
...☘Rasa manis datang dikala luka,...
...menyatu padu dengan penuh cinta☘...
Vava yang terbaring di rumah sakit Kasih Maria. Tampak seperti malaikat tak bersayap, yang sedang tidur dan tanpa berdosa.
Lingga yang dari tadi memandangi Vava, berkata "Sayang, kamu harus kuat."
Lingga berdo'a dengan menyebut nama Tuhannya, dan do'a untuk mengiringi kepergian anaknya.
Kondisi Vava perlahan sudah mulai membaik.
"Sayang, kamu berhak marah sama aku." Ucap Lingga, dan masih memegang tangan kanan Vava.
Lingga yang duduk di samping ranjang pasien. Hanya sibuk menatap istrinya saja.
Sudah jam 5 pagi, Lingga semalaman tidak tidur. Lingga juga belum memberi kabar kepada keluarga Vava.
"Mmmh." Lirih Vava, perlahan membuka matanya.
"Sayang, kamu bangun." Lingga masih memandangi istrinya.
"Mas, kita dimana?" Suara Vava yang terdengar pelan.
Lingga dengan sorot mata yang sedih. Lalu dia berkata "Kita ada di rumah sakit."
"Mas, tadi aku bermimpi. Ada dokter dan suster menemani aku." Ucap Vava.
Tadi saat di ruang operasi, Vava sempat tersadar, tapi karena pengaruh obat dia merasa aneh, dan seperti bermimpi.
"Sayang, kamu mau minum?"
Vava hanya mengangguk. Dengan cepat Lingga menuang air putih ke cangkir dari botol air mineral. Saat ini Lingga tidak percaya siapapun. Kecuali dirinya sendiri. Dia mencoba semua yang ada di ruangan itu, sebelum memberikan untuk Vava.
"Sayang, minum." Ucap Lingga, dan Vava mulai minum air putih itu.
Lingga meletakan cangkir itu, di atas meja samping ranjang pasien.
"Mas Lingga, aku kenapa?"
Vava memang merasakan aneh dalam tubuhnya, tapi dia ingin mendengar dari suaminya.
"Kamu istirahat dulu. Nanti aku pasti cerita sama kamu." Ucap Lingga dan mengelus rambut Vava.
"Mas Lingga. Aku dengar dokter bilang, aku keguguran. Apa itu benar?"
Lingga tampak berkaca-kaca dan berkata "Iya sayang."
Vava yang bingung. Hanya teringat waktu di mobil. Dia sangat kesakitan. Rasanya sangat menyiksa perutnya.
Vava yang melamun, dia mengingat, seolah suami bertanya apa yang dia makan.
Vava merasa dirinya tidak bisa menjaga anaknya. Raut kesedihan, Vava sangat sedih. Vava juga menyesali kejadian ini.
"Mas Lingga, maafin aku." Ucap Vava dan mulai menangis.
Lingga yang menatap istrinya, jarinya mulai mengusap air mata yang mengalir di pipi Vava.
"Aku yang salah. Aku tidak bisa menjaga istriku dengan baik. Bahkan aku tidak bisa menjaga anakku sendiri."
Tangan Vava mulai meraih tangan Lingga, lalu berkata "Mas, aku mau pulang. Aku nggak suka disini."
"Iya sayang. Nanti kita pulang."
"Tapi aku mau di rumah Mama."
"Iya, nanti kita pulang ke rumah Mama."
Di kantor polisi Limar tertidur di bangku. Masih dalam proses penyelidikan dan ada lanjutan interogasi.
Aldo tadi menyelimuti Limar dengan jaketnya. Bahkan Aldo cukup sabar saat menghadapi ocehan Limar.
"Hhmm." Suara Limar yang tidur dan Aldo berkata "Aku belum sholat subuh."
Kepala Limar yang ada dalam pangkuan Aldo, perlahan berpindah ke bangku panjang itu.
"Bu Polwan, titip Limar sebentar."
Polwan yang bertugas di ruangan itu tampak tersenyum dan mengangguk.
"Dua sejoli." Gumamnya.
"Mmh.... Ayah." Limar yang mengigau.
Nat yang tadi pulang saat Aldo datang, sudah kembali ke kantor polisi.
"Bu Polwan selamat pagi.".
"Iya, selamat pagi."
__ADS_1
Nat mendekati Limar yang tampak tidur menyamping di atas bangku.
Nat yang tadi berpapasan dengan Aldo di luar, cukup memikirkan Lingga. Nat hanya tahu dari para pengawal yang bertugas disana.
"Bos Limar bisa tidur pulas. Apa Bos Lingga bisa tidur?" Batin Nat.
Aldo yang kemarin baru kehilangan anaknya, dan sekarang ada di kantor polisi menemani Limar.
"Ayah." Limar yang mengigau cukup keras dan kali ini Nat mendengarnya.
"Bos Limar, apa ingin Pak Yuda datang?" Batin Nat.
Nat yang duduk di kursi plastik, lalu dia mengirim pesan kepada Hesti. Karena Hesti selalu berpesan, apapun tentang anak-anaknya, Nat harus memberitahu Hesti.
"Nyonya Hesti pasti sangat sedih. Tapi aku sudah janji untuk selalu kasih info soal anak-anaknya." Batin Nat.
Hesti yang sudah terbangun dari tidurnya. Membaca pesan dari Nat.
Nat membaca pesan balasan dari Hesti dan berkata "Nyonya Hesti ternyata sangat tegar."
Nat lalu menoleh ke Limar yang sudah terbangun, tapi berbaring dan menatap Nat.
"Kamu memberitahu Bunda?"
Nat yang tersenyum dan berkata "Iya Bos Limar. Hanya soal Bos Lingga. Tidak soal Bos Limar. Soalnya Nyonya juga harus tahu tentang cucunya."
Mengingat itu Limar bertanya "Apa anak Lingga sudah dimakamkan?"
"Sudah semalam Bos. Pak Yuda yang memakamkan bersama tim markas."
"Ayah??" Limar tampak melotot dan bertanya "Ayah tahu aku disini?"
"Tidak Bos. Kita tidak berani bilang."
Limar tersenyum, dan berkata "Bagus kalau begitu. Lagian aku sudah pergi dari rumah."
Nat yang bingung dan berfikir "Bos Limar akan ada dalam tahanan, tapi kenapa dia girang?"
"Kamu melihat pengawalku??" Tanya Limar.
Nat yang masih memegang ponselnya, berkata "Dia ke mushola."
Limar bertanya "Nat, memang kalau jadi mualaf gimana caranya?"
Nat bingung menjelaskan dan berkata "Coba Bos Limar cari di google. Lebih akurat, soalnya saya masih awam."
Limar mulai menatap Nat dan berkata "Kalau begitu, pinjami aku ponselmu."
"Untuk apa??"
"Untuk tanya ke mbah google, seperti yang kamu bilang barusan."
Nat belum mengijinkan, tapi dengan cepat Limar meraih ponsel yang ada ditangan Nat.
Limar tidak mencari situs di google, melainkan mengirim kode untuk Lingga. Limar mengenal tatto yang ada di tengkuk leher gadis itu.
Tempat di mana Limar pernah berkunjung, untuk membuat tatto bersama teman-temannya.
Dan tattonya itu sama persis dengan orang yang dikenal Limar Mahatma. Saat Limar menarik tudung gadis itu, terlihat gambar sayap malaikat.
"Sudah, ini aku kembalikan."
Nat yang cerdik bertanya "Lalu apa sudah dihapus pesannya??"
"Tidak! Lagian aku hapus. Kamu juga akan tahu."
"Bos Limar, nanti kalau Bos sampai di tahan lama gimana??"
"Kamu tidak perlu mencemaskan aku. Yang harusnya cemas, dia yang jadi pengawalku."
Nat mulai mengerti, lalu berkata "Kalau begitu, aku pergi Bos. Silahkan berakting lebih maksimal."
"Anak buah kurang ajar. Siapa bilang aku berakting. Aku sungguh-sungguh. Bahkan aku sampai menembak orang."
Nat yang tadi langsung berlari keluar, dan tampak senyuman manis. Lalu dia berjalan santai dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku jaketnya.
"Para Polisi yang tampan." Batin Nat.
Tapi Nat mengingat akan dirinya, yang saat ini cukup bahagia bisa diantara para Anggota Pengawal Mahatma Corporation.
Nat bukan satu-satunya pengawal wanita, tapi dia yang paling dikenal, Hesti Maheswari sangat percaya kepadanya.
"Bos Limar maaf. Nyonya Hesti sudah tahu lebih dulu tentang Bos Limar." Batin Nat dan pergi meninggalkan kantor polisi.
"Bunda pasti cemas soal aku. Pasti lagi-lagi pengacara datang lebih cepat. Aku harus gimana dong."
Limar berdiri dan mulai mondar-mandir, Polwan yang duduk itu, tampak melihat ekspresi Limar saat ini.
"Aldo kamu harus tahu, ini salah kamu. Aku mau menghukum kamu dengan caraku."
__ADS_1
"Nona Limar, apa anda sedang jatuh cinta??"
Limar lalu mendekati Polwan itu dan bertanya "Apa terlihat, kalau saya jatuh cinta?"
Polwan itu tersenyum dan berkata "Sangat kentara, bahkan semalaman saya memperhatikan kalian berdua."
"Menurut Bu Polwan, apa dia cocok dengan saya?"
Polwan itu menggeleng.
"Tidak cocok??" Limar dengan bingung.
"Tapi dia cukup romantis, bahkan semalaman tidak tidur." Bisiknya dan masih di kursinya.
"Oke, kalau begitu, nanti tolong bilang sama dia, saya akan segera dalam tahanan. Saya mohon Bu Polwan."
Polwan itu tampak menggeleng, tapi tersenyum manis.
Aldo datang mendekati ruang itu, Limar kembali duduk di bangku panjang itu.
"Ternyata kamu sudah bangun."
"Aldo aku takut, disini juga banyak nyamuk. Kamu tahu kulitku senstif."
Aldo tersenyum melihat tingkah Limar yang seperti anak kecil. "Limar, tapi aku harus pergi."
Limar bingung dan menatap Aldo lebih lekat. Sorot mata yang tidak bohong. Limar berfikir "Ada yang salah dari diri Aldo."
"Pergi?"
Aldo mengangguk, dan berkata "Hems, aku harus pergi."
Limar yang tadinya ingin berpura-pura, tapi Aldo sepertinya ada masalah. Ada hal lain, dari cara dia memandang Limar sangat berbeda.
"Kamu pergi? Lalu aku?"
"Kamu bisa tanpa aku. Bahkan kamu bisa memilih pengawal lainnya."
Limar yang mulai merasakan hatinya tidak nyaman. Rasa berdebar, dan seperti ada yang tergores dihatinya.
"Kamu serius?" Suara Limar yang mulai sendu, dan rasanya sangat tidak nyaman.
Aldo dengan senyuman, dan berkata "Iya, aku serius."
Polwan cantik itu meninggalkan mereka berdua, saat merasa suasana ruangan, sepertinya tidak nyaman bagi kedua orang itu.
"Kamu mau kemana?"
"Entah, aku juga tidak tahu."
Limar yang tidak bisa menahan akan perasaan dirinya, lalu berkata "Pergilah, bila itu maumu."
"Limar."
"Kamu sudah janji sama Bunda. Kamu juga sudah menculik aku."
Aldo hanya tersenyum dan menatapnya.
"Karena aku akan masuk penjara. Kamu pergi ninggalin aku?"
Aldo dengan berat hati berkata "Iya, kamu benar."
"Kamu benar-benar akan ninggalin aku?"
"Iya."
Limar yang membalikan badannya, dan mengusap air matanya.
"Hemms, pergilah. Kamu juga bebas. Tidak akan ada lagi yang membuat kamu panik dan gelisah!"
"Limar."
"Aku nggak apa-apa."
Aldo dengan berat hati, perlahan dia mengambil jaketnya dan mendekati Limar.
Memeluknya erat-erat dan berkata "Aku harap, kamu bahagia."
Dengan rasa bergemuruh dalam hatinya dan Aldo pergi begitu saja tanpa melihat ke arahnya.
"Limar, kamu harus bisa bahagia tanpa aku."
Aldo dengan membawa kenangan, pergi meninggalkan Limar.
"Aku bahkan belum mengatakan apa yang aku rasakan. Tapi dia sudah pergi." Ucap Limar dan terduduk di bangku.
Air matanya luruh dengan derasnya. Limar yang pernah terluka karena cinta. Saat dia menginginkan balasan cinta, tapi berakhir begitu saja.
"Aldo, kamu pengecut." Ucapnya.
__ADS_1