PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Perasaan Cinta Lingga Untuk Vava


__ADS_3

"Kak Lingga." Ucap Hanny yang sudah membuka pintu pagar rumahnya.


"Hanny, apa Vava disini?"


"Iya Kak. Vava ada di dalam. Mari silahkah masuk Kak."


Dito menatap Hanny dan Lingga mulai masuk ke rumah itu. Rumah dengan nuansa putih, sangat terlihat kesan modern.


"Mari Kak duduk dulu. Vava, ada di kamar aku." Ucap Hanny, saat meminta Lingga dan Dito untuk duduk di ruang tamu.


Ada seorang bibi membawakan jus jeruk ke kamar Hanny dan Lingga melihat hal itu.


"Bos, apa dia teman Nyonya?" Tanya Dito.


"Iya, Hanny teman SMA Vava. Hanny, Jihan sama Nicholas."


Dito mulai tersenyum manis, lalu menatap ke sekitar ruangan itu.


"Vava, suami loe udah datang." Ucap Hanny.


"Bener kan kata gue. Dia cepat nemuin gue."


"Hebat dong."


Vava masih sibuk bermain game dan bertanya "Apanya yang hebat?"


"Iya hebat. Loe baru aja datang, dia langsung cepat kesini."


Vava menoleh ke arah Hanny "Ya gitu, Mas Lingga selalu ngelacak gue."


Vava langsung mengambil gelas yang berisi jus jeruk yang segar, lalu dia meneguknya.


Hanny berjalan ke ruang tamu, dan Vava masih menikmati permainannya.


Seorang bibi lalu menghampiri mereka di ruang tamu, dan meletakan cangkir keramik dengan teh hangat.


"Kak silahkan diminum dulu. Vava masih main game."


"Game?" Tanya Lingga.


"Iya Kak, dia sepertinya masih ingin di sini. Lagian Vava juga sudah lama nggak main game." Ucap Hanny dengan tersenyum manis.


Dito hanya menatap Hanny dan Lingga menghela nafasnya. Perlahan melihat ke arah pintu kamar Hanny.


"Kak Lingga, nanti Vava biar Hanny yang anterin pulangnya. Biarin dulu dia main sebentar." Ujar Hanny.


"Ems, aku tungguin aja."


Hanny tersenyum dan Dito juga ikut tersenyum manis, saat Lingga berkata ingin menunggu istrinya.


Di kamar Hanny, Vava masih bermain game dan Hanny menghampirinya lagi.


"Vava, suami loe masih nunggu di depan."


Vava memegang perutnya dan berkata "Kamu mirip sama Papa kamu. Sukanya cuma baca buku."


Sepertinya Vava tidak lagi tertarik untuk berlama-lama bermain game. Semenjak hamil, dia lebih tertarik untuk membaca buku, seperti Lingga.


Hanny menatap heran sosok Vava, yang sepertinya berubah kalem dan tampak lebih anggun ketika bicara.


"Hanny, gue balik dulu ya. Kapan-kapan gue kesini lagi."

__ADS_1


"Oke sayang. Tapi habisin dulu jusnya."


"Siap!"


Tidak lama Vava keluar dari kamar Hanny, dan Lingga menatap istrinya dengan wajah yang manis.


"Mas Lingga, ayo pulang."


Lingga mulai bergegas mendekati sang istri, lalu berkata "Bukannya kamu masih ingin main game sama Hanny?"


"Ems, kita pulang aja."


Lingga mengangguk, dan Hanny yang melihat itu jadi tersenyum. Lagi-lagi Dito melihat senyuman Hanny, membuat dirinya ikut tersenyum.


Sepuluh menit kemudian, mereka masih ada di dalam mobil. Nat dan Ruk yang tadi menyusul, akhirnya mengikuti mobil mereka.


"Kamu kenapa?" Tanya Lingga menoleh ke arah Vava.


Vava dari tadi terdiam, tidak banyak bicara.


"Nggak apa-apa."


Ketika perempuan ditanya bilangnya nggak apa-apa. Tapi disisi lain, dalam hatinya dia ada apa-apa.


Setibanya di Golden Mansion. Sudah jam 3 sore. Vava yang berjalan dengan rasa tidak senang, dan meletakan tas di atas meja, lalu berbaring di sofa yang ada di ruang tengah.


Lingga yang melepas sepatu, lalu dia mengendorkan dasinya. Melepas jas yang dia kenakan, dan meletakan di atas sandaran sofa itu. Perlahan Lingga duduk di dekat istrinya.


"Kamu kenapa? Capek?" Tanya Lingga, saat mengelus rambut Vava.


Vava tampak diam sepanjang perjalanan tadi, dan sampai saat ini masih diam. Lingga melepas dasinya, dan melepas kancing kerah tangannya, menggulung kedua lengan kemeja yang dia pakai sampai ke siku.


"Vava..."


Vava masih tampak diam, wajah Lingga benar-benar dekat. Lingga tersenyum manis dan hendak mengecup bibur imut Vava, tapi Vava dengan segera memalingkan wajahnya, ke arah sandaran sofa.


Lingga semakin gemas dibuatnya dan hanya mencium pipi.


"Aku kangen kamu."


Vava masih diam, rasanya enggan untuk berkata apapun.


"Vava, kamu cuekin aku. Bahkan dari pagi aku belum makan apapun. Apa kamu tetap akan cuek sama aku?"


Vava mendengar hal itu, lalu berkata "Kenapa tadi nggak makan bareng Elleanor dan Helga?!"


Lingga tersenyum dan mulai mengerti, kenapa istrinya dari tadi tampak cuek dan menghindarinya.


"Hemms, kamu cemburu?"


"Nggak! Tapi aku nggak suka mereka. Dari dulu dan sampai sekarang. Aku nggak suka!"


"Dari dulu? Kamu kenal sama mereka?"


"Aku nggak kenal, tapi aku nggak suka waktu mereka deketin Bang Pras!"


"Mas Pras? Deketin Mas Pras?!"


Lingga juga sudah tahu kalau Vava pernah menyukai Pras, dan itu sudah masa lalu. Tapi soal ini, Lingga baru tahu.


"Iya, gara-gara mereka Kak Britney jadi berantem sama Bang Pras, lalu Bang Pras akhirnya ganti nomor HP. Helga juga pernah jalan sama Bang Pras, malah Jihan lihat mereka."

__ADS_1


"Mmh? Terus kamu jadi nggak suka sama mereka?"


"Ya bukan itu aja. Aku nggak suka. Aku nggak suka waktu lihat tadi, Mas Lingga di pegang Elleanor, tapi Mas Lingga juga menikmatinya."


Lingga tersenyum manis, dan berkata "Vava, aku suka kamu memperhatikan aku. Tapi mereka berdua hanya rekan kerja. Mereka juga teman Mbak Limar. Aku juga kenal mereka, mereka hanya bercanda."


"Iya... Tapi Mas Lingga menikmatinya."


"Sumpah, demi Tuhan. Aku nggak akan begitu sayang. Aku aja benci Ayah yang mendua. Masak iya aku akan begitu."


Lingga semakin senang, dan Vava masih dengan rasa kesalnya.


"Vava sayang, aku kemana-mana selalu sama Dito. Apa perlu kamu tanya Dito, apa aja yang aku lakukan?!"


"Iya makanya aku juga lihat kiriman video dari Dito. Mas Lingga gitu, bikin aku kesal."


Lingga mendekati wajah Vava, dan mengelus rambut istrinya.


"Aku senang kamu cemburu. Berarti kamu cinta sama aku."


"Vava, aku sudah janji sama diriku sendiri. Aku hanya punya istriku. Apa kamu nggak percaya sama janjiku dihadapan Tuhan?!"


Vava dengan tatapan tajam, jantungnya berdebar, Lingga yang ada di depannya, benar-benar suami yang membuatnya kesal. Tapi Vava mulai sadar, kalau dia memang ada perasaan untuk suaminya.


"Aku percaya Mas Lingga, tapi aku nggak percaya sama perempuan itu. Bisa saja nantinya Mas Lingga akan tergoda."


Vava yang sudah berkaca-kaca, Lingga mengerti dan kali ini Lingga membuat istrinya menangis.


"Aku sayang kamu. Kamu meminta cinta, aku sudah berusaha untuk mencintaimu Vava."


Lingga mendekatkan wajahnya, kedua mata itu sangat teduh. Mereka saling menatap.


"Vava, aku mencintaimu."


Lingga mendaratkan bibirnya ke bibir imut Vava, dan Vava tampak pasrah, kedua tangan Vava meremas bantal sofa yang dia peluk.


Vava yang selalu terluka akan cintanya, dan kali ini dia juga merasakan luka akan perasaannya. Entah apa yang dia rasakan sama seperti halnya patah hati. Tapi Vava merasakan kasih akan cinta dari Lingga.


Kedua bibir yang saling menyentuh basah, dengan segenap perasaan yang ada, tanpa dibuat-buat. Lingga sudah mulai memiliki rasa yang tulus untuk istrinya.


Dito yang memegang tablet, perlahan membalikan badannya, ketika melihat keuwuan yang terjadi pada Bosnya.


"Aku datang di waktu yang salah." Batin Dito, lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan cepat.


Mereka berdua tidak tahu kalau tadi ada yang melihatnya, Vava perlahan mulai luluh. Setelah ciuman manis itu, Vava masih menangis. Lingga tidak henti membujuknya.


"Vava sayang, sudah dong marahnya."


Vava yang sudah berhenti menangis, tapi dia masih cemberut. "Mas Lingga gitu, aku masih kesal."


"Ya udah, kamu boleh kesal. Tapi temani aku makan, aku laper."


"Mmh, Mas Lingga ganti baju dulu. Aku panggilin Bibi."


"He'em," Lingga mengecup kening Vava dengan senyuman bahagia, dan perasaan Vava juga mulai tenang.


Lingga dengan segera pergi untuk berganti baju. Vava lalu menelfon Bibi Rumi agar menyiapkan makanan, untuk sang suami.


Vava yang dulunya terkenal keras kepala, arogan dan sangat manja. Ketika hamil dia berubah manis, sosoknya yang berbeda, tapi hatinya dari dulu sensitif. Sering terluka akan cinta. Tapi Vava tidak pernah menyerah untuk kebahagiaan dirinya sendiri, dan dia percaya Tuhan akan memberikan kasih untuknya. Pasti akan ada cinta yang tulus untuk dirinya.


__ADS_1


__ADS_2