
...☘Tiada cinta berakhir tragis,...
...yang ada cinta berawal miris☘...
Satu bulan telah berlalu, suasana berubah rasa, tapi cinta masih terasa.
Pagi buta tapi tidak membutakan mata,
olahraga pagi bersama teman yang ada dan petugas tahanan masih berjaga.
"Aldo, apakah dia akan datang?" Tanya dalam hati Limar dan merenggangkan badannya.
"Serly mengancam aku, kalau tidak melakukan itu. Dia akan membunuh Aldo dan Aldo juga mengatakan kalau tidak melakukannya, dia takut aku dibunuh Serly. Sungguh hal yang lucu."
Limar selesai olahraga di lapangan, dan dia masuk ke kamar mandi.
Limar tersenyum, karena nanti jam 9 Aldo datang mengunjunginya.
"Tapi gara-gara dia, aku yang harus menanggung 9 bulan."
"Sudah jam 9, kamu tidak datang juga." Limar yang selesai mandi dan duduk di ruang tahannya, cukup menantikan Aldo.
Sudah jam 9 pagi. Tetapi tidak ada yang datang.
Sekarang jam 9 lewat 20 menit. Tapi belum ada yang datang mengunjungi dia.
"Limar." Panggil petugas.
Limar yang dibukakan pintu, petugas juga mengatakan kalau ada yang datang mengunjungi Limar.
"Lingga." Ucap Limar yang tadinya sudah berbinar-binar, tetapi berubah sendu.
"Iya aku." Ucap Lingga dengan tersenyum.
"Aku kira_" Keluh Limar dengan rasa tidak senang.
"Mbak Limar kira siapa?? Bunda? Langit?"
Lingga yang mengerti, tapi dia pura-pura tidak mengerti dengan suasana hati Kakaknya.
"Aku kira Aldo." Ucap Limar dan tampak cemberut.
Lingga memandangi Limar dan berkata "Apa yang kamu pikirkan?? Dia bahkan tidak mau tinggal di Jakarta."
"Kamu bertemu dia?" Tanya Limar.
Lingga mengangguk dan sangat senang, dengan perasaan Kakaknya saat ini.
"Iya bertemu, dia ada di Jogja. Mengurus Eyang. Sebagai cucu menantu, sangat rajin. Mengantar cek up ke dokter. Mengantar ke pasar dan cukup menjadi teman."
"Kamu serius??"
"Apa kemarin Bunda tidak cerita??" Tanya Lingga.
Limar menggeleng dan cukup sedih. Kalau Aldo di Jogja. Mana bisa Limar akan menikah dengan Aldo.
__ADS_1
"Tadi kamu bilang cucu menantu, apa maksudnya??"
"Entah, mungkin mau dijodohkan dengan Sekar atau yang lain." Ucap Lingga yang menggoda.
Limar dengan ketus, berucap "Sekar masih muda, dia duda. Mana cocok."
"Tapi Eyang suka sama Aldo yang penurut, sangat berbeda sama Mbak Limar yang keras kepala."
"Apa kamu membandingkan aku??!" Limar yang melototi Adiknya.
Lingga tersenyum dan berkata "Aku tidak membandingkan Mbak Limar dengan Aldo. Tapi memang begitu faktanya."
"Kamu Adikku, tapi malah memuji dia."
"Eyang akan kembali ke rumah. Bunda juga akan di operasi. Langit juga titip salam buat Mbak Limar."
"Iya, Bunda kemarin bilang kalau mau menjalani operasi. Katanya demi aku. Bunda masih ingin melihat anakku lahir."
"Jadi benar, kalau Mbak Limar hamil?"
Limar dengan tersenyum mengangguk, dan berkata "Kata dokter udah 5 minggu, padahal itu bulan lalu."
"Tapi aku senang."
"Iya, hitungan hamil sama perbuatan kalian tidak sama hitungannya."
"Benar, lalu gimana keadaan Vava?"
"Dia sudah mulai melakukan kegiatan, aku tidak akan mengekang dia. Biarkan dia melakukan kesenangannya. Kemarin ke panti asuhan sama Kak Britney."
"Sepertinya begitu, Vava ingin ada teman. Dia juga mulai ikut terapi, aku tidak ingin memaksa dia untuk segera memiliki anak. Mbak Limar tahu sendiri kondisi kandungannya."
"Kamu harus sabar, kamu harus jadi suami yang baik. Kelak Tuhan akan menghadirkan malaikat kecil untuk kalian berdua."
Lingga dalam hatinya mengucap do'a untuk keluarga kecilnya.
"Lalu, apa kalian akan menikah?"
"Entah, dia saja tidak datang."
"Aku sudah mengajukan naik banding, pengacara juga tahu, kalau di pistol itu ada sidik jari Serly. Semoga saja Mbak Limar segera bebas."
"Aku tidak masalah. Hanya saja, aku memikirkan anakku. Tapi kata dokter semua baik-baik saja, aku juga sudah minum vitamin."
"Kalau ngidam sesuatu katakan sama petugas, agar menghubungi aku. Nanti pasti aku usahakan. Demi keponakan aku."
"Emmmh, Om Lingga." Ucap Limar yang menggemaskan seolah anak kecil."
Lingga lalu mengeluarkan amplop coklat, dan berkata "Ini titipan dari Aldo, dia juga akan menunggu Mbak Limar."
Limar menerima surat itu, dan Lingga mulai pergi meninggalkan Limar.
Limar yang kembali dalam ruangan tahanan khusus, lalu membaca tulisan Aldo.
"Dasar, kamu masih saja jadi pengecut. Awas saja kalau bertemu." Ucap Limar dengan air mata bahagia.
__ADS_1
Aldo menulisnya dengan cinta yang ada, dan air mata bahagia untuk Limar. Bahkan kertas itu sudah terdapat tetesan air mata Aldo.
"Kamu...., ini keringat? Apa kamu menangis untuk aku?"
"Dasar bodoh. Kapan kita akan bertemu." Ucap Limar.
Limar senang saat membaca tulisan tentang perasaan Aldo.
"Kamu masih manis, tidak ada yang berubah." Ucap Limar yang mengusap foto Aldo, dengan senyuman khasnya.
Limar dan Aldo menganggap cinta mereka itu buta. Aldo hanyalah sosok biasa saja dan Limar bagaikan tuan putri. Tapi cinta menghampiri keduanya.
"Apa kamu akan terus menunggu aku?" Tanya Limar dalam hatinya dan melihat ke arah lubang angin-angin, cahaya luar yang masuk cukup menerangi ruangan itu.
Limar yang duduk sendirian. Limar yang bergelimang harta dan tahta, tapi saat mengandung buah hatinya di dalam tahanan.
"Anakku, kamu harus kuat." Ucap Limar yang saat ini telah memegang perutnya.
Tidak ada kesalahan yang berakhir bahagia, tapi dia masih berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan itu.
"Aku Limar Mahatma, aku tidak akan menyerah."
Hari berganti hari dan bulan berganti bulan, sudah beberapa bulan dalam tahanan.
Perut Limar semakin membesar, bayi dalam kandungannya sangat aktif, tendangannya begitu terasa.
"Kandungan anda sangat sehat." Ucap seorang dokter wanita kepada Limar.
"Bu dokter apa saya boleh tahu, anak saya laki-laki atau perempuan?"
Dokter dengan tersenyum berkata "Ini foto usg bayi Bu Limar, sepertinya anda akan jadi wanita tunggal di rumah anda."
"Jadi anak saya laki-laki?" Perasaan Limar dengan senang. Tapi dalam hatinya mulai memikirkan sesuatu.
"Bu dokter, apa nantinya saya harus melahirkan disini?" Tanya Limar.
"Bu Limar, saya tidak tahu. Bu Limar berdo'a saja. Kasus Bu Limar bisa menang di pengadilan." Ucap dokter itu.
Limar keluar dari ruangan dokter dan membawa hasil usg buah hatinya. Limar akan kembali, ke tempat dimana dia di tahan.
Rumah sakit kepolisian itu, sarana medis sudah sangat memadai, tenaga medis juga sangat profesional. Tapi Limar ingin berada disisi keluarganya, saat melahirkan anaknya.
"Aku tidak keberatan bila akan dihukum lama. Tapi aku ingin anakku ada disisi Ayahnya." Limar dengan perasaan sedih.
Limar yang sudah berjalan ke arah pintu masuk tahanan, ada sosok yang melihat dari kejauhan.
Aldo tidak berani mendekati Limar, dan itu akan menjadikan Limar menjadi lemah bila bertemu Aldo.
Mereka berhubungan melalui Lingga, yang sering membawakan surat untuk Limar.
Sudah 8 bulan Limar mendekam dalam penjara. Sudah mendekati kelahiran bayi yang ada dalam kandungannya.
"Aku harus kuat. Aku bukan orang yang lemah." Ucap Limar.
Limar sudah berada dalam ruangan tahanan khusus, dan dia masih memandangi hasil usgnya.
__ADS_1
"Kamu harus bersama Ayahmu, sayang."