PANGGIL AKU MAS! SEASON 2

PANGGIL AKU MAS! SEASON 2
Suasana Yang Tak Terbayangkan


__ADS_3

Masih lanjut pemirsa sekalian. Upps, maksud othor adalah pembaca yang budiman dimanapun anda berada.


Seorang laki-laki berwibawa, tangan kanannya memegang jas abu muda. Berjalan dengan perasaan rindu.


"Kenapa sepi begini?" Batin Yuda yang baru masuk ke dalam rumahnya. Tidak ada satu orangpun yang dia temui.


"Ibu disini? Anak-anak dimana?" Tanya Yuda yang berdiri di depan sang Ibunda. Eyang Dewi yang duduk di sofa ruang tengah, membuka album foto lama.


"Lingga sangat manis, Limar juga sangat cantik." Ucap Ibundanya dan tidak menghiraukan anaknya yang sudah berdiri di hadapannya.


Yuda mulai duduk di dekat Ibundanya dan memegang tangannya, lalu bertanya "Ibu sudah makan malam?"


"Buat apa kamu pedulikan Ibumu." Jawabnya, dan kembali membuka album yang lainnnya.


"Ibu, Yuda sudah pulang. Yuda tidak pulang, Ibu katanya tidak mau keluar kamar. Yuda harus bagaimana?"


Sang Ibundanya menatapnya tajam, "Aku mau pulang ke Jogja. Aku akan mengajak Hesti dan Langit. Limar juga sudah pergi dari rumah ini. Kamu bisa puas mengajak istri muda kamu." Ucapnya dan pergi begitu saja.


Yuda tampak terdiam, apa yang baru saja dia dengar barusan. "Limar pergi?"


Yuda bergegas cepat ke kamarnya, tidak terlihat sang istri pertamanya.


Dahulu dengan Mamanya Evellyn dan sekarang Siska.


Masa lalu Yuda dengan Mamanya Evellyn, tapi Lingga menaruh perasaan terhadap mendiang Evellyn. Hesti juga tahu hal itu, tapi semua sudah berlalu. Sekarang Della, yang dikenalnya dengan nama Siska.


Evellyn bukan anak Yuda, tapi Yuda sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri, bahkan dari kecil sudah tinggal bersama Lingga. Dari situlah Lingga menaruh hati dengan sosok Evellyn.


Kepergian Mamanya Evellyn sudah membelenggu perasaan Yuda, dan akhirnya perlahan menjadi berubah. Perasaan cintanya, terhadap Mamanya Evellyn masih tersimpan dalam hatinya. Hesti sangat tahu hal itu, dan dia tidak masalah.


Siska hanya sebuah hiburan baginya, dan entah kapan Yuda akan melepas Siska. Tapi anak-anaknya terlalu sakit akan hal itu.


"Hesti, Limar pergi kemana?" Tanya Yuda dan mendekati Hesti di ruang lukisan.


Hesti yang masih sibuk dengan lukisannya. Perlahan dia berdiri, memeluk suaminya.


"Mas, Limar akan menikah."


Yuda mendengar hal itu, bertanya "Menikah? Dengan siapa?"


Hesti dengan tersenyum, telapak tangan Hesti berada pada dada suaminya, lalu dia berkata "Dengan pria yang tepat."


"Apa maksud kamu dengan pria yang tepat?!"


Hesti, perlahan melepas dasi yang masih terikat rapi di kerah leher suaminya, perlahan menarik dasinya, dan berkata "Aldo."


"Limar akan menikah dengan Aldo."


Yuda bagaikan tersengat listrik, ada hal yang tidak terduga dan jantungnya tidak beraturan.


"Hesti, kamu bercanda?"


"Tidak Mas, mana mungkin aku bercanda."


"Tapi Aldo__"


"Memangnya Aldo kenapa, Mas?"


Yuda dengan sorot mata yang tajam, lalu berkata "Kamu membalas dendam padaku?"


"Untuk apa Mas? Kalau waktuku sudah dekat." Ucapnya dengan tersenyum.


Yuda semakin tidak bisa berfikir, lalu bertanya "Apa maksud ucapan kamu Hesti?!"


"Bukan apa-apa."

__ADS_1


"Tidak mungkin bukan apa-apa."


"Sudah Mas Yuda. Ayo kita ke kamar."


Hesti perlahan memegang lengan kiri suaminya, Yuda masih tidak mengerti dengan apa yang barusan dia dengar.


Hesti dan Yuda keluar dari ruangan itu, lalu Langit datang mendekati mereka.


"Ayah tumben pulang?" Langit seolah meledek Ayahnya.


"Langit..." Tegur sang Bunda.


Yuda merangkul Langit dan berkata "Anak nakal, kamu tidak suka kalau Ayah pulang?"


"Bukan begitu Yah, tapi Ayah sudah lupa kalau punya anak tampan seperti aku."


"Mana mungkin Ayah lupa sama kamu, Langit."


Langit tersenyum dan Hesti juga tampak tersenyum, melihat tingkah anaknya yang paling kecil itu, saat menggoda sang Ayah.


"Ayah, sudah lama nggak ajak aku pergi ke tempat kopi."


"Kita bisa pergi malam ini." Ucap Ayah.


"Apa Bunda mengijinkan aku?" Tanya Langit.


Hesti tersenyum dan Yuda berkata "Kenapa kamu bertanya kepada Bundamu, kamu sudah dewasa."


"Tapi aku anaknya Bunda, Ayah. Jadi aku harus meminta ijin kepada Bunda."


"Iya, Bunda tidak keberatan. Tapi kalian harus makan malam dulu. Eyang, dari tadi hanya mengelus album foto Lingga dan Limar."


Langit merasakan ada yang kurang dan bertanya "Mbak Limar kemana? Apa dia belum pulang?"


Langit dengan tersenyum, lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


Yuda dan Hesti berjalan ke kamar mereka. Dengan perasaan aneh, Yuda merasakan gelisah dalam hatinya. Ada yang aneh pada diri Hesti saat ini. Tapi Yuda tidak lagi bertanya apapun tentang Hesti.


Di tempat yang cukup jauh dari kediaman Yuda Mahatma.


"Masuklah." Ucap Aldo.


"Ini rumah kamu?"


"Bukan, lebih tepatnya aku menyewa."


Aldo sudah menyewa sebuah rumah, barang-barangnya juga belum terisi penuh. Baru minggu kemarin, Aldo melakukan perjajian sewa.


"Cukup nyaman." Ucap Limar.


"Iya. Aku ingin Allen menjadi anak ceria. Aku tidak ingin Allen mendengar gosip apapun tentang Mamanya. Dia sudah mulai mengerti, aku tidak mau nantinya Allen merasakan luka dihatinya."


Aldo meninggalkan tempat daerah sang mertua, agar anaknya tidak merasakan sakit hati.


Namanya juga hidup bertetangga, pasti akan ada omongan tentang dirinya dan Della, pasti itu akan membuat luka di hati anaknya.


Aldo sebagai Papa, hanya ingin melihat anaknya menjadi anak yang ceria, tanpa harus merasakan sakitnya, hidup tanpa sosok Mama. Yang sudah membuat terluka hatinya, dan pastinya akan membekas dihatinya, bila ada orang yang mengatakan tentang sosok Mamanya.


"Kamu benar, Allen harus bahagia."


"Lalu, kapan kamu ajak Allen kesini?" Tanya Limar yang masih berdiri dan menatap Aldo.


"Rencannya besok aku akan menjemput Allen dan Ibu."


Limar yang bersedekap berjalan, lalu melihat sekeliling rumah itu, hanya ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, dan ruang tamu. Lalu ada sedikit halaman belakang.

__ADS_1


"Aldo, kamu hanya ada satu tempat tidur?" Tanya Limar yang membuka pintu kamar belakang.


"Aku sudah memesannya untuk Allen, tapi besok baru datang."


Limar kembali menutup pintu kamar itu, lalu bertanya "Lalu aku tidur dimana? Kamu sudah menculik aku!"


Aldo dengan santai bertanya "Apa aku tampak seperti penculik wanita?"


Limar mengangguk, dan berkata "Iya, kamu memang bertampang penculik."


"Terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas, malam ini akan ada kejutan di rumah kamu."


"Maksud kamu?"


"Ayah kamu sepertinya sudah tiba di rumah. Makanya aku harus membawa kamu pergi!"


"Jadi tadi kamu bercanda?"


Aldo berkacak pinggang dan berkata "Tidak bercanda, tapi kamu harus sedikit memberi kesan istimewa terhadap Ayah kamu."


"Maksud kamu?"


"Kamu ingin keluarga kamu kembali?"


"Iya, tapi kamu tidak mau membantu aku."


"Suatu saat Ayah kamu akan kembali. Tapi aku juga tidak tahu, hal itu. Yang jelas, biarkan malam ini Ayah kamu berfikir. Kalau kamu bukan Limar yang dulu."


Limar mulai mengerti, lalu bertanya "Soal kita menikah??"


"Aku tidak akan memaksa. Tapi aku sudah janji sama Nyonya Hesti. Kalau aku akan menjaga kamu."


"Lalu aku tidur dimana? Malam ini apa kita berdua disini?"


Aldo berjalan mendekat, dan berkata "Iya kita berdua. Kenapa? Kamu takut sama aku? Bukannya kamu suka sama aku?"


Limar tampak menjauh dan berkata "Harusnya tadi kamu cerita, aku bisa bawa dompet aku. Aku bisa tinggal di hotel."


Aldo mendekati Limar dan berkata "Kamu harus buktikan sama Ayah kamu, kalau kamu tidak butuh uangnya."


"Kamu gila? Mana mungkin?!"


"Mungkin saja. Buktinya kamu ada disini?!"


Limar merasa tidak nyaman dengan tatapan Aldo dan berkata "Kalau gitu, aku mau pulang."


"Kamu tidak malu? Yang aku tahu, ego Limar Mahatma sangat tinggi."


Limar mengeratkan giginya dan kedua tangannya mengepal. "Sepertinya dia sudah tahu banyak tentang aku."


Limar mendekati Aldo dan berkata "Baik, aku harus mengikuti permainan kamu."


"Ini bukan permainan. Tapi ini situasi nyata."


Limar hanya menunduk dan jantungnya berdebar kencang, rasanya sudah dalam ketakutan. Bagaimana mungkin seorang Limar Mahatma akan tinggal bersama pengawal.


Aldo mendekati Limar, kedua tangannya memegang bahu Limar dan berkata "Aku tidak akan menyakitimu. Kamu bisa mandi, aku akan siapkan bajumu."


"Kamu bilang tidak membawa apapun. Berarti dompetku ada sama kamu?"


"Entahlah, aku nggak tahu. Ada tas kamu di bagasi mobil."


"Tas? Apa ada uang? Baju?"


"Aku nggak tahu. Tadi pagi sebelum kita ke hotel, Nyonya sudah menyiapkan tas di bagasi mobil. Bisa saja itu baju kamu."

__ADS_1


__ADS_2