
Masih lanjut dari bab sebelumnya ya. Masih bersama Mas Pras tentunya.
"Hallo." Suara Pras yang biasa saja saat mengangkat panggilan itu.
"Hallo, selamat malam." Suara wanita yang cukup membuat Pras terkejut.
Pras duduk di sofa ruang tamu saat menerima panggilan itu.
Raut wajah seketika berubah, tampak membeku. Hawa dingin mulai menjalar dalam tubuhnya. Suara orang yang baru saja dia obrolkan bersama sang istri, saat berada di kamar.
"Iya, malam." Pras dengan suara biasa, tapi cukup berdebar dan Britney mulai mendekati suaminya.
"Mr. Prasetya Wardana." Ucapnya, dengan suara yang sangat lembut, tapi seolah menekan pikiran Pras.
Tangan kanan Pras seolah mengisyarakatkan kepada Britney, agar segera duduk di sebelahnya.
"Siapa Mas?" Tanya Britney dengan gerakan bibir saja. Pras mengedipkan mata kanannya dan perlahan tangan kanan Pras meraih tangan istrinya, menyatukan jari-jarinya.
"Pastinya, anda sudah mengenal suara saya. Tapi, saya akan memperkenalkan diri saya. Saya Serly Agretta, Mamanya Nicholas."
"Iya Bu Serly. Ada perlu apa anda menelfon saya?"
"Saya tahu, kalau putra saya sudah merepotkan anda."
Pras menatap istrinya dan menggeleng, saat Britney menempelkan kepalanya.
Setelah Britney tahu yang menghubungi Pras adalah Serly. Britney menjadi kepo, Britney ingin tahu, apa saja yang Serly bicarakan kepada suaminya.
"Iya, Bu Serly."
"Mr. Prasetya, saya harap anda tidak terlibat untuk urusan saya. Sebaiknya anda tidak mengingat apa yang putra saya berikan kepada anda. Atau saya akan."
"Atau apa, Bu Serly?"
"Ya, tidak tahu. Putri kecil anda sangat cantik. Britney juga sedang hamil muda. Tapi saya tidak akan bertindak jauh, asalkan ada cukup diam, dan melupakan semua yang Nicholas ceritakan kepada anda."
Pras sangat berdebar, kenapa dengan wanita itu. Apa dia psycho. Kenapa Alishba dan Britney juga disebutkan begitu saja.
"Iya, Bu Serly."
Pras tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas, dari awal Pras juga tidak ingin terlibat masalah ini.
Hanya saja ini menyangkut adik iparnya. Nicholas juga memohon kepada Pras agar membantu dia, untuk mengatakan semuanya kepada Lingga Mahatma.
"Mr. Prasetya, saya tahu anda pasti tidak ingin menyulitkan diri anda. Saya bukan mengancam anda. Tapi, saya hanya mengingatkan anda."
"Iya, Bu Serly. Saya mengerti." Ucapnya dan Britney menjadi gelisah.
Pras semakin erat, saat menggenggam tangannya, Britney mulai mengerti, ada hal yang salah dengan percakapan telfon itu.
"Bagus! Kalau anda mengerti."
Pras hanya mendengarkan saja, dengan rasa berdebar.
"Jangan cemas, saya hanya memberi hadiah kecil kepada Vallezia. Saya tidak akan membunuhnya. Saya harap, anda menjauh. Pasti, anda mencintai istri dan anak anda, jadi jangan pedulikan apa yang tejadi dengan Vallezia."
"Anda sudah paham Mr. Prasetya!"
"Iya Bu Serly, saya paham."
"Selamat malam, salam untuk Britney."
__ADS_1
"Selamat malam."
Pras menutup panggilannya, dan dia langsung menghembuskan nafasnya. Rasanya begitu sesak, aliran darah ke jantung Pras seakan lebih cepat. Suara Serly begitu bagaikan ular berbisa, yang telah menyemburkan bisa kepadanya.
"Mas?" Britney yang gelisah akan raut wajah suaminya.
Pras mengambil tisue yang ada di meja itu. Hawa dingin dalam tubuhnya, sudah berubah panas, bahkan sampai dia berkeringat.
"Apa yang dia katakan Mas?"
Pras langsung memeluk istrinya. Pras masih orang awan, bahkan tidak pernah terlibat sebuah masalah, apalagi sampai keluarganya dilukai.
Baru kali ini, ada orang yang mengancamnya.
Tidak pernah terbayangkan oleh Pras, kalau sampai anak dan istrinya akan dilukai orang.
"Sayang, mulai besok aku yang akan mengantar jemput kamu. Kamu dan Alishba_"
Britney hanya memandangi suaminya dengan tanda tanya.
Pras tidak mengerti harus berkata apa kepada istrinya, Pras berusaha tenang dan berkata lagi, "Sayang, tadi itu hanya_"
Pras sangat susah untuk mengatakannya.
Pras gelisah dan Britney, bertanya "Mamanya Nicholas bilang apa sama kamu Mas?"
"Dia sudah memperingatkan aku. Agar aku tidak ikut campur lagi."
Pras menatap istrinya dengan teduh dan mulai mengecup kening Britney.
"Sayang, aku tidak apa-apa. Kamu jangan banyak pikiran. Tugas kamu adalah menjaga debay yang ada di sini."
"Apa dia mengancam kamu Mas?"
"Emm, dia bilang. Agar aku melupakan hari ini. Itu saja."
Pras lalu bangkit dari sofa.
Yang tadinya dia memikiran Aldo dan mencari tahu keberadaan Aldo, malah mendapat telfon yang membuat dia gelisah.
"Bu Serly." Batin Pras.
Pras yang bergegas ke dapur, dia membuka kulkas dan mengambil minuman kaleng.
"Aku butuh minuman dingin. Otakku sudah berat rasanya." Desisnya dan Britney mengikuti suaminya.
"Apa yang salah dengan otak kamu Mas?"
"Aku lelah mikir sayang."
"Ya udah, Mas istirahat dulu."
"Aku mau ke kamar Alishba."
Beberapa hari di Semarang Pras juga tidak bisa santai. Banyak hal yang dia harus kerjakan. Pulang ingin istirahat sebentar, mumpung masih cuti, tapi ada Nicholas yang datang. Ternyata hal ini, tidak mudah bagi Pras. Dia pikir hanya sekedar memberikan bukti saja. Tidak tahunya sampai mendapat ancaman.
"Aku jadi merasakan situasi Aldo. Aldo masih buat aku cemas. Dimana dia??" Batin Pras lalu dia memeluk Alishba.
Britney yang masih penasaran, dia mengambil ponsel suaminya.
Ternyata, Pras sudah menghapus nomor itu.
__ADS_1
"Mas Pras kenapa dihapus nomornya?! huft."
"Apa aku harus bilang sama Lingga? Kalau Madam Serly menghubungi Mas Pras."
Britney ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Britney juga bingung, dia mondar-mandir sambil memegang ponselnya.
Suaminya sudah mendapat ancaman, ini juga harus dilaporkan ke polisi.
"Lingga nggak angkat telfonku." Ucap Britney dengan pelan.
Lingga yang menemani istrinya tidur, dan sudah dua kali ponselnya bergetar.
Biasanya Dito yang membawa ponsel, tapi karena Dito tidak ikut ke Pondok Indah, Lingga sendiri yang membawa ponselnya.
"Kak Britney, ada apa malam-malam begini menelfon?" Batin Lingga saat melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Hallo Kak Britney." Lingga dengan suara biasa, tapi sedikit serak. Terlalu lelah bekerja dan banyak pikiran. Dia juga tidak enak badan, tapi masalah yang menghampirinya belum selesai.
"Hallo Lingga. Kamu dimana?"
"Aku di Pondok Indah Kak. Ada apa?"
"Lingga, Kak Britney sudah tahu masalah Vava."
"Iya Kak, pasti Mas Pras sudah cerita sama Kak Britney."
"Kakak cuma mau bilang, kamu harus menjaga Vava. Kakak mohon sama kamu, tolong jaga Vava." Suara Britney terdengar sendu, air matanya luruh membasahi pipinya.
"Iya Kak Britney. Lingga akan menjaga Vava. Maafkan Lingga. Lingga lalai menjaga adik Kakak." Suara Lingga yang berubah sendu, dan rasanya begitu sesak.
Bahkan dihadapan semua keluarga Vava, saat pernikahan, Lingga berjanji akan menjaga Vava dalam suka dan duka.
"Lingga, tolong bantu kakak."
"Bantu apa Kak?"
Britney yang masih ragu-ragu, dan diam sejenak, lalu berkata "Lingga, Madam Serly sudah mengancam Mas Pras."
Lingga terkejut akan apa yang dia dengar. Lalu Britney berkata lagi "Baru saja dia telfon. Seperti memperingatkan Mas Pras. Kakak tidak tahu, apa saja yang dia katakan sama Mas Pras. Tapi Kakak cemas. Apalagi mengenai Vava."
Lingga masih mendengarkan Britney dan semakin sesak rasa dadanya.
"Lingga, Kakak mohon sama kamu, tolong jangan biarkan Madam Serly menyakiti Vava. Kakak nggak mau ada hal buruk lagi yang menimpa Vava. Lingga, tolong lalukan sesuatu. Kakak nggak tahu harus gimana, Kakak sangat menyayangi Vava. Kakak harap, kamu bisa menjaga Vava."
Britney semakin larut dalam kesedihan, dan dia berkata "Bahkan dia sudah memperingatkan Mas Pras, lalu apalagi yang akan terjadi sama Vava.
"Iya Kak Britney. Lingga mengerti. Kakak tidak perlu cemas. Lingga janji akan segera meredam masalah ini."
Tidak lama obrolan mereka, Pras sudah masuk ke kamarnya dan melihat Britney yang sudah menangis.
Pras mengambil ponsel istrinya, dan melihat siapa yang bicara dengan istrinya.
"Lingga," Suara Pras dengan tenang.
"Iya, Mas Pras.
"Sudah malam. Kamu harus istirahat. Besok aku telfon kamu."
Pras lalu mematikan ponsel Britney.
Pras menatap istrinya, Britney yang masih menangis, dia juga takut dengan tatapan suaminya. Sorot mata Pras begitu dingin, dan Britney mengerti kalau dirinya melakukan kesalahan.
__ADS_1