PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Bukan Cinta Yang Tak Berharga


__ADS_3

Masih berlanjut dari bab sebelumnya ya, para pembaca setia Mas Pras. Ini hanya haluan dari othornya saja.


Suasana siang yang cukup hareudang, Limar yang duduk di kursi belakang dan Aldo mengendarai mobil itu dengan santai. Tidak macet, tapi jalanan cukup ramai di siang hari itu.


"Aldo, ternyata kamu orang Semarang."


Limar dengan suara malu, saat dia lebih dulu mencairkan suasana sepi dalam mobilnya.


"Ems, aku sudah jadi warga Jakarta."


Limar dengan menatap jalanan ibukota dan merasa canggung.


"Aku asli orang Solo. Hanya saja, masa remajaku aku tinggal dengan Pakdeku di Semarang. Bapak kandungku sudah lama meninggal, dan Ibuku menikah lagi. Tapi aku tidak akur dengan Bapak tiriku, terus aku diajak Pakde tinggal dengannya di Semarang, terus jadi tetangga Rendy. Ems, 5 tahun lalu aku diajak Rendy sama Pras ke Jakarta, baru di Jakarta belum lama, aku kepincut Mamanya Allen, lalu kita menikah dan sampai sekarang aku tinggal di Jakarta"


Limar mendengar hal itu, jadi teringat perkataan Pras tadi tentang Aldo, yang cukup pantang menyerah.


"Aldo, sekarang kamu tinggal dimana?"


"Aku di asrama Mahatma."


"Owh, iya...aku lupa."


Di Mahatma Corporation, memang ada tempat khusus untuk para pengawal dan team keamanan perusahaan itu.


"Terus, anak kamu bagaimana?"


"Aku bisa bertemu Allen setiap aku libur kerja. Allen tidak rewelan, dia cukup dekat dengan Neneknya. Namanya Allena Salma."


Allena Salma gadis balita, yang berumur sekitar 3 tahun. Sangat menggemaskan dan sangat mirip dengan Mamanya.


"Allena Salma, nama yang bagus." Ucap Limar dengan senyuman manis, dengan sorot mata yang berbinar, dan hanya melihat ke arah jalanan ibukota.


Aldo yang tampak santai, sebenarnya dia juga malu untuk menceritakan hal yang ada. Sebagai kepala keluarga, dia sudah gagal. Bahkan sang istri pergi begitu saja, dan tidak ingin kembali dengannya.


"Aldo, kalau Mamanya Allen kembali, apa kamu akan kembali dengannya?"


Suara Limar yang terdengar pelan, dan Aldo bingung menjelaskannya. Ini hal yang sangat pribadi, tapi sepertinya Limar bukan orang yang suka bergosip.


"Saya sudah mengajukan perceraian. Entahlah Bos, mungkin cinta saja tidak cukup membahagiakan dia, tapi saya tidak menyesal. Ada Allen yang selalu membuat saya bangkit, dan akan terus berusaha untuk membahagiakan Allen."


Limar cukup mendengarkan hal itu. Bukankah cinta itu sangat berarti. Tapi kenapa cinta saja tidak cukup. Apa cinta itu hal yang biasa saja. Bukannya cinta itu sangat berharga. Itulah yang ada dalam Limar.


"Mmh, aku tidak mengerti apa itu cinta. Tapi aku paham, yang kamu rasakan saat ini. Semoga kamu bahagia dengan anak kamu."


Aldo tersenyum mendengar hal itu, cintanya sudah kandas, dulu saling mencintai, tapi ternyata cinta itu sudah tidak berarti lagi untuk keduanya. Hanya anak yang masih menguatkan perasaan Aldo, tapi ternyata istrinya memang ingin mengakhiri hubungannya. Jadi Aldo juga dengan terpaksa melepaskan cintanya.


"Bos Limar, bolehkan saya menemui Allen sebentar?"


Limar yang tampak melamun tidak menghiraukan Aldo.


"Bos Limar."


"Owh iya, ada apa?"

__ADS_1


Limar merasa salah tingkah, saat melihat senyuman Aldo dari kaca spion mobilnya.


"Bukan apa-apa Bos. Bos kenapa melamun?"


"Emms, tidak. Tadi kamu bilang apa?"


"Kita nanti melewati rumah mertua saya. Bolehkan saya mampir sebentar, saya ingin bertemu Allen."


"Iya, tidak masalah. Saya tidak ada jadwal apapun. Kamu bisa menemui anak kamu."


Aldo melajukan mobil itu dengan cepat dan melewati jalan yang cukup sepi. Bukan jalan raya utama, tapi jalan yang cukup besar. Sudah terlihat beberapa ruko yang berderet sepanjang jalan itu. Banyak sekali perumahan dan cluster yang ada di sisi kanan kiri jalan itu.


"Kamu tinggal di daerah ini?"


Sebuah daerah yang cukup ramai penduduk.


"Iya Bos. Rumah Ibu mertua saya di dalam kampung."


Mobil itu mulai memasuki sebuah jalan, padahal tadinya melewati beberapa perumahan, ternyata masih masuk ke dalam dan cukup jauh dari jalan tadi. Jalan yang sudah beraspal halus, tapi cukup ramai, banyak rumah dan masih banyak pepohonan yang rindang, banyak pedagang dan kios-kios kecil. Kampung yang cukup ramai, sangat alami.


"Bos, mau ikut ke dalam atau mau disini?"


Aldo menghentikan mobil Limar, disebuah lapangan, yang sepertinya khusus untuk tempat parkir mobil. Terlihat ada dua mobil yang terparkir di tempat ini, seperti halan kosong, dan cukup sepi.


"Saya ikut saja."


"Mari Bos."


Aldo melepas seatbeltnya, tapi Limar keluar mobil itu lebih dulu. Tampak melihat anak-anak yang sedang bermain layangan di sisi kanan lapangan itu. Sudah hampir sore, dan tidak sepanas tadi. Tapi anak laki-laki setiap asyik bermain, memang tidak mengenal panas ataupun hujan.


"Ems iya, tidak apa-apa."


Aldo dengan tersenyum mulai berjalan, dan Limar mengikutinya dari belakang.


Suasana yang masih asri dan banyak orang yang melihat ke arah Limar yang berjalan. Aldo tampak biasa saja, dan sudah kenal dengan beberapa orang sekitar rumah mertuanya itu.


"Permisi Mpok." Ucap Aldo, yang menyapa beberapa kerumunan ibu-ibu yang sedang duduk dan tampak mengobrol.


"Bang Aldo, lama nggak ketemu."


"Iya Mpok, tempat kerja saya sekarang lumayan jauh."


Limar yang berjalan di belakang Aldo, tampak tersenyum manis dan menunduk saja.


"Permisi Buk." Ucap Limar dengan suara manis.


"Iya Neng." Jawab salah seorang wanita tua yang sedang dicabutin ubannya.


Aldo dan Limar yang tampak biasa saja, tapi namanya ibu-ibu mengobrol. Ada hal baru terlihat, pasti langsung jadi bahasan topik utama.


"Aldo, bininya kagak pulang. Udah bawa wadon cantik."


"Ya kan, dari pada kesepian. Biarkan saja."

__ADS_1


"Aldo juga kasep pisan, pasti cepat dapat penggantinya. Kasian Mpok Nunik, udah tua, eh...harus ngurusin cucunya sendirian."


"Iya, mentang-mentang bohay. Pergi ngelayap. Suaminya ditinggal."


"Hust, jangan keras-keras ngomongnya. Kalau Mpok Nunik dengar, nanti jadi tersinggung."


"Memang itu faktanya Mpok. Orang sini udah pada tahu, sifat anaknya yang suka ngalayap. Aldo aja yang masih percaya sama bininya, nah sekarang pergi nggak pulang-pulang."


"Katanya Pak RT, Aldo udah ngurus surat pindah, berarti udah pisahan."


"Baguslah, malah biar aja pergi. Kasian kalau lihat Aldo digituin. Andai anakku cewek, bisa aku jadikan mantuku."


"Jangan ngimpi Mpok."


"Siapa yang ngimpi? Tapi anakku cowok semua. Kan aku bilang andai."


Masih banyak obrolan lainnya dan Aldo sudah tiba di rumah mertuanya, ternyata anaknya masih tidur. Sang ibu mertua yang berhijab bergo, membuatkan teh hangat untuk Limar.


"Buk, biar Aldo aja."


"Sudah jadi. Aldo, kenapa kamu ajak Bos kamu kesini? Pasti tetangga akan bergosip lagi."


"Sudahlah Buk, kita juga tidak akan tinggal disini lagi. Aldo sudah cari rumah buat kita."


"Tapi kalau Della pulang bagaimana?"


Aldo memegang kedua pundak ibu mertuanya dan berkata "Ibuk mau ikut Aldo? Atau masih ingin menunggu Della yang jelas-jelas sudah bahagia dengan pilihan hidupnya?!"


Raut wajah yang sudah berkeriput dengan harapan besar untuk anak semata wayangnya, tapi dia tidak kunjung kembali, dan bahkan sudah memilih hidup bersama seseorang.


"Iya, Ibuk akan tinggal denganmu. Ibuk akan mengurus Allen."


Aldo tersenyum dan mengikuti ibu mertuanya yang membawa nampan. Berjalan ke ruang tamu, yang cukup nyaman dengan nuansa cream.


"Bu Limar, ini hanya teh hangat dan pisang goreng. Ini tadi saya goreng sendiri pisangnya."


Limar dengan senyuman manis berkata "Saya jadi merepotkan Bu Nunik."


"Tidak, saya senang Aldo mengajak tamu besar kesini. Biasanya tidak ada siapapun yang datang kemari. Mari silahkan Bu Limar diicipi pisang gorengnya."


"Iya, terima kasih Bu Nunik." Ucap Limar lalu dia mengambil cangkir bening, dan memegang tatakan ditangan kirinya.


Tadi waktu tiba, Limar cukup berkenalan dengan ibu mertua Aldo. Allen sudah bangun dari tidurnya. Aldo tampak menggendongnya.


"Allen sayang, sudah bangun." Ucap Bu Nunik.


Limar tampak menatap Allen dengan rasa yang manis. Allen yang masih mengantuk, tampak mengalungkan kedua tangannya di leher sang Papa.


"Allen masih ngantuk? Ems, ada yang mau kenalan sama Allen. Namanya Tante Limar."


Allen cukup memeluk sang Papa, dan perlahan menoleh ke arah Limar yang duduk di depannya.


"Ayen angen Papa."

__ADS_1


"Papa juga kangen sama Allen."


Aldo mencium gemas pipi anaknya, dan ibu mertuanya tersenyum dengan rasa hati dan perasaan haru. Limar juga tampak melihat pemandangan itu.


__ADS_2