PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Setelah Pernikahan Lingga & Vava


__ADS_3

...☘Terikat dalam janji nan suci,...


...untaian kata penuh harapan☘...


Masih kelanjutan dari Mas Pras dan masalah Vava yang sampai saat ini belum selesai. Lalu ada Lingga yang akan terus mengisi tulisan Panggil Aku Mas! Season 2. Tolong simak baik-baik tulisan ini, tulisan yang masih ambyar seperti sebelumnya, yang tanpa alur dan tidak sesuai aturan novel.


Dua minggu sudah berlalu, dengan perasaan yang masih bercampur aduk, perpisahan yang sangat menyakitkan, kehamilan yang terjadi tanpa ikatan, pernikahan yang dilaksakan dengan paksaan. Dan itu, membuat gadis bermata sipit di rundung hati yang gelisah, dan sangat tidak senang.


"Vava, sekarang kamu sudah menikah." Batin Vava, dengan segenap perasaan yang ada dalam hatinya.


Gadis bermata sipit duduk menatap cermin di meja rias. Dia yang mengenakan gaun putih tampak terlihat cantik. Mahkota permata yang masih tersemat di atas kepalanya. Gaun putih dengan harga fantastis, tidak peduli berapa harganya, tapi Vava memilih itu, saat desiner mengirimkan beberapa gambar gaun yang cantik kepada Vava.


Setiba di Jakarta beberapa hari yang lalu, Vava hanya berdiam diri di dalam kamarnya, di rumah Kakek Restu. Vava tidak melakukan kegiatan di luar, hanya di rumah dan di dalam kamar saja.


Lingga sebagai calon suami, dia yang menyiapkan segala sesuatunya, untuk pernikahan dia dengan Vava.


Pagi tadi jam 10 WIB. Vallezia Varrez dan Lingga Mahatma, telah mengikrarkan janji suci mereka. Gereja yang megah, dan ada di kawasan elit Jakarta Selatan.


Tidak ada acara apapun, hanya keluarga besar Mahatma, dan besar keluarga Restu Mahendra. Mereka semua tampak menyaksikan, serta memberikan do'a restu untuk Vava dan Lingga.


Setelah dari gereja, mereka hanya mengadakan pesta, sebagai perkenalan antara kedua belah pihak keluarga besan. Mereka merayakan pesta, di hotel mewah yang tidak jauh dari gereja itu.


"Tidak masalah, buat apa cinta. Vallezia Varrez tidak butuh cinta Lingga Mahatma." Batinnya yang masih bergejolak, lalu meletakan makhota lux itu ke atas meja riasnya.


Saat ini Vava sudah ada di Golden Mansion, milik Lingga Mahatma. Dua bulan yang lalu, setelah dari Paris, Lingga membeli Mansion dari RM Property yang dikelola Pras.


Suara ketukan pintu kamar, membuat Vava bangkit dari kursinya, dan berjalan ke arah pintu.


"Nyonya, ini jus jeruk yang diminta Tuan Lingga." Ucap seorang asisten rumah tangga, yang usianya sekitar 45 tahun.


"Bibi Rumi, tolong letakan saja di meja itu." Ucap Vava, dengan tangannya menunjuk ke sebuah meja.


Kamar dengan nuansa abu-abu sangat mewah. Sangat luas, tidak hanya tempat tidur, ada tempat santai dengan sofa dan sebuah LCD, ruang ganti dengan beberapa lemari dan juga rak-rak dinding. Serta meja kerja Lingga, juga ada di dalam kamar utama itu.



Kamar mandi dengan bath up, shower dan closet duduk, semua isian kamar itu serba baru dengan gaya modern.


Rumiyati, adalah seorang asisten pilihan. Dia yang bertugas hanya untuk melayani Tuan dan Nyonya besar di Golden Mansion. Dia biasa dipanggil Bibi Rumi, dan Vava sudah berkenalan dengannya, sehari sebelum hari pernikahannya.


"Nyonya, kalau ada yang dibutuhkan lagi. Silahkan telfon saya. Saya dan pembantu lainnya tinggal di paviliun belakang." Ucapnya dengan tersenyum.


"Iya Bibi Rumi. Vava sudah simpan nomor WA Bibi, dan yang lainnya." Ucap Vava, dengan membalas senyuman manis.


Tapi Vava cukup bingung, rumahnya hanya dua lantai, tapi kenapa begitu banyak asisten rumah tangga, dan juga bodyguard.



Lingga yang keluar dari kamar mandi, dan masih mengenakan kimono, Bibi Rumi masih di dalam kamar utama Lingga.


"Tuan Lingga. Maaf, Bibi sudah menganggu."


"Bibi Rumi, tolong siapkan makan malam yang special untuk Vava." Ucap Lingga dengan santai.


Vava mendekati Lingga dan menggelengkan kepalanya "Mas Lingga, aku belum nafsu makan."


Lingga tahu selama di hotel tadi, Vava hanya diam dan tidak menyentuh makanannya.


"Bibi Rumi, bilang sama koki. Buat soup yang enak buat Vava."


"Baik Tuan Lingga." Ucapnya dan berkata lagi "Tuan Nyonya, saya permisi dulu."


Lingga dengan senyuman aneh, mungkin saja dia juga terpaksa. Wajah Lingga sangat kaku. Bila dia tersenyum manis, itu akan membuat Vava jadi tidak nyaman.


"Vava, kamu harus terbiasa. Aku mau ganti baju dulu." Ucap Lingga dan pergi ke ruang ganti.


Vava masih bingung, kenapa bisa dia menikah dengan laki-laki yang begitu banyak aturan.


Selama di rumah ini, Vava harus membiasakan dirinya, memanggilnya dengan sebutan Mas Lingga, dan dirinya tidak boleh ini dan itu. Harus menurut perkataan suaminya.


"Di rumah Kakek saja aku bebas, bahkan di rumah Papa aku juga masih bisa santai. Bahkan aku bisa ke dapur dengan leluasa. Kenapa disini penuh larangan dan aturan." Cebik Vava yang geram.


Berjalan mendekati meja dan meneguk jus jeruk itu dengan cepat. Rasa kesegaran jus jeruk itu tidak berasa apapun di lidah Vava. Yang ada rasa aneh karena amarah dan kekesalannya sendiri.


"Vava, kamu harus belajar jadi Nyonya Lingga Mahatma."


Lingga tersenyum dan sangat misterius. Wajah yang manis, tapi kaku. Sikapnya yang dingin, tapi cukup perhatian.


Lingga tampak mengambil celana dalam dan juga boxer, lalu Vava mendekatinya. Lingga yang tidak tahu kalau istrinya masuk ke ruang gantinya, jadi diam seribu bahasa.


"Mas Lingga tolongin aku." Pinta Vava, dan tangan Vava masih menyentuh resleting gaunnya yang menyangkut.


Lingga yang hanya diam, mulai mendekati Vava, perlahan kedua tangannya memperbaiki resleting itu, dan akhirnya turun sudah resleting sialan itu dengan mudahnya.


"Ada lagi yang bisa aku bantu??" Tanya Lingga.

__ADS_1


Walaupun sangat terdengar datar, bagi Vava itu sangat nakal dan tidak berperasaan. Istrinya saat ini masih menganggap, kalau Lingga suami yang tidak berperasaan.


"Mas Lingga, tolong siapin air hangat untuk aku mandi." Ucap Vava dan Lingga hanya menyungging bibirnya ke kanan.


"Baiklah, tapi aku belum ganti baju. Kalau aku masih telanjang begini, apa kamu tidak takut sama aku?"


Lingga dengan suara pelan, tapi Vava sangat berdebar. Sepertinya dia salah ruangan, dan sebaiknya lekas pergi dari ruang ganti itu.


Vava yang terpojok dan menatap rak meja di tengah ruangan itu, kedua tangan Lingga cukup menguncinya, bila Vava membalikan badannya, pasti dirinya akan menatap wajah suaminya.


"Mas Lingga, punggungku sudah kedinginan, aku harus segera mandi. Kalau tidak, anakmu bisa masuk angin." Ucap Vava yang terdengar santai.


Perlahan Lingga melepaskan tangannya, dari sisi meja besar itu. Meja besar dan di dalamnya ada rak-rak yang berisi aksesoris Lingga Mahatma, dari jam tangan, jepit dasi, bross, dan juga aksesoris lain.


"Mas Lingga, mejanya nakal. Perutku jadi sakit. Lebih baik, pindahkan meja itu." Cebik Vava, lalu pergi begitu saja.


Lingga perlahan mengusap mejanya dan berkata "Meja yang pintar. Apa salahnya meja ini? Vava, ternyata kamu begitu polos."


Lingga diam-diam sangat menghanyutkan, tapi dia juga tidak salah. Suami nakal, apa meja yang nakal. Vava masih menggerutu saja, di dalam ruang ganti khusus Vava, dia mengambil bajunya.


"Aku harus berhati-hati. Dia hanya bertampang baik, pasti dia sangat pengalaman menggoda wanita. Huft, tidak jauh beda sama Jo Jo."


Vava yang membawa bajunya ke kamar mandi, dan melihat kamar mandinya yang mewah dengan gaya modern.


"OMG. Kenapa pintunya kaca begini?? Gimana aku bisa mandi."


Vava kembali keluar dari kamar mandi mewah itu, ruangan kamar mandi itu memang berbeda dari kamar mandi lama Vava, dan yang ini sudah modern.


Lingga yang keluar dari ruang ganti, menatap Vava yang menggerutu, dan masih mengenakan gaun putihnya. Lingga berjalan mendekati Vava dengan tatapan datarnya.


"Tadi kamu bilang mau mandi? Kenapa tidak jadi mandi?"


Vava dengan kesal menjawabnya "Mas Lingga, itu bukan kamar mandi. Tapi itu ruang terbuka."


Lingga bingung dan bertanya "Apa maksud kamu ruang terbuka?"


"Aku mau kamar mandi seperti di kamarku, yang ada di rumah Kakek. Bukan seperti itu, nggak ada pintunya."


Lingga dengan tersenyum aneh lalu berkata "Vava kamu kuliah di Jerman. Tapi kamu udik."


"Mas Lingga bilang apa? Udik? Apa hubungannya pintu kamar mandi sama udik? Vava, udik? Yang benar saja. Mas Lingga, aku nggak mau mandi, kalau pintunya masih kaca begitu."


Lingga tertawa terbahak-bahak dan sangat gemas. Yang benar saja, Vava yang cukup berkelas, tapi norak ketika berada di rumah barunya.


"Ayo kamu ikut aku. Sini, aku kasih tahu."


"Vava, ayo ikut aku ke kamar mandi." Ucap Lingga, dan Vava yang kesal, mulai beranjak pergi dari tempatnya berdiri.


Lingga memperlihatkan remot putih dan ternyata pintu kamar mandi itu sangat modern, pintu kaca itu bisa diburamkan, dengan cara otomatis dan gambarnya bisa di ubah-ubah, sesuai yang ada dalam pilihan.


Bahkan semua yang ada kamar utama itu, sudah berlaku remot. Vava saja yang tidak mengerti, tapi masih menggerutu dan menyalahkan Lingga.


Vava mulai tersenyum malu, dan menunduk saja.


"Sudah mengerti?" Tanya Lingga yang menggeleng. Vava masih diam, Lingga berkata "Vava kamu benar-baner menakjubkan."


"Apa maksud Mas Lingga?"


"Kamu ini cucu pemilik RM. Ternyata, rumah yang dibuat oleh team RM, kamu bahkan tidak tahu." Desis Lingga yang gemas.


"Memamg tidak tahu, apa yang dibuat Bang Evan dan Bang Pras. Lagian aku tidak pernah ke kantor RM, mana tahu rancangan dan juga desainnya. Aku pikir ya seperti dulu, hanya perumahan mewah, tidak tahunya semua serba canggih begini."


Lingga pergi begitu saja, dan Vava masih saja menggerutu dengan kesal.


Vava mulai berfikir sepertinya diatas langit, masih ada langit yang lebih darinya. Seberapa arogan dan berkelasnya seorang Vava yang dulu, ternyata sekarang dirinya sudah kalah. Lingga Mahatma bukan pria sembarangan, yang bisa dia ajak berperang dengan kata atau bahkan tahta.


"Kak Britney, tolongin Vava."


Batin Vava sangat tidak karuan, terpuruk diatas lantai marmer, dengan gaun yang sudah hampir terbuka.



"Suami yang tidak berperasaan."


Vava dengan kesal dan mengayak rambutnya, rambut yang masih terikat seperti bunga mekar, jadi berantakan. Vava yang masih geram, meremas gaun yang dia kenakan, dan menjerit kencang.


Lingga yang mendengar jeritannya, hanya tersenyum saja. Saat ini suaminya sedang menikmati jus jeruk yang sudah tidak dingin.


Jam 17.15 WIB dan di rumah Pondok Indah, semua keluarga masih berkumpul. Tadi Britney dan keluarga kecilnya, ikut pulang ke rumah kakeknya.


Alishba dan Giel masih bermain saja, setelah mandi sore mereka berdua bermain di halaman luar, tampak bermain sepeda. Di rumah Kakek Restu semua mainan Alishba dan Giel ada, tidak hanya sepeda, bahkan ada arena mini playground yang dibuat khusus untuk cucu buyutnya.


"Kakek senang, melihat cucu Kakek berkumpul."


"Kakek, Britney juga senang melihat Kakek selalu semangat. Vava sebentar lagi juga akan jadi ibu, cucu buyut Kakek akan bertambah lagi." Ucap Britney kepada Kakek Restu.

__ADS_1


Di tempat lain, para Papa muda berkumpul dan sangat senang ketika main playstation. Evan, Pras, Rendy dan juga Aksa. Walaupun sudah Papa, tapi permainan itu sangat menyenangkan.


"Aksa terus yang menang." Ujar Pras.


"Jelas dong, aku Kakak iparmu. Pasti adik ipar yang akan kalah terus." Balas Aksa.


"Kalau tidak ada Kakak iparku disini, sudah pasti aku tidak akan memanggilmu Kakak ipar." Ketus Pras yang tampak kesal, dari tadi sudah kalah terus waktu bermain PS dengan Aksa.


Evan duduk di tengah mereka berdua "Gantian aku lagi, kalian sudah empat ronde."


Rendy yang duduk di atas, menikmati minum soda, lalu berkata "Bang Evan, kalau Pras yang main PS, pasti begitu. Tunggu adzan maghrib, pasti dia baru beranjak pergi."


"Aksa, gantian aku. Aku mau coba lawan Pras." Ucap Evan, dan Aksa mulai bangkit dari tempat dirinya duduk.


Mereka semua ada di kamar Vava. Arena tempat bermain Vava, saat ini menjadi arena bermain para Papa Muda.


Aksa yang bangkit dari tempatnya duduk berkata "Pras sepertinya belum akan bangkit dari tempat duduknya, sebelum dia menang. Coba Bang Evan kalah, pasti dia berdiri."


"Dia pergi kalau sudah adzan maghrib, percaya sama aku."


Evan dengan senang berkata "Kalau Alishba yang memanggilnya, pasti dia pergi."


Evan masih bermain dan Pras tidak peduli dengan apa yang dikatakan para saudara iparnya. Satu babak pertarungan dengan Evan dan Pras menang.


"Lihatkan, Pras menang tapi masih main lagi." Ucap Rendy.


"Ya udah, tunggu adzan maghrib dulu. Tapi kita semua juga sholat. Percuma juga, tetap dia berkuasa."


"Aku berkuasa, karena diantara kalian cuma aku yang tahu kunci pintu ruangan ini." Ucap Pras yang sangat percaya diri. Karena cuma istrinya yang memegang kunci arena bermain Vava.


Bahkan pembantunya hanya masuk ke dalam kamar Vava, setiap Britney datang. Selama kuliah di Jerman, hanya Britney yang dipercaya Vava atas kamarnya. Vanesa saja yang Mama kandungnya, tidak diperbolehkan masuk ke kamarnya.


"Wah, gaya epic keluar. Kenapa tadi mainnya nggak gitu?" Ujar Aksa.


"Aksa kamu sudah tertipu. Pras jago main game." Balas Evan yang masih bermain. "Soalnya dulu aku, Maeva, Vava, sama Pras. Tetap aja Pras juaranya."


Tidak lama pintu terbuka, dan ada gadis cantik berteriak "Papa."


Pras menoleh ke arah suara anaknya, dan Evan berkesempatan memenangkan pertarungannya.


"Papa bermain game?" Tanya Alishba, dan mulai duduk diatas pangkuan Pras.


"Iya, sayang." Jawab Pras, dan masih memegang gamepad merah.


"Papa, Alishba mau bermain juga." Ucapnya dan Pras meletakkan gamepad itu, dan Evan tampak tersenyum, permainan cukup menyenangkan.


"Rendy, teruske." Ucap Pras, dan pergi dengan menggendong Alishba.


"Papa, Alishba juga mau bermain itu."


"Alishba mainnya boneka aja, itu bukan mainan anak perempuan."


"Alishba mau mainan tadi, Papa Alishba mau main PS."


"Siapa yang kasih tahu kamu kalau Papa di kamar itu? Apa Mama yang kasih tahu Alishba?"


Alishba yang dalam gendongan Pras lalu berkata "Bukan Mama, tapi Mammi Maeva. Tadi Alishba nyariin Papa, terus Mammi Maeva bilang, kalau Papa baru main PS di kamar Aunty Vava."


Pras menuruni tangga dan Britney baru naik ke tangga itu. Lalu bertemu di tengah tangga dan berkata "Alishba sayang, Mama cariin Alishba."


Pras lalu bertanya "Memangnya tadi kamu ngapain?? Sampai anak kamu ke lantai dua sendirian."


Britney menghela nafas dan berkata "Mas, tadi aku nganterin Kakek ke kamar. Tadi aku titipin Maeva di ruang tengah. Mereka asyik nonton TV."


Pras menggeleng dan tidak jadi menuruni tangga itu. Pras membawa Alishba ke kamar, dan Britney tahu kalau wajah suaminya sudah berubah geram.



"Papa, mau mandi. Alishba sama Mama dulu." Ucap Pras, dan menurunkan anaknya di atas tempat tidur.


Mereka bertiga sudah ada di kamar lama Britney.


"Mas, aku siapin baju kamu."


"Tidak usah, kamu jagain aja Alishba."


"Iya Mas."


Pras bergegas mengambil bajunya yang ada di koper, dan Britney mulai menyalakan AC dan juga televisi yang ada di dalam kamar itu. Lalu bertanya "Sayang, kamu mau nonton acara apa?"


"Alishba mau nonton Omar dan Hana." Ucapnya, dan Britney mencarikan dari youtube channel.


"Sayang, aku harus mengerjaimu." Desis Pras, dan mulai berendam di dalam bathup.


Bersambung

__ADS_1



Semoga kalian nggak baper 🤗✌😅


__ADS_2