
Masih berlanjut dengan masalah Limar dan keluarganya. Tolong jangan salah paham tentang isi cerita ini. Harap tidak menjadi perdebatan.
Aldo yang masuk ke kamar Limar dengan rasa tidak percaya. Keadaan memaksanya untuk membawa Limar pergi dari kediaman Yuda Mahatma.
Hesti yang duduk di kursi mulai melukis dengan tangan yang bergetar, hatinya sudah merasa lega. Tapi dia sadar akan kehilangan sang putri tercinta. Dengan segenap hati dan perasaan cinta sang Bunda. Hesti yang sudah ikhlas, bahwa sang putri harus meneruskan hidupnya, dan untuk kebahagiaan putrinya, Hesti berusaha tegar.
"Limar kamu menyukai aku? Kamu cinta sama aku?" Suara Aldo yang terdengar jelas dan tanpa ragu-ragu.
Limar mendengar hal itu, Aldo juga bisa melihat bahwa air mata Limar mengalir dengan lembut, walaupun Limar sudah berusaha merapatkan matanya.
"Aku akan membawa kamu pergi." Ucap Aldo dengan getaran yang ada dalam dadanya dan rasanya sangat sesak. Tapi Aldo sudah berjanji kepada Hesti akan membawa pergi Limar dan akan segera menikahi Limar.
Aldo dengan sorot mata yang teduh, tampak berkaca-kaca. Kedua tangan Aldo mulai menyentuh Limar, tangan kirinya berusaha menyangga leher Limar dan tangan kanannya menyangga siku kakinya. Aldo dengan rasa yang ada dan tidak ragu-ragu mengangkat Limar yang berbaring itu.
Limar yang ada dalam dekapan Aldo, dengan suara terbata dan tangan kirinya menarik jaket Aldo. "Al-do."
"Aku bisa jalan sendiri."
Tangis Limar dengan seseunggukan dan rasanya tidak bisa lagi berkata apapun.
"Tidak perlu, aku tahu kamu tidak akan sanggup berjalan." Balas Aldo dengan suara pelan dan Limar mendengarkan saja, tanpa membalasnya.
Jari-jari tangan Hesti bergetar, tanpa ragu dia masih melukis. Perjalanan baru Limar akan segera dimulai. Dengan rasa cinta dan harapan dari sang Bunda.
"Limar, maafkan Bunda." Batin Hesti dengan air mata yang luruh mengenai pipinya. Tapi Hesti tampak tersenyum manis, seolah sang putri akan menuju kebahagiaan seperti yang dia harapkan.
Aldo menuruni tangga dan Limar masih dalam dekapannya. Tidak ada satupun yang tahu, Eyang masih berada di tempat ibadahnya. Langit masih di mall bersama teman-temannya. Sang Ayah belum kembali ke rumahnya.
"Aldo tolong lepaskan aku." Ucap Limar dengan menatapnya dan Aldo tidak melepaskan Limar.
Aldo dengan tersenyum berkata "Aku tidak akan membuat kamu terluka. Percayalah."
Limar memalingkan wajahnya dan dia tidak mengerti apa yang Aldo ucap barusan. Limar hanya diam, tapi dalam perasaannya terdalam, dia merasakan hatinya yang sakit.
Aldo dengan tersenyum menurunkan Limar, dan membuka pintu depan mobil bagian kiri.
"Duduklah disampingku." Ucap Aldo yang tangannya masih memegang pintu mobil itu.
Seorang pelayan ada yang melihat Limar kembali pergi, tapi tidak biasa disaat bersama sopir, Limar duduk di kursi depan.
Limar yang sudah duduk dan Aldo memasangkan seatbeltnya.
Dengan cepat Aldo bergegas ke kursi kemudi. Aldo yang hendak membuka pintu tampak menghembuskan nafas.
"Bismillahirrahmanirrahim" Batin Aldo. Lalu membuka pintu mobil itu.
Raut wajah yang tersenyum manis dan berkata "Limar, kita akan ke rumahku. Bukan rumah, tapi kontrakan."
Limar hanya diam, dia belum mengerti dengan apa yang terjadi.
Mobil sedan berplat B warna hitam itu, mulai pergi meninggalkan garasi tempat parkiran mobil keluarga Mahatma. Ada dua orang satpam yang membuka pintu gerbang kediaman mewah itu.
"Al-do, apa Bunda mengusirku?" Tanya Limar yang masih bingung.
Aldo menatap Limar dan berkata "Bukan mengusir, tapi Bunda kamu ingin melihat kamu bahagia."
__ADS_1
"Apa maksud kamu?"
Aldo yang menyetir dengan santai lalu bertanya "Apa kamu menyukai aku?"
Limar memalingkan wajahnya dan berkata "Aldo omong kosong apa ini?"
Tangan kiri Aldo mengelus rambut Limar dan berkata "Ya sudah, aku tidak akan bertanya lagi."
Limar yang masih dalam kebingungan dan dia menoleh ke wajah Aldo.
"Apa kamu menyetujui tentang saham itu?" Tanya Limar.
Aldo menoleh ke arah Limar dan berkata "Kamu pasti sudah mendengar. Bunda kamu memang menukar cinta dengan saham. Tapi aku tidak setuju."
"Terus kenapa kamu bawa aku pergi?"
"Sudah tidak formal lagi."
"Apa maksud kamu?"
"Saya berubah jadi aku."
Limar memutup mulutnya dan batinnya berkata "Sial, gue salah ngomong lagi."
"Hemm, kekasih. Tadi teman kamu ada yang bilang, kalau aku kekasih yang akan menjemputmu."
"Helga bilang begitu?!"
Aldo mengangguk dan cukup menggoda Limar.
"Stop dulu. Aku pusing."
Aldo menaikan alisnya dan menuruti Limar, perlahan mengambil sisi kiri dan berhenti di dekat sebuah taman kota.
"Minum?" Tanya Aldo yang mengambil air mineral, botol yang tadi masih ada di dalam mobil.
"Boleh!"
Aldo membuka tutup botolnya dan memberikan kepada Limar. Limar yang meneguknya dengan cepat, dan Aldo juga berusaha untuk tenang. Pikirannya juga masih berat, tapi Aldo sudah janji akan mengajak Limar pergi.
"Kenapa kamu mengajak aku pergi?"
Limar menutup botol minum itu, Aldo tampak menyandarkan kepalanya.
"Aku ingin seseorang yang tulus mencintai aku." Ucap Aldo.
"Emms, seseorang tulus mencintai kamu. Tapi aku bukan orang itu." Balas Limar dengan rasa egonya yang tidak mau mengalah.
"Tidak masalah, tapi Nyonya Hesti sangat tulus memberikan cinta dan kasihnya untukku." Ucap Aldo dengan tersenyum manis.
"Cinta kasih? Apa maksud kamu?" Tanya Limar.
Aldo menatap Limar dan tersenyum "Limar."
"Limar, kamu cinta dan kasih Bunda kamu."
__ADS_1
Aldo menatap jauh ke sebuah pohon dan Limar hanya diam saja.
"Limar, kamu lihat pohon itu?"
"Iya, ini sebelah juga ada pohon."
"Pohon yang begitu rindang. Pohon itu sudah memberikan jutaan manfaatkan bagi manusia. Pohon itu tidak meminta imbalan apapun dari manusia. Begitu juga dengan cinta Bunda kamu, tanpa kamu tahu, dia memberikan banyak cinta untuk kamu dan tidak meminta kamu mengembalikannya."
"Limar, kamu beruntung. Ada sosok Bunda yang memberikan semua yang kamu inginkan, tapi tidak semua orang bisa seberuntung kamu. Termasuk aku."
Limar mulai mengingat, Aldo pernah bercerita tentang masa lalunya.
Limar dengan rasa malu, lalu berkata "Iya, Bunda memang sangat mencintai aku."
"Kamu percaya Tuhan kamu?!"
"Entahlah! Udah lama aku tidak mengenal akan Tuhanku."
Limar sudah lama menutup dirinya dan hanya kesenangan duniawi yang bisa membuatnya memecah masalahnya. Padahal ujian hidupnya, untuk mengukur tingkat kesabarannya, tapi Limar tidak suka dengan keadaan saat ini.
Saat sang Ayah telah menikah lagi, dan jauh dari dirinya serta keluarganya.
"Limar, kamu mau menikah denganku?" Tanya Aldo.
Limar dengan rasa tidak senang dan bertanya "Haruskah aku menikah?!"
"Aku tidak tahu, hanya diri kamu yang bisa menjawabnya."
Ego Limar sangat tinggi, tapi saat ini perasaannya memang rapuh, dia juga manusia biasa, yang membutuhkan tempat untuk dia bersandar.
Limar dahulu pernah terluka akan cinta seorang pria di usianya 22 tahun, dan setelah itu dia tidak lagi menginginkan sebuah cinta. Apalagi semenjak sang Ayah memiliki istri lagi. Yang ada dalam pikiran Limar, semua laki-laki itu sama saja, tidak ada yang bisa setia.
Dadanya sesak, Limar tidak kuat menahan dirinya, isak tangis Limar mulai pecah. Rasanya seakan teriris. Luka yang begitu menyayat, dalam hati dan perasaannya.
"Aldo aku takut. Aku takut." Ucapnya dengan tersengal-sengal. Tidak bisa menahan apa yang ada saat ini. Sosok Limar yang tegar, kini rapuh dihadapan seorang pria biasa.
"Kamu bisa cerita sama aku." Ucap Aldo, dengan tangan kirinya yang mengelus rambut Limar.
"Aldo." Suara Limar dengan tangisnya yang terisak.
Perlahan Aldo mulai memeluk Limar.
Limar mulai meluapkan isi hatinya dan berkata "Aku hanya ingin keluargaku kembali."
Limar seperti anak kecil, yang merengek agar sang Ayah segera pulang, dan memeluknya dengan cinta.
"Bisakah kamu membawa Siska pergi dari kehidupan Ayah." Pinta Limar.
Aldo merasakan betapa sakitnya, hati seorang putri yang mencintai Ayah dan Bundanya. Aldo kini mengerti apa yang Limar lakukan, hanya pelampiasan saja.
"Limar, aku tidak bisa."
"Aldo aku mohon, apapun aku akan berikan. Tolong bawa Siska pergi jauh dari kehidupan Ayahku."
Aldo mengelus rambut Limar dan berkata "Limar, aku tahu yang kamu rasakan. Tapi aku tidak bisa lagi bersama Della."
__ADS_1