
Lanjut dari bab sebelumnya ya. Semua hanya tulisan saja, dan semoga kalian suka cerita dalam bab ini.
Pras memandangi istrinya dan tangan kanannya masih memegang pipi kanan istrinya, lalu dia berkata "Tadi Pandu yang telfon aku. Aku harus antar Bu'e dan Pamela pulang."
"Bukannya Mas, perginya hari sabtu pagi?" Tanya Britney, yang tahunya kalau sang suami akan berangkat ke Semarang sabtu pagi.
"Mas Candra."
"Dia mengalami kecelakaan. Sekarang baru menjalani operasi pada kakinya. Mas Candra mengalami patah tulang yang cukup serius. Dan dia di rawat di rumah sakit Harapan Sehat yang ada di Jogja."
Britney seketika terkaget, dan menjadi sendu, merasakan hal yang tidak ingin dia rasakan. Britney yang gemetar dan Pras juga merasa gelisah.
Kakak iparnya mengalami kecelakaan, padahal baru pagi tadi, setelah selesai subuh. Putri menelfon dan menanyakan soal kehamilan Britney.
"Ya udah, Mas buruan berangkat ke Jogja."
Baru saja mereka berdua pulang dari nyelawat ke tempat pemakaman Allen. Lalu Pras masih sejenak di kantor sang istri. Tapi ada kabar buruk menimpanya.
Candra yang pagi tadi hendak ke Jogja urusan kerja, tapi motornya tersenggol Bus. Candra yang mengendarai motor ninja tidak seimbang, akhirnya terjatuh dan ada sebuah truk dari lawan arah menabraknya.
Candra sempat tidak sadarkan diri, dengan cepat Candra dilarikan ke rumah sakit, oleh warga yang menolongnya di tempat kejadian kecelakaan.
Polisi juga bergegas cepat, motornya sangat rusak parah.
Helmnya tidak sampai terlepas saat dia terpental dan membentur aspal. Tidak ada cedera dibagian kepala Candra, tetapi kaki kiri Candra terluka.
"Sayang, sementara kamu di Pondok Indah dulu."
Britney mengangguk, dan Pras berkata lagi "Aku akan minta ijin dulu sama Abah dan Bang Evan."
"Ya udah, Mas pergi aja."
"Biar aku saja yang bilang sama Abah dan juga Bang Evan."
Pras sebenarnya tidak ingin jauh dari sang istri. Tapi apa boleh buat, saat ini Pras harus pergi. Bukan hanya untuk mengantar Bu'e dan Pamela, tapi dia juga ingin melihat kondisi Kakak iparnya.
Pras menggandeng Britney dengan rasa yang tidak dimengerti, rasanya enggan untuk berpisah. Perasaannya sangat ingin bersama sang istri. Entah kenapa, saat ini Pras begitu gelisah.
Pras harus pergi dulu, meninggalkan sang istri dan anaknya.
Tangan kanan Britney, sudah dalam genggaman sang suami tercinta.
"Mas, nanti hati-hati."
"Iya sayang." Ucap Pras.
Jarinya menekan tombol lift, Britney masih menemani sang suami. Rasanya begitu gelisah. Britney juga turut merasakan kesedihan keluarganya.
Di dalam lift kantor, Britney tampak dalam dekapan sang suami.
"Gimana keadaan Mas Candra?" Batin Britney.
Pras yang menoleh ke arah istrinya berkata "Kamu jangan banyak pikiran, kasihan bayi kita."
"Iya Mas."
Tidak lama pintu lift terbuka dan mereka berdua keluar dari lift itu, dengan cepat berjalan ke parkiran mobil.
"Mas, gimana dengan Pamela? Dia masih di rumah Vava."
"Pamela sudah ditelfon Pandu. Sopir Lingga akan mengantar langsung ke Bandara."
Pras mengambil tas yang ada di mobil. Pras juga selalu menyiapkan baju ganti di dalam mobilnya. Tapi kali ini hanya ada dua kaos dan jaket. Pras melepas jasnya dan berganti kaos, lalu memakai jaket jeans.
"Sayang, kamu jaga diri kamu dan bayi kita."
"Iya Mas."
"Terus, bilang sama Alishba. Nanti Papanya akan segera pulang."
Britney yang duduk di mobil, hanya mengangguk dan Pras langsung memesan taxi online untuk ke Bandara.
Bu'e akan diantar Pandu. Tadi Pandu sudah dikantor, tapi setelah mendapat kabar dari Bapaknya, dia langsung pulang ke rumah, dan mengabarkan kepada Ibunya.
Tadi Pak Heru juga sempat menghubungi Pras, tapi HPnya Pras sedang tidak aktif. Karena saat Pras nyelawat, Pras mematikan ponselnya.
"Sayangnya Papa. Kamu baik-baik ya. Papa akan segera pulang." Ucap Pras yang sedang mengelus perut istrinya, dan menciumnya dengan rasa sayang.
Pras berganti memeluk istrinya, dan berkata "Sayang, nanti aku pasti telfon kamu."
Memandangi istrinya dan mengelus rambut sang istri.
"Kamu harus rajin minum vitamin dari dokter."
__ADS_1
"Jangan malas minum susu hamilnya." "Demi anak kita."
Pras kembali memeluk sang istri. Kedua insan yang sedang saling memeluk erat di dalam mobil.
Britney yang tampak sedih, lalu Pras memegang kedua pipi istrinya.
"Senyum dong. Aku tidak akan lama."
"Ems, Mas juga jaga diri baik-baik."
"Iya sayang. Pasti."
"Mas,..."
"Iya sayang?" Pras menatap ponselnya.
Pras menoleh ke wajah Britney, dan dengan gemas menciumi istrinya.
Britney tampak tersenyum, lalu dia berkata "Ya udah, Mas buruan berangkat."
"Hemm, taxinya belum datang."
Pras kembali melihat ke arah ponselnya, dan taxinya memang masih berjalan ke arah RM.
"Kamu harus makan."
"Iya, Mas." Jawab Britney.
"Jangan lupa sholat, dan do'akan Mas Candra."
Britney menangguk dan Pras rasanya semakin enggan berpisah.
Melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan, disaat sedang bersedih.
"Pipi kamu bikin gemes."
"Mmmh."
Kedua orang yang dalam kesedihan, tapi Pras memang selalu gemas, setiap dia melihat istrinya yang memasang wajah bulat. Bibirnya manyun, tapi Britney juga mengerti keadaan saat ini.
"Sayang, taxinya udah datang."
Britney mulai keluar dari mobil yang berwarna hitam itu.
"Jangan lupa bilang sama Alishba, kalau aku tidak akan lama."
"Iya Mas."
Britney yang sudah memegang tangan suaminya dan mereka berjalan ke arah taxi yang parkir di depan RM.
"Sayang, aku pergi dulu."
"Iya Mas, hati-hati."
Pras mengecup kening istrinya, dan Britney merasakan hati yang sedih saat perpisahan ini.
"Kenapa dari pagi dapat kabar tidak enak?" Batin Britney yang mulai berkaca-kaca.
Pras dengan tersenyum manis melambaikan tangan kanannya.
Britney membalas senyuman manis sang suami.
"Mas, aku akan merindukanmu."
Britney tampak menghela nafasnya dengan pelan.
"Semoga Mas Candra baik-baik saja. Bagaimana dengan Rangga dan Ajeng?" Batin Britney.
Britney selalu tidak suka mendengar kabar kecelakaan. Bahkan bila ada kecelakaan di dekatnya, dia langsung gemetar. Seolah dia teringat masa kecilnya saat sang Ayah mengalami kecelakaan hebat, sampai merenggut nyawa Ayahnya.
Tadi pagi, saat Pras mendapat kabar dari Rendy soal anaknya Aldo. Pras tadinya tidak ingin mengajak istrinya. Tapi Britney ingin ikut, karena dia juga pernah bertemu Allen, setidaknya Britney ikut mengantarkan Allen, untuk terakhir kalinya.
Britney yang masih menatap taxi itu.
"Mas." Ucapnya, dan bergegas kembali ke kantornya.
Di Golden Mansion.
Pagi tadi jam 7, Pamela sudah dijemput oleh sopirnya Lingga.
Sekitar dua jam Pamela ada di Mansion Lingga. Sekarang dia harus pergi.
"Vava, aku harus pulang." Ucap Pamela dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Iya Pamela. Jangan lupa telfon aku."
"Iya, Vava."
"Salam untuk keluarga ya."
"Iya. Salam juga untuk Tante Vanesa."
"He'em."
Mereka tadi sarapan bersama, tapi Vava masih lemas. Dari kemarin kondisi badannya kurang baik, setiap makan mual-mual dan muntah. Lingga juga masih menemani istrinya.
"Vava, aku pergi dulu."
"He'em, hati-hati. Maaf, aku nggak bisa nganterin kamu."
Pamela mengangguk dan mulai melepas pelukan Vava.
"Mas Lingga, aku sudah siap pergi."
"Dito yang akan mengantar kamu. Aku barusan sudah menghubungi Mas Pras, dia juga baru berangkat."
"Iya Mas Lingga. Terima kasih."
"Hati-hati. Salam untuk keluarga Semarang."
"Iya Mas Lingga."
Lingga mulai memegang tangan Vava dan mereka berdua mengantar Pamela sampai depan rumah.
Dito sudah bersiap, sopir juga sudah di dalam mobil. Pamela dengan senyuman tapi hatinya sangat tidak nyaman, dia juga kaget saat Pandu mengabarinya. Padahal tadi pagi Candra masih chat di grup keluarga, dan mengatakan kalau dia akan ada tugas kerja di Jogja.
Candra juga menanyakan kepada semua adik iparnya, ingin menitip apa. Terutama Pamela ingin dibelikan oleh-oleh apa. Karena Candra akan beberapa hari di Jogja.
Pamela masih melihat ke arah Vava dan Lingga.
"Vava, aku pulang dulu."
"Pamela, kapan-kapan kamu harus main kesini lagi. Aku tunggu."
"Iya."
Dito yang membukakan pintu belakang mobil sedan hitam itu, lalu Pamela mulai duduk di kursi belakang. Dito bergegas cepat ke kursi depan bagian kiri. Lalu dengan segera, sang sopir melajukan mobil itu.
"Sayang, ayo masuk."
Lingga merangkul pinggang Vava dan keduanya saling menatap manis.
"Iya Mas Lingga."
Tidak lama ada yang datang ke Golden Mansion, dengan penampilan yang cool, dan tadi juga berpapasan dengan mobil hitam itu.
"Mas Lingga pergi? Katanya di rumah." Gumam Langit yang melihat mobil Lingga yang biasa untuk bekerja, sudah pergi jauh. Tadi sempat berpapasan di depan pintu gerbang Golden Mansion.
Langit lalu melepas helmnya, dan meletakan di atas motor kesayangannya.
Bibi Rumi hendak menutup pintu depan, tapi ternyata sudah ada pria tampan yang memakai jaket hitam, tampak merapikan rambutnya dan menatap ke arah gerbang.
"Den Langit"
Langit dengan senyuman manisnya.
"Kenapa tidak masuk?"
"Bibi Rumi, gimana kabarnya? Betah tinggal disini?"
Bibi Rumiyati yang pernah tinggal di kediaman Yuda, juga sangat mengenal Langit.
"Baik Den Langit. Bibi betah."
"Mas Lingga pergi kemana?" Tanya Langit yang baru melangkah masuk.
"Tuan Lingga ada di dalam." Jawab Bibi Rumi.
"Itu barusan, siapa yang pergi?"
"Mas Dito sama tamunya Nyonya."
Langit yang mengangguk saja, lalu bergegas mencari Kakaknya.
Langit tetap dengan dirinya sendiri, pulang bukan untuk merasakan kesedihan, tapi untuk mencari kesenangan bersama teman-temannya.
Tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan Ayah dan Bundanya. Walaupun sebenarnya, dia juga merasakan hati yang tidak nyaman, apalagi setiap bertemu dengan sang Ayah.
__ADS_1