
Masih berlanjut dari bab sebelumnya ya. Tapi ini tentang para perempuan cantik.
Suasana sore hari, dan masih di hari senin. Masih sangat cerah dan Britney bergegas pergi meninggalkan kantornya, untuk menjemput putri kecilnya.
"Aksa, Bos kamu pulang duluan ya."
"Siap Bos. Salam untuk tuan putri Alishba."
"Emz pasti, dari Pappi unyunya ya?!" Ucap Britney dan Aksa tersenyum.
"Aku kadang heran, setiap cerita tentang Mammi dan Pappi unyu, Alishba sangat gemas. Katanya Alishba kalau bermain sama Pappi unyu, Alishba suka." Ucap Britney dan Aksa hanya memasang wajah yang tak bersalah.
"Kamu kasih mainan apa sama Alishba?" Tanya Britney.
"Ems, cuma barbie. Punya Maeva kan masih ada banyak di kamarnya."
"Tapi kata Alishba, Pappi unyu kalau jadi Marlo cocok banget."
Aksa dengan senyuman manis, ia berkata "Emms, itu cuma bercanda. Memang kita suka berimajinasi. Maeva yang ngajarin, tapi Arvez juga gemas melihat kita semua yang kocak."
"Owh, jadi Mammi Maeva bisa unyu juga. Aku pikir cuma bisa berisik dan mengomel saja."
"Kamu pikir istriku seserius itu?!"
"Iya, dia kalau sama aku, tetap saja judes. Tapi Alishba malah suka menirukan gayanya. Aku kadang heran, kenapa anakku jadi seperti kakak sepupuku yang judes itu."
"Awas nular. Bumil jangan benci orang. Nanti jadi mirip Maeva lagi."
Britney menatap tajam Aksa, lalu berkata "Aku tidak membenci Kakakku, tapi aku justru ingin sekali diperhatikan dia. Jelas-jelas dari dulu, dia membenci aku."
"Hems, gitu lagi."
Britney melotot dan berkata "Ini aku mau kesana, aku mau minta dibuatin mie goreng rica-rica yang special buat aku."
"Iya, mie goreng rica-rica buatan Maeva emang top banget. Apalagi lagi mercon, bikin nagih."
"Aku kemarin cuma dapat gambarnya aja dari Bang Evan."
Aksa dengan wajahnya yang begitulah, lalu hanya melambaikan tangannya saat Britney pergi.
Maeva Fahrani sang perempuan judes, dan manja ternyata bisa masak juga. Setelah jadi menantu Bu RT, setiap ke rumah mertunya Maeva banyak belajar dari Ibu mertuanya. Padahal dulu di rumah Rehan, dia tidak pernah ke dapur. Hanya saja Maeva sangat tidak nyaman, dengan keluarga besar mantan suaminya itu. Yang menurut Maeva semuanya terlalu diatur, dan sangat disiplin waktu.
Walaupun Maeva hanya duduk manis dan menjalani kesehariannya dengan begitu, tapi tetap saja tidak merasa nyaman. Mungkin ada hal lain, yang tidak enak dalam hati Maeva. Namanya juga sudah berumah tangga, kalau hidup bersama keluarga besar, dan setiap hari dengan segala aturan yang ada, pasti merasa jenuh juga. Apalagi Maeva cukup lama menunggu buah hati yang tak kunjung datang, mungkin ada perkataan yang tidak enak, dari beberapa keluarga besar sang mantan suami itu.
30 menit berlalu.
Britney yang tiba lebih dulu, dan dia menyempatkan untuk sholat di Mushola yang ada di sekolahnya Alishba.
Baru setengah 4 sore, Alishba masih ada kegiatan di ruang menari.
Britney berjalan ke Mushola dan bertemu beberapa guru yang sedang melaksakan ibadah sholat Ashar.
"Assalamu'alaikum Bu Aisyah."
"Waalaikumsalam Bu Britney. Mari silahkan, saya sudah selesai sholat.'
__ADS_1
Britney yang tiba di teras Mushola, bertemu dengan kepala sekolah.
"Iya Bu Aisyah, saya mau ambil wudhu dulu."
Bu Aisyah yang berusia sekitar 50 tahun, berawakan besar tapi wajahnya sangat terlihat muda, berhijab khimar besar dan anak-anak sangat dekat dengannya. Apalagi selama kegiatan mendongeng, Alishba sangat menyukainya.
Setelah selesai sholat Britney masih menunggu putri kecilnya, dan tidak lama Alishba sudah keluar dari ruangannya.
"Mama." Suara nyaring Alishba dan Britney segera mendekatinya.
"Sayangnya Mama." Britney segera memeluknya, dan menciumi wajah cute Alishba.
"Mama, Alishba dapat banyak bintang."
Bintang adalah sebuah nilai untuk murid, setelah melaksakan tugas sekolahnya.
"Benarkah? Alishbanya Mama hebat, tadi udah sholat belum?"
"Sudah Mama, tadi sama teman-teman, juga Ibu guru."
Britney juga tersenyum saat beberapa walimurid yang menyapanya. Britney yang masih berlutut satu kaki, dan Alishba masih memeluknya.
"Sayang, kita nanti akan pulang ke rumah Oma. Nanti kita bertemu Kakak Giel dan Kakak Arvez."
"Kakak Giel juga ada disana?"
"Iya, Kakak Giel juga baru berangkat kesana."
"Hore, Alishba mau. Ayo Mama, ayo buruan kita kesana."
Britney mulai berdiri dan menggandeng tangan kiri Alishba yang mungil itu.
Alishba tidak lupa mencium tangan bu guru yang ada di depan pintu utama gedung sekolahnya. Ada dua guru yang selalu memperhatikan murid-muridnya yang sudah pulang.
Setelah di dalam mobil dan Britney mulai melajukan mobilnya. Alishba tampak duduk bersandar, dan memegang tablet sang Mama.
[Papa cepat menyusul Alishba ke rumah Oma Sarah. Ada Kakak Giel juga 😘]
Alishba yang sudah pandai menulis dan membaca, dengan cepat mengirim pesan untuk sang Papa tercinta.
Pras yang baru tiba di kantornya, dan melihat pesan dari sang putri imutnya.
"Alishba sudah pulang sekolah." Ucapnya dan Rendy yang ada dihadapnnya menatap Pras yang tersenyum manis.
[Papa masih nanti pulangnya. Nanti Papa telfon ya sayang. 😘]
Alishba yang duduk bersandar membaca chat itu, dan mengadukan kepada Mamanya.
"Alishba, bilang sama Papa. Nanti kita akan menginap di rumah Oma."
[Papa, kata Mama. Kita akan menginap di rumah Oma Sarah. 😘]
Pras tampak mengusap dahinya, saat membaca chat itu.
"Kalian nginep? Jadi aku harus nyusul kesana." Ucap Pras dengan pelan, tapi Rendy masih mendengar hal itu.
__ADS_1
[Iya sayang, Papa pulang ke rumah dulu. Nanti malam, nyusul Alishba kesana. Soalnya Papa nggak bawa baju, jadi harus ambil baju dulu di rumah. 🤗]
"Mama, kata Papa. Nanti malam nyusul. Papa ambil baju dulu."
"Bilang sama Papa. Mama udah bawa bajunya Papa."
[Papa. Mama sudah bawa bajunya Papa. 🥰]
"Istriku memang luar biasa, dia sedang menghindari hukuman malam ini." Lirih Pras dan lagi-lagi Rendy masih bisa mendengarnya.
"Makane bojone ojo digawe jenuh. Mengko bosen."
(Makanya istrinya jangan dibuat jenuh. Nanti bosan.)
"Teros aku kudu piye?"
(Terus aku harus gimana?)
"Dijak dolan-dolan."
(Diajak jalan-jalan.)
"Seminggu wis dolan-dolan teros. Lagi lekasan, engko marai kesel."
(Satu minggu sudah jalan-jalan terus. Baru hamil muda, nanti bikin capek.)
"Gawan bayi, dadi ora kesel."
(Bawaan bayi, jadi tidak capek.)
Pras tersenyum tengil dan dia berkata "Mmh, saiki aku sing kangen terus. Ora ketemu sedelo, wis kangen poll, padahal bar telfonan. Ora ngomong nek arep neng gone Abah."
(Mmh, sekarang aku yang kangen terus. Tidak bertemu sebentar, sudah rindu berat, padahal habis telfon. Tidak bilang kalau mau ke tempat Abah.)
Rendy dengan senyuman meledek Pras dan berkata "Rasakno, dadi uwong ojo kemlinti, peh ganteng dadi tebar pesona. Ojo rumongso kowe lagi neng duwur. Kowe iso ngene iki amargo bojomu. Eling ora kowe, mbiyen kowe piye?!"
(Rasain, jadi orang jangan tengil, sebab ganteng jadi tebar pesona. Jangan merasa kamu baru diatas. Kamu bisa begini ini karena istrimu. Ingat tidak kamu, dulu kamu gimana?!)
"Eling, eling banget. Aku ora neko-neko, gelem nyleweng wis mbiyen-mbiyen. Tapi aku sadar, aku iki sopo. Dadi kelingan ceritane Aldo, karo Pak Yuda, neng ati makjleb, ngenes. Aku bersyukur opo sing ono sak iki.
(Ingat, ingat sekali. Aku tidak aneh-aneh, mau menyeleweng sudah dulu-dulu. Tapi aku sadar, aku ini siapa. Jadi ingat ceritanya Aldo, sama Pak Yuda, di hati makjleb, ngenes. Aku bersyukur apa yang ada sekarang ini.)
Rendy mendengar hal itu juga merasa terluka. Aldo juga teman baik Rendy, dan dia yang mengajaknya datang ke ibukota.
Alishba tersenyum manis, rasanya senang, dan Britney yang menyetir mobil, tampak bahagia melihat ekspresi anaknya.
"Mas Pras, aku menanti kedatanganmu."
Batin Britney yang menggebu-gebu dengan perasaan cinta, yang tidak aneh-aneh dan apa adanya.
Roso Tresno Ora Neko-neko
(Rasa Cinta Tidak Aneh-aneh.)
__ADS_1