
...☘Kebahagiaan hati karena cinta,...
...suara tangisnya memanggil sang Papa☘...
Papa muda yang tengil dengan segala pesona yang ada. Telah menggendong bayi Arabnya.
"Sayangnya Papa." Suara Papa muda terdengar seolah menimang bayinya yang menggemaskan.
Abyaz Ali Wardana, bayi cantik penuh pesona, berkulit bersih dan sangat mirip dengan Mamanya. Tapi bayi mungil itu selalu tersenyum, padahal usianya baru genap 2 bulan.
Sepertinya ketengilan Papanya, akan menurun pada bayi mungil itu.
Setiap mendengar suara Papanya langsung anteng dan tersenyum.
Abyaz yang artinya taat,
Ali adalah seorang pemimpin,
Wardana, menjaga kesucian diri,
Ternyata bukan bayi tampan yang lahir, melainkan anak perempuan yang cantik dan sangat mirip dengan Britney.
"Abyaz, mimik cucu dulu ya. Bobok sama Mama. Papa mau mandi dulu sayang." Suara Pras yang terdengar gemas.
Karena Abyaz juga selalu ingin di gendong Papanya.
Ketika rewel malam, pasti sang Papalah juaranya, yang sanggup menenangkan Abyaz.
Siang bekerja, malam menjaga bayinya, tapi itu masa-masa awal kelahiran Abyaz, sekarang sudah mulai menyesuaikan waktu pagi, siang dan malam, perlahan anteng.
Mungkin awal kelahiran, Abyaz ingin mengerjai sang Papa.
Soalnya Papanya kekeh, namanya harus Abyaz. Padahal Abyaz Ali Wardana, untuk anak laki-laki, karena dari awal Pras selalu yakin anaknya akan tampan, tidak tahunya yang lahir adalah anak perempuan.
Waktu itu Britney ingin bertanya sama dokternya, tapi Pras selalu melarang, katanya biar surprise.
Terus, Pras ngidamnya aneh-aneh, Britney bilang mungkin itu hanya kemauan Papanya saja, bukan bayinya.
Putrinya lahir di tanggal cantik, dengan golongan darah yang sama seperti Papanya. Bahkan kalau dalam kalender jawa, wetonnya sama seperti Papanya.
Bayi itu selalu senyum ketika tertidur, apalagi setiap mendengar suara. Abyaz, selalu memainkan bibir unyunya.
Mungkin Abyaz haus dan ingin asi Mamanya. Tapi Pras malah selalu menggodanya, katanya sangat imut ketika bayi mungil itu bermain busa, dan lidahnya berputar-putar di sekitar bibir imutnya.
Bayi yang berwajah Arab, bahkan saat pertama menggendong bayinya, Pras tidak henti memandangi bayi Arabnya.
"Abyaz, Papa sudah selesai mandi."
"Mas, biarkan dulu."
Britney yang mengelus bayinya, saat putri Arabnya itu tidur di box bayi.
"Tapi aku ingin menggendongnya."
"Mas, apa kamu tidak melihat putrimu yang besar. Alishba dari tadi sudah menunggumu."
Alishba yang duduk di tengah tempat tidur, hanya diam memandangi Papanya. Apalagi tadi, Papanya hanya sibuk menggendong Adiknya.
"Emm, cantiknya Papa yang ini juga sudah mandi, sudah wangi." Pras menatap putrinya dengan gemas.
"Sayang, kita mau kemana?" Tanya Pras sambil mengelus rambut Alishba.
"Alishba, mau es krim!"
Pras tersenyum dan berkata "Di kulkas sudah ada es krim. Papa sudah beli banyak buat Alishba."
"Tapi Alishba mau es krim, es krimnya yang beda."
"Sayang_"
Belum selesai Pras berkata lagi, Britney mencubit lengan suaminya, dan berkata "Mas, kamu terlalu sibuk mengurus Adiknya, jangan buat Alishba merasa kurang kasih sayangmu."
Pras mulai mengerti, ada rasa yang tidak dimengerti orang dewasa, apalagi saat memiliki adik dan menurutnya akan hilang rasa sayang terhadap dirinya. Bukan hal gampang, dan akan diterima. Alishba di usia hampir 7 tahun, tapi dia tidak kurang kasih sayang. Akan tetapi, semua ini sangat membuat dia bingung.
"Maafin Papa." Ucap Pras, dan langsung mengendong putri pertamanya.
Alishba hanya butuh penyesuaian saja. Biasanya hanya tinggal bertiga, ada Alishba, Mama dan Papa.
Sekarang ada adiknya yang baru lahir, dan itu membuat dia ingin mendapat perhatian lebih, hal itu sangat wajar.
"Kak Alishba, kangen sama Papa?"
Alishba hanya menggangguk.
Britney mendekati mereka dan berkata "Sayang, cium Mama dulu."
Alishba yang berada dalam gendongan Pras, lalu mencium kedua pipi sang Mama.
__ADS_1
"Sayang, nanti Mama mau dibeliin apa?"
Alishba dengan jarinya mengarah ke dagunya, seolah memikiran apa yang akan dia belikan untuk Mamanya. Bahkan ekspresinya sangat lucu.
"Emm, Mama mau coklat?"
"Em, iya boleh itu. Mama sangat suka coklat. Kakak Alishba hebat." Ucap Britney, yang ingin membuat suasana hati putrinya bahagia.
"Oke, kita beli es krim sama coklat buat Mama." Ucap Pras dengan suara gemas.
"Terus, Adik Abyaz mau dibelikan apa?"
"Adik Abyaz dibelikan popok." Ucap Pras, lalu menciumi Alishba.
Pras menggendong putri pertamanya itu dengan rasa sayang dan cintanya, lalu mengajaknya ke depan rumah.
Alishba yang sudah memakai helm bergambar hellokitty terlihat sangat imut, lalu dia berdiri di atas dak motor matic dan melihat ke arah sang Mama.
"Mama, Alishba pergi dulu."
"Iya sayang."
"Daa Daa.. Mama."
Britney tersenyum dan melambaikan tangan kanannya. Melihat putrinya sekarang sudah besar, bahkan sudah menjadi Kakak.
Diantara apa yang ada saat ini, Pras selalu bersyukur. Saat dia melihat dan merasakan kebahagiaan keluarga kecilnya. Serta memiliki anak-anak yang sehat dan pintar.
Alishba yang sangat menggemaskan, dan sekarang ada bayi Arabnya yang sangat mirip Mamanya.
"Papa, itu pampers buat Adik Abyaz." Ucap Alishba saat menunjuk diapers rekat, ukuran new born.
"Wah, Kakak Alishba hebat." Ucap Pras dengan tersenyum lalu mengambilnya.
Padahal Pras kemarin menyempatkan, untuk membeli semua kebutuhan bayinya, Alishba dan istrinya.
Apalagi Britney masih cuti, dia hanya di rumah, merawat Alishba dan Abyaz. Kecuali nanti, kalau sudah harus masuk kerja. Pasti akan membutuhkan baby sister.
Alishba masih berjalan dan berkeliling di tempat rak-rak coklat, snack, dan aneka jenis teh, kopi, susu, lalu Pras bertanya "Kak Alishba, emang mau beli apa lagi?"
"Mau beli kopi buat Papa."
Pras tersenyum saat melihat anaknya mengambil kopi hitam kesukaan Papanya, dan tidak lupa Alishba juga mengambil creamer.
"Papa, pasti suka kan?!"
Papa dan anak yang berbelanja di pusat perbelanjaan, yang tidak jauh dari rumahnya.
"Sudah Papa."
"Ayo kita ke kasir, Kak Alishba yang bayar belanjaannya."
"Papa belum kasih uang. Mana uangnya?"
"Nanti Papa kasih, kalau sudah di kasir."
Pras membiasakan memanggil Alishba dengan Kakak. Biasanya, Alishba yang memanggil saudaranya dengan panggilan Kakak, Mas, atau Mbak, tapi sekarang dia yang dipanggil Kakak. Walaupun dari para saudaranya, Alishba yang paling besar, tapi ada juga yang memanggilnya Dek Alishba. Seperti Mas Rangga dan Mbak Ajeng, sebagai Kakak sepupu Alishba.
Kalau Giel, biasanya hanya panggil nama. Tidak menyebut kata Dek. Terus, kalau si kembar Nakula dan Sadewa panggilnya Kak Alishba, karena Alishba sendiri juga yang meminta begitu, padahal Pandu kadang menggoda, dengan memanggil Mbak Alishba, tapi dia tidak terima.
Sifat Alishba memang cenderung seperti Maeva. Entah, kenapa bisa begitu. Tapi semua orang berkata begitu, kadang perhatian, kadang juga ingin diperhatikan lebih dari semua keluarganya. Bahkan saat berbut Oma Sarah, Giel akhirnya mengalah.
Papa dan anak yang berjalan ke kasir, mereka sambil mengobrol. Pras yang mendorong troli dan Alishba masih ada yang terlupa.
"Papa, es krimnya lupa."
Alishba langsung ke tempat es krim, yang tidak jauh dari kasir.
Pras merasa gemas dengan pola tingkah anaknya.
"Alihsba, kamu sekarang sudah besar."
Pras sangat menyayangi Alishba, tapi semenjak anak keduanya lahir. Pras lebih ke bayinya.
Saat awal, anak keduanya lahir setiap malam begadang. Alishba bahkan sempat dititipin ke Oma Sarah dan begantian Nenek Vanesa.
Kelahiran anak kedua Britney lahiran normal, tidak masalah. Hanya saja, satu minggu kaki Britney bengkak. Susah untuk beraktivitas. Bahkan Bu'e datang menemani Britney. Waktu itu Pras juga ada deadline pekerjaan. Akhirnya, Alishba yang sekolah dianter Mammi Maeva, dan tinggal di rumah Oma Sarah.
"Papa, kapan Adik Abyaz bisa pakai gaun?"
"Pakai gaun?"
Alishba tersenyum nyengir, melihat gambar yang dia dilewati saat keluar dari super market.
"Bulan depan bisa pakai gaun." Ucap Pras.
Alishba taunya Adiknya masih lembut, dan selalu pakai baju kotak. Alishba bilangnya begitu.
__ADS_1
"Nanti beli dua Papa, satu Alishba satunya Adik Abyaz."
Pras berkata "Iya, nanti beli dua. Yang warna pink."
"Jangan, nanti kalau Adik Abyaz nggak suka warnanya gimana?"
Pras bingung harus berkata apa, lalu menggendong Alishba dengan satu tangannya, dan berkata "Nanti kita tanya Mama dulu, Adik Abyaz sukanya apa. Papa juga nggak tahu."
"Oke. Ayo Papa, kita pulang. Kita tanya Mama."
Alishba mencium pipi kanan Papanya. Pras tersenyum manis.
"Delok engkas wis prawan nduk."
(Sebentar lagi sudah gadis nak.)
Pras merasakan anaknya sudah besar. Waktu begitu terasa cepat. Pras jadi mengingat bayinya Alishba. Pras masih kikuk waktu menggendongnya. Terus, kalau Alishba rewel, Pras jadi bingung sendiri.
"Let's go Papa."
Papa muda yang satu ini memang tidak duanya. Sudah tengil, pesonanya itu bikin orang ingin menatapnya terus.
Tidak salah, bila di tempat umum, terkadang jadi pusat perhatian.
"Mama...." Teriak Alishba sambil berlari mencari Mamanya.
"Iya sayang."
Britney yang duduk menonton acara televisi di pagi itu. Sambil memangku Abyaz.
"Abyaz kamu mau pakai gaun nggak?"
Alishba yang menatap Adiknya, dan bayi mungil itu seolah juga mencari-cari asal suara yang memanggilnya.
Britney yang tersenyum dan berkata "Iya Kak Alishba, nanti pakai gaun kembaran sama Kak Alishba."
"Mama, terus warnanya apa?"
"Ems, warna apa ya. Adik Abyaz belum tahu warna-warna. Nanti Kakak Alishba aja yang pilih warnanya."
Pras yang baru masuk rumah, lalu berkata "Kak Alishba, ayo cuci tangan, terus makan es krimnya. Nanti keburu leleh."
Alishba mengikuti Papanya ke dapur. Pras sangat gemas, Alishba terkadang hanya meminta saja dan tidak dimakan.
"Emms, Kakak makan es krim."
"Mama mau?"
"Mama mau coklat aja."
Pras mendekat, dan berkata "Ini kasih ke Mama."
"Mama, ini tadi Alishba yang pilihin."
Pras bergantian mengajak Abyaz dan Britney mulai membuka coklatnya.
Setelah menginggit coklat almond itu, Britney berkata "Emm, coklatnya enak banget. Kakak pinter ya pilihin buat Mama. Wah, nanti kalau Adik udah suka makan coklat. Kakak beliin ya buat Adik."
"Pasti, Kakak beliin coklat yang banyak buat Adik."
Pras yang menimang Abyaz. Sangat imut, dan masih kecil. Waktu lahir berat badannya 3,2 kg dan panjangnya 48 cm.
Kemarin ada jadwal imunisasi, lalu ditimbang, berat badannya sudah naik jadi 4,6 kg. Kulitnya masih sangat lembut.
"Uuu, sayangnya Papa. Tahu kalau Papa yang gendong Abyaz, iya sayang... Uuu Papa disini, Abyaz sayang."
Hemms, ini hanya sebuah cerita yang ambyar. Entah, apa ada kata-kata yang salah atau tidak. Othor juga tidak tahu.
Masih tetap banyak typo dan kesalahan penempatan tanda baca, hadeeh.. 😌
Akan ada SEKUEL dari anaknya Mas Pras, yang di Grup dan IG, pasti udah tahu. Video siapa yang di unggah 😂.
Yeyeye... Nanti juga ada perang hati, masih kelanjutan dari Mahatma, hanya saja anak-anak mereka, yang bikin hareudang. Ya begitulah. Nanti akan rilis bab pertama. Masih melanjutkan yang ini, hanya saja biar hawa panas dingin keluar, othor up yang bab satu. 😜.
Ini hanya suka-suka othor. Tapi nanti untuk visualnya, othor nggak siapin. Hanya satu, tokoh utama saja yang ada. 🤣🤣🤣🤣🤣
Tapi kalau mau mencarikan ya, boleh-boleh. Tapi untuk keluarga Mas Pras, udah ada visual ambyarnya.
Nanti anaknya Mas Pras ada berapa kalian akan tahu. Terus, jadi tipe Papa yang gimana, pasti juga akan tahunya di Sekuel itu.
Nanti komentar ya, harus visual siapa yang cocok, tapi di novel itu nanti, bukan disini.
Bab pertama ya begitulah apa adanya. 😝🥰😘
__ADS_1