
Lanjutan drama keluarga Mahatma. Semoga tidak masalah ya. Ini hanya haluan othor saja. Terima kasih.
"Limar." Suara Yuda yang terdengar sendu.
Yuda duduk di kursinya dan saat ini Limar berada di ruangan kerja sang Ayah.
Setelah rapat siang selesai, Limar ingin menemui Ayahnya.
Limar hanya berdiri dan kedua tangannya tampak mengepal. Ada perasaan tidak nyaman dari dalam hatinya.
"Apa kamu sudah yakin?" Tanya Yuda yang sangat tahu sifat anaknya. Tidak mungkin sang putri kesayangannya, akan pergi dan bahkan akan mualaf.
"Limar yakin." Jawabnya dan tatapan mata Limar sangat tajam, tidak ada rasa takut dalam dirinya. Dia juga tidak lagi berakting seperti biasanya.
"Ayah tidak bisa merestui kamu." Ucap Yuda yang telah berdiri, lalu membalikan badannya. Yuda juga tidak kuat melihat tatapan Limar saat ini.
"Limar mengerti." Balas Limar yang tidak mau mengalah, bahkan wajah Limar kali ini terlihat sangat serius.
Yuda berkacak pinggang dan menatap bingkai besar yang ada di ruangan itu. Terlihat foto keluarga, tampak harmonis. Yuda menatapnya dan berharap Limar hanya main-main dan berkating seperti biasanya.
"Ayah, tidak akan menikahkan kamu. Apalagi dengan pria sembarangan. Bahkan kamu sudah berani, ingin merubah keyakinanmu." Ucap Yuda yang masih menatap foto keluarganya.
Limar mulai mendongakkan wajahnya ke atas, rasanya akan ada air bening yang terjatuh.
"Kenapa rasanya begitu sulit." Batin Limar yang sendu.
Limar sudah menerima pesan Lingga, dan mengatakan kalau sang Ayah tidak akan menyerahkan Limar kepada Aldo.
"Kamu mau Ayah melepaskan Siska?" Tanya Yuda.
Limar dengan rasa berdesir, rasanya begitu sulit baginya. Kenapa ada kata seperti itu. Apa sang Ayah serius dengan hal ini. Melepaskan Siska adalah keinginan dan harapan Limar.
"Entahlah, Limar tidak tahu." Limar mulai runtuh, pertahanan egonya melunak. Limar begitu dekat dengan sang Ayah. Begitu juga dengan sang Ayah, apapun akan dilakukan untuk sang putri tercinta.
"Ayah akan menceraikan Siska. Tapi kamu jangan menikahi pria itu." Ucapnya dan mulai membalikan badannya. Yuda yang menatap teduh putrinya dan Yuda sangat yakin, Limar pasti akan menerima Ayahnya kembali.
Limar sangat tahu, bagaimana sang Ayah yang begitu mencintainya dan pastinya Limar yang akan menang. Sesuai harapannya, meskipun ada perasaan berbeda. Pilihan yang cukup sulit. Limar meyakinkan dirinya, kalau Aldo sosok hal yang baru, walaupun memang benar, dia sudah menyukai Aldo. Tapi sosok Ayahlah yang selalu ada dalam hatinya.
Limar menjadi gusar, rasanya ada hal yang membuatnya bingung. Bila sang Ayah menceraikan Siska, Limar akan menang dari Siska. Lalu bagaimana dengan Aldo yang berjanji akan menjaga dirinya.
"Ayah?"
Limar sudah membayangkan, pulang dari kantor bersama sang Ayah, lalu makan malam bersama keluarganya yang lengkap dan tampak harmonis.
Yuda melihat senyuman dari bibir manis Limar. Lalu Yuda berkata "Limar, Ayah mencintaimu. Ayah akan melepaskan Siska. Bila itu yang kamu inginkan."
"Ayah janji?"
__ADS_1
Yuda yang tampak berkaca-kaca, lalu dia berkata "Ayah berjanji. Apapun untuk kebahagiaanmu. Tapi tidak untuk kamu yang merubah keyakinanmu dan menikah dengan pria itu."
"Ayah janji, akan selalu bersama Bunda dan kita? Dan tidak akan menikah lagi?"
Yuda mengangguk dan berkata "Ayah janji. Ayah sudah kembali. Tapi kamu malah pergi dari rumah."
Hati dan perasaan Limar mulai melunak, rasanya ingin segera memeluk sang Ayah.
Limar mulai menangis dan berjongkok.
Seperti anak kecil, yang menangis karena kalah dengan temannya.
"Ayah tidak sayang sama Limar." Ucapnya yang sudah menangis tersedu-sedu.
Sekretaris Yuda juga mendengar suara Limar yang menangis kencang. Tidak biasanya Limar menangis di kantor, dan ada staff yang sedang melewati ruangan itu, tampak terheran dengan sikap Limar.
Limar terkenal sosok yang dingin dan profesional bila di kantor. Tapi saat ini menangis seperti anak kecil yang bertengkar dengan teman sebayanya.
Aldo tampak berdehem di depan ruangan itu, saat ada yang lewat ruangan itu. Aldo tidak begitu jelas mendengar percakapan Ayah dan Anak, dia hanya mendengar suara tangisan Limar saat ini.
"Bos Limar sepertinya lupa, kalau dia ada di kantor." Batin Aldo yang sangat tahu sikap Limar saat berada di kantor.
"Ayah waktu itu yang memilih Siska dan pergi dari rumah. Tapi sekarang Ayah bilang akan melepaskan wanita itu." Ucap Limar yang sesenggukan dan dia masih duduk berjongkok, lalu dia menunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Yuda yang merasakan perasaan Limar, jantungnya juga berdebar, dia juga tidak bisa menahan air matanya. Yuda lalu mendekati putrinya dan mengangkat Limar untuk berdiri.
"Ayah sudah kembali."
"Ayah akan pulang ke Jogja, untuk menemani Bunda dan Eyang kamu."
"Ayah sudah melepaskan Siska. Kamu bisa percaya sama Ayah?!"
Yuda mengelus rambut Limar dan dia merasakan ketulusan Ayahnya. Limar menjadi sosok putri kecilnya, dan selalu senang bila sang Ayah memeluknya.
"Emm.. A-ayah janji?"
"Iya, Ayah janji."
"Ayah." Ucap Limar dan memeluk sang Ayah.
Darah tetaplah darah yang mengalir, dan tetap saja Ayah seorang Ayah. Tidak ada kata mantan Ayah. Ataupun bercerai dengan Ayah. Walaupun hati pernah patah dan terluka atas sikap Ayahnya kala itu. Limar hanya seorang Anak. Yang menginginkan Ayahnya kembali, dan menjadi satu keluarga yang utuh.
Aldo sepertinya mendengar suara Limar yang menyebut Ayah, lalu dia berkata "Selamat Bos. Akhirnya Bos yang menang."
Aldo tampak tersenyum, Aldo juga tidak peduli dengan apa perasaannya, yang jelas dia sudah berjanji untuk menjaga Limar, entah menjadi suami atau akan tetap menjadi bodyguard Limar seumur hidupnya.
Limar mulai mengusap air matanya dan tampak tersenyum manis, sang Ayah juga tersenyum dan memandangi Limar.
__ADS_1
"Kita pulang ya. Jangan pergi lagi." Ucap Yuda dan Limar hanya mengangguk dengan sunyuman manis.
"Lalu Siska?!"
"Dia__"
Yuda hendak menceritakan kalau dirinya sudah mengajukan perceraian dan dia juga hendak membuat Siska tinggal di luar kota. Tapi Yuda tampak menerima telfon, sepertinya dari seorang pria.
"Baik, saya akan segera kesana." Ucap Yuda dengan datar. Ada rasa yang aneh, dan perasaannya tidak nyaman.
"Iya, terima kasih."
Yuda menatap Limar dan bertanya "Apa Aldo suami Siska?"
Limar berkata "Ems, iya tadinya begitu Yah. Ada Apa?"
"Apa dia memiliki anak?"
"Emm iya. Apa Ayah tidak tahu?"
Yuda yang tadinya merasa senang, tapi dia mulai berkaca-kaca. Rasanya tidak senang. Ada hal yang membuat hatinya berdesir hebat.
"Siska membawa pergi kedua anaknya dan dia_"
"Maksud Ayah?" Tanya Limar yang sangat penasaran.
Tidak lama Aldo masuk ke ruangan itu.
"Bos Limar, saya harus pergi." Ucap Aldo dan Yuda menatapnya dengan tajam.
Kedua orang yang saling menatap tajam dan Aldo dengan segera keluar dari ruangan itu. Aldo tampak berlari dengan suasana hatinya yang bergemuruh.
"Ada apa?" Batin Limar dan mulai menatap Ayahnya.
"Limar, Ayah pergi dulu. Kamu tunggu Ayah di rumah." Ucap Yuda.
Yuda mengambil jasnya dan pergi dari ruangan itu. Limar yang masih bingung, dia juga mengikuti sang Ayah yang pergi.
"Ayah, Limar ikut."
"Kamu tunggu Ayah di rumah. Ayah akan segera kembali."
Limar tidak tahu apa yang terjadi. Lalu berlari ke depan pintu lift utama, menuju ke ruang kerja Lingga, untuk mencari tahu dari Lingga.
"Lingga pasti tahu." Batinnya.
Limar yang berada di lift menjadi gusar, akankah harapan Ayahnya kembali menjadi kandas, dan Siska yang akan ada disisi Ayahnya.
__ADS_1