
Masih lanjutan dari bab sebelumnya ya. Semoga kalian masih menyukai cerita ini. Yang rindu Mas Pras, kuatkan hati dan perasaan kalian 🤭.
Duduk sendirian di sebuah kafe yang ada di mall mewah. Seorang gadis cantik yang masih berkuliah, dan usianya juga masih sangat muda.
"Mas Pras sama Alishba kenapa belum datang juga?" Batinnya dan tangannya memegang sedotan plastik dan cukup melihat ke sekitar kafe itu.
Dia adalah Pamela, sang Adik tercinta. Sudah menunggu sekitar 30 menit, dan tadi Pras mengatakan akan segera datang, tapi ternyata Britney masih membahas tentang saham. Pras lebih dulu menjemput sang putri kecilnya, dan ternyata mengajaknya ke RM.
Sudah lebih dari jam 5 sore. Tadi sang Adik naik taxi online dan mereka janjian di mall elit yang ada di Jakarta Selatan.
"Nyebelin! Tadi bilangnya aku suruh berangkat, nggak tahunya malah nunggu lama." Ketus Pamela.
Pamela seminggu lalu bersama Pak Heru ke Jakarta saat mendapat kabar duka meninggalnya Kakek Restu. Tapi esok harinya Pak Heru kembali ke Semarang, dan Pamela masih tinggal di rumah Pandu. Karena Pras, ingin pulang ke rumah, Pamela berganti pergi ke rumah Kakaknya yang nomor 2. Yang tidak lain adalah Prasetya Wardana.
"Awas wae engko nek wis teko kene. Jan, nganyelke tenan!" Suara Pamela yang merasa kesal.
(Awas aja nanti kalau sampai sini. Sungguh, menyebalkan sekali!)
Pamela yang tidak tahan saat duduk di kafe itu, lalu mengendong tas ranselnya dan pergi meninggalkan kafe itu. Tadi Pras bilang, kalau sang Adik di suruh menunggu di sebuah kafe, atas recomend darinya, tapi Pamela tampak kesal, sudah setengah jam menunggu.
[Aku OTW. Sabar cah ayu.]
(Aku OTW. Sabar anak cantik.)
Setelah keluar dari kafe itu, Pamela melihat Hpnya, membaca pesan balasan dari Kakaknya.
"OTWmu karo OTWku bedo Mas Pras."
(OTWmu sama OTWku beda Mas Pras)
Pamela yang merasa jengkel, lalu dia berjalan dan mengelilingi mall mewah itu, sekalian cuci mata. Itung-itung menikmati masa liburan kuliah.
Mumpung masih jadwal libur dan sebelum dia KKN, jadi tidak masalah tinggal sementara di rumah Kakaknya.
Pamela cukup mandiri, disaat sang ibu masih tinggal di rumah Kakaknya yang nomor 3 dan dia di rumah hanya bersama Bapaknya, tapi tidak masalah.
Putri juga tinggal disana, walaupun rumahnya sudah pisah. Sebelahan rumah dengan Pak Heru, dan Putri juga selalu mengurus kebutuhan Bapaknya bersama Pamela. Dari menyiapkan makanan, mencuci baju, bersih-bersih rumah. Putri bisa mengerjakannya, bersama Pamela.
Pak Heru, beliau belum pensiun, jadi masih berdinas, dan tidak masalah saat ini berjauhan dengan istrinya.
"Upps sorry. Gue nggak sengaja." Ucap lelaki tampan yang usianya sama seperti Pamela.
Pamela hendak mengambil ponselnya yang terjatuh ke lantai, saat tersenggol cowok itu. Tapi cowok tampan itu lebih dulu mengambilkannya.
"Ini ponsel loe."
"Iya." Balas Pamela yang menatapnya.
"Coba loe pastiin, rusak nggak ponselnya." Ucapnya.
Pamela menyalakan ponselnya dan berkata "HPku nggak apa-apa."
Lelaki itu tampak tersenyum manis, dan Pamela tersenyum lalu berjalan lagi.
__ADS_1
"Ngomonge koyok Jihan karo Vava. Loe gue loe gue." Ucap Pamela dengan nada bercanda.
(Bicaranya seperti Jihan sama Vava. Loe gue loe gue.)
Tapi cowok itu ternyata mendengarnya, dan langsung mengejarnya "Mbak ngaputen. Panjengan ngendikan nopo Mbak?"
(Mbak maaf. Kamu ngomong apa Mbak?)
Pamela tampak terkaget, menatapnya dengan rasa heran. Kedua tangannya masih memegang ponselnya, dan mereka saling menatap santai.
"Buset, cara ngomongnya alus bener. Aku nggak salah dengar. Apa dia orang Solo?" Batin Pamela dan merasa malu atas sikapnya.
"Mas, panjengan tiyang pundi? Saget ngendikan bahasa jawi?" Tanya Pamela.
(Mas, kamu orang mana? Bisa ngomong bahasa jawa?)
"Emm,..." Dia dengan tersenyum dan menatap Pamela dengan tatapan santai. Kedua tangannya masuk ke kantong jaket, dan berkata "Keluargaku asli Jogja, cuma dari kecil aku tinggal di Jakarta. Tapi aku suka belajar bahasa jawa dari Eyangku."
"Owh gitu. Maaf, tadi bukan apa-apa, cuma waktu bilang loe gue, aku jadi ingat sama saudara."
"Nggak apa-apa. Gue tadi ngejar loe, Karena, dengar logat jawa loe, gue jadi berasa ada temen yang cocok." Cowok itu tersenyum dan Pamela masih sangat tidak enak.
"Aku Pamela. Pamela Hapsari." Pamela dengan tersenyum mengulurkan tangan kanannya.
"Gue Langit. Langit Mahatma." Balas Langit dengan senyuman manis di wajahnya.
Pamela mulai berfikir, "Namanya sama seperti suaminya Vava. Tapi nama itu pasti banyak."
Pamela masih merasa malu, dia mulai merapikan rambutnya dengan mengikat ke belakang.
"Aku tinggal di Semarang." Jawab Pamela, lalu melihat ponselnya yang berbunyi.
Mereka ada di lantai 5, berdiri di dekat toko aksesoris wanita.
"Assalamu'alaikum, nduk kowe neng ngendi?"
(Assalamu'alaikum, dek kamu dimana?)
"Waalaikumsalam Mas. Aku di lantai 5." Jawab Pamela yang menjawab telfon dari Pras.
"Aku neng parkiran. Tak rono, tunggu neng kono."
(Aku di parkiran. Aku kesitu, tunggu di situ.)
"Iyo Mas, aku neng ngarep toko Vellentina."
(Iya Mas, aku di depan toko Vallentina.)
Tidak lama obrolan telfon itu, dan Langit masih menatap Pamela.
"Loe disini tinggal dimana?" Tanya Langit, karena Pamela tadi menjawab tempat asalnya saja. Langit masih berfikir kalau Pamela orang perantauan.
"Aku cuma liburan di rumah Kakak, di Pejaten. Cuma ini mau ke rumah Kakak yang di Depok." Jawab Pamela.
__ADS_1
"Depok? Depoknya mana?" Tanya Langit yang masih penasaran.
"Emh, aku nggak tahu. Cuma tahu nama perumnya. Di perumahan puri anggrek."
"Kalau nama perum banyak. Maksud gue itu, di Depok 1, Depok 2, atau di Margonda? Depok luas, nama perum juga banyak yang sama." Ujar Langit.
Pamela tampak menggigit bibirnya, dia lupa nama daerah tempat tinggal Pras. Padahal Pamela sudah sering ke rumah Kakaknya, tapi Pamela tahunya hanya nama perumahannya saja.
"Margonda. Nanti ada Grand Astika ada jalan ke kiri. Cuma masuk kesana jauh. Jalan apa gitu. Aku lupa. Tapi sekarang Kakakku udah datang. Nanti kamu bisa tanya sendiri." Jawab Pamela dengan polos dan apa adanya.
"Kalau yang di Pajaten?" Tanya Langit.
"Emss... Perumahan Baverlly Residence." Jawab Pamela.
Langit yang masih berdiri di sebelah Pamela, tapi dia juga dapat telfon dari temannya.
"Maaf, gue harus pergi. Temen gue udah nungguin. O iya, ini kartu nama gue. Nanti loe teflon gue ya. Gue bakal ajak loe keliling kota Jakarta." Ucap Langit yang menyerahkan kartu namanya dengan ID privasi.
"Tapi aku_" Pamela lalu menerima kartu nama itu.
"Gue tunggu telfon loe!" Teriak Langit dengan jarinya mengode ke telinganya, agar Pamela menghubunginya.
Pamela masih bingung dan menghela nafasnya, lalu memasukkan kartu nama itu ke dalam kantong depan tas ranselnya.
"Tante Pamela." Teriak Alishba dan seraya berlari ke arahnya.
Pamela dengan segera mendekati Alishba, dengan wajahnya yang terlihat bahagia.
"Sayangnya Tante." Pamela langsung memeluknya dengan rasa senang.
Sebelumnya sudah bertemu di rumah Pondok Indah, saat itu suasana masih berkabung. Jadi rasanya masih belum puas, kalau belum bermain dan tidur bersama Alishba.
"Kamu udah lama nungguin kita?" Tanya Britney yang memeluk sang Adik ipar.
"Iya Mbak, udah lama. Mas Pras itu nyebelin."
Pras hanya tersenyum tengil, saat melihat Adiknya yang tampak mengeluh.
"Tante, ayo kita makan es krim. Alishba mau makan es krim."
"Ayo sayang. Tadi Tante lama nungguin Alishba."
"Tadi Alishba jemput Mama dulu." Ucap Alishba dengan suara imutnya.
Pras dengan gayanya yang tengil, hanya menjadi pengawal ketiga perempuan itu.
Mereka bertiga tampak sangat kompak saat mengobrol.
"Perasaan, aku momong Pamela cilik, seumuran Alishba isih njaluk gendong saiki uwis perawan. Mengko Alishba reti-reti yowes gedhe." Batin Pras yang seolah memutar kenangan.
(Perasaan, aku mengasuh Pamela kecil, seumuran Alishba masih minta gendong, sekarang sudah dewasa. Nanti Alishba tahu-tahu ya sudah besar.)
Dulu kecilnya Pamela, masih meminta gendong Pras dan dia masih sering menangis karena meminta sesuatu. Tapi sekarang sudah gadis dan pastinya akan segera menikah. Pras juga sudah memikirkan tentang Adiknya, dan dia juga sering menasehati Pamela. Agar selalu berhati-hati kalau mengenal pria.
__ADS_1