PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Bukan Malam Yang Hareudang


__ADS_3

...☘Sentuhan jemari mempercantik diri,...


...memanjakan rasa untuk suami tercinta☘...


Masih Berlanjut dari bab sebelumnya. Ini hanya haluan othor ya 🤭🤗.


Setibanya di rumah, sang suami sudah duduk bersandar di sofa dengan gaya yang biasa saja. Mengenakan piyama biru dongker dan tampak membaca buku tentang keluarga harmonis.


"Mas Lingga." Suara nyaring Vava yang baru tiba, dan menghampiri suaminya.


Lingga dengan senyuman datar dan apa adanya. Lalu bertanya "Apa kamu sudah mendapatkan yang kamu inginkan?!"


Vava tampak tersenyum dan mengedipkan matanya.


"Mmh, sudah. Ini, aku sudah makan satu tadi waktu di mobil."


Lingga mulai menutup bukunya dan dia menatap Vava dengan aneh, lalu dia menggelengkan kepalanya.


"Vava, kamu berbohong?"


Vava memalingkan wajahnya dan berkata "Mmh, sedikit. Mas Lingga marah sama aku?"


Lingga mengelus rambut Vava dan berkata "Kenapa harus berbohong?"


"Tapi aku benar-benar ingin buah Srikaya. Di supermarket dekat rumah nggak ada, jadi agak jauh perginya. Beneran, aku nggak bohong. Tapi, a-ku juga pengen jalan-jalan."


Lingga tersenyum, lalu dia berkata "Besok ikut aku, kamu pasti akan suka."


Vava yang penasaran lalu bertanya "Kita akan pergi? Kemana? Mas Lingga ayo cerita."


"Besok aku ada jadwal balap mobil sama Mbak Limar. Kamu harus lihat aku."


Vava menatapnya dengan senyuman, dan bertanya "Mas Lingga bisa balap mobil? Mmh, aku tidak percaya kalau suamiku yang begini, bisa balapan mobil."


Lingga yang masih menatap Vava, menarik hidup mancung Vava.


"Iiiih, sakit Mas."


"Kamu meledek aku?"


"Siapa yang meledek, aku cuma melihat kepolosan suami aku."


Lingga memalingkan wajahnya dan tersenyum manis, dua insan yang duduk di sofa. Vava mulai membulatkan pipinya, dan masih memegang kantong isi buah Srikaya.


"Hems, kepolosan kamu bilang! Vava kamu yang polos, bukan aku."


"Iya, ya, ya, ya. Suamiku memang bukan pria polos. Kalau dia pria polos, mana mungkin aku bisa sampai hamil."


Lingga menggigit kecil bibirnya, dan Vava hendak beranjak pergi setelah mengatakan hal itu.


Disaat Vava sudah berdiri dan bergegas pergi, tangan kanan Lingga dengan cepat menarik tangan Vava, dan akhirnya Vava terjatuh dalam dekapan Lingga.


"Mas Lingga sengaja?"


"Kamu masih bilang aku polos? Atau aku pria jahat?"


Vava memukul dada Lingga dan berkata "Mas Lingga, jangan macem-macem sama aku."


Vava menatapnya tajam, dan Lingga tampak tersenyum manis, kedua tangannya memegang lengan Vava.


"Aku suami kamu, sampai sekarang aku belum menyentuh kamu sayang."


"Mas Lingga, awas!! Jangan main-main sama aku. Aku nggak suka."

__ADS_1


Vava mendorong Lingga dan Vava berkata "Siapa bilang tidak menyentuh?! Kamu yang__"


Vava bergegas pergi lebih cepat, setelah terlepas dari cengkraman Lingga.


"Aku yang apa? Aku yang sangat polos?"


Lingga tertawa datar dan kembali membuka bukunya.


Selama menjadi suami istri, kedua orang itu masih biasa saja, tidak ada moment romantis, apalagi malam hareudang yang membawa ke arah bercinta dalam ranjang. Yang ada hanya, Vava selalu menggenggam tangan suaminya, ketika malam. Karena hanya itu, yang membuat Vava bisa tedur nyenyak. Mungkin bayi yang ada dalam kandungannya, yang menginginkan hal itu. Tapi pikiran dan hati Vava masih bergejolak, bila sang suami tampak menggodanya.


"Hampir saja, aku masuk jebakan Mas Lingga." Batin Vava saat dia sudah di kamar. Sambil mengelus dadanya yang berdetak kencang.



Di tempat lain yang cukup jauh dari Mansion Golden. Semua keluarga Abah Ferdi telah berkumpul di ruang tengah, dan tampak bersenda gurau, kecuali Britney yang tak ada di ruangan itu.


Sudah malam, tapi Pras belum datang juga. Britney yang sudah menunggu sang suami, dari tadi di telfon juga tidak bisa.


"Mas Pras kenapa belum datang juga?!" Keluh Britney yang tampak menantikan suaminya.


Sang suami ternyata mulai nakal, tidak biasa ponselnya tidak aktif. Britney yang sudah tampil menarik, mendadak jenuh dengan situasi ini.


"Mas Pras, kamu dimana? Bikin aku cemas." Batin Britney sambil melihat ke layar ponselnya.


Britney kembali menghubungi suaminya, tapi masih tidak aktif. Terakhir tadi chat setelah sholat Isya', dan itu tadi sang suami masih di kantor.


"Hpnya udah aktif, tapi kenapa nggak diangkat telfonnya. Hemms." Keluh Britney yang semakin gelisah.


Britney yang dari tadi di kamar, lalu dia berjalan ke mushola. Tempat dulu, dia dan Pras bertemu, saat Mamah Sarah mempertemukan Pras dan Britney.


"Aku jadi semakin kangen sama kamu Mas. Mas Pras buruan datang." Batin Britney dengan segala perasaan yang ada saat ini.


Tidak lama Pras sudah datang, ternyata dia naik ojek online. Pras dengan gaya yang tengil berjalan membuka pintu pagar rumah Abah Ferdi.


"Assalamu'aikum." Ucap Pras.


"Waalaikumsalam." Jawab Evan, dengan tersenyum, lalu Evan bertanya "Kamu nggak bawa mobil?"


"Nggak Bang, tadi pulang dulu. Kesini naik ojek aja. Lagian itu, mobil pada baris di luar semua."


"Hems, tadi pada sendiri-sendiri, aku juga dari kantor. Ghea sama Giel dari sekolahan, Britney juga sama Alishba. Biar aja itu mobil pada di luar. Lagian disini juga aman." Ucap Evan dan Pras sambil berjalan masuk.


Alishba yang mendengar suara Papanya langsung berlari, dan diikuti Giel. "Papa!"


"Mmh, sayangnya Papa." Pras langsung menggendong anaknya, dan Giel juga ikutan ingin digendong Pras.


"Om Pras, kenapa lama?"


"Om Pras tadi pulang dulu ke rumah."


Pras ke ruang tengah, dan menyapa Mamah Sarah dan Abah Ferdi. Aksa dan Maeva baru bergegas ke kamar, untuk menidurkan Arvez. Walaupun ada suster Rini, setiap Aksa di rumah, tetap dia yang menggendong anaknya.


"Pras, apa kamu sudah makan malam?" Tanya Abah Ferdi.


"Sudah Bah, tadi sama Rendy di kantor."


Mamah Sarah tersenyum, lalu berkata "Britney dari tadi nungguin kamu. Dia ada di mushola."


Mamah Sarah, baru dari lantai dua dan melihat Britney yang duduk di mushola rumahnya.


"Pras, tumben baru datang. Mau aku buatin kopi?" Tanya Ghea.


"Nggak usah, aku tadi udah ngopi. Aku mau ke atas dulu." Jawab Pras, dan masih menggendong kedua bocah cute.

__ADS_1


"Giel ayo kita bobok." Ajak Ghea dan Alishba masih memeluk Pras.


Evan tampak menggoda Alishba, tapi dia tidak mau. Maeva yang keluar dari kamarnya, lalu mendekati Alishba.


"Alishba, bobok sama Mammi Maeva aja ya. Papa baru pulang kerja, pasti capek. Ayo, kita bobok bareng sama Kakak bayi Arvez." Bujuk Maeva.


"Papa, Alishba mau sama Mammi Maeva."


"Hemm, Papa masih kangen."


"Tapi Papa capek, Alishba mau bobok sama Kakak bayi Arvez."


"Cium Papa dulu."


Alishba menciumi wajah Papanya, dan Maeva yang melihat itu tersenyum saja, Abah Ferdi dan Mamah Sarah juga sangat gemas melihat tingkah Alishba.


Pras bergegas mencari istrinya ke lantai dua. Dengan perasaan manis dan raut wajah yang sangat bahagia.


"Assalamu'alaikum...." Suara Pras yang begitu khas dan sangat merdu.


Britney menoleh ke arah suara itu dan menjawab salam "Waalaikumsalam, Mas." Britney yang mencium tangan suaminya dan Pras mencium kening istrinya dengan manis.


Terpancar gelora cinta, dengan sorot mata yang penuh kerinduan, dari keduanya.


"Mas, dari tadi aku cemas."


"Kamu cemas?! Tadi aku pulang dulu sayang."


"Terus kenapa ponselnya nggak aktif?" Britney dengan bibirnya yang manyun dan Pras mencubitnya.


"Hemms, tadi baterainya habis. Sampai di rumah baru aku charge Hpnya."


"Emms, bojoku bikin gegana."


"Sayang, tapi aku sekarang disini."


"Iya, tetap aja bikin mood aku anjlok."


"Terus ngapain kamu disini? Kamu dandan, pakai salwar juga." Pras yang tersenyum dan penasaran dengan penampilan istrinya.


"Mas, kamu ingat. Ini tempat apa?"


"Ini mushola."


"Iya Mas, apa kamu ingat sesuatu?"


Pras dengan tengil memeluk istrinya dari belakang, dan berkata "Ini tempat pertemuan."


Pras mengajak istrinya ke kamar dan Britney memegang erat lengan kiri suaminya.


"Mas, terus Alishba?"


"Tadi sama Maeva."


Setelah tiba dikamar mereka berdua, yang duduk ditempat tidur, lalu saling menatap dengan manis. Britney begitu cantik dengan make-up dan pakaiannya.


Pras menyentuh dagu istrinya dan berkata "Sayang, aku kangen."


"Aku juga kangen, padahal setiap hari kita bertemu."


"Iya, tapi aku tetap kangen." Pras lalu mengecup kening istrinya dan sangat lama.


Britney lalu memeluk erat suaminya.

__ADS_1



__ADS_2