 30 pasang. Biar setiap hari kamu ganti sepatu."


Vava menatap aneh setelah mendengar perkataan suaminya, "Apa yang dia katakan? Dia meledek aku? Apa memang dia serius berkata?"


"Emms, dua pasang sudah cukup. Lagian Mas Lingga melarang aku pergi-pergi." Ketus Vava.


Perlahan Vava mulai melepas tangannya dari badan Lingga.


"Aku tidak keberatan, asalkan kamu mau." Ucap Lingga dengan datar dan biasa saja.


Lingga mulai melepas kancing jasnya, dan duduk di sofa yang ada di dekatnya.


Vava mengikuti suaminya. "Mas Lingga katanya sibuk bekerja, terus kenapa bisa kesini?"


"Aku memang sibuk, tapi istriku lebih penting dari pekerjaanku."


Vava menatap suaminya yang masih datar, tapi kenapa dari kemarin, suaminya selalu bilang istriku, dan istriku. Walaupun pengantin baru, tapi mereka baru saling mengenal, sangat aneh bagi seorang Vava.


"Apa dia memang perhatian?? Atau hanya berpura-pura?" Batin Vava yang masih penasaran.


Vava mulai duduk di sebelah suaminya. "Tapi aku denganku, aku bisa nyaman, bila ada di dekatnya. Apalagi kalau peluk dia, rasanya seperti aku lagi peluk Papa."


"Mas Lingga, maaf. Tadi aku bosan di rumah, makanya aku pengen jalan-jalan." Ucap Vava.


"Tidak apa-apa. Aku paham, kamu memang tidak bisa dikekang."


"Mas Lingga marah?"


Vava tampak melihat dan Lingga hanya tersenyum datar, tidak ada manis-manisnya.


"Buat apa aku marah. Lagian, kamu cuma ke Mall, bukan bertemu pria lain."


"Maksud aku, aku paling nggak suka kamu bertemu pria lain, tanpa ada aku. Misalnya bertemu Jonathan atau Nicholas."


Vava menatap lekat wajahnya, Lingga menatap jauh ke sebuah sepatu dan Vava menarik wajah Lingga, kedua mata itu saling menatap tajam.


"Mas Lingga, aku masih nggak ngerti. Apa Mas Lingga cemburu? Atau memang Mas Lingga tidak suka bertemu mereka?"


"Saat ini memang aku tidak suka hal itu, bisa saja nantinya aku cemburu, karena aku paling benci orang yang menduakan orang lain. Makanya aku bilang sama kamu. Jangan bertemu pria manapun, kecuali ada aku disampingmu. Kamu paham?!!" Suara Lingga yang begitu pelan, tapi Vava bisa mendengar jelas kata-kata itu.


Lingga berdiri dan melepas jasnya, menyematkan pada punggung Vava, "Kamu juga harus menjaga tubuhmu, aku tidak suka kamu memperlihatkan punggungmu untuk orang lain."


Vava tampak gelisah, wajahnya berubah suram. Lingga bukan hanya mengatur tentang tata krama dalam keluarganya, tapi dia cukup mengatur segala privasinya.


"Iya Mas Lingga." Tangan kanan Vava memegang erat kedua sisi jas itu.


Lingga yang berjalan, dan Vava mulai mengikuti suaminya.


"Tuan, saya sudah membayarnya." Ucap Nat dan Lingga hanya mengangguk.


"Nat, apa Mas Lingga marah sama aku?" Tanya Vava, yang melihat suaminya begitu dingin.


Nat yang di sampingnya berbisik "Nyonya tidak perlu cemas. Tuan Lingga sangat mencintai Nyonya."


"Cinta apanya? Kalau cinta tidak akan mengatur, aku harus begini, harus begitu. Bukannya cinta itu menerima apa adanya. Hufft." Batin Vava, yang tidak senang akan semua aturan suaminya.


Lingga menoleh ke arah Vava, yang masih ada dibelakangnya. Vava mulai memasang senyuman manis, dan Lingga cukup menyukai hal itu.


"Nat, Ruk. Kalian pergilah. Aku mau berduaan dengan istriku."


"Baik Tuan." Ucap Ruk.


Nat berkata "Iya Tuan. Kalau begitu kita pergi dulu."


Vava menoleh ke Nat, tampak menggeleng kepalanya. Berharap Nat dan Ruk tidak pergi. Tapi Nat pergi dengan tersenyum manis, dia menenteng dua kantong yang berisi sepatu Vava. Ruk juga tersenyum melihat ekspresi Vava.


"Apa kamu tidak senang?" Tanya Lingga.


Vava yang tampak setengah hati "Mas Lingga, aku senang."


Lingga mulai memegang tangan kiri Vava. Berjalan bergandengan. Hanya berduaan, dan menikmati kebersamaan di Mall mewah itu.

__ADS_1


"Aku harus membiasakan diriku, agar aku bisa mencintaimu sepenuh hati. Seperti kata Eyang, witing tresno jalaran soko kulino."


Lingga mulai tersenyum manis, dan Vava menjadi canggung atas sikap suaminya.



...Di kantor RM Property...


Sudah jam 1 lebih. Pras duduk menatap layar ponselnya. Tidak henti memandangi hasil usg istrinya. Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, Pras dan Britney ke rumah sakit dulu, untuk memeriksakan kandungan Britney.


"Sayangnya Papa. Kamu masih unyu. Papa tidak sabar, apa kamu jagoan?"


"Belum terlihat baru dua bulan, kapan bisa melihat kamu cowok apa cewek?"


Britney tadi yang diperiksa, tapi yang aktif bertanya adalah suaminya. Padahal dulu, Pras tidak banyak bertanya tentang ini itu kepada dokter, sewaktu kehamilan pertama Britney.


Tapi kali ini sangat aneh, Pras seperti orang yang sedang ngidam. Bahkan dia yang mengeluh tentang dirinya yang berubah mood, dan sering mengantuk di pagi hari.


"Apa iya aku yang ngidam? Istriku yang hamil tapi aku yang pengen ini itu."


Rendy masuk ke dalam ruangan Pras, dan dengan cepat Pras memasukan foto kecil itu kedalam note yang ada di hadapannya. Keluarga Britney tidak ada yang tahu. Karena Britney baru test saja belum ke dokter, jadi sewaktu berkumpul dengan kaluarga besarnya kemarin. Pras dan Britney diam, bahkan Alishba juga belum tahu kalau dia mau punya adik.


"Pak Pras, sepertinya sedang bahagia? Apa malam itu sudah berhasil." Ujar Rendy yang tampak menggoda, saat dia meminta tanda tangan Pras, untuk persetujuaan tentang anggaran proyek baru.


Rendy adalah pimpinan keuangan dan dia sangat teliti. Bahkan pemasukan, pengeluaran, serta anggaran dan juga dana perusahaan tentang proyek baru.


"Ems, sangat berhasil." Jawab Pras dengan wajah yang tampak tersenyum, tapi senyumannya ada yang aneh.


Rendy tahu, apa yang di rencanakan Pras waktu di Pondok Indah malam minggu itu.


"Semoga sukses, ada anak tampan. Punya anak cowok kamu pasti bisa main PS bareng." Ujar Rendy.


"Oow.. Tidak bisa. Anakku nanti mainnya sudah beda. Aku tidak mau anakku terlalu banyak main game. Aku mau dia jadi petualang. Biar dia tahu dunia luar, tidak seperti aku. Yang cuma tahu kota Jakarta saja."


"Gayamu Pras, ndek ben neng Singapore, terus neng Jerman gone Om Angga. Kapan kae malah neng Bali. La aku, gur retine Semarang." Balas Rendy yang ingin sekali menimpuk Pras, dengan map yang dia pegang.


(Gayamu Pras, dulu ke Singapore, terus ke Jerman tempatnya Om Angga. Kapan itu malah ke Bali. La aku, cuma tahunya Semarang.)


Padahal Rendy juga sering jalan-jalan, tapi itu dulu sewaktu suka memotret. Sekarang hanya fokus di kantor saja. Apalagi semenjak menikah dan punya anak. Almeera tidak menginjinkan suaminya pergi, apalagi memotret klien wanita. Itu sangat dilarang istrinya, dan akhirnya Rendy masuk ke RM atas tawaran Abah Ferdi.


"Kuranglah, aku pengen keliling Indonesia. Tapi aku gur pegawai swasta, aku kudu nabung sing akeh. Karo siji, nunggu anakku ben gede disik. Dadi sak keluarga, iso dolan bareng-bareng."


(Kuranglah, aku ingin keliling Indonesia. Tapi aku cuma pegawai swasta, aku harus nabung yang banyak. Sama satu, menunggu anakku biar besar dulu. Jadi satu keluarga, bisa jalan bareng-bareng).


Ketengilan Papa muda itu memang mengundang kejengkelan, tapi Rendy juga sayang dengan sang sahabat, yang menurutnya konco mesra.


"Yowes, mengko nek uwis tanda-tanda positif ojo lali omong aku. Ben aku siap-siap cepak kado."


(Ya sudah, nanti kalau udah tanda-tanda positif jangan lupa bilang aku. Biar aku siap-siap sedia kado).


"Owh.. kudu. Kadone kudu sing mewah, saiki kan kowe dadi pimpinan keuangan, dadi kudu ngado sing larang, nek perlu kado lapangan bola khusus go anakku."


(Owh.. Harus. Kadonya harus yang mewag, sekarang kan kamu pimpinan keuangan, jadi harus kado yang mahal, kalau perlu kado lapangan bola khusus untum anakku.)


"Nek kui kowe, ora kanggo anakmu."


(Kalau itu kamu, bukan buat anakmu.)


Rendy lalu pergi dan Pras yang tengil, lalu kembali ke foto usg tadi. "Sayangnya Papa, itu tadi Om Rendy gangguin kita aja ya. Nanti Papa beliin bola buat kamu."


Entah anaknya laki-laki atau perempuan, tapi Pras sepertinya sudah menganggap anaknya itu nanti laki-laki.


"Kopinya sudah dingin, tapi Papa suka. Sayang, nanti kalau kamu sudah besar, harus bisa bikin kopi buat Papa."


Pras sudah mulai membayangkan tentang anak yang ada dalam kandungan istrinya. Pras sudah tidak sabar, ingin segera bermain dengan anak keduanya itu.


Tok Tok Tok


"Iya... Masuk!"


Pras kembali memasukan foto usg itu, dengan cepat.


"Selamat siang Pak Prasetya."


bersambung......



Hanya secuil cerita hari ini, semoga kalian suka. Jangan lupa angkat jempolnya. Biar Mas Pras selalu hadir, untuk menemani hari-hari kalian. 🤗


Witing Tresno Jalaran Soko Kulino💕


(Muncul Cinta Karena Dari Terbiasa.)

__ADS_1


Akan tumbuh perasaan, dan bersemi bila sudah terbiasa. Kasih akan muncul dengan perlahan untuknya. Bukan hanya karena terpaksa, atau karena tanggung jawabnya. Melainkan akan ada cinta, yang perlahan muncul dengan sendirinya. 💕


__ADS_2