
...☘Dilema hati berganti rasa,...
...cinta yang ada bukanlah bencana☘...
Sore hari terlihat duduk termenung dan bersandar sisi tempat tidur. Air mata yang mengalir mulai kering, kelopak mata gadis berusia 30 tahun itu berubah sembab.
Limar Mahatma, ternyata dia tidak bisa menahan diri, ketika sebuah cinta datang dan itu ternyata tidak biasa. Pria yang sudah beristri, dan perasaan Limar tidak bisa terkendali lagi.
"Apa aku sangat mencintainya?"
Limar yang tidak pernah merasakan hal itu, bahkan dia sangat teliti bila mengenal sosok lelaki. Kenapa dia bisa memiliki perasaan terhadap pria yang beristri.
Bahkan lelaki yang dikenal bang jago itu, sangat biasa saja, bukan dari kalangan seperti dirinya, dan jauh dari kriteria seorang Limar Mahatma.
"Apa yang harus aku lakukan? Hatiku sangat sakit sekali."
Limar yang sedang merayakan pesta ulang tahun temannya, di sebuah hotel bersama teman-temannya, dan saat perjalanan pulang tadi, Limar melihat bang jago yang sedang menggendong anak perempuannya, di sebuah taman, yang tidak jauh dari tempat Limar berpesta.
Pesta yang dirayakan di hari minggu siang dan selesai pesta perayaan ulang tahun itu, Limar segera pergi meninggalkan hotel. Ternyata Limar menemukan jawaban atas perasaannya.
"Tuhan!!"
Suara Limar yang sangat nyaring, tapi saat ini hujan turun dengan sangat deras. Tidak ada yang melihatnya menangis, tidak ada yang mendengar suara tangis dan teriaknya.
Kediaman Yuda Mahatma, sang Ayah dari Limar Mahatma sangat luas, bangunan seperti istana dan dikelilingi halaman yang begitu luas.
Sekencang apapun suara Limar dalam kamar, tidak akan ada yang mendengarnya. Bahkan keluarga ataupun sang Eyang, yang kamarnya tidak jauh dari kamar Limar.
Kilatan petir dan rintikan hujan yang deras masih menemani sosok Limar yang bersedih. Hatinya sangat terluka, padahal Limar baru kali pertama merasakan perasaan istimewa dalam hatinya.
"Dia sudah menikah?! Bahkan dia sudah punya anak. Lalu aku harus bagaimana?!"
Limar yang masih tertunduk dan tidak mengerti bagaimana bisa merasakan patah hati. Ternyata rasanya begitu sakit.
Cinta memang tidak mengenal aturan, bisa ada untuk orang tidak dikenalnya. Bahkan perasaan itu sangat tidak tepat pada sosok pria, yang berstatus keluarga.
"Sakit, hatiku sakit."
Batin Limar yang masih menangis, dia tidak tahu apa yang harus dia hadapi nantinya. Sanggupkah bila bertemu lagi dengannya, akan sampai hati.
Limar berdiri dan mendekati meja rias yang ada di kamar itu. Ia menatap dirinya dengan tajam, raut wajah yang sudah tidak karuan, bulu mata yang tampak miring, make-up wajah yang sudah sangat berantakan, dari eye liner, lipstik dan semua yang ada pada wajahnya, benar-benar membuat dirinya muak.
"Cinta? Cinta? Aku benci ini, aku benci ini!"
Limar yang berteriak dan sudah mengobrak-abrik meja riasnya, semua yang ada di meja itu terjatuh sangat berserakan.
__ADS_1
Suasana yang tidak biasa Limar benar-benar merasakan sakitnya, mencintai seseorang yang sudah berkeluarga.
"Aku bukan Siska."
"Aku harus bisa melupakannya."
Limar memandang dirinya dengan teduh, rasa apa yang telah ada dalam hatinya, dia harus bisa lupa dan harus melepaskan perasaannya itu.
Meraih sebuah gunting yang ada pada laci meja riasnya, perlahan membawanya ke kamar mandi.
Langkahnya tidak biasanya dan terasa begitu berat. Berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintu kamar mandi itu.
Seolah terdengar suara seseorang yang dia benci sedang mencemooh dirinya. Lagi-lagi Limar seperti sedang mendengar Siska sedang tertawa, atas apa yang Limar alami saat ini.
Siska seorang perebut kebahagiaannya, dan itu masih saja dalam benaknya, kalau Siska hanya orang ketiga, dalam kehidupan rumah tangga kedua orang tuanya.
"Aku tidak ingin seperti Siska."
Teriak Limar saat memutar keran shower dalam kamar mandinya. Kucuran air deras dari atas sudah mulai mengguyur kepalanya. Tangan kanannya yang memegang sebuah gunting.
"Aku tidak ada cinta."
Tangan kiri Limar memeggang ujung rambutnya dan terpotong sudah rambut Limar Mahatma, nona yang terkenal dingin dan arogan di tempat dia bekerja, dikala patah hati dia seperti tidak ada wibawa sama sekali.
Tertunduk dengan luka di hati, duduk diatas air mengalir, gaun merah yang ia kenakan sudah berubah warna semakin gelap, raut wajahnya sudah berubah dingin.
Perlahan meraih sisi dinding dan mulai berdiri. Dia tidak ingin terpuruk dalam kesedihan, apalagi hanya karena perasaan cintanya, dan itu bukan bencana untuknya.
"Perasaan ini bukan apa-apa!"
Bukan Limar Mahatma kalau hanya karena sebuah cinta, akan mengancurkan dirinya. Padahal dia tidak kuat menahan sakitnya perasaan itu. Namanya juga Limar, ada sisi angkuh dalam batinnya, dan itu sudah terbiasa terjadi.
"Hems, dia buka tipeku. Buat apa aku menangis."
Limar mulai mengusap air matanya, perlahan mulai tersenyum sinis. Pria yang ada dalam hatinya memang berbeda. Tetapi memang benar, pria itu sangat jauh dari kriteria Limar. Tapi cinta datang dan pergi itu pasti, hanya saja Limar yang tidak mau meyakinkan dirinya sendiri.
"Masih ada pria lainnya. Dia tidak selevel denganku."
Ternyata Limar kembali menangis, dan melempar guntingnya ke arah cermin yang ada di dalam kamar mandi itu. Limar masih merasakan perasaannya begitu pedihnya. Baru kali ini Limar mengalami patah hati yang menyiksa hatinya.
Suara ketukan kamar dan ada seseorang yang memanggil namanya. Tapi Limar tidak mengiraukan suara itu.
"Mbak Limar, buka pintunya."
Limar berjalan, perlahan keluar dari kamar mandi. Tampak sempoyongan dengan wajahnya berubah pucat, dan tidak ada gairah dalam dirinya. Lemas, dan merasa melayang.
__ADS_1
"Mbak Limar, bukan pintunya."
"Mbak Limar."
Suara ketukan pintu terdengar nyaring, sang Adik tampan masih berdiri di depan pintu kamar sang Kakak.
"Mbak Limar, kenapa pintunya di kunci?!"
Saat pintu terbuka dan menatap Limar yang sudah tidak karuan. Tampak gaun sang Kakak sudah basah kuyup, make-upnya sudah luntur, rambutnya terlihat acak-acakanya, dan tidak enak dipandang.
"Adikku datang." Suara Limar dengan sendu, dan mulai memeluk Langit yang menatapnya tajam.
"Mbak Limar kenapa?"
Langit masih tampak kaget dan rasanya tidak percaya, kalau kakak perempuannya bisa frustasi dan tidak enak dipandang, itu bukan Limar yang biasa dia lihat.
"Dek, kapan kamu pulang?"
"Mbak Limar, aku baru sampai."
Langit mulai masuk ke dalam kamar Limar, dan Limar dengan senyuman manis merangkul Adiknya.
"Kamu kenapa berwajah begitu? Langit, apa kamu kaget?"
Langit menoleh ke arah Kakaknya dan berkata "Hems, aku tahu, ini pasti kejutan buat aku. Iya kan Mbak?!"
Limar tersenyum dan menyatuhkan badannya ke atas tempat tidur dengan tersenyum. Lalu berkata "Iya, Dek! Kejutan lainnya, kamu sudah punya adik baru."
"Owh, itu. Aku sudah tahu. Bunda sudah cerita."
"Baguslah,... Selamat untuk kita berdua Adikku."
"Mbak Limar mabuk?!"
"Apa maksudmu?!"
Langit mendekati Kakaknya dan bertanya "Mbak Limar, apa kamu seperti Mas Lingga? Berbuat kesalahan?!"
"Hems, aku? Aku?! Aku tidak berbuat salah. Aku hanya___"
Limar ternyata memang mabuk, dan Langit cukup bingung mengurus sang Kakak yang tidak bisa diajak bicara.
"Mbak Limar, tidur saja."
Limar yang ada di tempat tidur sudah tidak sadar. Langit keluar kamar untuk memanggil pelayan, dan Langit sangat tidak percaya, apa yang dia lihat tadi, bukan seperti Kakaknya yang dulu. Kakaknya yang tegas, dan sangat menawan.
__ADS_1
"Gara-gara Ayah, semua yang ada di rumah ini berubah."
Langit tampak menggeleng, tidak suka dengan suasana saat ini. Sudah lama dia tidak pulang ke Jakarta, disaat dia pulang, ternyata suasana tidak sama lagi.