
...☘Rasa cinta bila datang menyapa,...
...pasti bahagia saat menyambutnya☘...
Yuk Lanjut! Maaf terlambat. Masih kelanjutan dari bab sebelumnya. Pembaca hebat kalian semua memang luar biasa.
"Sayang, kamu?"
Senyuman wanita yang ada dalam hatinya, selalu membuat dirinya berdebar. Pras berdiri dari kursi dan mendekati istrinya. Ternyata Britney datang ke kantornya.
"Emms, kamu ini. Memang tidak lihat tanda tangan aku?"
"Iya aku lihat, aku pikir Rendy yang ke RM."
Kedua tangannya memegang pinggang istrinya dan tadi sudah mengecup kening istri cantiknya itu.
Pras sangat senang, kalau istrinya datang ke ruang kerjanya. Entah kenapa, dia selalu inginkan hal itu, Pras bukan lagi pemuda yang tengil saat tergoda kecantikan wanita. Tapi tidak tahu kenapa bisa terjadi padanya, ketika istrinya menghampiri dia ke kantor. Rasanya mungkin uwuh, seperti di datangi kekasih.
"Sayang, kamu lagi hamil. Aku nggak mau kamu terlalu capek."
"Mas, aku sehat. Bahkan aku malah suka jalan, jenuh di kantor."
"Biasa Aska yang datang yang ambil berkas kamu."
"Aku kepikiran kamu Mas, tadi pagi kamu yang lesu dan kurang bersemangat." Tangan Britney menyentuh pipi suaminya dan Pras tampak tersenyum manis dengan ketengilannya.
"Ya udah, aku tidak masalah. Aku senang kamu disini." Ucapnya dan tangan kanannya merapikan rambut istrinya. Selalu bergitu, tidak kenal tempat dan waktu.
Terdorong pintu ruangan itu dan Pandu melihat keuwuan yang terjadi di ruangan itu.
"Eheems, eling Mas Mbak. Iki kantor, dudu omahmu."
(Eheems, ingat Mas Mbak. Ini kantor, bukan rumahmu.)
Tangan kiri Pras masih memegang pinggang istrinya dan berkata "Suka suka aku, mau di rumah atau di kantor. Aku harus menyambut istriku."
Britney mulai menunduk dan menjauh, terpaksa tangan nakal itu terlepas dari pinggang istrinya.
"Mas, ini buku PP yang baru." Ucap Pandu dan meletakan map biru di atas meja Pras. Britney hanya menatap Pandu dengan wajah tersenyum.
Sebuah buku profile perusahaan, karena sudah akhir tahun, biasa membuat buku dan katalog perusahaan untuk awal tahun nanti.
"Desainnya bagus." Ucap Pras yang memegang buku itu dan melihat tampilan cover yang cukup menarik matanya. Ada foto dirinya juga yang eksis dan terlihat tampan.
Britney juga memegang katalog baru tentang apa property yang akan di resmikan awal tahun nanti.
"Mas, kamu tampan." Ucap Britney.
Pras yang masih memegang buku itu dan dia menatap istrinya lalu berkata "Aku pasti tampan, suami kamu memang tampan sayang."
"Aku masih disini. Kalian anggap aku apa?"
Britney yang masih tersenyum menatap Pandu lalu berkata "Pandu, kamu juga tampan. Anak Bu'e semua tampan. Aku juga ingin anakku nanti jadi tampan seperti Papanya."
Pras mendekati istrinya dan berkata "Harus lebih tampan dari aku sayang."
Lalu Pras mendekati istrinya dan mengelus pelan perut istrinya, perlahan mengecup perut istrinya dengan rasa cinta. "Sayangnya Papa, kamu harus lebij hebat dari Papa."
Pandu melihat pemandangan itu lalu bertanya "Mas, apa Mbak Britney sedang hamil?"
Pras yang di depan istrinya menoleh ke Pandu, lalu berkata "Iya, Mbakmu hamil dua bulan."
"Wah, selamat Mbak. Aku ikut bahagia." Ucap Pandu dengan semangat, terlihat dari ekspresi wajahnya yang begitu senang.
Suasana ruangan itu jadi berbeda, yang tadinya sepi dan Pras hanya sibuk memandangi foto ugs buah hatinya, perlahan jadi keseruan Pandu dan Pras memeluk istrinya.
"Aku harus berbagi kabar bahagia ini."
"Ssth... Jangan dulu. Rendy tidak tahu."
"Kabar baik apa salahnya dibagikan. Pasti mereka juga akan senang."
"Mas, biarkan saja."
Pras akhirnya menggangguk dengan senyuman manis. Pandu bergegas keluar dari ruangan Pras, dan Pras punya kesempatan mengecup bibir yang dari tadi sudah menggodanya. Bukan Pras kalau tidak nakal dengan tengilnya. Sungguh siang yang tidak ada aturan, bahkan di kantor dia tidak bisa menahan dirinya.
"Mas..." Lirih Britney dengan rasa gelisah.
Pras yang memandangi istrinya sangat tengil, saat Britney memakai sepatu flat, tampak lebih pendek dari suaminya, tapi kalau sudah memakai high heels, mereka sepadan. Tinggi badan mereka itu sudah seperti model papan atas. Apalagi wajah mereka berdua, semakin hari semakin glow up.
"Apa aku salah? Kamu istriku, berapa tahun kita bersama." Tangan kanan Pras memegang dagu Britney.
Britney mulai menunduk malu dan tangannya menepuk dada suaminya.
"Nakal."
"Kalau nggak nakal, mana bisa kamu jatuh cinta sama aku." Pras memluk istrinya dan Britney cukup menikmati pelukannya.
Pintu terbuka tanpa mengetok lebih dulu, dan itu adalah Rendy.
__ADS_1
"Sorry ganggu. Britney suamimu kurang ajar."
Britney yang masih tersenyum, menatap Rendy dan Pras cukup menjauh, lalu pura-pura tidak tahu adapun.
"Memang Mas Pras kenapa?" Tanya Britney.
"Suamimu sudah bohongi aku. Kamu hamil, dia tidak bilang." Jawab Rendy dengan ketus dan perlahan mendekati Pras.
Britney menyangga tangan kanannya yang sudah menutup bibirnya. Pras duduk dan masih saja dia pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Kamu lihat, suami kamu yang menyebalkan?!"
Britney tampak mengangguk dan Pras membuka buku profil perusahaan, duduk manis di sofa dan seolah tidak ada hal serius.
"Britney apa sahabat seperti itu? Kamu sama Kak Ghea apa begitu?" Tanya Rendy.
"Rendy, sahabat itu memang unik. Pembohong kejam itu memang sahabat sendiri Rend, kalau tidak bisa berakting, dia bukan sahabat kamu." Britney yang telah selesai berbicara menatap suaminya, dan Rendy melihat suami istri ini sepertinya sangat kompak dalam hal berbohong.
"Ya sudah, selamat untuk kamu Pras. Britney kamu harus jaga kesahatan dan calon bayi kamu. Aku turut bahagia, aku mau kasih tahu Almeera."
"Iya, Rend... Terima kasih. Salam buat Almeera."
"Matur nuwun Bro.... Kejutan."
"Haiish." Lalu Rendy pergi begitu saja saat Pras berbicara, mengatakan terima kasih kepadanya.
Rendy keluar dari ruangan Pras dan masih menggerutu "Bajindul.... Aseem tenan. Pantes, Pras kaet mau mesam mesem dewe. Aku diapuasi."
(Bajindul.... Aseem bener. Pantas, Pras dari tadi senyam senyum sendiri. Aku dibohongi."
Perlahan Rendy juga tersenyum dan menatap layar ponselnya. Pandu sudah menyebar berita ini dalam grup keluarga Pak Heru. Bu Ningsih yang ada di rumah Pandu, sudah mendapat kabar itu dari Rahma istrinya Pandu.
Bu'e sangat senang. Karena beberapa hari lalu, Bu'e ke rumah Pras dan anak tampannya sempat curhat, menginginkan anak laki-laki. Lalu Bu'e berkata, agar Pras sabar untuk menanti rezeki yang akan dititipkan padanya.
...Di Sebuah Mall Mewah....
"Mas Lingga, suka nonton?!"
Lingga yang masih tidak jelas perasaannya, dia berkata. "Aku tidak suka nonton. Apalagi di Mall."
"Kenapa? Nonton di bioskop seru. Aku suka nonton." Ucap Vava dengan suara yang begitulah.
Lingga menghentikan langkah, lalu berkata "Kalau kamu suka, berarti aku juga harus suka. Ayo kita nonton."
Lingga yang mulai berjalan, tapi Vava menarik tangan Lingga yang dari tadi sudah bergandangan, Vava masih bingung dan tidak mau kalau Lingga hanya terpaksa.
Lingga menoleh dan bertanya "Kenapa? Apa aku salah?"
"Iya Mas Lingga salah. Harusnya kalau Mas Lingga tidak suka, ya udah. Tidak perlu memaksakan diri Mas Lingga."
Lingga bingung dengan sikap Vava, dan berkata "Aku hanya mengikuti apa yang kamu suka dan tidak. Apa salahku? Aku hanya ingin berusaha jadi suami yang baik."
Vava menatap Lingga dan berkata "Tapi aku nggak suka kalau Mas Lingga terlalu menuruti semua perkataanku. Apalagi Mas Lingga hanya terpaksa. Aku nggak suka."
Lingga cukup diam dan menoleh ke kanan juga kekiri, banyak orang yang menatap mereka berdua, Vava terlalu keras berkata dan Lingga merasa tidak nyaman.
"Ya udah, kita pergi dulu dari sini."
Vava yang cemberut dan Lingga juga bingung, apa yang dia baca dari buku yang berjudul suami idaman seperti itu, menuruti kemauan istri, tapi kenapa salah juga. Dia yang telalu mengekang istrinya juga salah.
"Lalu aku harus gimana? Tidak ada yang benar dimana istri sendiri. Apa semua wanita hamil susah untuk didekati? Padahal aku sudah sesuai petunjuk buku itu."
Lingga yang membatin dan tersenyum melihat Vava cemberut. Berjalan dan menuju parkiran mobil. Lingga masih menggandeng tangan Vava.
"Mas Lingga, kamu jangan seperti ini. Aku jadi gelisah."
Tidak lama mereka berdua ada di parkiran mobil, Lingga membuka pintu mobil untuk Vava.
Vava cukup nyaman atas perlakuan Lingga. Mereka berdua menang serasi, tapi keduanya masih belum mengerti perasaan masing-masing.
"Mas Lingga."
"Iya,. Ada apa?"
Lingga mulai menyalakan mesin mobilnya setelah tadi memakai seatbeltnya. Vava cukup melihat ke arah suaminya.
Lingga dengan cepat melajukan mobilnya, mobil sport merah dengan berkecepatan tinggi. Vava menoleh lagi ke arah Lingga yang berwajah kaku.
"Mas Lingga, kita mau kemana?"
"Kita jalan-jalan."
Vava mulai tersenyum dan perasaan perlahan berubah manis. Lingga juga sangat tampan, walaupun terkadang menurut Vava sosok aneh. Tapi Lingga juga perhatian dan bertanggung jawab.
"Mas Lingga, kenapa tidak pulang saja? Vava tahu, Mas Lingga tidak nyaman di tempat umum."
Vava yang mulai memahami, sepertinya sang suami susah untuk menempatkan diri di tempat umum, bahkan tadi waktu di Mall, Vava juga melihat rasanya ada yang aneh dari tatapan Lingga yang belum terbiasa.
__ADS_1
"Bukannya aku tidak suka. Aku memang jarang ke Mall, aku hanya sibuk di rumah dan kantor. Bahkan dari usiaku 17 tahun, aku sudah belajar soal bisnis. Jadi aku tidak banyak kegiatan di luar"
Vava menatap suaminya dengan tersenyum dan berkata "Pantas saja Mas Lingga, sangat hebat dalam perusahaan. Aku juga sudah lihat beberapa penghargaan yang di raih Mas Lingga. Aku juga bangga, punya suami yang pekerja keras."
Lingga menoleh sekilas ke wajah istrinya, melihat Vava yang tersenyum, Lingga mulai tersenyum manis.
"Vava, kamu juga harus melihat kantorku."
Lingga memutar mobilnya dan menuju kantornya, Vava melihat ekspresi wajah yang berbeda dari suaminya.
"Sepertinya Mas Lingga memang hanya suka dengan pekerjaannya."
Lingga bukan tipe orang yang suka gemerlap dunia luar. Dia hanya fokus bekerja dan itu sudah tertanam pada pikirannya, dunia bisnis keluarga Mahatma semakin berkembang pesat atas ide dan kerja keras Lingga.
Walaupun pergi dari rumah Ayahnya, tapi Lingga cukup mandiri, dari usia 17 tahun, Lingga bahkan berpenampilan biasa saja, berbeda dengan Limar dan Langit yang tampak glamour. Lingga suka dunia bisnis, atas ajaran Eyang kakung, dan Ayah hanya memantau saja. Ayahnya juga bisnisman yang hebat, jadi tidak salah kalau Lingga juga sangat menyukai dunia bisnis.
"Ini kantor Mahatma?" Tanya Vava yang masih duduk di dalam mobil sport itu.
Lingga yang melepas seatbelt yang melekat pada tubuh Vava, lalu berkata "Iya, ini kantor Mahatma, aku bekerja disini. Istriku harus tahu ruang kerjaku, kamu juga harus kenalan sama Dito."
"Dito??" Tanya Vava.
"Iya, yang kamu telfon. Asisten pribadiku. Dia juga akan sering ke Mansion." Jawab Lingga dan Vava masih duduk belum beranjak keluar dari mobil itu.
"Ayo keluar, kenapa kamu bengong."
Vava mengangguk dan keluar dari mobil itu setelah ada bodyguard yang membuka pintu mobilnya.
"Ayo kita masuk. Ada Ayah dan Mbak Limar." Ucap Lingga dan Vava hanya diam saat tangan kirinya dipegang oleh suaminya.
Lagi-lagi bergandengan mesra, walaupun baru mulai bersemi diantara keduanya. Beberapa orang yang ada di lobby melihat Lingga yang berkemeja putih dan menggandeng wanita, bahkan jasnya dipakaikan pada istrinya.
"Siapa dia?"
"Aku tidak tahu."
"Apa pacar Pak Lingga?"
"Dengar-dengar barusan waktu di toilet, ada yang bilang, kalau Pak Lingga sudah menikah."
"Kamu serius?"
"Aku hanya mendengar obrolan orang akuntan."
Ketiga wanita yang sexy dan cantik yang bekerja sebagai resepsionis. Kantor yang sangat mewah dan mewah. Lebih besar dan lebih modern dari kantor RM.
Dengan gaya modern di dominan warna gold. Tampak elegan dan glamour. Lantai berbahan marmer dan aksesoris yang ada di lobby itu terlihat sangat berkelas. Bangunan luar terlihat gedung pencakar langit, dan di dalamnya dengan interior modern.
"Mas Lingga, aku nggak enak. Banyak yang lihat ke arah kita."
"Kenapa kamu malu?"
"Bukan begitu, tapi aku nggak enak aja. Ini tempat kerja, bukan tempat jalan-jalan."
"Kamu tidak suka?" Tanya Lingga dan menghetikan langkahnya tepat di depan pintu lift.
"Aku suka, cuma aku nggak nyaman."
Ting!!
Suara pintu lift saat terbuka, dan Lingga manarik tangan Vava. Lift VIP (utama) hanya untuk bos dan para petinggi kantor Mahatma.
"Mas Lingga, ruangannya di lantai 16?" Tanya Vava.
"Iya Vava, makanya kamu harus tahu. Tempat suami kamu bekerja."
Tidak lama pintu lift itu terbuka, dan Vava mulai melihat sebuah ruangan yang mewah dan seperti tempat perpustakaan.
"Mas? Ini ruangan perputakaan."
Begitu kaki Vava melangkah keluar dari lift itu hanya melihat barisan rak-rak buku, kursi dan meja, tampak seperti ruang perpustakan yang sangat besar.
"Ini juga ruanganku. Tapi sebelah sana itu, ruang tempat aku bekerja."
Vava tersenyum, hanya melihat beberapa orang saja tapi mereka fokus dengan bukunya, tidak seperti yang di lobby tadi.
"Ini ruang kerjaku. Gimana menurut kamu?"
Vava melihat ruangan yang cukup unik, hanya ada meja kerja, kursi putar, seperangkat komputer dan LCD, dan hanya sofa. Tidak ada yang istimewa, hanya foto besar yang terpasang, dan itu foto keluarga besar Mahatma. Lalu ada satu yang cukup unik yaitu ada dart board game atau yang dikenal dengan papan lempar jarum.
"Cukup sepi." Vava sambil memegang sisi meja kerja itu dan memandangi sekitarnya lalu bertanya "Lalu sekretaris kamu?"
"Emss... Dia."
Bersambung.....
Maaf terlambat, tadi baru ada urasan dulu. Baru nulis, dan langsung update 🤗😘
__ADS_1
Semoga kalian suka🤗