PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Makan Malam Tanpa Ayah


__ADS_3

...☘Rasa cinta yang ada menjelma,...


...merasuk ke dalam rumah tangga☘...


Bab ini akan ada sebuah drama. Harap tidak mencecar othornya 😂. Ini hanya haluan othornya saja, dan kelanjutan dari bab sebelumnya.


Dalam keadaan sudah sadar, Limar yang bergaun putih menuruni tangga utama di rumahnya, terlihat sangat cantik dan begitu anggun. Suasana sudah berubah manis, tatapan mata Limar sangat penuh pesona.


"Mbak Limar, aku kirain nggak akan bangun." Ujar Langit, yang duduk di sebuah sofa abu tua di ruang santai.


Langit dengan senyuman penuh pesona. Limar tampak sudah berubah, tidak seperti tadi sore yang kacau akan perasaannya.


"Lingga kamu juga sudah datang."


"Iya Mbak, Langit tadi telfon. Mas buruan datang, ditungguin, eh...nggak tahunya masih nungguin Mbak Limar yang masih tidur."


Vava tampak tersenyum saja di sebelah sang suami. Ada Eyang Dewi dan juga sang Bunda.


"Kalian semua nungguin aku?!"


Limar berjalan mendekati sang Bunda dan Eyang tersenyum sinis, berkata "Bukan kamu, tapi Ayahmu. Sampai sekarang belum datang juga."


"Bayinya mungkin lagi rewel. Eyang pasti lebih tahu, kalau bayinya Siska rewel, apa Ayah akan kemari?!"


Limar dengan senyuman pahit dan Langit menatapnya.


"Bukannya dia tadinya tinggal disini?" Tanya Langit dengan raut penasaran.


"Iya, beberapa bulan lalu. Tapi sebelum Natal, aku menyuruhnya pergi. Biar Lingga mau datang ke rumah."


Lingga tampak menghela nafasnya, dan Vava mulai memegang tangan suaminya.


"Mbak Limar. Kita makan saja dulu, istriku juga hamil. Aku tidak bisa menunggu lagi."


"Mas Lingga, tapi Ayah." Sahut Langit.


"Sayang, kita makan duluan saja. Kasian Vava dari tadi sudah lelah." Ucap Bunda dengan tersenyum manis.


Vava dengan santai, berkata "Bunda, Vava nggak apa-apa, kalau Langit masih mau menunggu Ayah datang."


Eyang Dewi menatap Vava dan berkata "Tidak perlu menunggu dia lagi. Ayo kita ke ruang makan."


Walaupun Yuda Mahatma adalah anak Eyang Dewi, tapi setelah anaknya menikahi Siska, dia juga tidak suka terhadap sikap anaknya.

__ADS_1


Meskipun tidak ada hal yang berubah dari sikap Yuda terhadap dirinya, tapi Eyang Dewi juga seorang wanita yang memiliki perasaan.


"Ayo Hesti, ajak anak-anak ke ruang makan."


Hanya Langit yang masih menoleh ke arah pintu utama rumah itu. Sangat disesalkan, tadinya pulang ingin merayakan Natal dengan keluarganya.


Langit buru-buru pulang, walaupun sudah terlewat hari Natalnya, tapi Langit tetap ingin bersama Ayah, Bunda, Eyang dan para saudaranya, untuk merayakan tahun baru.


Langit ingin sebuah kebersamaan yang damai, seperti dulu sebelum dirinya berkuliah di luar negeri.


"Apa Ayah lebih sayang bayi itu, dibanding aku?!"


Langit Mahatma, walaupun dia sudah menjadi pria bujang. Tetap saja dia anak paling kecil, diantara para saudaranya. Langit yang paling disayang dan sangat termanjakan. Sore baru tiba, tapi suasana rumahnya sudah berbeda, dan tidak seperti dulu lagi.


"Sayang, Mbak Limar punya hadiah buat kamu. Tapi nanti, setelah kita makan malam. Mbak Limar sudah siapkan hadiah yang special buat kamu."


Limar yang merangkul adiknya dan Langit masih bengong, lalu Limar berkata lagi "Langit, kamu dengar Mbak Limar tidak sih?!"


"Hems, apa Mbak?!"


Limar mengayak rambut Langit dengan tangan kanannya dan berkata "Dasar Langit, anak ragil."


"Awas, tanganmu bisa kotor Mbak!"


"Ada deh, salah sendiri Mbak Limar mainin rambut aku. Week!"


Suasana di ruang makan itu terlihat harmonis, Hesti menebar senyuman manis untuk semua anaknya, tapi tidak ada yang tahu isi hati dan perasaan terdalamnya.


Seorang Bunda yang hanya ingin menunjukan kehagiaannya, terhadap anak dan menantunya.


"Langit, pimpin do'anya sayang."


Langit menatap sang Bunda dengan senyuman manisnya, dan mulai memimpin do'a untuk keberkahan makan malam bersama keluarganya.


Langit tampak menunduk dan memejamkan matanya, sebuah do'a atas nikmat yang ada, serta harapan di esok hari. Harapan untuk keluarga ini, agar senantiasa mendapatkan kebagiaan, dan berkah yang melimpah dari Tuhan Yang Maha Esa.


Hesti tampak memperhatikan Eyang Dewi, dan Lingga juga terlihat sedang memperhatikan sang istri yang sedang hamil muda itu.


"Mas, aku bisa ambil sendiri."


Limar yang melihat hal itu tampak tersenyum, lalu berkata "Suami istri ini memang beda."


Langit menoleh ke kiri dan menatap sang Kakak, lalu bertanya "Memangnya ada yang salah dengan mereka berdua?"

__ADS_1


"Tidak, bukan begitu maksud Mbak Limar. Kamu nanti akan mengerti bila sudah menikah."


Langit tersenyum dan bertanya "Apa Mbak Limar sudah menikah? Sudah tahu rasanya seperti apa?!"


Limar yang gemas menarik kuping sang Adik, dan Langit tampak kesakitan.


"Eyang, Mbak Limar galak." Ucap Langit dengan mengadu dan mengelus telinganya yang tampak memerah.


Eyang Dewi yang ada di depan Langit melihat hal tadi, lalu berkata "Kamu jangan ganggu Mbakmu, dia lagi patah hati."


Limar melotot dan menatap sang Eyang dengan rasa kaget, "Hemss, Eyang tahu dari mana, kalau Limar patah hati? Eyang pasti bermimpi lagi."


Limar dengan tersenyum mulai mengambil makanan, dan Langit menatap sang Eyang, sepertinya ada hal lain.


Langit yang penasaran bertanya "Eyang tahu pacarnya Mbak Limar?"


Lingga yang mulai sudah selesai mengambil makanan untuk istrinya dan dia berkata "Bukan pacar, tapi Mbak Limar baru jatuh cinta."


Senyuman Lingga dengan manis tapi seolah meledek sang Kakak dan Limar mengepalkan tangannya ke arah Lingga. Tampaknya Lingga tahu hal itu, bahkan sang Bunda juga cukup tersenyum saat mengambilkan makan untuk Langit, dan Eyang juga tersenyum manis.


"Mas Lingga? Siapa pacarnya Mbak Limar?" Tanya Langit yang begitu penasaran.


"Bukan pacar, dia hanya orang biasa di kantor Mahatma."


Limar cukup membuang muka ke Lingga dan memeggang tangan Adiknya, lalu berkata "Langit, kamu tidak usah mendengar Masmu, biarkan saja dia mengoceh. Padahal dia sendiri, nggak tahu apa itu jatuh cinta."


"Hems, siapa bilang aku nggak tahu apa itu jatuh cinta."


Limar dengan sinis, tapi senyumannya sangat terlihat manis, lalu ia bertanya "Vava, apa suami kamu sudah mengatakan cinta sama kamu?"


Vava yang sudah mulai makan, lalu meletakan sendok dan garpunya, menyeka mulutnya dengan serbet makan yang ada di depannya. Perlahan Vava menatap suaminya yang ada di sebelah kanannya, Vava berkata "Ems, sudah Mbak. Waktu kita menikah, Mas Lingga sudah mengatakan cinta."


Lingga tampak menoleh ke arah istrinya dan memeggang tangan Vava, lalu mengangkatnya ke atas meja makan. Tampak saling menggenggam dan terlihat sepasang cicin yang melingkari jari manis mereka berdua. Lingga lalu berkata "Aku sudah membuktikannya dengan menikahi Vava. Apa menurut Mbak Limar, ini bukan cinta?"


Limar mengangguk dan berkata "Hems, iya bisa juga seperti itu. Tapi aku, aku tidak ada hal jatuh cinta seperti itu."


Langit masih penasaran, dan bertanya "Mas Lingga tahu siapa orangnya? Kerja di Mahatma?"


Lingga dengan senyuman manis, lalu mengedipkan sebelah matanya.


Hesti melihat hal itu, dan berkata "Sudah, kalian makan dulu. Langit, makan dulu sayang. Masmu cuma bercanda. Mbak Limar belum punya pacar."


Sebagai Bunda yang bijaksana, tidak ingin melihat sang putri merasa terpojokan. Hesti sangat tahu apa yang telah terjadi, tapi Limar memang tidak bersalah, cinta bisa datang dan pergi tanpa permisi, bahkan tidak ada aturan dalam hal perasaan yang terjadi saat ini.

__ADS_1


__ADS_2