PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Obrolan Malam Di Sebuah Kamar


__ADS_3

...☘Rasa apa yang telah dia berikan,...


...sampai buta tak tahu arah dan tujuan☘...


Masih kelanjutan dari bab sebelumnya.


Depok, waktu menunjukan pukul 21.47 WIB.


Suasana malam yang sunyi, dan hawa dingin menyusup kalbu. Perasaan akan hal yang tidak dimengerti.


Pras yang saat ini mulai berbaring di sebelah sang istri, dan dia masih memikirkan tentang temannya.


"Mmmh, Mas..." Panggil Britney, yang menarik tangan suaminya.


"Kamu bangun?"


Pras lalu menyamping mengahadap ke arah sang istri. Dengan manja Britney menggenggam tangannya Pras.


Britney seharian lelah, karena acara outing class Alishba, sesampainya di rumah. Dirinya merasa ngantuk berat, jam 8 malam sudah tidur nyenyak.


Pras mengelus rambut Britney dan berkata "Bobok, aku elus-elus."


"Alishba mana Mas?"


"Sudah bobok di kamarnya. Tadi main puzzel disini, kamu tidur Alishba juga ketiduran, baru aku pindah ke kamarnya."


"Emmh, Mas aku kangen sama kamu."


"Aku juga kangen sama istriku."


Pras lebih mendekat dan memeluknya. Tadi pagi Pras tiba di Bandara, terus dia langsung ke Pondok Indah, lalu Pras mengantar Britney dan Alishba ke Sekolah Alishba.


Karena jam 8 pagi, para murid TK itu dan wali murid sudah harus berkumpul untuk kegiatan di luar sekolah. Tadi jam 5 sore Britney dan Alishba baru pulang. Sampai di rumah sekitar jam 7 malam.


"Kamu pasti capek."


"Iya Mas. Tapi tadi acaranya juga seru. Anak kita sangat ceria." Ucap Britney yang masih memejamkan matanya.


Rasanya masih begitu mengantuk. Tapi dia rindu sama suaminya. Sudah lama tidak mengobrol, biasanya di malam hari, melepas rasa lelah dalam diri mereka, pasti ada obrolan malam, dan selalu berbagi cerita mereka.


Beberapa hari Pras ada di Semarang. Obrolanya hanya lewat telfon saja, dan rasanya tidak puas kalau cuma lewat telfon.


"Mas kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Britney, mata Britney tampak masih terpejam.


"Sayang" Pras yang dengan santai dan dia ingin menceritakan tentang hari ini.


"Apa kamu tentang Vava?"


"Emms, kenapa dengan Vava?

__ADS_1


"Vava sudah membaik. Kemarin itu aku juga sibuk, ada masalah di proyek. Aku sama Bang Evan kesana. Jadi Vava sama Tante dan Kak Ghea aja. Terus Mamah Sarah datang ke rumah."


"Kamu nggak cerita!" Ujar Pras.


Pras yang memeluknya, menatap wajah istrinya dan mencium keningnya.


"Iya, sabtu harusnya aku libur. Nggak tahunya ada masalah. Aku capek mas. Makanya waktu kamu telfon, aku sibuk banget itu."


"Soal masalah Vava apa Mas? Kemarin dia udah pulih. Aku juga kaget Mas, pagi itu nggak ada apa-apa. Lingga datang sama pengawalnya dan Vava masih berbaring, diantar ambulan. Kita semua syok. Lingga bilang, Vava keguguran."


"Pagi itu, aku sama Kak Ghea lagi ngurus anak-anak buat ke Sekolah. Bang Evan ke depan rumah dan Tante Vanesa juga masih ada di kamarnya. Tapi, sekarang Vava udah sehat."


Pras memeluk istrinya dan berkata "Sayang, ada satu hal tentang Vava. Tapi kamu jangan kepikiran."


Britney perlahan membuka matanya, dan bertanya "Memangnya, ada apa Mas?"


"Masalah tentang Vava, itu kerena ada orang yang nggak suka sama Vava."


"Maksud kamu Mas??"


Pras mengambilkan minum untuk sang istri. Britney mulai berdebar. Suaminya kenapa bisa mengatakan hal itu, apa masalah yang menimpa adiknya.


Britney yang duduk bersandar di tempat tidur, lalu meminum air putih dalam gelas bening, dari tangan suaminya.


Pras menatapnya dengan teduh, merapikan rambut istrinya sebelah kanan yang selalu menghalanginya, dan perlahan mencium keningnya.


"Mas, ada apa? Siapa yang nggak suka sama Vava?"


"Mamanya Nicholas? Mas yakin?"


"Aku juga nggak kenal sama dia. Lingga sendiri yang memastikan itu. Bahkan Nicholas udah lama tahu, dia masih diam saja. Tapi kejadian kemarin itu, Nicholas jadi takut. Sepertinya Mamanya nekat."


"Tapi Mamanya Nicholas, orangnya anggun. Bahkan sangat sopan. Aku sekali bertemu dia di sekolah Vava. Waktu itu penerimaan raport."


"Aku juga kenal siapa saja teman dekat Vava dan walinya. Bahkan waktu itu, aku sempat ngobrol sama Mamanya Nicholas. Dia juga biasa aja Mas, nggak mungkin aja rasanya, kalau kejam."


Pras yang duduk di sebelah istrinya, dan memegang tangan Britney, menciumi tangan itu. Britney yang gelisah, tapi dia ingat sekali. Kalau Mamanya Nicholas juga sosok ramah dan baik, bahkan kenal juga sama Vava.


"Sayang, orang yang sudah tertutup mata hatinya, bisa berubah begitu saja. Dia hanya menuruti pikiran dan nafsu, untuk bebuat keji. Kita bahkan tidak tahu, orang tampak dari luar sangat terlihat baik, tapi isi hati dan pikiran orang itu, tidak ada yang akan tahu."


"Dia, punya rasa dendam dalam dirinya, dia bisa nekat dan bisa berbuat apa saja, untuk memuaskan luka dalam batinnya."


Britney menatap suaminya dan bertanya "Lingga tahu semuanya??"


"Iya, tahu. Aku cerita semua yang Nicholas ceritakan. Bahkan ada rekaman suara Nicholas yang cerita, dan VN orang itu, saat menyuruh seseorang untuk melukai Vava."


Britney dengan rasa khawatir, lalu berkata " Semoga Lingga bisa mengurus masalah ini."


"Aku juga berharap begitu."

__ADS_1


Britney menatap suaminya dan berkata "Pagi itu aku ingin bertanya tentang keguguran Vava. Kenapa sampai banyak pengawal, bahkan kamu lihat sendiri kan Mas. Saat kamu datang, para pengawal itu gimana sama kamu. Aku juga ingin tahu dari Lingga, cuma Tante sama Bang Evan ngelarang aku. Mereka bilang, biarkan saja, Lingga suami Vava dan Bang Evan bilang kalau Mahatma Corporation memang siaga begitu."


"Lalu aku ingat juga, suamiku pernah bilang. Vava sudah bersuami, jadi aku nggak boleh lagi ikut campur masalah Vava. Akhirnya aku diam saja. Terus kerjaan juga trouble. Ya udah, aku ke proyek dan Minggunya aku ke kantor sama Bang Evan. Jadi nggak tahu apapun tentang Vava."


"Istriku sudah pintar." Ucap Pras dan memandangi istrinya dan menyentuh rambut istrinya.


Britney semakin penasaran akan Serly.


"Aku jadi tahu, Lingga memang sudah waspada soal keluarganya. Makanya aku susah kalau telfon Vava. Selalu yang angkat Nat, baru di kasih ke Vava."


"Makanya sore itu aku kepikiran Mas. Aku selesai telfon kamu, aku kirim pesan sama Vava tanya keadaannya. Eh, langsung dijawab, aku seneng aja waktu itu. Dia bilang lagi di mall, terus mau ke puncak. Bahkan waktu maghrib, dia juga telfon aku. Aku baru selesai nyimak bacaan Alishba, Vava telfon. Dia bilang, rasanya mau manja susah. Suaminya sibuk terus. Katanya berasa dicuekin. Aku seneng aja, adikku sudah mulai ada rasa sama suaminya."


"Aku juga mulai lihat Lingga yang sangat perhatian."


Britney yang tersenyum, tapi rasanya ada kekhawatiran yang mendalam terhadap adiknya yang dia sayangi.


Pras memeluk istrinya dengan manis, dan Britney terkesan begitu manja. Pras berkata "Tapi kamu jangan kepikiran soal Vava. Kita hanya bisa berdo'a untuk keluarga kita."


"Iya Mas."


"Kita percayakan sama Lingga."


"Kamu benar Mas."


Britney mulai mengingat, "Mas, tadi bilang Elle, Elleanor yang sexy itu."


"Hemms, tapi kamu lebih sexy."


Britney mencubit bibir suaminya dan berkata "Sepertinya kamu tadi tebar pesona lagi Mas."


"Nggak, mana aku berani."


"Kamu selalu bilang gitu."


Pras yang masih mendekap istrinya dan berkata "Elleanor tadi pakai kemeja, terus dilapisi blazer. Nggak kayak waktu itu. Jadi aku benar, lebih sexy kamu malam ini."


"Malam ini???!!"


"Salah ngomong!"


"Bukan gitu maksud aku sayang."


Britney beranjak dari tempat tidurnya, dan meninggalkan suaminya.


"Mas, kamu tunggu aku disini. Awas kalau macem-macem."


Pras tangannya seolah mengunci mulut, tapi saat istrinya sudah pergi, dia jadi tersenyum tengil.


"Sayang, sayang, kamu mau apain aku?"

__ADS_1


Ponsel Pras berbunyi dan ada nomor tidak dikenalnya.


"Siapa?" Batinnya, dengan segera Pras menjawab telfonnya.


__ADS_2