PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Cukup Meresahkan Perasaan


__ADS_3

...☘Getaran asmara semakin ada,...


...gejolak manja meresahkan jiwa☘...


Siang hari di sebuah hotel mewah, setelah acara launching produk baru tentang produk skincare alami, ini bagian dari produk herbal milik Lingga. Sudah 5 tahun produk herbal itu menjadi unggulan, banyak sekali peminatnya, dan sekarang merambah ke skincare dengan bahan alami tentunya.


"Elleanor. Selamat atas kerjasama kita." Ucap Lingga.


"Iya, Selamat juga buat kamu Lingga Mahatma." Balas Elleanor.


Seorang Lingga yang menjabat tangan Elleanor, dan mereka berdua saling menatap santai. Tapi senyuman Elleanor begitu menggoda mata pria. Hanya saja, Lingga tampak biasa saja.


Kalian pasti ingat siapa Elleanor, sang owner kosmetik Elle'S Beauty. Sekarang Lingga bekerjasama dengan Elleanor. Sosok cantik nan sexy, dan juga sangat terkenal di dunia sosmed (sosial media).


Selain Elleanor, pasti kalian juga ingat Helga. Sang gadis yang pernah menaruh hati dengan Pras kala itu.


Tadi mereka duduk dalam barisan kalangan elit, dan itu adalah para petinggi dari Mahatma Corporation.


"Lingga, terima kasih."


"Aku yang harusnya berterima kasih." Ucapnya kepada sosok cantik Helga.


Selama 7 tahun terakhir, kiprahnya sebagai model di sosmed, semakin terkenal. Saat ini Helga menjadi brand ambassador dari produk skincare milik Lingga Mahatma.


Limar yang sangat menawan mendekati mereka dan berkata "Kalian benar-benar pandai menggoda, jangan ganggu dia."


"Memangnya kenapa? Loe nggak mau jadi Kakak ipar gue?" Tanya Elleanor yang menggoda.


"Lingga sudah menikah sayang." Jawab Limar dengan senyuman manis.


Lingga tampak tersenyum manis, dan kedua wanita cantik itu menatap Lingga.


Sudah mengenal cukup lama, apalagi mereka berdua teman hangout dan arisan Limar Mahatma.


"Jadi kabar itu beneran?!" Tanya Elleanor.


"Limar, gue jadi penasaran, Lingga dari dulu memang misterius." Ucap Helga yang ada di samping Lingga.


Lingga hanya diam saja, saat para wanita itu bercanda dan masih saja menggodanya.


"Gue juga nggak rela, kalau Adik gue menikahi wanita tua Ell..."


"Enak aja, kita masih sepadan kok." Balas Elleanor.


"Sepadan loe bilang? Nggak ada cermin, nanti gue ambilin spion mobil ya." Canda Limar ke Elleanor dengan ekspresi tawa.


"Iiih, loe gitu." Ucap Elleanor ke Limar. Dengan cepat Elleanor mendekati Lingga, dan tangannya melingkari lengan kiri Lingga, lalu bertanya "Lingga, loe mau nambah istri nggak?"


Lingga hanya tersenyum ringan melihat pertemanan Kakaknya. Memang Lingga menganggap semua ini hanya candaan saja, tapi entah Elleanor bercanda atau serius.


"Gue juga rela jadi madu." Masih saja Elleanor menggoda Lingga, dan masih melingkarkan tangannya ke lengan tangan Lingga.


Lingga yang masih sangat muda dan memakai jas rapi, terlihat sangat menawan, layaknya pria dewasa.


"Nggak ada hal semacam itu. Kalau Lingga sampai mendua,,, Fix! gue nggak akan mau jadi Kakaknya lagi." Ujar Limar dan menarik tangan Elleanor yang masih melingkari lengan tangan Adiknya itu.


Helga melihat hal itu tersenyum dan berkata "Sepertinya, kalian berdua cocok. Limar and Elleanor. So cute baby."

__ADS_1


Mereka berdua menatap Helga dengan senyuman, Limar berkata "Gue normal, gue suka cowok. Enak aja sama dia."


Mereka berdua dengan tatapan tanya, dan menatap Limar dengan tajam. Tidak biasa Limar begitu serius, padahal biasanya, dia menanggapi dengan kata gombalan dan selalu mengalah dengan para temannya. Lingga juga mulai melihat eskpresi lain sang Kakak.


"Loe? Suka sama cowok? Serius?" Tanya Elleanor yang penarasan.


Limar terkenal cuek dengan lelaki, bahkan dia seperti tidak berselera. Kenapa jadi berubah, dan sepertinya Limar memang menyukai pria.


Limar menatap sekilas ke arah Aldo, yang berdiri jauh dari dirinya.


"Mmmh, iya. Gue suka sama cowok. Jadi kalian pikir, gue ini apaan? Gue cewek, gue doyannya cowok. Kalian aneh." Jawab Limar.


"Perasaan Loe yang aneh. Dari dulu, tiap kenalan sama cowok, katanya biasa aja. Bahkan loe bilang nggak suka cowok."


Ujar Elleanor.


"Ya emang dulu nggak ada yang gue suka. Tapi sekarang, ada cowok yang gue suka." Balas Limar dengan senyuman manis.


"Baguslah! Buruan susul gue, sayang." Ujar Helga yang mendekati Limar dan memegang lengan kanan Limar.


"Kalau Limar merried. Jadi tinggal gue aja dong. Terus gue?? Eemms... Masih ada dedek Lingga. Iya kan Lingga." Ucap Elleanor dan mendekati Lingga lagi.


"Mimpi loe ketinggian Ell... Yuk makan! Gue laper." Ucap Limar dengan suara manisnya.


"Elle, lepasin suami orang. Nggak baik."


Ucap Helga dan Elleanor perlahan menatapnya.


"Loe aja juga pernah suka suami orang." Ucap Elleanor yang tidak mau kalah.


"Masa lalu." Balas Helga dan Limar mendengar itu, berusaha menggoreknya. Tapi Helga tampak diam saja.


"Vava sekarang lagi apa? Apa dia sudah makan?" Tanya dalam hati Lingga, yang mengingat sang istri.


Limar di dalam genknya paling muda sendiri, ada sepuluh wanita cantik, diantara mereka, ada Helga dan Elleanor. Tetap saja Limar yang paling glamour diantara para wanita genknya itu. Dari kalangan artis, model, dan pengusaha. Membentuk grup, sering mengadakan acara, serta arisan di setiap bulannya.


Lingga mulai pergi dari hotel mewah itu. Dito yang tadi membuat video tentang Lingga, akhirnya mengirimkan ke Vava.


Tidak lama video sudah terkirim, dan Nat yang menerima itu.


"Nyonya, ada pesan dari Tuan." Ucap Nat yang saat ini memberikan ponsel Vava.


Vava mulai membuka video kiriman sang suami. Lebih tepatnya dari Dito, karena yang memegang ponsel Lingga adalah sang asisten manis itu.


Vava mulai memperhatian serangkaian acara launching tadi. Tapi di bagian akhir video itu, ada gadis cantik yang tampak menempel ke Lingga.


"Elleanor, dan Helga."


Vava tampak bergumam, dan Nat melihat ke arah Vava.


"Nyonya, apa ada hal yang salah?"


"Emh, tidak!"


Vava yang meresa aneh, lagi-lagi Helga dan Elleanor. Dulu saja, sama Pras, Vava juga mengetahui itu.


"Jadi mereka berdua kenal sama Mbak Limar."

__ADS_1


Batin Vava dan mulai berfikir "Apa sekarang Mas Lingga masih sama mereka?"


"Nat, kamu bilang ke Mas Lingga. Aku mau pergi."


Vava memberikan ponselnya. Yang tadi duduk santai di halaman belakang, dan saat ini bergegas ke kamar. Nat, hanya menuruti perintah sang Nyonya.


"Bos, Nyonya mau pergi." Ucap Dito yang membaca chat dari Vava, dan itu Nat yang mengirimnya.


"Pergi kemana?" Tanya Lingga yang duduk di kursi belakang. Dito yang duduk di depan samping sopir, masih menoleh ke arah Lingga.


"Mau ke rumah Pondok Indah."


"Emm.... Bilang saja, nanti aku susul kesana."


"Baik Bos."


Lingga melihat ke kiri jalan, dan melihat sekitar jalan itu. Tampak tersirat senyum tipis.


"Apa yang Vava suka?" Batin Lingga yang mulai memikirkan sang istri.


Lingga baru membuka perasaannya, dan dia berusaha untuk mengenal dekat sosok istrinya. Bahkan hal-hal kecil tentang istrinya, Lingga tidak tahu hal itu.


Vava juga sudah bergegas pergi dengan Nat dan Ruk. Mereka berdua selalu ada untuk menemani Vava.


"Nyonya,.." Panggil Nat.


"Iya Nat?"


"Nanti Tuan akan menyusul Nyonya."


"Iya."


Vava tampak datar dan entah apa yang dia pikirkan. Bukan hal cemburu atau tidak, sepertinya Vava memang tidak suka hal itu.


"Mas Lingga, sepertinya memang dekat dengan mereka berdua."


Batin Vava dan perlahan memalingkan wajahnya ke arah sisi jalan. Melihat keramaian jalanan ibukota di siang hari.


"Nyonya, Tuan telfon."


"Mmh, matikan saja. Bilang, Vava lagi tidur."


Vava merasa malas dan tidak ingin berbicara dengan sang suami.


"Bos, tidak diangkat."


Lingga padahal ingin menanyakan, apa sang istri ingin mangga muda. Tapi malah dimatikan panggilannya.


"Dito, tolong kamu beli mangga itu."


"Baik Bos."


Mobil sudah berhenti dan Lingga melihat ke arah tumpukan mangga indramayu yang melipah di sebuah gerobak.


Penjual buah mangga yang terlihat senja dan duduk di bawah pohon. Lingga masih mengamati bapak tua yang duduk itu, dan Dito mendekatinya. Dito mulai memilih mangganya dan cukup banyak yang dia beli.


Setelah itu, Lingga langsung menyusul sang istri. Ada rasa aneh, tapi dia cukup mengikuti perasaannya.

__ADS_1



__ADS_2