PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Seseorang Harus Membayarnya


__ADS_3

Masih dengan Limar Mahatma. Harap tidak masalah, ini harus dituntaskan. Apakah kalian akan mengawal Limar sampai menikah dengan Aldo? 🤭


Aldo yang menoleh ke arah suara itu. Kelopak matanya mulai menyipit. Terik sinar matahari, sudah menyilaukan mata Aldo.


Limar yang memakai kacamata hitam, dan jaket kulit. Rambut hitam sebahu terurai dan tampak berkibar saat terkena hembusan angin. Tersirat senyuman manis dari bibir tipis Limar. Aldo yang melihat hal itu, dia jadi ikut tersenyum manis.


"Akhirnya Limar Mahatma sudah kembali tersenyum." Batin Aldo.


Aldo yang merasakan kesedihan dirinya, dia juga memikirkan Limar. Karena janji pria yang harus terpenuhi, jadi dia juga ingin melihat Limar Mahatma bahagia.


Limar dengan jari tangan kanannya menyisir rambutnya ke belakang.


"Aldo, ayo kita berangkat."


Aldo dengan tersenyum berkata "Iya."


Lingga dan Vava juga mengikuti Limar. Kedua orang saling menggenggam tangan.


"Aldo, jaga dia. Jangan biarkan dia menangis lagi."


Aldo tersenyum dan berkata "Baik Bos."


"Kalian berdua, antar mereka ke Bandara." Ucap Lingga kepada Nat dan Ruk.


Ruk dengan segera masuk ke mobil, menyalakan mesin mobil itu.


Nat mematikan rokoknya dan langsung masuk ke mobil hitam itu.


Aldo menatap Limar dan bertanya "Limar, apa kita akan pergi jauh?"


Limar yang mengangguk dan tampak tersenyum manis, lalu berkata "Kita akan ke Jogja."


Aldo hanya mengangguk pelan dan berarti dia harus ke luar kota.


Aldo yang tadi pagi sudah berpamitan dengan sang Ibu mertua. Mengatakan kalau dia akan sering mengunjungi Ibu mertuanya.


Limar yang merasa tidak nyaman, kalau kali ini dia harus naik pesawat. Ada hal lain yang harus dia lalukan. Perlahan Limar menoleh ke arah Lingga, dan berbisik "Bisakah, kamu pinjamkan mobilmu?"


"Mobil yang mana?"


"Kuda jingkrak merah."


Lingga tampak menggeleng "Semua ada di markas. Disini tidak ada mobil."


Aldo tampak menjauh, kemarin Aldo juga meninggalkan mobil kerja Limar di Mahatma. Tapi kunci mobilnya masih ada di kantong jaket Aldo.


"Lingga, aku tahu kamu tidak pandai berbohong."


"Coba buka pintu garasi mobilmu." Suruh Limar.


"Mbak Limar. Waktu itu kita tidak jadi balapan. Mobilku terlanjur di markas. Di rumah nggak mobil." Ucap Lingga, tapi dia dengan cepat memalingkan wajah.


"Ayolah, kali ini saja."


"Please, Lingga."


Lingga sangat sensitif, bila ada orang yang memakai mobil kesayangannya. Tapi Pras sangat beruntung, dia pernah ditawari Lingga untuk mencobanya.


"Nggak ada Mbak."


"Kenapa Mbak Limar nggak ambil aja mobil yang di rumah?!"

__ADS_1


"Aku lagi kabur, mana mungkin aku pulang. Huft!"


Vava terkikik-kikik, dia lalu menutup mulutnya. Kedua Kakak beradik ini juga suka ribut. Walaupun hal sepele, tapi Lingga benar-benar tidak suka, bila barang pribadinya disentuh orang lain, meskipun Kakaknya sendiri.


"Oke, kalau gitu. Aku pergi dulu. Tapi aku tidak mau ke Bandara."


"Terserah Mbak Limar."


Limar dengan gusar mulai mendekati Aldo dan berkata "Kita ambil mobil di Mahatma dulu, terus berangkat ke Jogja."


"Iya." Ucap Aldo dengan suara pelan.


Lingga tampak tersenyum manis dan mulai merangkul pinggang Vava. Lalu Lingga membisikan kata di telinga kanan Vava "Sayang, kita juga akan pergi. Persiapkan dirimu."


Vava menoleh ke arah wajah suaminya. Terlihat sorot matanya tampak serius. Lalu bertanya, "Mas Lingga, apa kita jadi pergi?"


Lingga perlahan menggangguk dengan senyuman tipis di wajahnya, tapi cukup menggoda.


"Aku harus waspada." Batin Vava yang bergejolak.


Sudah sekitar sebulan menikah. Tidak ada tanda-tanpa untuk berhubungan, selayaknya suami istri.


Dua jam kemudian.


"Aldo, ayo kita pergi." Ajak Limar.


Aldo yang masih memandangi ruangan kamar.


Tadi setelah dari kantor Mahatma. Aldo menyempatkan untuk pulang ke rumah kontrakan.


Aldo menerima pesanan tempat tidur untuk anaknya. Bed ukuran queen dengan sandaran gambar kartun. Ada gambar little pony kesukaan Allen. Bahkan lemari dan wallpaper juga sudah disiapkan, ada sprei yang bergambar kartun itu.


"Aku tahu, kamu menyesali kepergian Allen. Tapi aku juga nggak mau lihat kamu terpuruk." Ucap Limar yang tampak memeluk Aldo.


Aldo tampak sedih, bahkan sudah lebih dari setengah jam, dia hanya duduk di lantai dan bersandar dinding.


Aldo menoleh ke arah Limar yang memeluknya.


Aldo dengan bersungguh-sungguh, bertanya "Kamu tidak akan menyakiti perasaanku?"


Limar yang masih memeluknya, dengan air mata yang luruh dipipinya, berkata "Aku yang takut, kalau nantinya kamu pergi meninggalkan aku, seperti Ayah."


Aldo memandangi wajah Limar, lalu berkata "Kita harus pergi."


Aldo berfikir, kalau Siska bukan lagi Della yang dia kenal. Wanita yang sangat kejam. Tega membuat putri kandungnya kehilangan nyawa.


"Limar, nyalakan mesin mobilnya. Aku mau ambil tas dulu."


Limar yang sudah melepas pelukannya, lalu dia berdiri, sambil mengusap air bening yang masih mengalir, dari sudut kelopak matanya.


Limar ke kamar mandi, dan membasuh wajahnya, menatap cermin dan berkata "Siska, jika Aldo tidak bisa menghabisi kamu. Aku bisa melakukannya."


Limar dengan sorot mata yang kejam, hatinya yang sudah rapuh. Tapi Limar bukan sosok yang hanya bisa berdiam saja, setelah apa yang terjadi.


Aldo yang ada di kamar, membuka lemari. Mengambil dokumen pribadinya. Lalu mengambil senjata yang ada di dalam sebuah kotak.


"Apa aku perlu membawanya?" Tanya dalam hati Aldo, yang tidak pernah membawa itu. Walaupun dia sudah memiliki sertifikat resmi dan semua pengawal Mahatma membawa itu, tetapi Aldo tidak pernah membawanya.


Aldo lalu dengan cepat memasukan beberapa kaos dan celana jeans ke dalam tas ranselnya, dan semua peralatan pribadinya.


Tampak mengenakan jaket bomber, dengan cepat dia memakai sepatu sporty warna biru dongker, senada dengan warna jaket yang dikenakan.

__ADS_1


"Limar, aku akan menjagamu."


Aldo yang berjalan dengan tegar. Rasa hati tidak ingin menoleh ke belakang. Tapi perasaan cinta terhadap putri kecilnya, masih sangat hangat, lalu berkata "Allen, Papa akan kembali."


Aldo mulai meninggalkan rumah itu, kunci pintu dia masukan dalam tas ranselnya.


Dengan senyuman, menghampiri Limar yang sudah ada di kursi kemudi.


"Aku yang akan menyetir. Kamu tidur dulu. Nanti gantian." Ucap Limar.


"Tidak apa-apa."


"Jangan memaksakan diri kamu. Aku tahu, semalaman kamu pasti tidak tidur. Aku yang akan dalam bahaya, kalau kamu yang nyetir."


Aldo tersenyum, lalu dia berkata "Oke."


Membuka pintu mobil itu dan masih menatap rumahnya. Aldo dengan sepenuh hati, lalu dia tersenyum.


"Limar, sesekali aku merasakan jadi Bos." Ucapnya.


Limar tersenyum, berkata "Terus kamu lupa tidak pakai sabuk pengaman, atau kamu mau, aku yang memakaikannya."


"Biar kamu kena tilang. Kita nggak jadi pergi."


Limar mendengar hal itu, lalu bertanya "Kamu tidak ingin pergi ke Jogja?"


"Aku mau tidur di kasur." Jawab Aldo yang telah memakai seatbelt, dan langsung memejamkan matanya.


"Ayo jalan."


"Aku sering ke Jogja sendirian, tidak masalah nyetir sampai sana. Kamu tidur saja." Ucap Limar dan mulai melajukan mobilnya.


Limar perlahan menoleh ke arah Aldo, lalu dia berfikir "Ternyata dia lebih terluka dari aku. Semoga kamu bisa melupakan semua penghianatan mantan kamu"


Di Golden Mansion


Lingga yang bersiap pergi dengan Vava, dia melihat buku yang tadi di bawa Limar. Masih ada di atas meja ruang tamu.


"Dia lagi sakit hati atau sedang jatuh cinta. Untung aja disini, kalau hilang. Aku tidak akan memaafkan kamu, Mbak."


"Pikiranmu memang perlu diistirahatkan." Desis Lingga yang mengerutuki Limar.


"Mas Lingga, ayo." Ajak Vava.


"Tunggu, aku mau ke ruang baca."


Vava mengerucut dan berkata "Mas Lingga terlalu cinta sama bukunya."


Vava memenggelang melihat kelakuan sang suami.


Limar yang ada di mobil, "Sial! Buku Lingga ketinggalan. Gimana aku bisa memerasnya, kalau aku lupa bawa bukunya."


Limar yang merasa gagal untuk untuk menekan Adiknya, jadi merasa frustasi.


"Gue mikirin apa coba! Kalau begini, gimana gue buka brankas gue." Batin Limar dengan penuh kekesalan. Tadi ingin membawa mobilnya, sudah tidak bisa. Malah bukunya terlupakan.


Rumah sakit ternama, dimana tempat Siska di rawat. Siska yang masih dalam perawatan dokter. Tampak terbaring, tidak ada siapapun yang menjaga dia.


Seseorang masuk ke dalam kamarnya, dan berkata "Bos, bangunlah."


"Kamu??!"

__ADS_1


"Kenapa kamu datang kemari?"


__ADS_2