PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Akhir Tragis Menimpa Yuda Mahatma


__ADS_3

Lanjut dari bab sebelumnya, sepertinya tinggal beberapa episode lagi dan cerita ini akan segera berakhir.


"Aldo aku harus pergi." Limar dengan cepat memakai celana jeans, dan Aldo yang masih berselimut hanya menatap ke arah Limar.


"Secepat ini?" Tanya Aldo.


Aldo perlahan menyikap selimutnya dan dia dengan cepat menyambar celananya.


Sudah jam 8 pagi, waktunya Limar untuk pergi dari hotel itu.


Aldo masih tidak mengerti apa yang akan terjadi, dengan dirinya dan juga Limar nantinya.


"Aldo dengarkan aku baik-baik." Limar yang sudah selesai memakai bajunya.


Kedua tangannya mengangkat wajah Aldo, karena dia sibuk menarik resleting celananya.


"Iya." Aldo menggangguk, walaupun masih dalam kebigungan.


Kedua tangan Limar yang masih memegang pipi Aldo, lalu dia berkata "Aldo, setelah ini. Kita harus berpisah, dan aku harus masuk penjara. Kamu bisa mendatangi aku, bulan depan. Di tanggal yang sama. Ini sudah tanggal 9, dan kamu harus datang di tanggal itu."


"Apa yang akan terjadi?"


"Aku tetap akan dipenjara. Setelah pagi ini, kamu akan bebas dari Serly, untuk sementara kamu pergi ke tempat yang pernah aku kasih tahu ke kamu."


Aldo menggangguk dan Limar mencium bibir Aldo, mereka melakukan ciuman perpisahan.


"Kalau tanggal 9 bulan depan, kamu tidak mengunjungi aku. Berarti kita harus berpisah selamanya."


"Aku pasti akan mencari kamu."


"Bila aku tiada, aku harap kamu bisa lupa."


Aldo bingung dengan apa yang Limar katakan.


"Jangan bilang begitu." Ucap Aldo lalu memeluknya dengan cinta.


"Aku harus pergi." Ucap Limar dan tidak lupa mengambil dokumen yang berisi surat tahanan luar.


Limar membuka pintu itu dan dengan cepat Aldo memakai kaosnya agar bisa mengikuti Limar, tapi setelah Aldo membuka pintu hotel itu. Limar tidak terlihat di koridor kamar-kamar hotel itu.


"Limar sudah pergi."


Saat Aldo menutup pintunya, Limar yang di sekap suruhan Serly dan di bawa pergi ke kamar sebelahnya. Aldo juga pergi dengan cepat dari kamar itu. Dia tidak meninggalkan jejak apapun.


"Limar kenapa buru-buru pergi?" Aldo yang menggendong tas ransel hitam dan menenteng jaketnya pergi dari hotel itu, dengan cepat dan menuju ke tempat yang Limar janjikan saat mereka pergi berdua. Aldo juga tahu sandi tempat itu.


"Aldo sudah selesai?"


Tatapan Serly yang ada di mobil sedan mewah. Bagaikan ratu yang kejam, senyuman manis itu, lagi-lagi menakutkan bagi Aldo.


"Kenapa bisa tepat begini. Apa ada alat lacak atau aku di sadap saat di kamar itu?" Aldo merasa dirinya bodoh. Lalu dia berfikir lagi "Limar, tadi juga memberi kode untukku."


Aldo menyadari itu dan segera berlari.


"Tangkap dia." Serly menyuruh seorang bodyguard agar mengejar Aldo.


Aldo sangat cepat berlari dan langsung menaiki sebuah taxi. Sudah seperti film yang main kejar-kejaran. Aldo turun dari taxi itu, di pusat keramaian pagi itu. Ada sebuah pasar tradisional yang sangat ramai.


"Sial!"


"Bawa Limar ke tempat itu. Jalankan misi ke 3." Ucapnya saat menelfon seseorang.


Serly masih menatap ke arah pasar itu. Tapi tidak melihat Aldo, dan bodyguard Serly tidak bisa menemukan Aldo.

__ADS_1


"Jalan!!" Perintahnya kepada sang sopir.


Serly dengan sorot mata tajam, rasa dendamnya akan segera berakhir.


Lima jam kemudian.


Darah yang membasuh tangannya, air mata luruh tak berdaya. Suara yang memanggil terasa percuma. Limar dengan rasa sesak yang ada di dalam dadanya.


Memeluknya erat-erat dan bermenjerit "AYAH!!!"


Suara tangisan yang tak lagi pilu, yang ada hanya ambisi untuk membalasnya.


Sosok yang ada di dekatnya juga histeris, menangisi kepergian anaknya.


"Nicholas, kamu harus bertahan sayang."


Nicholas yang sudah bersimpah darah, darah mengalir dari dadanya, dan rasa yang sakit itu perlahan menjadi hilang.


Nicholas, perlahan menutup matanya di dalam dekapan sang Mama.


Vava yang tergelatak karena benturan kepalanya dan Lingga dengan segera mengangkatnya dan secepatnya pergi.


Suasana siang yang tragis, Vava yang hendak pergi ke Golden Mansion, di hadang oleh Serly, Limar yang hendak menembak Vava, berakhir menembak Nicholas.


"AAAYYYAAH!!!" Teriak Limar yang saat ini sangat histeris, karena sang Ayah yang sudah menghalangi, saat Serly hendak menembak Limar.


"Ayah, maafin Limar." Ucapnya dengan segala rasa yang amat terluka.


Ayahnya masih menatap Limar dan berkata "Jangan menyesal. Ayah sangat mencintai kamu."


"Ayah, harus bertahan." Ucap Limar dan para pengawal yang sudah membawa ambulan, bergegas untuk membawa Yuda pergi.


Polisi yang ada di tempat itu, segera menangkap Limar kembali.


Vava yang tadi di dorong Nicholas, kepalanya cedera, karena terbentur paving pembatas jalan.


*Adegan tadi othor skip, ini bukan cerita action. Tapi ini kisah tragis keluarga Yuda Mahatma.


Setelah malam tiba, suasana pilu dan berteman kesunyian.


Limar yang masih bersedih atas apa yang menimpa sang Ayah.


Limar hanya duduk bersandar dengan tatapan kosong.


"Mbak Limar." Panggil Lingga.


Lingga menjenguk Kakaknya di ruang khusus dalam tahanan. Ruangan yang sangat ketat penjagaannya, dan hanya Limar yang ada dalam ruangan itu.


Limar yang mendengar suara Adiknya, dan dia perlahan mendekat.


"Lingga."


"Bagaimana keadaan Vava?" Tanya Limar yang sebenarnya juga tidak berniat untuk menembak Vava. Tapi, saat dia ingin mengurungkan niatnya, Serly dengan cepat memasangkan tangan Limar dan terjadilah kejadian tragis itu. Sebuah peluru logam yang melesat malah menembus dada Nicholas. Serly yang tertegun dan langsung mendekati putranya.


Dengan rasa emosi dalam hatinya mengambil pistol yang ada pada pengawalnya dan mengarahkan pistol itu pada Limar, Yuda melihatnya langsung berlari mendekap erat putrinya. Akhirnya Serly menembak orang yang dia cintai.


Tadi para pengawal juga sempat bersi tegang. Tapi dalam hitungan detik, Vava dan Nicholas sudah tergeletak di atas aspal. Jalanan yang cukup sepi, tapi masih ada beberapa kendaraan yang lewat.


Perlahan tempat itu menjadi ramai, tragedi siang yang membuat riuh warga kawasan elit, yang tidak jauh dari rumah Vanesa.


"Vava tidak apa-apa." Ucap Lingga.


Vava sudah siuman, dia mengalami gagar otak ringan. Britney dan Pras sudah menemaninya. Bahkan Vanesa dan Angga juga masih menemani putri mereka. Vava hanya syok, dan ingin Britney yang menemaninya. Pras juga mengerti kondisi Vava.

__ADS_1


"Kamu berhak menghukum aku." Ucap Limar dengan suara serak.


Lingga yang tidak berani menampakan wajahnya dan rasa malu pada dirinya. Lalu dia berkata "Aku yang bersalah, aku tidak bisa menjaga Mbak Limar."


"Aku baik-baik saja." Ucap Limar.


"Lalu Ayah?" Tanya Limar yang belum tahu tentang Ayahnya.


Lingga berkata "Dokter sudah berjuang, tapi Ayah tidak selamat."


"Kenapa kamu kesini?"


"Aku ingin Mbak Limar bertemu Ayah, untuk terakhir kalinya."


Suara Lingga dengan rasa luka yang terbelenggu dalam hatinya. Lalu berkata "Kita akan membawa Ayah pulang ke Jogja. Bunda dan Eyang, meminta untuk memakamkan Ayah di sana."


Limar tanpa berkata, diijinkan petugas untuk melihat Ayahnya yang sudah berada dalam peti jenazah.


Mobil ambulan dari rumah sakit, sudah ada di halaman tahanan itu.


"Ayah, maafkan Limar." Ucapnya dan hanya menatapnya pilu. Tidak ada air mata yang mengalir, tidak ada tatapan teduh dari sorot mata Limar. Yang ada hanya tatapan cinta.


"Limar tidak akan menyesal. Limar akan memenuhi keinginan Ayah." Ucap Limar.


Dengan segenap cinta dalam luka hatinya dan Limar melihat sang Ayah dengan senyuman manisnya, lalu berkata "Ayah, terima kasih."


"Terima kasih untuk semua cinta dan luka yang pernah Ayah berikan."


"Selamat jalan Ayah. Surga dan kedamaian ada padamu."


"Aku sangat mencintaimu, Ayah."


Setelah salam perpisahan Limar dengan Ayahnya. Lingga mendekati Limar dan memeluknya.


"Mbak Limar, aku tahu keadaan yang telah memaksamu. Kamu tetap Mbakku yang aku kenal. Jangan menyimpan luka dalam hatimu."


Limar hanya diam dan Lingga berkata lagi. "Nanti aku akan mengunjungimu. Mbak Limar bersabarlah, aku akan segera mengeluarkan kamu dari sini."


"Tidak, kamu tidak perlu berbuat itu."


Limar yang masih dalam dirinya, hanya mematung dan Limar menatap Adiknya, lalu berkata "Lingga, bawalah Aldo di sisimu. Dia akan membantumu dan aku harus mendapat hukumanku. Kamu tidak perlu cemaskan aku."


Lingga melepaskan tangannya dan Limar pergi tanpa berpaling.


Lingga dengan kesedihan dalam hatinya, dan segera berangkat mengantarkan kepergian Ayahnya dengan cinta yang tersisa.


"Ayah, janjiku sudah aku penuhi. Ini keinginan terakhirmu. Aku akan menjaga Mbak Limar."


Suasana duka di kediaman Eyang Dewi. Hesti dan Langit yang duduk diatas karpet, hanya terdiam.


Tak ada yang membayangkan kejadian tragis ini akan menimpa mereka.


Keluarga dan kerabat dekat, juga sudah mendengar kalau Yuda Mahatma, yang meninggal karena tertembak di usia 54 tahun.


"Bunda, kenapa Mas Lingga belum datang juga?" Tanya Langit.


Langit berbaring di karpet dan Bunda mengelus rambutnya.


"Bunda tidak tahu." Ucapnya dengan sendu.


Langit dengan segala perasaannya dan terakhir dia bertemu dengan sang Ayah di malam itu. Saat dia berangkat ke Jogja hanya berpamitan melalui telfon, saat itu Ayahnya ada pertemuan penting.


Serly dalam penangan dokter dia mengalami depresi, waktu dalam tahanan dia sering membenturkan kepalanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2