
Yuk lanjut lagi dari bab sebelumnya.
Ingat, ini hanya haluan saja. Bila suka angkat jempolnya, jangan hareudang 🤭.
Mobil pajero hitam berplat B, sudah terparkir di halaman Mansion yang mewah, terlihat halaman yang luas dengan pemandangan hijau, berdiri banguan rumah mewah dengan cat putih tulang dan sekat kaca yang bening. Tampak sangat modern, dengan nuasana alami dari sekitar halaman itu.
"Sudah terisi perabot juga. Rendy selalu terdepan." Gumam Pras yang berjalan masuk ke rumah itu dan melihat keseluruhannya.
Interiornya sebagian belum rapi, masih banyak kekurangannya. Tapi sudah cukup nyaman dipandang mata.
"Aku juga mau rumah yang begini." Ucap Pras dengan senyuman tengil khasnya.
Halamannya yang begitu luas, bahkan bisa untuk membuat bangunan lagi. Berbeda dengan mansion yang ditinggali Lingga, yang sudah banyak bangunan yang mengelilingi mansion pribadinya, banyak paviliun untuk para pekerjanya.
"Limar tadi bilang sudah OTW, kenapa belum datang juga?!" Pras menatap layar ponselnya, dan kembali melihat sekeliling mansion itu.
Untuk bangunan masih lebih luas Golden Mansion, dan desainnya sangat berbeda jauh dari mansion ini.
Tidak lama terdengar mobil Limar, yang terparkir di sebelah mobilnya Pras. Pras yang ada di balkon depan, sudah menatap mobilnya Limar.
"Mereka sudah datang."
Pras tahu kalau Aldo yang telah mengendarai mobil Limar.
Pras bergegas ke depan, untuk menemui Limar dan Aldo yang baru saja tiba.
"Aldo, terima kasih." Ucapnya, saat Aldo membuka pintu mobil untuknya.
Aldo tampak tersenyum saja, dan Limar berdiri di samping mobilnya, melihat sekitar halaman depan mansion mewah itu.
"Cozy."
Limar cukup tersenyum manis saat melihat mansion yang masih sepi, dan jauh dari hiruk pikuk kota. Limar ingin suasana yang berbeda, meskipun belum tahu, dirinya akan membeli mansion ini atau tidak.
"Nona Limar, selamat datang."
"Mas Pras bisa saja. Biasa aja kali Mas, kayak siapa aja? Kita ini sudah jadi keluarga."
Pras tersenyum manis dan berkata "Benar, tapi kali ini kamu bagian dari klien RM. Masak aku harus bersikap seperti seperti kakakmu?!"
Limar cukup terhibur dengan cara bicara Pras yang apa adanya, memang benar saat ini dia adalah klien yang ingin melihat mansion dari perusahaan RM.
"Baik, Pak Prasetya Wardana." Ucap Limar, menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Pras.
Mereka saling berjabat tangan, antara penjual yang ingin menawarkan barang dagangannya, dan sosok calon pembeli itu begitu cantik, sangat menawan dan Pras juga menyukai penampilan Limar yang sangat menawan.
"Mari silahkan masuk, nona Limar."
Aldo yang memandangi Pras yang tampak berbeda.
"Ketemu cewek, lali karo koncone." Batin Aldo.
(Bertemu wanita, lupa sama temannya.)
__ADS_1
Pras yang melewati Aldo, berbisik "Aldo, iki bagianku sik."
(Aldo, ini bagianku dulu.)
Pras yang tengil dan cukup menggoda Aldo. Sepertinya Pras cukup tahu, ada sesuatu yang unik antara Limar dan Aldo. Tapi Limar tidak mendengar, apa Pras katakan dengan Aldo barusn, karena dia fokus melihat ke arah mansion itu.
"Asem, Pras wis ketularan Rendy."
(Asam, Pras sudah ketularan Rendy.)
Aldo ternyata sangat mengenal Pras, bahkan dia juga mengenal Rendy. Aldo tampak melihat bangunan baru yang sangat mewah. Karena bagi Aldo, mansion ini memang sangat mewah.
"Ems, sangat bagus. Saya suka."
"Nona Limar, kalau untuk anda yang perfeksionis. Saya lebih cenderung ke Golden Mansion."
Limar menyungging bibir manisnya dan berkata "Tapi nanti harus bertetangga dengan Lingga Mahatma, saya sudah bosan bertemu dengannya. Di kantor setiap hari bertemu. Masak iya, di rumah harus bertetangga dengan dia."
Pras cukup menggaruk alisnya, dan melihat sosok Limar yang begitu adanya.
"Pasti akan menyenangkan bila bertetangga dengan adik sendiri. Apalagi adik ipar anda begitu arogan."
Limar menoleh ke arah Pras dengan tatapan penasaran "Vava arogan? Tapi aku tidak melihatnya."
Pras mendengar hal itu menjadi aneh "Apa Vava sudah berubah?!"
"Iya, mungkin dia sudah dewasa, jadi dia tidak arogan lagi."
Pras berjalan ke arah tangga, dan Limar mengikutnya, Limar jadi bertanya-tanya.
Pras yang berjalan di tangga, menoleh ke arah Limar, lalu bertanya "Ada apa?"
"Mas Pras sangat dekat dengan Vava?"
Pras hanya mengangguk, lalu membalikan badannya dan berkata "Ems, dia adik iparku. Kita memang dekat. Memangnya ada apa?"
"Mms, sepertinya kalian harus berkunjung ke tempat Lingga."
Pras tersenyum dan berkata "Mms iya, pasti nanti aku kesana sama Britney dan Alishba."
Limar mendekati Pras dengan perasaan malu, tapi dia sangat penasaran dengan isi hatinya yang ingin tahu kebenaran.
"Mas Pras bilang kita saudara. Apa Mas Pras mau membantu aku?"
Pras memandangi Limar dengan tanda tanya, lalu berkata "Iya, kita sudah jadi saudara. Aku akan membantu kamu."
"Mas Pras kenal Aldo? Dia yang di depan."
Pras tersenyum, kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya.
"Ems, aku kenal dia. Dia tetangganya Rendy. Dari remaja kita udah kenal."
"Owh, jadi dia tetangganya Mas Rendy. Aku tahunya dia tinggal di Jakarta. Jadi tidak tahu kalau dia orang Semarang."
"Iya, dia memang begitu. Kamu pasti akan lebih tahu, bila sudah kenalan sama dia."
__ADS_1
Limar yang tersenyum, lalu Pras berjalan lagi, dan Limar mengikutinya.
Pras seperti guide room tour. Yang menjelaskan berbagai ruangan dengan fasilitas serba canggih dan modern. Keseluruhan memang kaca, tapi sudah serba canggih. Limar cukup mendengar dan memperhatikan penjelasan dari Pras.
Tiba di balkon, Limar melihat sekeliling halaman dengan nuansa hijau. Tapi dia perlahan terjuju pada sosok yang berdiri di tengah rerumputan yang hijau itu. Cuaca yang cukup menyengat kulit, tapi Aldo menikmati pemandangan yang ada di sekitar mansion mewah itu.
"Pak Prasetya, sepertinya saya tertarik. Saya akan segera membeli mansion ini."
Pras yang ada disebelah kiri Limar tersenyum, dan melihat ekpresi Limar saat menatap sosok lelaki yang ada di halaman belakang mansion ini.
"Baik, saya dengan senang hati akan segera mengurus berkasnya. Untuk interiornya, nanti bisa ketemuan sama Rendy, dia ahlinya."
"Iya, nanti bisa dibahas disini saja."
Tidak lama, Pras dan Limar sudah ada di ruang tamu bawah. Mereka membahas soal dokumen Limar, yang diperlukan untuk pembelian mansion ini.
Ini kali pertama Limar membeli sebuah rumah, dan dari hasil kerja kerasnya.
"Apa ingin segera ditempati?"
Limar mengehela nafasnya, dengan pelan dan menatap sosok yang ada didepannya. "Tidak buru-buru, hanya untuk pribadi saja. Mungkin setelah nanti Bunda dan Eyang sudah tenang, rencananya begitu."
Pras cukup mengerti tentang keluarga Lingga, dari Vanesa yang pernah cerita, dan Lingga juga pernah cerita tentang hubungan dirinya dengan Ayahnya yang cukup renggang.
"Mas Pras pasti juga sudah tahu."
"Iya, tahu. Tapi kalian sudah dewasa. Pasti lebih mengerti situasi Pak Yuda."
"Jangan terlalu membela Ayah saya, dia bukan lagi Ayah yang baik untuk kita."
"Tapi Ayah tetaplah Ayah, tidak ada yang bisa menggantikannya. Kalian juga harus memahaminya, mungkin ada hal lain yang kalian tidak tahu."
Limar menatap Pras dengan teduh, lalu berkata "Mas Pras punya anak perempuan, ya begituhlah aku yang dulu termanjakan. Tapi seiring berjalannya waktu, semua berubah Mas. Semoga Mas Pras tidak menyakiti perasaan istri dan juga anak perempuan Mas Pras. Karena, Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Dulu merasakan dicintai sepenuh hati, terlindungi, dan kasih sayang yang begitu besar. Tapi setelah ada sesorang yang masuk dalam kehidupan Ayah, selain Bunda dan anaknya, semua jadi berubah. Tidak akan sama lagi, itu sangat menyakitkan kita."
Pras memalingkan wajahnya, duduk di sebuah sofa, hatinya merasakan apa yang diceritakan Limar. Pras jadi membayangkan, bila Alishba sampai patah hati terhadap Papanya. Mungkin benar apa yang Limar katakan, waluapun dia sudah dewasa. Ayah yang dia cintai, tapi mematahkan hati dan perasaannya.
"Kamu perempuan yang kuat, pasti suatu saat nanti, kamu bisa menjalani ini semua. Tapi kamu harus tetap mejalin hubungan baik dengan Ayah kamu."
"Iya Mas Pras, sampai sekarang kita juga biasa saja. Tapi tidak seperti dulu lagi."
Limar yang menahan perasaannya, dan Pras juga mengerti hal itu. Aldo yang masuk ke dalam mansion, cukup sepintas mendengar percakapan Pras dan juga Limar.
"Bos Pras, kenapa tidak ada jamuan sama sekali? Minuman apa gitu?"
Aldo yang baru datang tampak menggodanya, dan Limar jadi tersenyum manis.
"Aldo, ini rumah kosong. Kamu cari saja minuman di dapur, entah apa yang Rendy isi, aku juga tidak tahu."
Aldo dengan gayanya, bergegas ke dapur, dan kedua orang itu masih menatap Aldo yang berjalan dengan santai.
"Limar, kamu masih bersyukur atas diri kamu. Aldo lebih tersiksa dari kamu, tapi aku akui, dia sosok yang hebat, dia tidak pantang menyerah."
Mendengar perkataan dari Pras, Limar semakin penasaran dengan sosok Aldo Pratama.
__ADS_1