PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Masih Bersama Senja


__ADS_3

...☘Sejenak hempaskan perasaan lama,...


...mengukir lembaran baru dengannya☘...


Masih berlanjut dari bab sebelumnya. Tolong pahami setiap kalimat yang ada. Akan ada drama dalam cerita bab ini.


Terbaring dengan keadaan yang tidak tenang, Vava yang mengalami perasaan tidak senang, kembali terbaring sakit. Tapi kali ini, Vava mendapatkan perawatan di rumah saja.


Golden Mansion, setelah tadi pingsan di ruang kantor suaminya. Nat yang tadi ada di kediaman Yuda Mahatma, mendapat telfon dari Dito. Nat dan Ruk dengan cepat membawa team medis, serta ambulance dan pergi ke kantor Mahatma.


Vava dijemput oleh Nat dan Ruk, saat team medis mengatakan tidak ada masalah yang serius atas keadaan Vava. Hanya aja Vava sepertinya cukup lemah, dan butuh istirahat.


"Nyonya" Panggil Nat, saat menemaninya di dalam kamar utama.


Vava yang baru membuka matanya, masih pusing dan menoleh ke arah Nat. Terpasang jarum infus di punggung tangannya. Vava yang masih belum mengerti, dan tampak bingung, kenapa dirinya sudah ada di rumah.


"Nat, apa yang terjadi?"


Vava dengan wajahnya yang pucat pasi, Nat hanya duduk di dekat ranjang itu, tampak tersenyum. Nat mulai mengambil minuman untuk Vava, yang ada diatas meja samping ranjang itu.


"Nyonya, minum dulu."


Nat membuat Vava terbangun dan bersandar di tempat tidur. Vava menuruti saja, Nat yang tampak biasa, dia harus profesional dalam pekerjaannya. Vava mulai memimum teh hangat dari tangan Nat. Nat dengan wajah tersenyum manis.


"Sudah cukup Nat."


Vava masih bersandar, sepertinya Vava masih sangat pusing. Terlihat dari mata dan wajahnya, senyuman Vava juga ada hal lain, yang masih saja mengganjal.


"Kenapa kamu disini? Apa yang terjadi?"


"Nyonya pingsan di ruang kerja Tuan Lingga. Saya dan dokter datang, lalu kita pulang."


Vava menunduk dan meremas selimutnya dan dia bertanya "Mas Lingga dimana?"


"Tuan sedang mandi, tadi Tuan juga sangat cemas."


Setalah tahu kondisi Vava, Lingga berendam di bath up dan Nat yang menenani Vava, tadi juga ada Bibi Rumi, tapi dia keluar untuk mengambil makanan untuk Vava.


Tidak lama Lingga sudah datang dengan wajah yang segar dan berpenampilan casual. Mendekati Vava, dan Nat mulai berdiri, lalu begegas untuk keluar dari kamar itu.


"Nyonya, saya permisi dulu."


Vava hanya mengangguk saja, dengan senyuman tipis dari wajahnya.


"Bagaimana perasaan kamu? Apa kamu masih pusing?"


Vava hanya menunduk, saat tangan Lingga mulai mengelus rambut istrinya. Lingga saat ini juga duduk di atas tempat tidur.


Lingga meraih Vava dan memeluknya, lalu dia berkata "Maafkan aku, aku selalu membuatmu sakit."


Vava tidak tahu apa yang harus dia katakan, Vava yang sangat terluka. Perasaannya lebih sakit, dari pada melepas Pras dulu, atau saat putus dengan Jonathan, perasaan Vava sudah sangat terluka.


Untuk kesekian kalinya, hati seorang Vava harus terluka. Saat ini, suaminya sendiri yang menyakiti hati dan perasaan, yang baru saja mulai tumbuh. Sangat sakit, sangat terluka. Tidak menyangka kalau sang suami yang berwajah kaku, dan terlihat polos, bisa mengatakan hal itu. Bahkan mencoba membalas dendam, dan ingin menghancurkannya.


"Vava, aku tahu. Kamu pasti kecewa sama aku. Kamu berhak marah sama aku."


Vava mendorong Lingga yang memeluknya dan menatap wajah Lingga dengan sendu, lalu dia berkata "Aku nggak bisa marah. Aku hanya pusing."


Sikap Vava berubah, tidak seperti Vava yang arogan dan keras kepala. Ternyata luka dalam hatinya, membuat seorang Vava hanya bisa mencoba menerima apa yang ada saat ini.


"Vava...." Tangan Lingga menyentuh pipinya Vava, tampak berkaca-kaca saat melihat istrinya yang tampak pucat, tidak ada rona bahagia sama sekali, walaupun Vava tampak tersenyum padanya.


Tidak lama Bibi Rumi datang, dan Lingga yang membuka pintu. Bibi Rumi dengan senyuman manis, mulai meletakan makanan di atas meja yang ada di kamar itu.


"Nyonya silahkan dimakan, mumpung masih hangat."


"Iya Bibi Rumi, terima kasih."


"Tuan Lingga, saya permisi dulu."


Lingga hanya mengangguk, dan Bibi Rumi keluar dari kamar itu. Lingga dengan pelan menutup pintu kamar itu.


Berjalan dan mengambil mangkok yang berisi sup kacang merah. Duduk di sisi kanan istrinya, dan mulai menyuapi Vava. Entah apa yang ada dalam perasaan Lingga. Yang jelas, Lingga Mahatma adalah seorang suami yang ingin memperhatikan istrinya.


"Mas, sudah."


"Baru 3 sendok. Ayo makan lagi, biar kamu segera pulih. Kasian anak kita."


Mendengar hal itu Vava jadi berdebar, dan mulai bertanya "Anak kita? Apa Mas Lingga mencintainya?"


Lingga dengan tersenyum berkata "Iya, aku sangat mencintainya."


Vava yang tidak tahu apa suaminya berkata benar, atau hanya untuk menghibur dirinya. Mungkin saja memang Lingga sangat mencintai anaknya, yang masih dalam kandungannya.


"Ayo, makan lagi. Kamu harus makan, dia pasti juga lapar."


Lingga kembali mendekatkan sendok, dan terlihat sup yang masih hangat.


"Mas, sudah. Aku tidak mau makan."


Lingga mulai meletakan mangkok sup itu, dan Vava mulai beranjak dari tempat tidurnya.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain?"


"Aku mau ke kamar mandi."


Lingga dengan cepat mengangkat tubuh langsing Vava. Tangan Vava tampak memegang infus yang masih melelat pada dirinya dan Lingga dengan gaya bridel style, dan Vava menatap wajah suaminya tampak dekat. Tangannya memegang yang satunya tampak memenggang bahu Lingga.


"Kamu istriku, aku akan menjaga kamu."


Vava masih menatap lekat sosok yang sedang menggendongnya itu. Ada rasa aneh, hati dan perasaannya sedang terluka karena suaminya. Tetapi kenapa, rasanya sangat nyaman bila ada dalam dekapannya.


"Aku akan tunggu di luar." Ucapnya, saat Vava sudah turun dari gendongannya.


"Mas Lingga."


Vava tiba-tiba memeluknya, air matanya tumpah seketika. Rasa aneh dan cukup berdebar, rasa sesak dalam dadanya sudah terluap. Air mata yang semakin deras, suara seseunggkan Vava terdengar jelas oleh Lingga.


"Vava kamu kenapa?"


Lingga yang tidak mengerti, hanya mengelus rambut istrinya. Lingga juga bingung dengan perasaanya sendiri, dan dia berfikir sangat melukai hatinya Vava. Tapi kenapa Vava memeluknya, dan menangis dalam pelukannya.


"Mas Lingga jahat, Mas Lingga sudah menyakiti hatiku!"


Suara yang nyaring dengan kesedihan yang amat sakit. Vava meluapkan apa yang ada saat ini. Tidak peduli apa Lingga menerima amarahnya atau tidak, yang jelas Vava tidak ingin membuat beban dalam pikiran dan perasaannya.


"Iya, aku sudah salah. Maafkan aku."


Lingga dengan jantungnya berdebar, dia juga tidak tahu dengan perasaan dirinya. Saat melihat Vava yang begini, hatinya juga sakit. Rasanya tidak tega, melihat sang istri menangis.


"Mas Lingga jahat, Mas Lingga kejam."


Vava juga memukul-mukul dada bidang Lingga, dan Lingga menatapnya.


"Emmss, aku salah. Kamu berhak marah, kamu berhak mukul aku. Kamu bisa tampar aku kalau kamu."


Lingga menarik tangan Vava dan telapak tangan kanan Vava sudah ada di pipi Lingga. Vava dengan wajah pucat dan penuh deraian air mata.


Vava tampak menggeleng "Mas Lingga."


Dan kembali memeluknya, entah kenapa Vava juga tidak bisa menyakiti suaminya. Rasanya hanyalah kenyamanan bisa memeluk suaminya.


Lingga dengan perasaan tak biasa, tampak sedikit senyuman manis dari bibirnya, dia mendongak ke atas dan menyepa air mata yang jatuh di pipinya. Seorang pria juga bisa menangis, dan menyesali atas apa yang dia perbuat.


Sudah jam 17.00 WIB


Di dalam sebuah mobil pajero hitam. Seseorang yang tampan memakai kacamata hitamnya, dan menatap jalanan ibukota. Tampa mendendangkan sebuah lagu barat, dengan suara cukup merdu.


"There's no love. Like your love. And no other. Could give more love. There's nowhere. Unless you're there. All the time. All the way, yeah"


Lagu dari penyanyi legendaris, Bryan Adams dengan judul: Everything I Do.


Telah menemani perjalanan Pras di sore hari ini. Sang senja belum terlihat hadir untuk menyapa dirinya, Pras masih menantikan hadirnya senja.


Pras yang tersenyum dan menoleh ke kanan jalan. Ada yang tampak menarik matanya, ada sesuatu yang membuatnya tersenyum manis. Pras mulai memutar mobilnya, untuk berjalan ke arah yang menarik perhatiannya itu.


"Bang, yang ini. Tolong belahin sekalian."


Pras dengan tersenyum saat melihat durian pilihannya sudah mulai dibelah. Pras sangat menggemari buah duren, Britney juga doyan durian, tetapi putri kesayangannya, tidak suka dengan buah durian.


"Kalau aku bawa pulang, Alishba pasti akan bawel."


Satu tahun yang lalu Papanya membeli banyak durian, dan ternyata sang putri kecilnya tidak suka dengan aroma buah itu. Semenjak itu, Pras tidak bisa membawa buah durian itu. Misalkan membeli, harus di makan di tempat yang jualan.


"Sayang, aku beli duren. Kamu lagi hamil, jadi aku makan disini saja." Ucap Pras dengan tersenyum tengil.


"Mas dimana?"


Saat Pras yang duduk bersantai diatas tikar dan menikmati durian medan.


"Aku di Tanjung Barat. Sayang, maaf aku hanya bisa menikmati ini sendirian."


"Aku tahu Mas, sudah...aku tidak apa-apa. Aku juga lagi masak, Alishba minta ayam goreng bacem."


Pras yang menelfon istrinya berkata "Jangan lupa bikin juga sambalnya. Bilang sama Alishba, Papa pulangnya masih nanti."


"Kamu nggak perlu khwatir Mas. Ya udah, aku lagi masak... Nanti jangan lama-lama, selesai makan duren, buruan pulang."


"Pasti sayang. Ya udah, aku makan duren dulu. Mmmuuaaach!"


Britney yang menutup telfonnya dan meletakan di meja makan. Lalu kembali ke dapur, dan mencium aroma ayam bacemnya, sudah sangat harum.


Britney tadi setelah menjemput Alishba pulang sekolah, lalu mampir ke toko sayur. Sekarang banyak penjual sayur dari pagi sampai malam. Tidak lupa membeli bumbu dapur, dan cukup cepat saat menghaluskan bumbu, jaman now sangat mudah bagi wanita karier seperti Britney. Berbagai alat canggih untuk memasak, sudah melengkapi dapurnya, jadi tidak akan merepotkan dirinya dikala lelah sudah melanda. Apalagi demi sang buah hati, Britney selalu mengutamakannya. Alishba juga gampang susah ketika makan, jadi apa kemauannya, Britney dan Pras menuruti saja.


"Mama, apa Papa barusan telfon?" Tanya Alishba, yang sudah cantik setelah mandi sore.


"Iya sayang, tadi Papa yang telfon." Jawab Britney.


"Apa Papa sudah dekat?" Tanya Alishba, yang penasaran.


"Emms, Papa baru berangkat pulang sayang. Kamu tahu kan, kalau Papa sibuk." Jawab Britney, yang menatap putri kecilnya.


Alishba sudah cukup mendengar kata sibuk, lalu dia pergi dan mengambil ponsel Mamanya.

__ADS_1


Alishba melihat ponsel Mamanya dan dia melihat tabletnya. Tadi Papanya sudah mengirim pesan untuk Alishba dan itu sudah tadi, sebelum dirinya mandi. Tapi kenapa sang Mama bilang, Papanya baru pulang.


[Papa ada dimana? Apa Papa bohong?]


Pesan yang cukup singkat dan Alishba sangat penasaran. Alishba hanya ingin memastikan kalau Papanya sudah pulang tadi, dan bukan berangkat pulang.


Pras yang baru menikmati durian, melihat ada pesan yang masuk. Itu dari putrinya tersayang.


"Apa ini? Apa Mamanya salah bicara? Hemms!"


[Sayang, Papa lagi menikmati senja. Sebentar lagi pulang. 😘]


Pras tidak salah membalas seperti. Tapi tetap saja tidak mengatakan, kalau dirinya sedang menikmati durian disore hari.


"Papa menikmati senja?"


Alishba mencari tahu dari google dan melihat pemandangan senja yang menarik matanya.


"Papa ke pantai? Alishba tidak diajak."


Teriakan kesal Alishba, dan memanggil sang Mama "Mama. Mama... Mama.... Come here!!"


(Mama. Mama... Mama.... Cepat kemari!!)


Suaranya yang nyaring dan sudah mulai menangis. Bibirnya yang imut dan wajah comelnya sudah mulai sendu, tampak air membasahi pipi cubby Alishba.


"Mama.... Mama..."


"Alishba, what happened to you?"


(Alishba, apa ada terjadi padamu?)


"Papa, Papa went to the beach!"


(Papa, Papa pergi ke pantai.)


Britney mendengar hal itu menjadi bingung. Alishba sudah dalam pangkuan Mamanya.


Britney menghela nafasnya, dengan pelan dan Alishba masih sesenggukkan dalam belaian Mamanya.


"Sayang,.... Papa tidak pergi ke pantai. Papa baru di perjalanan. Papa akan segera pulang."


Alishba yang masih dengan tangisnya, bibir imut itu mencoba bicara "Papa bohong, Papa bilang sudah menikmati senja. Papa sudah di pantai."


"Papa bilang menikmati senja?" Tanya Britney, yang menggendong anaknya dan berjalan menuju dapur.


Alishba yang masih menangis dan berkata "Iya Mama, Papa bilang menikmati senja."


Britney membatin "Mas Pras, kamu ada-ada saja, tadi kirim pesan sama aku, foto orang berciuman dan menikmati senja di pantai. Anak kamu masih kecil, kamu bilang begitu. Heh!! Awas aja kamu kalau susah sampai di rumah."


"Sayang, Papa itu baru makan duren. Papa bilang menikmati senja, Papa melihat senja sore. Bukan senja yang ada di pantai."


Britney mematikan kompornya, dan meninggalkan dapur. Berjalan ke depan rumah, Alishba sudah mulai tenang dan tampak menyandarkan kepala ke dada sang Mama. Walaupun dirinya hamil muda, tapi tidak ada perasaan aneh dalam dirinya. Britney masih biasa saja, bahkan fisiknya terasa lebih kuat dan segar.


"Sayang, kamu lihat kesana."


Britney memperlihatkan matahari berubah jingga, dengan cantik menjelma warna, sangat cantik. Tampak menggoda mata dibalik awan, langit sore itu memang menawan.


"Itu namanya senja sore. Papa sangat suka melihat senja sore."


Alishba yang masih enggan masih saja bersandar, tampak ingus dan air matanya. Hanya diam dan mendekap dada Mamanya.


"Senja sore yang cantik. Papa tidak ke pantai. Papa hanya melihatnya di perjalanan. Papa sebentar lagi akan pulang."


Alishba menoleh ke arah senja sore itu. Britney mengelus rambut Alishba, dan menciumnya dengan rasa sayang.


"Emmss, Papanya Alishba tidak berbohong. Papa memang pulang sore, jadi bisa menikmati senja.


Kalau Papa pulangnya malam, Papa cuma melihat senja dari ruangan kantor. Apa Alishba mau ikut Mama ke kantor Papa? Besok Alishba akan tahu, kalau Papa sibuk kerja. Papa tidak pergi ke pantai."


Alishba mulai tenang, dan Britney sangat mencintai putri kecilnya, yang sangat menggemaskan itu.



Apakah kalian masih ingat, di "PANGGIL AKU MAS! Season 1."


Bersama siapa Mas Pras menikmati senja sore hari?


Uuuppss, sang wakil direktur ✌😂


Yuuhuu,, buat kalian-kalian, yang baru membaca tulisan ini. Apakah kalian sudah membaca yang season 1??


"PANGGIL AKU MAS! Season 1" yang sangat ambyar. Bahkan tulisannya juga ambyar.


Terima kasih untuk kalian-kalian yang setia. Karena tulisan ini, masih belanjut untuk kalian semua para pembaca setia "PANGGIL AKU MAS!"



Aku padamu pembaca setiaku.


Mas Pras ✌😎

__ADS_1


__ADS_2