
Masih lanjut ya para pembaca setia Mas Pras. Tapi ini tentang Limar dan Aldo. Harap, tidak ada yang dipermasalahkan. Karena ini, hanya haluan othornya.
Sore ini jalanan ibukota sudah mulai macet ketika Limar pulang dari hotel mewah itu. Ternyata Limar tampak tidak sadar, dia terlalu banyak minum, begitu juga dengan Elleanor. Tapi Aldo juga tidak merasa kewalahan saat mengangkat Limar dari suite room.
Flashback On.
Dua puluh menit sebelumnya. Di Hotel xxx, dengan ruangan khusus dan disitu ada sekitar 5 wanita yang tampak merayakan sesuatu.
"Ell, udah dong minumnya!" Helga yang menghentikan sahabatnya, agar tidak terlalu banyak minum.
Dua orang sudah mabuk berat dan tertidur di sofa. Lalu Limar masih menuang minuman beralkohol itu.
"Helga, biarkan saja. Dia mungkin lagi patah hati." Ucap Limar yang sudah mabuk, tapi dia masih sadar akan temannya yang berbicara di sebelahnya.
Helga tidak minum. Karena bagi dia, hal itu haram hukumnya, apalagi keyakinan Helga, itu sebuah larangan yang harus dihindari.
"Limar, sudah dong. Loe juga terlalu banyak minum. Nanti gimana loe pulangnya?"
Helga belum tahu, kalau ada sopir dan pengawal pribadi yang dari tadi sudah menunggu di depan ruangan itu. Sudah lebih dari dua jam. Sekarang sudah jam 5 sore lebih.
"Gue?? Iya, gue ada pria. Pria gue yang akan kesini. Dia pasti udah ada di luar."
Helga tampak bingung, dan Elleanor yang minum, mulai menopangkan kepalanya ke bahu Limar.
"Ell, loe bilang mau jadi Adik ipar gue? Hemms, loe nggak akan bisa. Apalagi loe doyan minum. Lingga nggak suka."
Limar yang masih dengan dirinya, dan perlahan meletakan seloki di atas meja.
"Ell, gue ngantuk."
Helga tadi pergi dari ruangan itu, dan mencari pria yang dimaksud Limar.
"Dimana dia? Apa Limar bicara serius?"
Helga yang sudah keluar ruangan itu, tidak melihat siapun yang ada di depan pintu, atau di dekat ruangan itu.
"Kenapa juga gue harus percaya Limar yang lagi mabuk?!" Gumam Helga dan masih melihat ke arah sekitar.
Aldo berjalan dari kejauhan, tadi dia ke toilet dan sekarang akan mengajak sang Bos itu pulang. Karena tadi Bosnya bilang jam 6 sore harus pulang.
Helga kembali ke ruangan, walaupun sudah melihat sosok pria berjalan. Tapi dia tidak menghiraukannya. Lalu Helga menutup pintu itu.
"Hemmz, mereka semua sudah tidak sadar. Gue harus antar mereka berdua pulang." Keluh Helga yang bersedekap.
Tidak lama, terdengar suara bel pintu yang berbunyi. Helga lalu kembali ke pintu itu dan membukanya.
"Apa Bos Limar ada disini?"
Helga tampak menatap Aldo yang berdiri di depan pintu, kedua tangannya masih bersedekap. Helga melihat dari ujung rambut Aldo sampai ujung kaki. Penampilan Aldo yang rapi, dengan celana jeans hitam dan jaket kulit hitam. Tampak macho dan menawan.
"Kamu prianya Limar?"
"Prianya?" Tanya Aldo balik, dan dia masih belum mengerti.
"Iya, pria yang ada dipikiran Limar. Bukannya kamu kekasih Limar?"
"Saya? Kekasih? Kekasih Bos Limar?!"
Mendengar kata Bos, Helga tampak menyernyitkan dahinya, padahal tadi juga sudah mendengar kata Bos. Tapi Helga pikir, dia adalah kekasih Limar.
__ADS_1
"Terus kamu siapa?"
"Saya Aldo, saya pengawalnya Bos Limar."
"Owh, jadi kamu bodyguardnya Limar." Helga masih menatap Aldo dengan rasa penasaran.
"Bos Limar dimana?"
Helga mengode dengan jempolnya yang mengisyarakatkan kalau ada di dalam "Ada disini. Dia mabuk berat."
Aldo langsung masuk dan melewati Helga begitu saja. Tidak lama Aldo melihat para perempuan sexy dan cantik yang sudah tergeletak di sofa besar, ada empat wanita berkelas yang sedang tidak sadar. Mereka semua sudah dalam dirinya sendiri.
Helga masih menatap Aldo yang tampak terkaget.
"Itu Limar. Tadi masih sadar, paling dia hanya tertidur." Helga yang hafal kalau Limar selalu kuat minum, dan pasti masih dalam keadaan sadar. Walaupun kadang bicaranya sudah melantur kemana-mana, tapi Limar yang paling tahan.
"Bos Limar." Gumam Aldo lalu perlahan dia mendekati Limar.
Helga melihat itu dengan wajah yang tersenyum manis. "Tinggal mereka bertiga."
Dua wanita yang lain itu, Helga sudah menghubungi sopirnya, dan Elleanor adalah tugasnya mengantar pulang.
"Bos, maaf. Saya harus bawa Bos pulang." Bisik Aldo dan tampak senyuman di wajah Limar.
Aldo menggendongnya, dan Elleanor tergeletak menyamping saat Aldo mengangkat Limar dari sofa itu.
"Tolong jaga Limar." Helga yang menatap Aldo yang sudah menggendong Limar.
Aldo yang menatap tajam Helga, berkata "Ini adalah tugas saya, anda tidak perlu khawatir."
"Tapi gue masih nggak percaya, nanti gue akan telfon Tante Hesti."
Aldo cukup santai saat membawa Limar pergi dari ruangan itu. Helga masih menatap punggung Aldo, dan tidak lama menghilang dari pandangannya.
Aldo dengan raut wajah penasaran, dan sesekali menatap Limar.
"Apa Bos Limar sering mabuk?!" Batin Aldo dengan tanya.
Aldo belum lama bekerja dengan Limar, tapi dia tahu kalau Limar sosok yang perfect, ulet dan pekerja keras. Bahkan Aldo sudah pernah masuk ke ruang kerja Limar yang ada di perusahaan Mahatma.
Flashback Off.
Limar tampak duduk bersandar dan masih dalam keadaan tidur. Aldo yang menyetir mobil, mencari celah agar segera sampai di kediaman Yuda Mahatma.
Sudah terdengar suara adzan maghrib, Aldo tampak melihat ke ponselnya, mencari masjid terdekat. Karena sore ini memang sangat macet. Mobil-mobil di jalan itu sudah tampak mengekor, Aldo mengambil sisi kiri dan perlahan masuk ke jalan yang tidak terlalu macet. Jalan yang tampak deretan perumahan dan cukup ramai kendaraan bermotor.
Sudah terlihat masjid dengan halaman yang tidak terlalu luas. Aldo bergegas untuk menunaikan ibadah sholat maghrib.
"Bos Limar, saya tinggal sebentar. Bos tidur saja." Ucap Aldo dan mematikan mesin mobil itu, memberi sedikit celah dari kaca pintu mobil itu.
Aldo yang sudah keluar mobil tampak menghela nafasnya.
Sekitar 5 menit dan Limar perlahan terbangun dari tidurnya.
"Gerah, gue dimana?" Limar tampak memegang kepalanya yang sedikit pusing.
Matanya mulai terbuka dan masih dengan pandangan buram.
"Gue dimana? Gerah." Gumam Limar yang merasa sangat kepanasan.
__ADS_1
Aldo masih menunaikan ibadahnya. Lalu yang di mobil sudah merasa kegerahan. Limar yang sudah tampak berkeringat dan bersandar, perlahan dengan jelas menatap sebuah masjid.
"Kenapa gue disini?" Tanya Limar yang masih belum sadar kalau dia sudah di bawa pulang oleh Aldo. Tapi karena jalan macet parah, akhirnya Aldo mencari jalan lain.
Limar berusaha membuka pintu, tapi di kunci.
"Uuh, dikunci. Gue haus." Keluh Limar.
Tidak lama Limar melihat sosok manis yang memakai kaos putih dan berjalan mendekati mobil itu.
"Aldo memang berbeda." Ucapnya dan mulai tersenyum.
Limar yang sudah sadar, tapi saat Aldo datang dia kembali memejamkan matanya.
"Bos jadi keringetan."
Dengan cepat Aldo menyalakan mesin mobilnya, dan menoleh ke arah Limar.
"Gue haus, Helga ambilin minum." Rengek Limar yang seolah memanggil Helga.
Aldo mendengar hal itu menatap Limar, lalu bertanya "Bos haus?"
"Helga, buruan ambilin gue minum! Gue haus." Ucap Limar yang masih seolah mabuk dan Aldo menghela nafasnya, lalu keluar dari mobil itu.
Tidak jauh dari masjid, ada sebuah toko. Aldo dengan segera pergi dan membeli air mineral.
Limar melihat dari mobil dan bergumam "Emms, Aldo kamu baik banget sih!"
Senyuman manis Limar tampak sedang berbunga-bunga. Tidak seperti seorang Limar yang biasanya terlihat dingin dan kaku.
Aldo yang sudah membuka pintu belakang di sisi kiri, Aldo hanya duduk di pintu dan menatap Limar.
Aldo sudah membuka botol minum itu, lalu berkata "Bos minum dulu."
Limar yang masih memejamkan mata, tapi tampak menikmati, saat Aldo memberikan minuman padanya.
Tangan kanan Aldo berusaha untuk memegang kepala Limar dan tangan kirinya memegang botol air mineral.
"Helga, thank you." Limar tampak melantur dan kedua tangannya mengalung di leher Aldo.
"Kita akan pulang." Ucap Aldo dengan segera berdiri dan meletakan tangan Limar di atas pangkuan Limar.
Aldo bergegas cepat kembali menyetir mobil itu. Sekitar 30 menit mereka baru tiba di rumah.
"Helga mereka sudah datang." Ucap Hesti saat menerima telfon Helga.
Hesti meletakan ponselnya, dan mendekati Limar.
"Aldo, bawa Limar ke kamarnya." Ucap Hesti dengan tenang.
Aldo tampak santai dan tidak masalah mengangkat tubuh Limar yang begitu langsing. Tugasnya memang mengawal dan menjaganya, Aldo sudah mengerti keadaan ini.
"Aldo, saya mau bicara sama kamu."
"Baik Nyonya."
Hesti tampak menyelimuti Limar, dan Aldo menunggu di luar kamar Limar. Tapi Hesti tidak tahu kalau Limar sudah sadar. Hesti yang berjalan keluar, dan Limar mulai membuka matanya.
"Apa yang mau Bunda bicarakan sama Aldo?" Batin Limar yang menjadi kepo.
__ADS_1