PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Suasana Duka Yang Penuh Luka


__ADS_3

...☘Tiada lagi sebuah harapan,...


...yang ada hanya rasa dendam☘...


Sosok yang berdiri bersandar pintu putih. Limar yang rapuh akan hatinya. Saat melihat Siska yang menangis dalam pelukan Yuda Mahatma.


Baru kemarin siang Ayahnya memberikan harapan manis.


Sekarang Limar merasa sudah kalah dan akan merelakan Ayahnya.


"Mas Yuda." Ucap Siska seolah sangat bersedih atas kejadian yang menimpa dirinya.


Limar yang tadi melihat hal itu, rasanya tidak sanggup lagi. Tapi sang Ayah tidak melihat kalau sang putri kesayangannya, yang barusan membuka pintu kamar pasien itu.


Siska yang melihat Limar yang datang, dia merasa senang dan memeluk erat Yuda Mahatma dihadapan Limar.


"Ayah, Limar harus pergi." Batinnya dan bergegas pergi.


Berjalan melewati koridor rumah sakit, dengan penampilan yang sangat elegan, tapi terlihat kusut karena aura sendu yang terpancar pada diri Limar.


Banyak mata yang melihat ke arah Limar saat ini. Nat yang ditugaskan Lingga untuk mengawasi Kakaknya. Tampak merasakan kesedihan Limar.


"Nat, kamu tahu dimana Aldo?"


"Iya, Bos Limar."


"Antar aku kesana."


Limar dengan kedua tangannya tampak mengepal. Rasanya semua ini tidak adil baginya. Seluruh perasaan hatinya mulai terluka lagi. Baru kemarin siang Limar merasakan kasih sayang sang Ayah. Tapi pagi ini, kembali merasakan sakit di hatinya.


Siska baru saja sadar dari masa pingsannya dan Yuda masih menemaninya.


"Mas Yuda, aku mohon... Jangan ceraikan aku Mas. Aku mohon sama kamu. Aku akan patuh dan menuruti semua perkataanmu." Ucap Siska seolah sangat sedih dan rapuh.


Yuda yang tidak tahu harus berbuat apa, lalu dia berkata "Tenangkan dirimu, dan istirahatlah."


"Mas Yuda, bagaimana bayi kita?"


"Siska...." Ucap Yuda, lalu dia pergi.


Seorang dokter dan dua perawat mulai memeriksa kondisi Siska.


Satu jam kemudian.


Limar tiba di tempat Aldo berada. Aldo yang sangat kehilangan putri kecilnya dan dirinya merasa begitu terluka.


Aldo hanya menatap pusara. Bunga mawar yang masih segar dan tanah pemakaman yang masih basah.


Aldo yang tampak diam dengan sorot kesedihan mendalam. Sang Papa yang kehilangan putri kecilnya.


Kemarin Siska kembali ke rumah Ibunya dan mengambil surat percaraian dari Aldo dengan perasaan senang.

__ADS_1


Lalu dia mengajak putri kecilnya pergi ke Taman Safari, bahkan saat Ibunya tidak mengijinkannya, dia nekat membawanya dan berkata ini untuk terakhir kalinya. Dan tidak akan mengusik kehidupan Allen bersama Aldo.


Sebuah tragedi menimpa Allen. Siska mengalami kecelakaan hebat di jalan tol dan mobilnya sampai terbalik, kedua anaknya tidak selamat, hanya Siska dan seorang suster yang selamat atas kecelakaan itu, tapi suster itu juga dalam keadaan kritis.


Kemarin siang Limar yang datang ke ruangan Lingga, untuk menanyakan hal yang terjadi. Kala itu Lingga baru saja mendapatkan kabar dari pengawalnya yang selalu mengawasi gerak gerik Siska, tanpa ada yang tahu. Karena itu atas perintah Lingga.


Lingga seolah tidak tahu apapun, dan mengajak Kakaknya untuk pulang ke rumahnya. Malah Lingga mengatakan kalau Vava sedang tidak enak badan, dan segera ingin pulang. Memang benar, seharian Vava muntah-muntah, akhirnya Limar ikut ke Golden Mansion, dan menjaga Vava, Limar juga mulai lupa apa yang telah terjadi pada Ayahnya dan juga Aldo.


Baru pagi tadi Lingga berkata soal anaknya Aldo yang mengalami kecelakaan bersama Siska, dan Limar segera bergegas ke rumah sakit bersama Nat dan Ruk, sementara Lingga di rumah menjaga istrinya.


Tapi Limar sudah tidak mendapati Allen di rumah sakit itu, malah melihat Siska dan sang Ayah yang saling memeluk erat, sampai membuat hatinya kembali terluka.


"Al-do." Suara Limar dengan sendu, isak tangisnya perlahan pecah.


Aldo masih duduk dan terdiam, Limar mendekati Aldo dan memegang lengan Aldo.


"Al-do."


Aldo yang masih berduka, sorot mata yang penuh luka, dan menoleh ke arah Limar.


"Aldo ayo kita pergi." Ucap Limar yang sedang menangis.


Selama di mobil tadi, Limar hanya diam dan menahan perasaannya. Tapi setelah melihat Aldo, perasaannya meluap, dan air mata yang penuh luka mulai mengalir dengan deras.


Limar yang duduk di sebelah Aldo, masih memegang lengannya dan berkata "Ayo kita pergi, aku tidak mau tinggal di kota ini."


Aldo yang terluka dalam, berkata "Allen sudah tiada."


"Kamu juga sudah berjanji untuk menjaga aku."


Aldo hanya diam dan tidak membalas perkataan Limar.


"Aldo, ayo kita pergi. Aku mohon sama kamu."


"Kemana?" Tanya Aldo. Air mata kesedihan itu mengalir, matanya sangat merah dan sembab.


Semalaman Aldo sudah berjuang untuk anaknya, tapi ternyata anaknya pagi tadi jam 6, telah pergi untuk selamanya.


Satu jam yang lalu, proses pemakaman dilakukan di dekat rumah sang Ibu mertua, bahkan tadi hanya sebentar di rumah Ibu mertuanya, lalu segera di makamkan. Ibu mertuanya juga sangat kehilangan cucunya. Dia juga sangat menyesali, saat melepaskan tangan cucunya, ketika dibawa pergi Siska.


Limar yang sesenggukan berkata "A-ku, i-ngin ka-mu mem-balas den-dam kepada Siska."


Ucapan Limar dengan rasa yang dalam, begitu sakit dan sangat mengiris hatinya.


"Untuk apa aku membalas dendam?!Allen juga tidak akan kembali."


"Untuk aku. Demi aku. Kamu sudah berjanji sama Bunda akan menjaga aku." Ucap Limar dengan suara yang kejam.


Nat dan Ruk melihat mereka dari kejauhan. Nat yang memakai kacamata hitam, tampak melepas kacamatanya dan mengusap air matanya.


Ruk yang memakai setelan jas hitam, menoleh ke arah Nat dan bertanya "Kamu menangis?"

__ADS_1


"Emms, sepertinya aku mengingat masa lalu. Aku juga mendapat perlakuan yang sama. Bahkan anakku sudah dilupakan."


"Jangan kau ingat lagi. Sekarang kamu lebih dari mantanmu."


"Dari mana kamu tahu?"


"Kamu tidak kenal siapa aku?"


Nat mengehela nafasnya dengan pelan. Lalu pergi ke tempat parkiran dan Ruk menyusulnya.


Aldo masih dalam dirinya dan dia mulai mengingat akan janji seorang pria, kepada sosok Ibu yang mencintai putrinya.


"Kamu benar, aku sudah berjanji sama Bundamu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa."


"Ayo kita pergi. Aku ingin kita pergi jauh dari sini. Aku mohon." Tatapan Limar yang sangat penuh harap kepada Aldo.


Aldo dapat melihat sorot mata Limar yang penuh luka, dan ingin membalas dendam.


"Baik."


Aldo kembali menatap makam putri kecilnya dan berkata "Sayang, maafin Papa."


"Papa akan selalu mendo'akan kamu."


"Sekarang kamu, tidak akan merasakan sakit lagi." Ucap Aldo dengan menangis dan dia mengingat semalam anaknya yang berbaring, merasakan sakit yang luar biasa.


"Papa sayang kamu, Allen."


Limar menatap Aldo dengan segenap harapan. Limar yang telah melihat, kalau Aldo sosok Papa yang baik.


Limar memeluk Aldo dan berkata "Allen pasti ingin kamu bahagia."


Aldo tidak tahan dengan perasaannya dan berkata "Allen, Papa akan kembali lagi. Papa sayang kamu."


Aldo yang masih dalam pelukan Limar, berkata "Ayo kita pergi."


Aldo menggenggam tangan kiri Limar, dan mereka mulai pergi meninggalkan makam.


Limar dengan perasaan bergemuruh karena luka, dan hanya dendam yang dia pikirkan. Saat berjalan bersama Aldo, dia mulai memandangi wajah Aldo.


"Aku harap kamu bisa setia sama aku." Batin Limar dan dia mulai yakin akan keputusannya.


Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Pras yang duduk di sofa ruangan kantor sang istri, tampak menerima telfon. Britney yang sudah selesai berbicara dengan Tania, lalu menatap sang suami.


Pras telah menutup panggilannya, wajahnya tampak gusar. Britney melihat ada hal yang membuat wajah suaminya berubah.


"Mas, ada apa?"


"Sayang, aku harus pergi."


"Mas mau pergi kemana? Memangnya, siapa yang telfon Mas?" Tanya Britney dengan penasaran dan mendekati sang suami.

__ADS_1


Pras berjalan mendekati istrinya, lalu memegang pipi Britney, dan berkata "Sayang, barusan itu."


__ADS_2