
...βBukan akhir dari sebuah kisah,...
...tapi ini awal kisah yang baru dimulaiβ...
Dengan tatapan manis dari spion mobil, dan mengatar seorang wanita cantik. Limar yang sudah rapi dengan blazer putih, melirik ke depan dengan tatapan manis.
"Sopirku, memang manis."
"Aku manis?"
"Iya, sangat manis, lebih manis dari gula."
Limar yang sudah keluar dari tahanan, dan sekitar 6 tahun dia dalam penjara.
Lingga akhirnya memenangkan kasus Kakaknya. Sebuah barang bukti yang tersimpan oleh Serly di temukan, sebuah jebakan untuk Limar. Akhirnya Papa Nicholas menerima kenyataan kalau memang mantan istrinya yang bersalah.
Serly terbukti bersalah, tapi dia sudah menjadi gila. Sepertinya, Serly dihantui rasa bersalah terhadap Yuda. Seolah-olah dirinya mendengar suara Yuda dalam hati dan pikirannya.
"Aldo." Ucap Limar, yang memang sudah terbiasa mengucap dengan panggilan itu.
"Iya, ada apa sayang?" Tanya Aldo.
"Ini hari pertamaku kembali ke Mahatma. Aku harap kamu tidak keberatan."
"Istriku memang hebat, bahkan dia seorang Presdir." Balas Aldo dengan senyuman khas di wajah tampannya.
Setelah 6 tahun berlalu, akhirnya mereka menikah. Putra mereka begitu aktif, dan beberapa pengawal sampai lelah saat bermain dengannya.
Bunda Hesti setelah menjali operasi dan masih dalam perawatan. Tapi dia bisa melihat cucu tampannya berlari kesana kemari. Eyang Dewi juga masih sehat walaupun sudah senja, tapi bahagia melihat buyutnya yang sangat lincah. Eyang Dewi biasa memanggilnya Tole, itu sebutan untuk anak laki-laki.
Langit setiap bertemu dengan anaknya Limar juga sangat gemas melihatnya.
Langit telah menikahi di Jerman, bukan dengan Pamela, melainkan dengan gadis bule Jerman blasteran China dan dia menetap di Jerman. Sesekali pulang ke rumah, untuk bertemu saudara dan keponakannya.
Setelah waktu itu, Pamela memang tidak menanggapi Langit. Apalagi setelah tahu. Kalau Langit saudara Vava. Mereka juga berbeda keyakinan. Pamela menikah dengan polisi tampan, pria asal Sragen, Jawa Tengah. Itu juga berkat Pras yang bertemu dengannya saat sholat jum'at di Masjid Agung Semarang.
Waktu itu juga suasana lebaran, saat Pras ngobrol-ngobrol rasanya begitu akrab. Lalu Pras menyuruh pria itu untuk mampir ke rumahnya, akhirnya malah meminang adiknya.
Setelah menikah 2 tahun yang lalu dan penempatan tugas di pindah ke daerah Kebumen, Jawa Tengah. Pamela akhirnya mengikuti suaminya. Bahkan, sekarang tampak berpenampilan syar'i.
Vava juga baru melahirkan, setelah upaya dia mencoba bayi tabung. Kondisi memang memaksanya begitu, apalagi setelah waktu itu di racun Serly. Bayinya baru 3 bulan dan anak perempuan kembar. Lingga sangat bahagia. Entah, mereka akan mencoba untuk progam bayi tabung lagi atau tidak. Yang jelas, Lingga sangat bersyukur atas kasih Tuhan.
Kembali ke Limar Mahatma.
Menuruni mobil, dengan menawan. Memakai high heels merah dan blazer putih. Perpaduan yang berani. Lipstik merah di bibirnya juga tampak merona. Terlihat gaya Limar, yang perfeksionis dan begitu berkelas.
Berjalan di atas karpet merah, dengan tatapan lurus ke depan.
"Selamat pagi Presdir." Ucap para karyawan yang menyambutnya, mereka di sebelah kanan dan kiri pintu masuk Mahatma Corporation.
Terdengar suara kompak, lalu Limar tersenyum manis.
"Selamat pagi."
Limar kembali berjalan dan akan menduduki kursinya. Sungguh posisi tinggi yang dia dapatkan.
Sebelum kepergiannya, Yuda sudah memutuskan dalam wasiatnya, yang menjadi Presdir Mahatma selanjutnya adalah Limar Mahatma.
Lingga juga sangat bahagia, karena itu juga keinginan terakhir Ayahnya.
"Mbak Limar. Selamat datang."
"Aku sudah menunggu lama menunggu."
"Aku sudah menantikan Presdirku untuk bekerja lagi." Ucap Lingga dengan senyuman manis.
Limar yang menatap suasana ruangan itu, sudah tampak berbeda, tidak sama lagi. Hanya saja, sebuah bingkai besar yang berisi foto keluarganya. Masih terpajang di ruangan itu.
"Ayah, Limar akan melanjutkan kerja keras Ayah."
Di tempat lain, suasana yang sangat berbeda.
"Dulu Alishba tidak seperti ini." Ucapnya dengan bingung.
Putri keduanya yang masih TK, tapi dia sedang ngambek. Di tinggal tidak mau, tapi kalau tidak ditinggal, Papanya sudah terlambat bekerja.
"Abyaz mau ikut Papa?"
Abyaz hanya menggeleng, tapi tidak mau di tinggal. Pras yang berlutut satu kaki, lalu menatap Abyaz. Pras sabar menghadapi pola tingkah Abyaz, yang berbeda dengan Alishba.
"Abyaz mau Papa disini?"
Abyaz hanya mengangguk.
"Ya udah, tapi jangan nangis lagi."
__ADS_1
"Abyaz nggak nangis." Suaranya sangat menggemaskan.
Pras tersenyum dan mengelap air mata gadis kecil itu.
"Ya udah, Abyaz ijin sekolah dulu. Terus ikut Papa ke kantor. Soalnya, Papa ada rapat penting. Terus, nanti kita jalan-jalan."
Abyaz menggeleng dan Pras mengambil ponselnya. Untuk menghubungi Pandu, kalau hari ini, tidak bisa ke kantor. Ada yang menginginkan dia tidak bekerja dulu.
"Ya udah, ayo kita masuk kelas. Bu guru udah nungguin Abyaz."
Pras mulai menggandeng Abyaz masuk ke dalam kelasnya. Belajar, menyanyi, menari, dan menggambar.
Pras ikut duduk di sebelah putri cantiknya, dan melihat tulisan Abyaz.
"Papa?"
"Iya, Papa."
Pras memperhatikan apa saja yang ditulis anaknya. Karena Ibu guru hanya meminta murid-muridnya untuk menulis siapa yang paling disukai. Misal, bisa kata Bu Guru, nama teman atau orang tua. Ternyata kata pertama yang di tulis Abyaz adalah Papa.
"Abyaz pintar."
Pras yang tersenyum dan berkata "Iya, Papa mau temani Abyaz terus."
"Papa janji?" Tanya Abyaz.
"Iya Papa janji."
Abyaz berdiri dan merangkulkan tangannya ke leher Papanya, lalu mencium pipi Papanya.
"Papa, punya Abyaz."
"Iya Papa punya Abyaz." Pras gemas.
Abyaz kembali ke tempat dia duduk dan melanjutkan tulisannya.
Pras sangat gemas dan akhirnya tiba waktunya mengumpulkan tugas.
Bu guru memanggil satu persatu dan mereka juga harus bernyanyi.
"Abyaz Ali Wardana."
Abyaz mulai berdiri dan Pras tersenyum menyemangati Abyaz.
Pras dengan gemas memberi tepuk tangan untuk Abyaz.
"Anak Papa hebat!" Ucap dan memberi dua jempol.
Abyaz kembali duduk dan berkata "Papa, boleh kerja."
"Papa boleh kerja?"
"Papa bilang, ada rapat."
Pras yang mingkem dan mengangguk. Lalu berkata "Jadi Papa boleh pergi?"
"Iya, tapi nanti Papa yang jemput Abyaz bukan Mama." Abyaz berkata dengan menggeleng.
"Oke, nanti Papa yang jemput Abyaz, bukan Mama."
Sebuah cerita Papa dan anak. Pras merasakan cinta dan kasih yang begitu berharga untuk keluarga kecilnya.
Beberapa tahun kemudian.
"Papa, ayo buruan. Abyaz bisa terlambat." Ucapnya dengan suaranya yang khas dan terkesan buru-buru.
Pras masih menoleh dan berkata "Kita tunggu Kakak dulu."
"Kak Alishba sama Mama."
"Papa, ayolah... Buruan."
Pras mulai menyetir.
Abyaz menurunkan kaca mobilnya dan tampak menggoda ke Alishba yang melihatnya.
"Papa kenapa berhenti??"
"Kamu ngerjain Papa?"
Alishba yang berlari dan berkata
"Papa gitu, Alishba ditinggal."
"ABYAZ!!"
__ADS_1
Baru kelas 6 SD sudah jahil sama Kakaknya yang SMA. Tapi Alishba paham kalau Adiknya memang ngeselin. Alishba hanya memasang wajah juteknya.
"Papa gitu," Alishba yang masih menyalahkan Papanya dan kembali membuka buku ekonomi. Karena Alishba akan ada ulangan.
"Habisnya Kakak gitu, sarapan malah baca buku. Giliran aku selesai makan. Kakak baru mulai makan." Suara Abyaz yang begitu tengil.
"Kamu ini, kakak ada ulangan. Kamu bikin kesal."
"Kalian mau ke sekolah apa mau ribut? Kalau ribut Papa turunin disini."
Kedua anak perempuan itu akhirnya diam. Tapi Alishba sangat tahu Adiknya memang jahil. Keturunan Pras, jadi sama seperti Pras dan Pandu, yang lebih jahil juga Pras.
"Papa emang dulu rajin kayak Kakak??"
"Papa kayak kamu, malas belajar. Tapi, kalau pekerjaan Papa juga rajin. Nggak ditunda-tunda."
Alishba dan Abyaz duduk di kursi belakang.
Di kursi depan sebelah Pras, ada anak yang tampan. Memakai headseat dan tampak bermain game.
"Al, udah dulu main ponselnya." Ucap Pras yang menoleh ke anaknya, dia masih sibuk bermain ponsel.
"Tangung Pa, lagian nanti ga bisa bawa ponsel ke sekolah."
Pras menggeleng saja. Buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya. Ya begitulah, siapa yang menuruni sifat Papanya, kalau bukan anak-anaknya. Ada yang rajin, ada yang pemalas dan ada yang suka kebebasan.
Cinta, do'a, kerja keras, keinginan dan harapan. Menjadi kunci Pras untuk terus membuat keluarga kecilnya hidup cukup, serba cukup, bersyukur atas sesuatu yang lebih.
Setiap tetes keringat yang keluar dan pastinya akan ada hasil yang baik.
Rezeki, jodoh, bahkan maut sudah ada yang mengatur. Tapi Pras selalu berusaha dan tidak henti memanjatkan do'a. Karena semua yang ada saat ini ada dalam dirinya, semua berkat cinta dan do'a dari keluarganya, terutama do'a dari orang tua, istri dan juga anak-anaknya.
Pras bukan Papa yang hebat dan serba bisa, bahkan ada kalanya dia banyak kesulitan untuk menjadi Papa yang baik.
Sabar adalah kata yang mudah di ucap, tapi sesungguhnya sangat sulit dijalankan.
Ikhlas juga hal yang sama, setiap diri manusia yang memiliki hati dan perasaan terluka, terkadang bisa mengucap ikhlas, tapi itu juga tidak mudah.
Prasetya Wardana, dia tadinya hanya pemuda biasa, dengan segala kekurangan yang ada.
Tapi dia bisa sampai saat ini, atas do'a dan usahanya.
Tidak ada yang instan, semua butuh proses, dan semuanya butuh tenaga dan pikiran. Hal itu juga tidak mudah dilakukan.
Pras yang saat ini masih memimpin kantor RM. cabang, juga banyak kesulitan yang dia lalui. Terkadang klien dan para suplier tidak sama satu dan lainnya. Pras harus berusaha mengenal bagaimana tipe kliennya, dan para pekerjanya juga lain sebagainya. Itu juga sangat berat. Bahkan terkadang kalah tender dan juga membuat dia pusing.
Tapi istrinya selalu mengerti, apalagi mereka ada dalam satu wadah perusahaan. Apapun masalah suaminya dikala bekerja, Britney juga mengerti dan dirinya pasti berusaha membuat suaminya tenang.
Britney dan Pras, terkadang hal romantis bukan hanya obatnya, terkadang mereka juga cekcok.
Tapi Pras dan Britney menganggap itu ada sebuah bumbu penyedap.
Bila suaminya diam, Britney juga akan diam. Waktu menyendiri itu juga hal penting, suasana hati harus di redam. Pasti setelah itu, baru apapun masalah mereka berdua bisa teratasi.
Sama juga dengan Britney. Tapi Britney juga tipe wanita yang mengomel. Bahkan di kantor, dia sangat tegas dengan semua para staff. Pras juga pernah kena tegur. Tapi tidak masalah buatnya, karena ibu wakil direktur juga bisa marah karena kesalahan yang dibuat karyawannya.
Kalau di rumah, bila Britney mengomel, hanya Abyaz yang masih berani membatah Mamanya dan yang lain hanya diam saja, termasuk sang Papa diam tanpa kata.
Bila mau tau kelanjutan keluarga kecil ini, silahkan ke cerita ABYAZ.
Semoga cerita Mas Pras yang begini adanya, diterima pembaca budiman dimanapun anda berada.
Buat kalian yang mau lihat video soal Mas Pras bisa lihat di ig othor @vie_gv05 dan nanti pasti di folback.
Buat yang mau baca kelanjutan cerita keluarga kecil Mas Pras, bisa ke cerita yang baru dengan judul ABYAZ.
Di cerita itu fokus sama keluarga kecil Mas Pras dan kisah cinta ABYAZ. Jadi akan ada beberapa tokoh yang di hilangkan.
Jadi hanya fokus ke Mas Pras dan anaknya.
Untuk yang mau gabung ke gc atau grup MPF (Mas Pras Family) bisa gabung aja Silahkan, disana juga sepi π€.
Pokoknya yang mau tahu soal Mas Pras dan anak-anaknya, nanti akan ada lanjutan kisahnya. π€π€
Ini hanya sebuah cerita ambyar "PANGGIL AKU MAS!"
Othor tunggu di ABYAZ
Terima kasih ππ
END
**Di ABYAZ juga ada keluarga Mahatma. Tapi keluarga besar Mas Pras jadi di pilah, di fokusnya ke keluarga inti saja. Cerita itu, tentang penerus Mahatma dan kisah cinta Abyaz. π₯°π****
__ADS_1