PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Jambu Air, Oh Jambu Air!


__ADS_3

Lanjut dari bab sebelumnya ya. Tidak ada hal yang menarik, tapi ada Mas Pras yang lagi mengidam.


"Pagi sayang." Ucap Pras, lalu mengecup kening istrinya.


"Pagi Mas." Balasnya.


Pras mulai duduk, tapi masih memandangi istrinya.


"Mas, ke kantor aja. Alishba biar aku yang antar."


Sudah jam 7 lewat, tapi Pras sepertinya sangat santai. Pras mengambil cangkir putih yang berisi kopi susu, lalu dia melihat ke arah istrinya.


Pras memikirkan sesuatu lalu dia berkata "Sayang, tiba-tiba aku kepengen makan jambu air."


"Jambu air?"


"Iya, pengen aja manjat pohon jambu, terus makan jambunya diatas pohon."


Britney yang berdiri di samping Pras. Menata piring dan menyiapkan sarapan untuk suami, anak dan adiknya. Britney menatap sang suami dengan heran.


"Dimana ada pohon jambu air Mas? Apa sekarang musim jambu air?!" Tanya Britney yang masih heran.


Pras mulai mengambil roti tawar yang dioles selai strawberry, yang disiapkan istrinya barusan.


"Sayang, tapi aku pengen jambu air. Aku pengen manjat pohon jambu air." Jawab Pras yang tampak manja.


Britney mengelus rambut suaminya dan perlahan duduk disebelahnya. "Ya udah, Mas sarapan dulu. Iya, nanti aku cariin info di tetangga, siapa tahu ada yang lihat pohon jambu air yang berbuah."


"Ya aneh aja, kamu yang hamil. Tapi aku yang banyak maunya."


Britney mengecup pipi suaminya dan berkata "Sabar Mas, nikmati saja. Yang penting kamu udah nggak mual lagi kan?!"


"Kata siapa nggak mual, kalau pagi masih mual. Makanya anehnya kalau pagi pasti banyak maunya." Keluh Pras.


Britney tersenyum dan menarik tangan sang suami ke perutnya, ternyata sudah mulai endut "Disini, ada anak kita. Mas harus sabar dong."


Pras mulai tersenyum tengil dan berkata "Sayang, maafin Papa."


Pras mencium perut istrinya dengan gemas.


Tidak lama ada Alishba dan Pamela yang mendekati mereka di ruang makan.


"Alishba juga mau dicium Papa."


Pras menoleh ke arah Alishba, dengan cepat Pras menggeser kursinya dan mengangkat Alishba.


"Genduk ayune Papa."


"Genduk?"


Pras tidak henti menciumi sang putri kecil itu. Benar-benar sangat gemas. Alishba mengalungkan ke dua tangan mungilnya ke leher sang Papa, dan Pras masih dengan gemas mencium pipi anaknya.


"Genduk itu apa?" Tanya Alishba.


"Genduk itu. Anak perempuan, sayang." Jawab Pras.


Pras tersenyum lalu berkata "Alishba."


"Iya, Papa."


Dua wanita yang ada di ruangan itu, juga menatap Pras yang menggendong sang putri kecilnya.


"Sugeng enjing Alishba." Ucap Pras


"Su-geng en-jing?" Tanya Alishba, tapi dengan nada yang berbeda saat penekanan kata enjing. Cukup menggemaskan sekali.


"Sugeng enjing itu selamat pagi."


"Iya Papa, selamat pagi." Ucap Alishba.


Britney memandangi Papa dan anak cantiknya, lalu berkata "Alishba ayo makan, nanti terlambat sayang."


Pras menurunkan anaknya di kursi, dan Pamela yang dari tadi berdiri di samping Pras, lalu dia duduk di depan Kakaknya.

__ADS_1


"Pamela, nanti kamu ikut Mbak ke sekolah Alishba ya."


"Iya Mbak." Balas Pamela, perlahan dia mengambil cangkir keramik putih yang berisi teh hangat.


Pras kembali sarapan dan Alishba jadi memandangi sang Papa.


"Papa sakit?" Tanya Alishba yang masih memandangi Papanya.


Papanya tidak tampak seperti biasanya.


"Tidak sayang. Papa sehat."


"Terus kenapa tidak makan?"


"Papa cuma tidak berselera. Papa pengen jambu air."


Britney yang di sampingnya tersenyum, Pamela yang mulai memegang roti jadi menatap sang Kakak.


"Mas Pras ngidam?" Tanya Pamela.


Pras yang menduduk dengan rasa tidak nyaman, Britney mengelus rambut sang suami dengan tersenyum.


"Iya Pamela, Masmu memang ngidam. Biasanya dia ingin mainan, tapi barusan dia bilang ingin manjat pohon jambu air." Ucap Britney.


"Tapi ngendi sing ono wit jambu air?" Tanya Pras.


(Tapi mana yang ada pohon jambu air?)


Pras mulai merasa sedikit resah. Rasanya ada sesuatu yang aneh. Rasanya ingin segera dapat jambu air, tapi dia sendiri yang memanjat pohonnya.


"Neng Boyolali Mas. Gone Pakde Woko, ono wit jambu air abang." Jawab Pamela.


(Di Boyolali Mas. Tempatnya Pakde Woko, ada pohon jambu air merah.)


"Adoh. Iyo nek uwoh, nek ora piye?"


(Jauh. Iya kalau berbuah, kalau tidak gimana?)


Britney dengan tersenyum manis dan masih mengelus rambut sang suami. Lalu berkata "Coba nanti aku telfon Budhe, siapa tahu lagi berbuah. Bukannya Mas mau pulang ke Semarang?!"


Alishba tidak menghiraukan apa yang para orang dewasa katakan. Setelah Papanya bilang tidak sakit, dia hanya menikmati sarapannya. Alishba suka roti tawar selesai strawberry. Jadi dia cukup asyik sendiri dan hanya melihat ke arah Papanya.


"Papa senyum dong, jangan cemberut."


Ucap Alishba saat melihat ekspresi jelek Papanya.


Pras dengan cepat tersenyum manis, dengan gemas mencubit pipi Alishba.


Britney bingung, dulu saja dia hamil Alishba, tidak banyak keinginan, hanya mual dan muntah, itu hal biasa.


Hanya saja dulu sukanya mangga muda dan masih wajar. Tapi setelahnya, juga biasa saja.


Tapi kali ini, suaminya yang ngidam, tidak bisa menahan diri, perkara kepengen mainan Yoyo aja, semua saudara dan Bapaknya mencarikan Yoyo.


Akhirnya dapat Yoyo dipenjual mainan yang ada di dekat sekolahnya Rangga, itupun Candra malah tidak sengaja, waktu mengantar Rangga ke sekolah.


Candra saat melihat Yoyo yang ada di gelaran penjual mainan anak-anak itu. Candra langsung membeli Yoyo itu, dan mengirimkan ke rumahnya.


Padahal Britney sudah memesan di aplikasi jual beli online, tapi Pras maunya yang model kayu, bukan yang plastik. Rasanya kadang aneh, sang istri yang hamil, tapi harus menuruti sang suami yang mempunyai keinginan unik.


"Bojoku, kamu ini bikin gemes."


Pamela tersenyum menatap sepasang suami istri itu, lalu dia berfikir "Semoga aku kelak, bisa seperti Mas Pras dan Mbak Britney."


Padahal Pamela sudah terbiasa melihat pasangan seperti Putri dan Candra, tapi jarang Pamela melihat yang sabar seperti Britney dan Pras yang manis saat memberikan perhatian. Mereka memang pasangan yang unik.


"Mas, engko tak golekke." Ucap Pamela.


(Mas, nanti aku cariin.)


"Rasah, aku ora popo." Balas Pras dengan wajah yang sudah tersenyum.


(Tidak usah, aku tidak apa-apa.)

__ADS_1


Bilangnya tidak apa-apa, tapi batinnya masih menggebu-nggebu. Seolah dia ingin berlari saat melihat pohon jambu air yang berbuah lebat, lalu nangkring di pohon dan makan jambu air itu.


"Mas, Mas, ada-ada saja kamu ini." Ucap Britney, lalu mengelus perutnya dan membantin "Sayangnya Mama, Papa kamu yang ngidam lagi. Kamu makan dulu ya. Mama sayang kamu."


Keluarga kecil yang harmonis, mereka sarapan pagi bersama. Ruang makan yang tidak luas, tapi rasanya cukup membuat mereka semua menikmati makanan mereka. Rasanya sangat nyaman. Tidak ada yang special, tapi suasana pagi mereka, disambut dengan perasaan manis.


Mentari semakin menyilaukan mata, Pras sudah menyetir mobilnya dan memakai kacamata hitamnya. Jalanan yang ramai, dan tampak kemacetan. Tapi tidak membuatnya menyerah begitu saja. Penampilan yang sudah formal, rambutnya yang sudah tertata bak aktor drama korea. Setelan jas dengan warna abu dengan model slim, dan sepatu pantofel mengkilau hitam.


"Aku arep kerjo, tapi isih kepikiran jambu air." Ucap Pras yang mendumel sendiri.


(Aku mau kerja, tapi masih kepikiran jambu air.)


Mobilnya cukup lama terhenti diantara mobil lainnya.


Tiiiin!!!!!


Terdengar suara klakson mobil belakangnya.


Pras yang tadi membayangkan dirinya yang memanjat sebuah pohon jambu air, lalu melajukan mobilnya.


"Pras, eling. Kerjo. Kerjo. Ojo jambu air wae sing dipikir." Ocehnya dengan gaya yang tengil dan merasa sedikit kacau dalam pikirannya.


(Pras, ingat. Kerja. Kerja. Jangan Jambu air saja yang dipikir.)


Sudah lebih dari jam 9 pagi, tapi sang pimpinan kantor baru tiba, dan cukup menggemaskan gayanya.


"Pagi Pak Pras." Sapa staff


"Pagi..." Balas Pras.


Pandu dengan senyuman khasnya mendekati "Telat meneh?!"


(Terlambat lagi?!)


"Mikirke jambu air."


(Mikirin jambu air.)


"Ngidam meneh?!"


(Ngidam lagi?)


Pras menghentikan langkahnya dan menatap Pandu. Lalu dia berkata "Mboh lah, aku dewe yo bingung."


(Tak tau lah, aku sendiri juga bingung.)


Kedua orang yang berjalan bak pria eksekutif yang berpenampilan keren, memasuki ruang kerja dengan gaya mereka.


Tapi, tetap saja mereka tidak seperti Bos besar yang memperlihatkan sosok pemimpin yang perfeck, dingin ataupun menonjolkan keunggulan mereka.


Pras dan Pandu, cukup visioner, mereka juga sangat bertanggung jawab atas pekerjaan mereka. Mereka juga ramah dan tidak terlalu mengatur, dari situ mereka berdua cukup disegani para staffnya.


Saat rapat dan bertemu klien saja Pras dan Pandu tetap begitu adanya. Hanya sedikit berubah ketika di depan klien, tapi nanti wujud aslinya bisa terlihat lagi, bila sudah akrab dengan kliennya.


"Aku ngerti Mas, kowe lagi ngidam. Tapi iki penting. Klien anyar. Rodo angel."


(Aku tahu Mas, kamu lagi ngidam. Tapi ini penting. Klien baru. Rada sulit.)


"Kowe wae sing nangani, aku arep bali neng Semarang." Ucap Pras yang sudah duduk dikursinya, dengan cepat dia menyalakan laptopnya.


(Kamu saja yang menangani, aku mau pulang ke Semarang.)


Pandu menoleh saat ada yang mengetuk pintu ruangan Pras.


"Siapa?" Gumam Pras dengan santai.


Pandu bergegas untuk membuka pintu ruangan itu.



Aiishh! Ada-ada saja sih Mas Pras. Semoga lekas dapat ya, pohon jambu air yang berbuah. Buruan nakring di pohon, hahaha....


Othor juga penasaran, pengen lihat Mas Pras manjat pohon jambu, kalau waktu ngidam Alishba itu manjat pohon mangga apel.

__ADS_1


🤗🤗 Terima kasih pembaca setia Mas Pras, loppe loppe seabrek 🥰😘


__ADS_2