PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Nyali Untuk Sebuah Keinginan


__ADS_3

Ini kelanjutan dari cerita sebelumnya. Ada Mas Pras yang tengil. Ada sesuatu yang unik, dan begitulah Mas Pras yang tampan penuh pesona. Selalu ada yang menempel pada dirinya.


Pras yang menoleh, wajahnya berubah sumringah. Ada sesuatu yang lama, dan seolah merasa dejavu.


Mungkin karena mereka cukup lama tidak bertemu.


Akhirnya teman lama bertemu kembali. Walaupun hanya beberapa bulan saling mengenal, tapi ada kesan manisnya.


"Dony, loe." Pras dengan terkaget, tapi tampak ekspresi wajah yang senang.


Dony yang dulu cool abis, tampak memakai baju koko dan sarung, Pras dengan segera mendekati Dony.


"Apa kabar? Gue kira, kita kagak bakal ketemu lagi Brother." Ujar Pras yang mendekati Dony dan mereka saling menyapa dengan pelukan ala kaum Adam.


"Kabar gue baik Brother."


"Gue nggak nyangka kita bakal ketemu di sini."


Dony memegang pundak kiri Pras, dan berkata "Sepertinya semakin berbeda."


"Apanya yang beda?" Tanya Pras dan dia juga memegang bahu Dony, lalu Pras lanjut berkata "Malah loe yang udah beda. Udah seperti Pak Ustadz."


"Emm, terserah loe mau bilang apa Pras."


"Beneran! Yang gue lihat bukan Dony, sang barista senja."


"Loe bisa aja."


Dony yang 6 tahun lalu juga seperti menghilang dan tidak ada komunikasi diantara mereka. Pernah sesekali Pras mengubunginya setelah keluar dari Kafe Senja. Tapi semenjak Pras mengganti nomor HPnya dan Dony juga keluar dari Kafe Senja, mereka tidak lagi ada kabar satu sama lainnya. Bahkan Pras sudah menutup akun instagramnya, jadi dia tidak lagi menyapa Dony dan juga teman lainnya.


Pras semenjak menikah, dia juga selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan banyak pekerjaan tambahan di luar kantor.


"Syukurlah, akhirnya gue lihat loe baik-baik saja. Malahan loe semakin terang begini." Ucap Pras yang melihat Dony dengan penampilan rapi, memakai baju koko putih dan sarung kotak-kotak biru. Aura wajah yang cerah dan sangat adem bila dipandang. Sangat jauh berbeda dari Dony yang dulu, saat kerja di kafe senja sembari menyelesaikan kuliahnya.


Rendy melihat ke arah Dony dan berkata "Akhirnya kalian bertemu."


"Kenapa nggak cerita?" Tanya Pras kepada Rendy.


"Aku lihat Dony, juga waktu pengajian kemarin. Dia aja lupa sama aku. Aku juga rada-rada pangling. Cuma waktu pengajian di sebut namanya dia. Jadi ingat, Dony barista kafe senja."


"Rendy, kemarin gue juga ingat-ingat. Sampai gue juga tanya sama Bapak gue. Tadinya, nanti malam gue mau ke rumah loe, mau tanya soal Pras. Eh, nggak tahunya Pras udah disini duluan."


"La ngopo mau ora cerito?!" Tanya Pras yang menatap Rendy.


(La kenapa tadi tidak cerita?!)


"Aku lali Pras." Jawab Rendy dengan santai.


(Aku lupa Pras.)


Pras yang berkacak pinggang dengan senyuman manis dan Dony juga sangat manis senyumannya.


Tadi selesai sholat dzuhur, Dony membaca Al-Qur'an, saat dia hendak ingin melepas sarung dan ke kamarnya. Dony malah melihat ada mobil yang parkir di depan rumahnya. Dari balik kaca rumahnya, Dony melihat sosok yang dia kenal, lalu dia dengan segera menghampiri Pras.


"Jadi loe pemilik rumah ini?"


"Iya, gue baru pindahan. Tadinya gue tinggal di Condet, di rumah mertua. Tapi gue akhirnya balik kesini."


"Bukannya loe orang Depok?"


"Ah... Gue mah orang mana-mana."


"Sialan loe, gue tanya serius juga."

__ADS_1


Dony tersenyum malah menggoda dan bertanya "Gimana kabar Vava sang Adik ipar?"


Pras yang mengingat itu dan berkata "Vava? Dia baik, dia juga udah nikah."


Dony yang sangat tahu gimana Pras dulu menjauh dan seolah takdir berkata lain. Terkadang Dony memikirkan Vava dan merasa kasihan padanya.


"Jadi, loe pemilik pohon jambu itu?"


Dony menoleh ke arah pohon jambu dan berkata "Iya. Kenapa? Loe mau buah jambu? Kemarin udah pada diambilin jambunya, itu tinggal dikit."


"Masih banyak gitu."


"Owh, jambu air. Gue kirain yang jamaika."


"Gue lagi ngidam jambu air Brother."


Dony tersenyum dan berkata "Tadinya gue mau tebang itu pohon, tapi kata bini gue biarin aja."


Rendy mendekati pohon itu lebih dulu, dan tadi dia sudah meminta ijin sama Pak RT. Dony adalah anak kedua Pak RT. Lalu Rendy mulai memastikan kalau pohon itu masih bisa dipanjat.


Pras dan Dony mendekati pohon jambu air merah itu, lalu Dony bertanya "Anak loe udah berapa Bro?"


"Udah mau dua." Ucap Pras dengan tengil dan berkata lagi "Makanya ini Britney hamil anak ke dua. Eh, malah gue yang ngidam."


Dony tersenyum dan berkata "Bersyukur Bro, gue aja pengen ngerasain ngidam."


Pras menatap Dony dan bertanya "Memangnya loe?"


"Gue udah 3 tahun merried. Tapi sampai sekarang, gue belum dikasih momongan."


Pras memandangi sosok Dony, lalu berkata "Sabar aja, pasti ada waktu yang tepat. Loe harus ikhlas dulu, ujian rumah tangga memang selalu ada. Gue juga begitu, banyak hal yang gue lalui."


"Iya." Dony dengan tersenyum, lalu berkata "Ya udah loe ambil aja. Apa mau gue ambilin galah?"


Dony tersenyum dan berkata "Ati-ati Pras, itu pohon banyak ulet bulunya."


Pras yang melepas sepatunya, hanya tersenyum dan memandangi pohon itu.


"Jangankan ulet bulu. Uler betina aja, dia juga kagak takut Don." Ujar Rendy yang menggoda.


"Uler betina mah dia mau aja. Dulu aja di Senja___." Balas Dony, yang hendak membual masa lalu Pras.


Pras yang berkacak pinggang menyela, "Huusst... Kalian pada diem dulu."


Pras lalu mengangkat kedua telapak tangannya dan berdo'a. Entah do'a apa yang Pras panjatkan. Tapi dia terlihat khusyuk.


Pras membasuh wajahnya. Lalu dia menggulung celana panjangnya dan mulai memanjat.


Pohon yang begitu rindang, dan suasana rumah Dony juga tampak segar. Meskipun perkampungan itu, berada di kawasan metropolitan, dan tidak jauh dari kantor Pras. Tapi masih begitu asri dan udaranya juga terasa sejuk.


Dony menatap Pras yang memanjat pohon itu. Dengan cepat Rendy mulai mengambil ponselnya, dan membuat rekaman video Pras yang memanjat pohon jambu air.


"Gile... Dia beneran manjat. Padahal ulet bulunya gede-gede itu."


"Demi anaknya, dia rela berjuang Don."


Bukan hanya demi anak, tapi Pras dari pagi memang sudah mual. Dan ingin segera menemukan pohon jambu air.


"Iya, gue malah seneng. Semoga gue lekas menyusul kalian, jadi Bapak."


Rendy menepuk pundak Dony dan berkata "Pasti Don, semangat."


Dony menoleh ke Rendy dan menunduk, dalam hatinya dia berdo'a, agar segera memiliki momongan.

__ADS_1


"Alhamdulillah." Batin Pras, yang akhirnya bisa merasakan kesegaran rasa jambu air yang dia idam-idamkan.


Suara dedauan yang saling bergesekan, sosok Papa muda berdiri dan bersandar batang pohon. Tangan kanannya meraih buah jambu dan menggosoknya ke jas, lalu memakan buah itu begitu saja.


"Awas! Mengko ono uler gremet neng lembemu Pras."


(Awas! Nanti ada ulat berjalan ke bibirmu Pras.)


"Ulere wedi karo aku." Balas Pras.


(Ulatnya takut sama aku.)


Rendy yang ada dibawah pohon itu cukup terkesan. Bahkan dia mendapat jambu dari Pras. Pras yang menjatuhkan tepat di tangan Rendy, yang tampak mengadahkan kedua tangannya.


"Seger Rend."


(Segar Rend.)


"Ojo lali, Britney gawakke jambune."


(Jangan lupa, Britney bawakan jambunya.)


Dony mengambil kantong plastik dan kembali ke bawah pohon jambu air itu. Para pria manis itu, tampak menikmati siang hari mereka di bawah pohon.


"Pras, ambil yang banyak. Itu sekalian ambil yang jamaika. Udah pada tua itu."


Keinginan yang sudah terbayarkan. Pras begitu senang setelah mendapatkan jambu air itu. Pras menikmati di antara batang dan ranting pohon.


Bahkan ada ulet bulu yang sudah menempel di punggungnya, tidak jadi masalah buatnya. Padahal Pras dulu, sangat geli dengan ulat bulu.


"Asseem." Seloroh Rendy dengan wajah terkaget, saat dirinya kejatuhan ulat bulu yang dikibaskan Pras dari atas.


Ada ulat bulu coklat yang menempel di lengan jasnya Pras. Lalu dia kibaskan, malah menjatuhi Rendy yang ada di bawah pohon itu. Dony juga ikut merasa geli.


Beralih ke tempat lain. Ada Limar yang memasang wajah dingin, dan berjalan ke ruangan rapat.


Tadi di lobby perusahaan Mahatma, banyak mata yang menatap sosok Limar.


Limar yang sangat menawan, kali ini sudah berada di perusahaan Mahatma dan tetap mengangkat wajahnya, di depan seluruh orang yang sedang rapat siang ini.


Tadi Lingga membatalkan jadwal rapat pagi, dan mengundurnya setelah selesai makan siang.


Sudah lebih dari jam 1 siang dan Limar baru datang. Tapi rapat juga baru dimulai, belum ada 10 menit.


"Selamat siang semuanya. Maaf saya terlambat."


Rapat kembali dilangsungkan dan Limar dengan segera duduk di kursinya.


"Limar ada denganmu?" Batin Yuda, saar menatap putrinya yang tampak dingin.


Lingga tidak heran dengan sikap dan penampilan sang Kakak.


"Silakan dilanjut." Ucap Limar dan mulai membaca file yang ada di atas meja.


Lingga mengode Dito, memberikan secarik kertas. Lalu menyuruh Dito untuk memberikannya kepada Limar.


"Bos Limar." Bisik Dito dan Limar menerima kertas yang berisi pesan.


Limar yang ada di hadapan Lingga, langsung membaca tulisan itu. Tidak lama tangan kirinya tampak meremas kertas itu. Lalu menatap sang Ayah, yang duduk di kursi kebesarannya.


"Lingga, aku Limar Mahatma." Batin Limar yang sangat tidak suka dengan pesan Lingga itu.


Lingga tersenyum datar, saat melihat ekspresi kesal wajah sang Kakak.

__ADS_1


__ADS_2