
...βBila ranting rapuh dan menjadi patah,...
...mungkin akan tumbuh ranting berikutnyaβ...
Esok hari disambut mentari pagi dari ufuk timur, sudah tampak menembus gorden bermotif bunga. Sosok gadis cantik masih berselimut jarik.
Udara pagi begitu sejuk, dan perlahan sang tuan putri bisa tidur tanpa resah.
"Akhirnya, kamu bisa tidur pulas." Batin Aldo.
Limar yang baru bisa tidur pada jam 3 dini hari, tampak masih tertidur nyenyak
"Cukup manis." Batin Aldo.
Bibir tipis Aldo yang tampak tersenyum manis, seolah menggoda saat menatap sosok Limar yang tidur itu.
Limar masih tidur pulas. Dia tidak tahu kalau dari tadi sudah ada pria manis yang memandanginya.
"Sudah siang, pasti dia akan mengomel lagi." Batin Aldo, yang sebenarnya tidak ingin membangunkan Limar.
Saat ini waktu menunjukan pukul 7 pagi, sudah waktunya Limar bangun, dan pergi bekerja. Aldo merasa bingung untuk membangunkannya.
"Limar...." Suara Aldo terdengar pelan dan tangannya memegang pipi Limar. Seolah ingin mencubit pipi Limar yang tampak pink merona.
Aldo dengan tersenyum, melihat bibir Limar yang tampak bergerak, dan Limar semakin erat memeluk guling.
"Limar, bangunlah. Sudah jam 7, nanti kamu bisa terlambat kerja."
"Limar.... Limar.... Kamu ada jadwal rapat jam 9 nanti. Ayo bangun."
"Mmmhh..." Suara Limar yang tampak merengek saat dibangunkan, dan malah menyamping, kedua tangan dan kakinya merangkul guling dengan erat.
Aldo tidak sabar, perlahan menarik tangan Limar dan berkata "Ayo bangun! Sudah siang."
Aldo mengangkat Limar, dan posisi Limar tampak bersandar. Perlahan tangan kanan Limar mengucek pelan matanya. Masih menguap dan matanya sangat redup. Sepertinya sangat enggan untuk terbuka.
"Huft! Aku masih ngantuk." Keluh Limar dan kelopak matanya seolah seperti di lem. Sangat berat untuk membuka kedua matanya.
Limar dengan wajah yang cemberut dan begitu kesal. Lalu Aldo mengambilkan minum untuk Limar.
"Minumlah."
"Segeralah sadar dari mimpimu Limar." Ucap Aldo.
"Kamu resek. Ini jam berapa! Aku masih ngantuk."
"Sudah jam 7 Bos! Nanti jam 9, Bos Limar Mahatma ada jadwal rapat."
Limar yang memegang jarik, malah menata bantalnya dan kembali berbaring lagi.
"Bos tidak ke kantor?!"
Limar yang menyamping, menatap ke arah tembok dan berkata "Buat apa aku kerja, aku sudah pergi dari rumah. Sekarang hidupku bergantung sama kamu."
Aldo menggaruk alisnya dan berkata "Ya memang begitu seharusnya, tapi ini tadi Nyonya Hesti telfon. Mereka sudah di Bandara. Eyang dan Bunda kamu akan ke Jogja."
"Aku sudah tahu. Eyang sudah pamitan."
Limar masih memeluk gulingnya dan berkata. "Baiklah, aku mau ke Mahatma. Kamu bisa tidur lagi."
"Aku sendirian?"
"Terus?"
"Kamu pengawalku, kamu kerjanya disini. Lingga pasti akan memberi gaji untukmu."
"Tapi aku di suruh ke kantor. Bos Lingga barusan kirim pesan, dan Bos Limar ada rapat penting jam 9."
Limar membalikan badannya dan dia duduk menatap Aldo, lalu berkata "Mana HP kamu? Aku mau bicara sama Lingga."
Aldo memberikan ponselnya, Limar dengan cepat menghubungi sang Adik.
Lingga yang saat ini ada di Bandara Internasional. Karena pagi tadi dia ke rumah Ayahnya, dan ikut mengantar Eyang serta Bundanya.
"Bos, Bos Limar telfon." Bisik Dito.
Lingga yang sudah memakai pakaian formal, tampak menatap jauh ke wajah sang Bunda.
"Iya Mbak, ini aku."
"Kowe neng Bandara?"
(Kamu di Bandara?)
"He'em."
Limar tampak memeluk erat bantalnya dan duduk menatap ke jendela, lalu dia berkata "Lingga, aku ora bakal mulih."
__ADS_1
(Lingga, aku tidak akan pulang.)
"Tenane Mbak?!."
(Yang bener Kak?!)
"Aku tenanan."
(Aku beneran.)
Lingga cukup tersenyum datar dan berkata "Mbak, aku ngerti. Yowes, ora usah bali. Neng kono wae karo Aldo."
(Kak, aku tahu. Ya sudah, tidak perlu pulang. Disitu saja sama Aldo.)
"Ojo guyon! Lingga, aku tenanan."
(Jangan bercanda! Lingga, aku beneran.)
"Aku ora guyon Mbak." Balas Lingga.
(Aku tidak bercanda Kak.)
"Aku arep mualaf. Aku sesok arep ijab."
(Aku mau mualaf. Aku besok mau akad nikah.)
Lingga yang sudah tahu dari sang Bunda saat di mobil tadi. Lingga hanya menarik alis kanannya dan berkata "Syukurlah. Berarti Mbak Limar normal."
"LINGGA!!" Ucap Limar dengan geram.
"Mbak Limar, Mbakku sing ayu dewe."
(Kak Limar, Kakakku yang cantik sendiri.)
"Mbakmu gur aku."
(Kakakmu cuma aku.)
"Nggih Mbak Limar. Menawi Mbak Limar ajeng nikah. Mengke kulo sing atur."
(Iya Mbak Limar. Kalau Mbak Limar mau menikah. Nanti saya yang atur.)
Limar hanya mendengarkan saja perkataan Lingga, terutama tentang pernikahan Limar. Banyak hal yang Lingga katakan, bahkan soal Eyang dan Bunda.
"Mbak Limar, sampun rumiyin nggih. Bunda kalih Eyang ajeng boarding pass."
"Iyo,..."
(Iya,...)
Limar menutup telfonnya wajahnya berubah aneh, sepertinya ada yang salah dengan hal ini. Situasi yang tampak memalukan.
"Emmssh...."
Limar terdiam.
" Astaga, gue lupa. Aldo orang Solo. Aldo pasti tahu apa yang gue omongin barusan."
Limar meletakan ponsel Aldo di meja sebelah tempat tidur itu.
Aldo memang tahu apa saja yang Limar obrolkan di telfon barusan, walaupun memakai bahasa jawa. Karena itu juga bahasa sehari-hari Aldo.
Limar dengan wajah kesal mengayak rambutnya.
"Gue harus gimana?"
"Aaaaa...."
Limar sudah seperti orang frustasi, hal yang sangat memalukan untuknya.
Aldo yang ada di depan kamar itu. Dia juga mendengar jelas, apa saja yang barusan Limar katakan sama Adiknya.
"Haruskah, gue kembali tidur?!"
"Iya, lebih baik tidur."
"Tapi kenapa malah mata ini sudah fresh?!"
Aldo mengetuk daun pintu yang terbuka itu, dan memasang ekspresi biasa saja.
"Bos, saya mau ke kantor."
"Nggak usah sok formal."
Aldo masih pura-pura, dan bertanya "Apa saya tidak perlu ke kantor?"
"Aldo jangan bikin aku stress." Ketus Limar dan rasanya sangat geram.
__ADS_1
Aldo mendekati Limar dan bertanya "Kita mau kemana?"
"Ke kantor polisi. Puas kamu?!!"
Limar menyikap jarik batiknya dan dia bergegas untuk ke kamar mandi, Aldo dengan tersenyum manis menikmati ekspresi kesal Limar pagi ini.
"Sepertinya tuan putri Mahatma tampak baik-baik saja."
Limar yang di kamar mandi, mencuci wajahnya, lalu menatap cermin kecil yang ada di kamar mandi itu.
"Huuuffft!!" Ketusnya saat menatap cermin itu.
"Sudah terlanjur basah." Ekspresi Limar seolah tampak merengek kesal.
Limar yang menghembusnya nafasnya, lalu berkata "Baik! Limar Mahatma pasti bisa menghadapi situasi ini. Limar, kamu pasti bisa."
"Semangat!!"
Limar mengelap wajahnya dengan handuk kecil, lalu keluar dari kamar mandi dengan rasa yang berdesir.
"Kenapa jadi dag dig dug begini?"
Aldo mendekati Limar yang mematung di depan kamar mandi, lalu dia bertanya "Sudah, main airnya?"
"Apa maksud kamu?"
"Kamu dari tadi nyalain keran air."
Limar memalingkan wajahnya sesaat, lalu tangan kanannya merapikan rambut sisi kanan dan menariknya belakang telinga, tatapan Limar sangat sinis terhadap Aldo.
"Emmh." Limar yang bingung. Perasaan Limar berubah resah, apalagi saat dia melihat tatapan Aldo saat ini.
"Sorry." Ucap Limar.
Limar berjalan melewati Aldo begitu saja. Rasanya sangat tidak nyaman berhadapan dan menatap mata Aldo.
Aldo yang berkacak pinggang hanya menggeleng saja, saat melihat tingkah Limar yang seperti gadis remaja.
"Jenenge wae Limar, kudune koyo sutra, lembut, alus. La iki, badala.... Angel tenan." Batin Aldo.
(Namanya saja Limar, harusnya seperti sutra, lembut, halus. La ini, badala.... Sulit bener.)
Aldo berjalan ke carport dan tersenyum manis, ada rasa yang menggelitik dalam pikirannya.
Limar di kamar sedang berganti baju. Dia hanya menggosok gigi dan cuci muka. Setelah itu, memakai dress semalam, untung saja ada setelan baju batik dari Eyang. Kalau tidak, bisa-bisa dia memakai kaosnya Aldo.
Limar memang sosok yang keras kepala, dan dia punya prinsip sendiri, berbeda dengan Lingga ataupun Langit. Lingga lebih banyak diam, kadang juga lebih dingin dan kaku. Kalau Langit lebih ke dirinya sendiri dan dia juga sangat susah diatur.
Memang keluarga yang satu ini cukup unik. Untuk materi tidak perlu di ragukan lagi, tapi mereka terkadang juga tidak bahagia. Ada saja yang membuat mereka tidak senang.
π»π»π»π»
Hallo semuanya,,
Apa kabar?
Semoga kalian masih setia sama Mas Pras dan keluarga besar Mas Pras.
Memang, banyak cerita dan konflik baru, agar kalian yang baca tidak bosan. π€
Semoga kalian suka.
Terima kasih untuk dukungan kalian.
Terima kasih untuk Vote, Like dan Komentarnya.
Maaf, othor hanya memberikan cerita.
Untuk yang baru mulai baca, silahkan baca dulu di PANGGIL AKU MAS! Season 1. Agar tidak bingung.
Intinya yang pertama itu hanya kisah Mas Pras, selebihnya hanya selingan saja.
Tapi kalau yang season 2 ini, banyak konflik baru dan Mas Pras tetap ada dan semakin tengil.
Untuk sementara Mas Pras santai dulu, othornya cemas kalau Mas Pras sering muncul. Soalnya semakin kelewat tengil, jadi di rumahkan dulu, kalau sering muncul, bisa-bisa ditikung gadis belia manis manja. π€π€
Semoga nantinya, akan banyak cerita soal Mas Pras, tapi sabar ya. Othor mau rehat dulu.
Loppe-loppe seabrek buat kalian π€π
Buat yang rindu Mas Pras, cek ig othor ada video tengilnya Mas Pras.
ig: vie_gv05
Buat yang mau gabung ke GC, silahkan masuk ya. Terbuka untuk kalian semua. π π€π₯°π
__ADS_1